SKRIPSI Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN ANEMIA DAN KEPATUHAN MENGONSUMSI TABLET ZAT BESI (Fe) DENGAN KONDISI ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KOTA MALANG

Tya Saraswati

Abstrak


Jurnal Preventia Vol ... No... Oktober 2018

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN ANEMIA DAN KEPATUHAN MENGONSUMSI TABLET ZAT BESI (Fe) DENGAN KONDISI ANEMIA PADA IBU HAMIL DI KOTA MALANG

Tya Saraswati Siti Nurrochmah Septa Katmawanti Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang

e-mail: tyasaraswati008@gmail.com

 

Abstract: Anemia is one of reason maternal mortality on Malang City. The success of giving Fe tablet program has affected because of discipline pregnant mother to consume Fe tablet. Discipline to consume iron tablet one of health behavior pregnant mother. One of factor stimulate for realization health behavior is knowledge, when pregnant mother understand the consequence of anemia and how to protect from anemia so pregnant mother has health behavior and spared from risk anemia when her pregnant. The purpose of this research was known the correlation between anemia knowledge level and discipline to consume iron tablet with anemia condition of pregnant mother. The research method used was correlational research with data analyze using chi square. The sample used in this study were 165 pregnant women. Result of the research showed that :

(1) The score of chi square (X2 count) knowledge level 13,94 > score X2 tabel 5,99,

(2) The score of chi square (X2 count) discipline level 17,15 > score X2 tabel 5,99.

The conclusion were:

(1) There was significant correlated between anemia knowledge levels with anemia condition of pregnant mother;

(2) There was significant correlated between discipline to consume iron (Fe) tablet with anemia condition of pregnant mother.

 

Key Words : Knowledge Level, Obedience, Anemia, Pregnant Mother

Abstrak: Anemia adalah salah satu penyebab kematian ibu di wilayah Kota Malang. Keberhasilan program pemberian tablet zat besi (Fe) sebagai upaya mengatasi anemia pada ibu hamil dipengaruhi oleh kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe, kepatuhan mengonsumsi tablet Fe merupakan salah satu contoh perilaku kesehatan yang dilakukan ibu hamil. Salah satu faktor yang menstimulasi terwujudnya perilaku kesehatan adalah pengetahuan, apabila ibu hamil memahami akibat anemia dan cara mencegah anemia maka akan mempunyai perilaku kesehatan yang baik dan dapat terhindar dari berbagai akibat atau resiko terjadinya anemia dalam kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan anemia dan kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe dengan kondisi anemia pada ibu hamil. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional dengan nalisis data menggunakan uji kai kuadrat. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 165 ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:

(1) Nilai kai kudrat (X2 hitung) tingkat pengetahuan 13,94 > nilai X2 tabel 5,99,

(2) Nilai kai kudrat (X2 hitung) tingkat kepatuhan 17,15 > nilai X2 tabel 5,99. Sehingga diperoleh kesimpulan, ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kondisi anemia pada ibu hamil, dan ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe dengan kondisi anemia pada ibu hamil.

 

Kata Kunci: Tingkat Pengetahuan, Kepatuhan, Anemia, Ibu Hamil

Derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari beberapa indikator yang tercermin dalam kondisi morbiditas, mortalitas dan status gizi (Laelasari dkk, 2016:2). Pada umumnya derajat kesehatan masyarakat di Indonesia digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI) dan beberapa angka morbiditas (Depkes RI, 2010:26). Banyaknya angka kematian ibu, bayi dan balita merupakan suatu gambaran dari masyarakat yang mempunyai derajat kesehatan yang rendah. Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2016:104) angka kematian ibu pada tahun 2015 sebesar 305 per 100.000 kelahiran hidup. Masih jauh dari target Sustainable Development Goals (SDG’s) tahun 2030 yaitu menurunkan angka kematian ibu di bawah 70 per 100.000 kelahiran hidup (Kementerian Kesehatan RI, 2015:17). Kementerian Kesehatan RI berupaya untuk mempercepat penurunan AKI dengan menjamin agar setiap ibu mampu mengakses pelayanan kesehatan ibu yang berkualitas, seperti pelayanan kesehatan ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih di fasilitas pelayanan kesehatan, perawatan pasca persalinan bagi ibu dan bayi, perawatan khusus dan rujukan jika terjadi komplikasi, kemudahan mendapatkan cuti hamil dan melahirkan, dan pelayanan keluarga berencana (Kementerian Kesehatan RI, 2016:105). Salah satu komponen pelayanan kesehatan ibu hamil yaitu pemberian zat besi sebanyak 90 tablet (Fe). Zat besi memiliki peran vital terhadap pertumbuhan janin, selama hamil asupan zat besi harus ditambah mengingat selama kehamilan volume darah pada tubuh ibu meningkat. Sehingga, untuk dapat tetap memenuhi kebutuhan ibu dan menyuplai makanan serta oksigen pada janin melalui plasenta, dibutuhkan asupan zat besi yang lebih banyak. Asupan zat besi yang diberikan oleh ibu hamil kepada janinnya melalui plasenta akan digunakan janin untuk kebutuhan tumbuh kembangnya, termasuk untuk perkembangan otak, dan menyimpannya dalam hati sebagai cadangan hingga bayi berusia 6 bulan. Selain itu, zat besi juga membantu dalam mempercepat proses penyembuhan luka khususnya luka yang timbul dalam proses persalinan. Kekurangan zat besi sejak sebelum kehamilan bila tidak diatasi dapat mengakibatkan ibu hamil menderita anemia (Kementerian Kesehatan RI, 2016:108). Anemia merupakan kondisi berkurangnya jumlah sel darah merah (eritrosit) dalam sirkulasi darah, sehingga tidak mampu memenuhi fungsi pembawa oksigen keseluruh tubuh (Yatim, 2003:32). Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar, prevalensi anemia pada ibu hamil di Indonesia masih cukup tinggi yaitu sebesar 37,1% (Kementerian Kesehatan RI, 2013:256). Sedangkan dari hasil observasi di Dinas Kesehatan Kota Malang prevalensi anemia pada ibu hamil di Kota Malang mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, jika pada tahun 2016 prevalensi ibu hamil yang mengalami anemia sebesar 28,33%. Maka pada tahun 2017 prevalensi anemia pada ibu hamil meningkat sebesar 40%, hal ini sebagai tanda masih tingginya kematian ibu bersumber dari kondisi anemia. Berbagai upaya pemerintah dalam mengatasi anemia pada ibu hamil telah dilakukan yaitu dengan adanya program pemberian tablet zat besi (Fe) pada ibu hamil. Keberhasilan program pemberian tablet zat besi (Fe), sebagai upaya mengatasi anemia pada ibu hamil dipengaruhi oleh kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet zat besi (Fe). Kepatuhan merupakan suatu tingkatan perilaku seseorang yang sesuai dengan anjuran medis atau kesehatan. Kepatuhan juga berkenaan dengan hasil dari interaksi antara pasien dengan petugas kesehatan (Hidayah & Anasari, 2012:45). Kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi (Fe) juga merupakan salah satu contoh perilaku kesehatan yang dilakukan ibu hamil. Salah satu faktor yang menstimulasi terwujudnya perilaku kesehatan adalah pengetahuan, pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah melakukan proses penginderaan terhadap objek. Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia yaitu indera pendengaran, penglihatan, penciuman, rasa dan raba yang sangat di pengaruhi oleh perhatian dan persepsi. Pengetahuan manusia sebagian besar didapatkan melalui indera pendengaran dan penglihatan (Notoatmodjo, 2005:50).  Apabila ibu hamil mengetahui dan memahami akibat anemia dan cara mencegah anemia maka akan mempunyai perilaku kesehatan yang baik sehingga diharapkan dapat terhindar dari berbagai akibat atau resiko terjadinya anemia dalam kehamilan. Perilaku kesehatan yang demikian dapat berpengaruh terhadap penurunan kejadian anemia pada ibu hamil. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah anemia defisiensi zat besi. Hal ini terjadi karena masyarakat kurang mampu dalam menerapkan informasi tentang tablet zat besi (Fe) dalam kehidupan sehari-hari (Laelasari & Natalia, 2016:3). Sedangkan menurut Notoatmodjo (2007:23) dengan meningkatnya pengetahuan maka meningkat juga persepsi masyarakat tentang penyakit. Berdasarkan uraian permasalahan tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berjudul “Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Anemia dan Kepatuhan Mengonsumsi Tablet Zat Besi (Fe) dengan Kondisi Anemia pada Ibu Hamil di Kota Malang”. Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan anemia dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang dan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang.

 

METODE

Metode penelitian ini menggunakan rancangan penelitian korelasional yaitu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan atau bentuk arah hubungan di antara dua variabel dan besarnya pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas terhadap variabel terikat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode cross sectional yaitu metode yang dilaksanakan dengan observasi atau pengumpulan data pada satu waktu periode dan tanpa melakukan intervensi terhadap masyarakat (subjek penelitian), sehingga bisa disebut juga penelitian nonexperimental. Model penelitian memiliki pola hubungan penelitian ganda dengan dua variabel independen yaitu menghubungkan dua variabel independen tingkat pengetahuan anemia (X1) dan kepatuhan mengonsumsi tablet Fe (X2) dengan satu variabel dependen kondisi anemia pada ibu hamil (Y). Lokasi penelitian ini dilakukan di 15 Puskesmas di Kota Malang, meliputi:

1) Puskesmas Arjuno;

2) Puskesmas Bareng;

3) Puskesmas Rampalcilaket;

4) Puskesmas Cisadea;

5) Puskesmas Kendalkerep;

6) Puskesmas Pandanwangi;

7) Puskesmas Kedungkadang;

8) Puskesmas Gribig;

9) Puskesmas Arjowinangun;

10) Puskesmas Janti;

11) Puskesmas Ciptomulyo;

12) Puskesmas Mulyorejo;

13) Puskesmas Dinoyo;

14) Puskesmas Mojolangu; dan

15) Puskesmas Kendalsari.

Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari 2018 sampai dengan Mei 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan laboratorium di Puskesmas dan mengalami anemia pada bulan Januari 2018–Maret 2018 di Kota Malang. Hasil data yang diperoleh dari 15 Puskesmas di Kota Malang, jumlah ibu hamil sebanyak 280 ibu hamil. Adapun sampel dalam penelitian ini sebesar 165 ibu hamil yang sudah melakukan pemeriksaan laboratorium di Puskesmas dan mengalami anemia pada bulan Januari 2018 – Maret 2018 di Kota Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen non test, yaitu

(1) Kuesioner, adapun isi dari kuesioner tersebut terkait definisi anemia, faktor risiko anemia, gejala anemia, bahaya anemia, pencegahan anemia, jenis makanan mengandung zat besi, dan konsumsi tablet Fe;

(2) Dokumentasi, berupa data tertulis terkait dengan kondisi anemia pada ibu hamil yang bersumber dari hasil pemeriksaan laboratorium di Puskesmas dan bukti foto dengan responden. Berdasarkan pertimbangan tujuan penelitian dan jenis data yang terkumpul yaitu berupa data ordinal (tingkat pengetahun dan kondisi anemia) dan data nominal (kepatuhan ibu hamil) maka data dianalisis menggunakan statistika nonparametrik. Data akan dianalisis secara manual menggunakan teknik analisis data kai kuadrat dengan taraf signifikansi 0,05.

 

HASIL

Data yang dianalisis dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen yaitu tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil dan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet zat besi (Fe). Sedangkan yang menjadi variabel dependen yaitu kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang. Data tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil dan data kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet zat  4 besi (Fe) diperoleh dari hasil kuesioner dan data kondisi anemia pada ibu hamil diperoleh dari arsip catatan 15 Puskesmas di Kota Malang pada bulan Januari 2018 – Maret 2018. Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil di Kota Malang pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. Tingkat pengetahuan ibu hamil dibagi menjadi 2 katagori, yaitu pengetahuan baik (jika skor yang dicapai >76%) dan pengetahuan cukup (jika skor yang dicapai 56–75%) (Ariani, 2014:27). Berikut disajikan distribusi frekuensi dari tingkat pengetahuan ibu hamil yang mengalami anemia di Kota Malang pada bulan Januari 2018 – Maret 2018: Tabel 1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil di Kota Malang Pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. No. Tingkat Pengetahuan F % 1. Baik (≥ 76%) 35 21,21 2. Cukup (56 – 75%) 130 78,79 Jumlah 165 100 (Sumber: Data Primer, 2018) Berdasarkan tabel 1 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup yaitu sebanyak 130 responden (78,79%). Sedangkan, responden dengan tingkat pengetahuan baik sebanyak 35 responden (21,21%). Tingkat Kepatuhan Ibu Hamil di Kota Malang pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. Tingkat kepatuhan mengonsumsi tablet zat besi (Fe) pada ibu hamil dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu patuh (jika konsumsi tablet Fe > 80% dari yang seharusnya diminum), dan tidak patuh (jika konsumsi tanlet Fe < 80% dari yang seharusnya diminum) (Indreswari dkk, 2008: 16). Berikut disajikan distribusi frekuensi dari tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe pada ibu hamil yang mengalami anemia di Kota Malang pada bulan Januari 2018 – Maret 2018: Tabel 2 Distribusi Frekuensi Tingkat Kepatuhan Ibu Hamil di Kota Malang pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. No. Tingkat Kepatuhan f % 1. Patuh (> 80%) 56 33,94 2. Tidak Patuh (< 80%) 109 66,06 Jumlah 165 100 (Sumber: Data Primer, 2018) Berdasarkan tabel 2 dapat dijelaskan bahwa sebagian responden tidak patuh dalam mengonsumsi tablet Fe yaitu sebanyak 109 responden (66,06%), sedangkan sisanya sebanyak 56 responden (33,94%) patuh dalam mengonsumsi tablet Fe. Kondisi Anemia pada Ibu Hamil di Kota Malang pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. Kondisi anemia pada ibu hamil dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kondisi anemia ringan sekali (Hb > 10 gr/dl), ringan (Hb 8,0–9,9 gr/dl), dan sedang (Hb < 7,9 gr/dl) (Tarwoto & Wasnidar, 2007:30 – 31). Berikut disajikan distribusi frekuensi dari kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang pada bulan Januari 2018 – Maret 2018: Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kondisi Anemia pada Ibu Hamil di Kota Malang pada Bulan Januari 2018 – Maret 2018. No. Kondisi Anemiaf % 1. Ringan Sekali 72 43,6  2. Ringan 79 47,9 3. Sedang 14 8,5 Jumlah 165 100 (Sumber: Data Primer, 2018) Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa sebagian besar responden memiliki kondisi anemia ringan yaitu sebanyak 79 responden (47,9%). Sedangkan kondisi anemia ringan sekali dan sedang secara berturut-turut sebanyak 72 responden (43,6%) dan 14 responden (8,5%). Pengujian Hipotesis Analisis kai kuadrat dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dan tingkat kepatuhan konsumsi tablet zat besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil. Melalui pengujian ini dapat dijelaskan ada atau tidaknya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dan tingkat kepatuhan konsumsi tablet zat besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil. Tabel 4 Membandingkan Nilai X2 Hitung dengan X2 Tabel Analisis X2 Hitung X2 Tabel (α=5%) Simpulsn Tingkat Pengetahuan Anemia dengan Kondisi Anemia pada Ibu Hamil 13,94 5,99 Ada Hubungan Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Zat Besi (Fe) dengan Kondisi Anemia pada Ibu Hamil 17,15 5,99 Ada Hubungan Berdasarkan pada tabel 4 dapat ditemukan bahwa hubungan tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kondisi anemia pada ibu hamil dengan X2 hitung 13,94 > X2 tabel 5,99 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang. Sedangkan hubungan tingkat kepatuhan konsumsi tablet zat besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil dengan X2 hitung 17,15 > X2 tabel 5,99 yang artinya H0 ditolak dan Ha diterima, maka ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi tablet besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang.

 

PEMBAHASAN

Kondisi Anemia Pada Ibu Hamil Kondisi anemia pada ibu hamil adalah kondisi dimana kadar hemoglobin (Hb) pada ibu hamil kurang dari 11,0 gr/dl (WHO, 2017). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 72 orang (43,6%) mengalami anemia ringan sekali, 79 orang (47,9%) mengalami anemia ringan, dan sisanya 14 orang (8,5%) mengalami anemia sedang. Selama kehamilan, kondisi anemia berdampak buruk pada kesehatan ibu dan janin, anemia pada ibu hamil juga dapat meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas pada janin (Abu & Jan, 2015:147). Kurangnya zat gizi pada ibu hamil dapat mempengaruhi asupan pemenuhan kebutuhan zat besi, terutama terjadi pada Trimester II dan III karena pada masa ini terjadi peningkatan ekspansi massa sel darah merah, maka kebutuhan zat besi bertambah (Laelasari & Natalia, 2016:6). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kraja, dkk (2013:7-8) menyatakan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil pada Trimester III sebesar 58,91%, Trimester II sebesar 36,14%, dan Trimester I sebesar 4,95%. Hasil penelitian dari Noronha, dkk (2012:68) menunjukkan bahwa anemia di negara-negara berkembang masih tinggi berkisar antara 18% hingga 80% dan prevalensi anemia berat berkisar antara 2,7% hingga 20%. Hal ini disebabkan karena asupan zat besi yang tidak memadai, infeksi cacing, status sosial ekonomi, tingkat pendidikan dan perilaku kesehatan. Pengaruh anemia pada kehamilan dapat berakibat fatal jika tidak segera di atasi di antaranya dapat menyebabkan keguguran, partus prematus, inersia uteri, partus lama, atonia uteri dan menyebabkan perdarahan serta syok. Sedangkan pengaruh anemia terhadap kosepsi di antaranya dapat menyebabkan keguguran, kematian janin dalam kandungan, kematian janin waktu lahir, kematian parinatal tinggi, prematuritas dan cacat bawaan (Astriana, 2017:127). Menurut Hill, I. D., dkk (2015:1760) kondisi anemia tidak diragukan lagi memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan ibu dan anak. Oleh karena itu faktor-faktor yang dianggap penting, seperti kehamilan dengan cukup gizi, kehamilan pada usia cukup dan perawatan kesehatan dan kebidanan yang baik, serta pendidikan dan dukungan pemenuhan nutrisi harus ditingkatkan. Menurut Ansari, dkk (2008:7) meskipun persediaan zat besi dapat dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan yang tinggi pada saat kehamilan, tingginya  prevalensi anemia pada ibu hamil sangat menunjukkan bahwa para wanita pada umumnya memiliki simpanan zat besi yang rendah dan telah mengalami anemia sebelumnya. Sehingga peningkatan kompensasi dalam penyerapan zat besi selama kehamilan tidak cukup untuk mencegah anemia pada kehamilan. Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan anemia pada ibu hamil di Kota Malang terdapat 35 orang (21,21%) yang termasuk dalam kelompok responden yang memiliki pengetahuan baik tentang anemia, sedangkan 130 orang (78,79%) memiliki pengetahuan yang cukup. Berdasarkan hasil penelitian Baby A., dkk (2014:142) menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil (54%) memiliki pengetahuan cukup, 38 % memiliki pengetahuan yang kurang dan 8% memiliki pengetahuan yang baik tetang anemia selama kehamilan. Hasil penelitian Sonkar, dkk (2017:2894) menyatakan bahwa sebagian besar ibu hamil memiliki tingkat pengetahuan yang sangat buruk tentang anemia. Karena itu, ibu hamil harus menerima informasi yang memadai dari tenaga kesehatan tentang suplementasi zat besi. Ibu hamil yang mempunyai sumber informasi yang banyak akan mempunyai pengetahuan yang luas, informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal dan non formal dapat memberikan pengaruh jangka pendek sehingga menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan (Pamungkas dkk, 2014:18). Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan kurang tentang anemia akan berperilaku negatif dibandingkan dengan ibu hamil yang mempunyai pengetahuan baik, dalam hal ini adalah perilaku untuk mencegah dan mengobati anemia. Dari hasil penelitian mayoritas ibu hamil yang berpengetahuan cukup disebabkan karena kurang mengerti tentang resiko dari anemia pada kehamilan. Pengetahuan ibu hamil tentang anemia sangat berpengaruh dalam menentukan keberhasilan pecegahan yang juga didukung oleh perilaku ibu hamil dalam melaksanakan nasihat dalam pelayanan prenatal (Nurwanti, 2010:41). Responden yang mempunyai tingkat pengetahuan dengan katagori cukup dapat disebabkan karena tingkat pendidikan yang dimiliki. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden mempunyai tingkat pendidikan menengah sebagaimana diperlihatkan pada hasil penelitian. Pendidikan responden yang tergolong menengah mempengaruhi tingkat pengetahuan responden, hal ini terkait dengan tingkat pemahaman responden tentang informasi yang diterima terutama tentang anemia. Tingkat Kepatuhan Konsumsi Tablet Zat Besi (Fe) Berdasarkan hasil penelitian tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi tablet zat besi (Fe) pada ibu hamil di Kota Malang diperoleh bahwa terdapat 56 orang (33,94%) patuh dalam mengonsumsi tablet Fe dan 109 orang (66,06%) tidak patuh dalam mengonsumsi tablet Fe. Hasil penelitian dari Wendt, dkk (2015:1) menunjukkan bahwa secara keseluruhan, 37% wanita menerima tablet zat besi (Fe) selama kehamilan trimester III dengan presentase dikonsumsi sebesar 24% selama kehamilan. Ibu hamil perlu mengonsumsi tablet Fe selama kehamilan, karena kebutuhan zat besi ibu hamil meningkat selama kehamilan. Tablet zat besi secara efektif dapat mengurangi anemia pada ibu hamil, mengurangi berat badan lahir rendah, dan stunting pada anak (UNICEF, 2017:22). Tablet Fe adalah garam besi dalam bentuk tablet atau kapsul yang apabila dikonsumsi secara teratur dapat meningkatkan jumlah sel darah merah. Wanita hamil mengalami pengenceran sel darah merah sehingga memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan untuk sel darah janin (Yanti dkk, 2015:84). Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Kautshar (2013:11) faktor yang paling dominan berpengaruh dalam kepatuhan ibu hamil mengonsumsi tablet Fe yaitu peran petugas kesehatan. Sedangkan menurut Laelasari & Natalia (2016:6) kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fedapat disebabkan kurangan dukungan dari suami, rendahnya kesadaran akan pentingnya tablet Fe, dan adanya efek samping pada saat mengonsumsi tablet Fe. Sehingga untuk  meningkatkan kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe diperlukan peningkatan peran petugas dalam memberikan motivasi pada ibu hamil melalui kerjasama lintas program dan litas sektor. Tingkat pengetahuan ibu hamil tentang zat besi yang tinggi juga dapat membentuk sikap positif terhadap kepatuhan dalam mengonsumsi tablet Fe. Tanpa adanya pengetahuan tentang zat besi, maka ibu sulit menanamkan kebiasaan dalam menggunakan bahan makanan sumber zat besi yang penting bagi kesehatan ibu hamil. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat kurang mampu dalam menerapkan informasi tentang tabket Fe dalam kehidupan sehari-hari. Semakin tinggi pengetahuan ibu hamil tentang zat besi, maka akan semakin patuh dalam mengonsumsi tablet Fe. Sedangkan ibu hamil yang berpengetahuan rendah tentang zat besi akan berperilaku kurang patuh terhadap konsumsi tablet Fe serta dalam pemeliharaan makanan (Mandariksa, 2014:5). Hubungan Tingkat Pengetahuan Anemia dengan Kondisi Anemia Pada Ibu Hamil Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa responden yang paling banyak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang anemia mengalami kondisi anemia ringan dalam kehamilan yaitu sebanyak 72 orang, sedangkan responden yang mempunyai pengetahuan baik tentang anemia mengalami kondisi anemia ringan sekali yaitu sebanyak 23 orang. Hasil uji statsitik kai kuadrat didapatkan nilai X2 sebesar 13,94 pada df 2, sehingga hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan anemia dengan kondisi anemia pada ibu hamill di Kota Malang. Artinya semakin baik tingkat pengetahuan tentang anemia pada ibu hamil maka semakin rendah resiko ibu mengalami anemia. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Abbasi, dkk (2013:37) hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan linier antara pendidikan dengan penyakit anemia, yaitu tingkat pendidikan dapat menurunkan insiden peningkatan anemia. Berdasarkan penelitian Laelasari & Natalia (2016:6) hasil penelitian juga menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian anemia pada ibu hamil. Kurangnya pengetahuan sering dijumpai sebagai faktor yang penting dalam masalah anemia. Hal ini dapat terjadi karena masyarakat kurang mampu menerapkan informasi tentang anemia dalam kehidupan sehari-hari. Ibu hamil yang memiliki pegetahuan tentang anemia kurang akan meningkatkan resiko terjadinya anemia dalam kehamilan, dibandingkan dengan mereka yang memiliki pengetahuan tentang anemia baik dan cukup (Rachmaniar dkk, 2013:100). Menurut Purbadewi & Ulvie (2013:36) pengetahuan yang kurang tentang anemia mempunyai pengaruh terhadap perilaku kesehatan khususnya ketika seorang wanita sedang hamil, hal ini akan berakibat pada kurang optimalnya perilaku kesehatan ibu hamil untuk mencegah terjadinya anemia dalam kehamilan. Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan kurang tentang anemia dapat berakibat pada kurangya konsumsi makanan yang mengandung zat besi selama kehamilan. Ibu hamil yang mempunyai pengetahuan cukup tentang anemia namun masih mengalami kondisi anemia ringan dapat disebabkan karena kurangnya kesadaran responden untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya tentang anemia. kemungkinan yang lainnya pengetahuan yang dimiliki responden masih dalam tingkatan tahu tetapi belum diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga responden mengaami anemia dalam kehamilan (Nurwanti, 2010:45 – 46). Hubungan Tingkat Kepatuhan Mengonsumsi Tablet Zat Besi (Fe) dengan Kondisi Anemia Pada Ibu Hamil Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa responden yang patuh mengonsumsi tablet Fe mengalami kondisi anemia ringan sekali dalam kehamilan yaitu sebanyak 60 orang, sedangkan responden yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet Fe mengalami kondisi anemia ringan yaitu sebanyak 38 orang. Hasil uji statistik kai kuadrat didapatkan nilai X2 sebesar 17,15 pada df 2, sehingga dari hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dalam mengonsumsi tablet besi (Fe) dengan kondisi  anemia pada ibu hamil. Artinya semakin baik kepatuhan ibu dalam mengonsumsi tablet Fe maka semakin rendah resiko ibu mengalami anemia. Menurut hasil penelitian Sumitra, dkk. (2017:30) menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak mengonsumsi tablet za besi (Fe) 18,38 kali lebih mungkin untuk terkena anemia daripada ibu hamil yang mengonsumsi tablet zat besi secara teratur. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Triyani & Purbowati (2016:228) yang menyatakan bahwa kepatuhan ibu hamil dalam mengonsumsi tablet Fe berhubungan dengan kejadian anemia. Hal tersebut dikarenakan sikap menjadi pertimbangan dalam menentukan tindakan mengonsumsi tablet zat besi (Fe). Berdasarkan hasil penelitian dari Hidayah & Anasari (2012:50) masih adanya kasus anemia pada ibu hamil dapat disebabkan karena ibu hamil tidak patuh mengonsumsi tablet Fe selama kehamilan. Konsumsi tablet Fe yang tidak teratur dapat menyebabkan ibu hamil kekurangan zat besi yang hubungannya dengan anemia pada ibu hamil. Ibu hamil yang tidak patuh dalam mengonsumsi tablet Fe dapat dipengaruhi oleh efek samping yang kurang nyaman dirasakan ketika mengonsumsi tablet Fe, seperti mual, muntah, dan nyeri ulu hati (Anggraeni dkk, 2016:6). Menurut Yanti, dkk (2015:85) apabila ibu tidak mengonsumsi tablet Fe selama kehamilan, maka ibu hamil akan 4 kali beresiko mengalami anemia, karena kita ketahui bahwa fungsi dari tablet Fe sendiri adalah sebagai tabket yang sangat membantu pertambahan zat besi dalam darah terutama pada ibu hamil yang mengalami pengenceran darah. Dari hasil penelitian juga terdapat responden yang patuh tetapi mengalami anemia, hal ini dikarenakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi anemia pada ibu hamil. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi anemia pada ibu hamil tersebut menurut Hakim (2017:8) seperti paritas, jarak kehamilan, status ANC dan status gizi.

 

PENUTUP

Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan terhadap hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa:

(1) ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan tentang anemia dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang;

(2) ada hubungan yang signifikan antara tingkat kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi (Fe) dengan kondisi anemia pada ibu hamil di Kota Malang. Saran Diharapkan ibu hamil dapat meningkatkan kesadaran tentang pentingnya tablet zat besi (Fe) dengan patuh mengonsumsi tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan dan bagi tenaga kesehatan diharapkan senantiasa memberikan penyuluhan dan anjuran pada ibu hamil yang melakukan pemeriksaan kehamilan tentang pentingnya tablet Fe pada ibu hamil agar ibu hamil tetap patuh dalam mengkonsumsi tablet Fe selama kehamilan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abbasi, A., Arooj, S., Hussain,W.,Mughal, A. I., Habib, N., Aziz, W., & Rafique, M. 2013. Causes of anemia in pregnant women othe State of Azad Kashmir: A cross-sectional survey. 5(1), 35-44. Abu-Ouf, N.M. & Jan, M.M. 2015. The Impact of Maternal Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia On Child’s Health: Saudi Med J. 36(2), 146-149. Dari (www.smj.org.sa). Ansari, N. B., Badruddin, A. H., Karmaliani, R., Harris, H., Jehan, I., Pasha, O., Moss, N., McClure, E. M., & Goldenberg, R. L. 2008. Anemia Prevalence and Risk Factors In Pregnant Women in An Urban Area Of Pakistan: Food Nurt Bull, 29(2), 132-139. NIH Public Access. Anggraeni, I. E., Siswati, & Setyatama, I. K. 2016. Hubungan Tingkat  Kepatuhan Ibu Hamil dalam Mengkonsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia. Tegal: STIKES Bhamada Slawi. Ariani, Ayu P. 2014. Aplikasi Metodologi Penelitian Kebidanan dan Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika. Astriana, W. 2017. Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil Ditinjau dari Paritas dan Usia, Jurnal Ilmu Kesehatan, 2(2), 123-130. Baturaja: STIKES Al-Ma’arif Baturaja. Baby, A., Vanugopal, J., D’silva, R., Chacko, S., P.V, Vineesha., & T, Vinaya K. 2014. Knowledge On Management of Anemia During Pregnancy: A Descriptive Study, Archive Of Medicine and Health Sciences, 2(2). Dari (www.amhsjournal.org). Badan Pusat Statistik. 2017. Kota Malang dalam Angka 2017. Badan Pusat Statistik Kota Malang. Laela Depkes RI. 2010. Menuju Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hakim, N. R. A. 2017. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil di Puskesmas Ngampilan Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas ‘Aisyiyah. Hidayah, W. & Anasari, T. 2012. Hubungan Kepatuhan Ibu Hamil Mengkonsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia di Desa Pageraji Kecamatan Cilongkok Kabupaten Banyumas, Jurnal Ilmiah Kebidanan, 3(2). Purwokerto: Akademi Kebidanan YLPP. Hill, I.D. & Mkparu, U.C. 2015. Micronutrients in Pregnancy in Low and Middle Income Countries. Dari (www.mdpi.com). Indreswari, M., Hardnsyah, & Damanik, M. R. M. 2008. Hubungan Antara Intensitas Pemeriksaan Kehamilan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan dan Konsumsi Tablet Besi dengan Tingkat Keluhan Selama Kehamilan. Jurnal Gizi dan Pangan, 3(1), 12 – 21. Kautshar, N., Suriah, & Jafar, N. 2013. Kepatuhan Ibu Hamil dalam Mengkonsumsi Tablet Zat Besi (Fe) di Puskesmas Bara-Bara Tahun 2013. Makasar: Universitas Hasanuddun. Kemenkes RI. 2015. Kesehatan Dalam Kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Kemenkes RI. 2016. Profil Kesehatan Indonesia 2015. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kraja, E., Caja, T., & Petrela E. 2013. Iron Deficiency Anemia Among Pregnant Women In Shkodra District: Prevalence, Knowledge, Attitude And Practices. Dari (konferenca.unishk.edu.al/icrae2013/icraecd2013/doc/86). Laelasari, L. & Natalia, L. 2016. Hubungan Antara Pengetahuan, Status Gizi dan Kepatuhan Mengkonsumsi Tablet Fe dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil Trimester III Wilayah Kerja UPTD Puskesmas Salagedang Kabupaten Majalengka Tahun 2016, Jurnal Bidan, 2(02),2. Dari (www.jurnal.ibijabar.org). Noronha, J.A., Khasawneh, E., Seshan, V., Ramasubramaniam, S., & Raman, S. 2012. Anemia in Pregnancy – Consequences and Challenges: Areview of Literature, Nursing Practice. Dari (http://www.jaypeejournals.com). Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta. Nurwanti, D. 2010. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Anemia Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia pada Ibu Hamil TM III di Puskesmas Kaligesing Kabupaten Purworejo. Yogyakarta: STIKES A. Yani Yogyakarta. Pamungkas, S., Wahyuni, & Dayaningsih, S. 2014. Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Tablet Penambah Darah dengan Kejadian Anemia di Puskesmas Sragen, Indonsian Journal on Medical Science, 1(2), 11-19. Poltekes Kesehatan Sukoharjo. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2017. Malang: Universitas Negeri Malang. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, Serta Pelayanan Kesehatan Seksual. Jakarta: Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Penyelenggaraan Pelayanan Kontrasepsi, serta Pelayanan Kesehatan Seksual. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Purbadewi, L. & Ulvie, Y. N. S. 2013. Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Anemia dengan Kejadian Anemia Pada Ibu Hamil, Jurnal Gizi, 2(1), 31-39. Semarang: Universitas Muhammadiyah Semarang. Rachmaniar, R., Nelasari, H., & Widiwanto, B. 2013. Hubungan antara Pengetahuan Tentang Anemia Pada Ibu Hamil Trimester II dan III Dengan Resiko Terjadinya Anemia dalam Kehamilan di Puskesmas Sukorame Kediri, 9(2). Malang: Universitas Muhammadiyah Malang. Riskesdas. 2013. Riset Kesehatan Dasar. Badan Penelitian dan Pengembangan. Kesehatan: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sonkar, V. K., Khan, N. M., Domple, V. K., & Inamdar, I. F. 2017. Knowledge and Practices Of Pregnant Women Regarding The Iron Supplementation During Pregnancy, International Journal  of Community Medicine and Public Health, 4(8), 2891-2894. Dari (http://dx.doi.org/10.18203/2394- 6040.ijcmph20173341). Sumitra, M. & Kumari, C. T. 2017. Determinants of Anemia Among Pregnant Women Attending in a Tertiary Level Hospital, Kathmandu. 2(1), 24-33. Tarwoto & Wasnidar. 2007. Buku Saku Anemia Pada Ibu Hamil Konsep dan Penatalaksanaan. Jakarta: Trans Info Media. Triyani, S. & Purbowati, N. 2016. Kepatuhan Konsumsi Tablet Fe dalam Mencegah Anemi Gizi Besi Pada Ibu Hamil di Wilayah Puskesmas Kecamatan Jakarta Pusat, Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan, 3(2), 215-229. Jakarta: Poltekes Kemenkes Jakarta III. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Bidang DIKBUD RI. UNICEF. 2017. Theory of Change Paper, UNICEF Strategic Plan, 2018– 2021 Realizing the rights of every child, especially the most disadvantaged. (www.unicef.org). Wendt, A., Stephenson, R., Young, M., Gira, A.W., Houge, C., Ramakrishnan, U., & Martorel, R. 2015. Individual and FacilityLevel Determinants of Iron and Folic Acid Receipt and Adequate Consumption among Pregnant Women in Rural Bihar, India. Dari (www.jurnal.pone.com). WHO. 2017. Word Health Organization. Dari (www.who.int). Yanti, D. A. M.; Sulistianingsih, A.; & Keisnawati. 2015. Faktor-Faktor Terjadinya Anemia Pada Ibu Primigravida di Wilayah Kerja Puskesmas Pringsewu Lampung, Jurnal Kesehatan, 6(2), 79-87. Lampung: STIKES Muhammadiyah Pringsewu Malang. Yatim, F. 2003. Talasemia, Leukemia, dan Anemia. Jakarta: Pustaka Populer Obor.