SKRIPSI Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penerapan Higiene Sanitasi Makanan Jajanan Pada Pedagang Seblak Di Kota Malang Tahun 2017

Siti Nur Hidayanti, Siti Nur Hidayanti

Abstrak


RINGKASAN

 

Hidayanti, Siti Nur. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Penerapan Higiene Sanitasi Makanan Jajanan Pada Pedagang Seblak Di Kota Malang Tahun 2017. Skripsi, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. Djoko Kustono, M.Pd., (II) Nurnaningsih Herya Ulfah, S.KM., M.Kes.

 

Kata Kunci: Predisposing, Enabling, Higiene Sanitasi Makanan, Seblak, Kota Malang

 

Pencemaran makanan yang diakibatkan oleh patogen penyakit masih menjadi permasalahan di Indonesia. Terjadinya pencemaran tersebut adalah karena minimnya penerapan higiene sanitasi makanan khususnya di Kota Malang. Didukung dengan hasil uji laboratorium salah satu makanan jajanan yaitu dua sampel seblak yang keduanya positif terdapat E. coli masing-masing 22 dan 15 koloni/gr sampel makanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan, pengalaman bekerja, usia, tingkat pendapatan, dan lingkungan fisik terhadap penerapan higiene sanitasi makanan jajanan pada pedagang seblak di Kota Malang.

Metode penelitian ini adalah korelasional dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah pedagang seblak di Kota Malang. Penentuan besar sampel dalam penelitian dilakukan dengan studi pendahuluan, sehingga teknik pengambilan sampel yang sesuai dengan kondisi tersebut adalah teknik purposive sampling. Jumlah sampel yang diperoleh dari hasil studi pendahuluan sebanyak 35 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan checklist. Analisis data menggunakan uji regresi logistik.

              Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden mayoritas berpendidikan menengah (37,1%) dan rendah (37,1%), berpengalaman bekerja sebagai pedagang makanan < 1 tahun (71,4%), berusia 17-35 tahun (77,1%), berpendapatan < Rp. 2.470.073,29 (80,0%), berjualan di lingkungan fisik yang baik (54,3%), dan kurang menerapkan higiene (74,3%). Hasil uji regresi logistik biner menunjukkan pendidikan (X2hitung (4,845) ≥ X2tabel (4,61)) memiliki hubungan dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 90%. Pengalaman bekerja (X2hitung (3,942) ≥ X2tabel (3,841)) memiliki hubungan dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 95%. Usia (X2hitung (2,945) ≥ X2tabel (2,71)) memiliki hubungan dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 90%. Pendapatan (X2hitung (3,979) ≥ X2tabel (3,841)) memiliki hubungan dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 95%. Lingkungan fisik (X2hitung (4,452) ≥ X2tabel (3,841)) memiliki hubungan dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 95%. 

Kesimpulan dari penelitian ini adalah secara bersama-sama terdapat hubungan antara pendidikan, pengalaman bekerja, usia, tingkat pendapatan, dan lingkungan fisik dengan penerapan higiene sanitasi makanan pada taraf signifikansi 99% serta probabilitas sebesar 46,19%. Diharapkan petugas Dinas Kesehatan terus memeratakan upaya penyuluhan terkait higiene sanitasi pada pedagang makanan menggunakan berbagai media penyuluhan.