SKRIPSI Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDAPATAN KELUARGA, TINGKAT PENDIDIKAN DAN STATUS PEKERJAAN DENGAN PEMILIHAN METODE KONTRASEPSI UNTUK WANITA USIA SUBUR BINAAN PUSKESMAS JANTI KECAMATAN SUKUN KOTA MALANG

Elmi Romadhona

Abstrak


ABSTRAK

 

Dalam rangka upaya pengendalian jumlah penduduk, pemerintah menerapkan program Keluarga Berencana (KB) sejak tahun 1970 dimana tujuannya untuk memenuhi perintah masyarakat akan pelayanan KB dan kesehatan reproduksi yang berkualitas, menurunkan tingkat atau angka kematian ibu, bayi, dan anak, serta penanggulangan masalah kesehatan. Jumlah akseptor KB binaan Puskesmas Janti pada bulan Desember 2016 mencapai 199 akseptor. Berbeda pada saat bulan Desember 2017 menurun menjadi 54 akseptor saja. Menurunnya jumlah binaan KB di Puskesmas Janti, kemungkinan disebabkan akseptor lebih memilih tidak ingin berkontrasepsi. Bahkan sampai diadakannya program safari KB, tujuannya supaya masyarakat yang malas datang ke Puskesmas atau yang enggan menggunakan KB dapat langsung datang berkonsultasi di setiap rw yang sudah disediakan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan variabel antaratingkat pendapatan keluarga, tingkat pendidikan dan status pekerjaan dengan pemilihan metode kontrasepsi untuk wanita usia subur binaan Puskesmas Janti Kecamatan Sukun Kota Malang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan kuesioner, dokumentasi dan  teknik wawancara. Untuk menghitung korelasi antara skor tiap item dengan kriterion internal yaitu skor total dengan menggunakan rumus teknik korelasi “product moment”Penelitian ini menggunakan metode korelasionalyaitu korelasi data chi-square(x2).Uji tersebut digunakan untuk mengetahui bagaimana hubungan antaratingkat pendidikan, tingkat pendapatan dan status pekerjaan dengan pemilihan metode kontrasepsi.

Hasil penelitian dapat diketahui bahwa pendapatan keluarga terbanyak yaitu pendapatan sedang (pendapatan rata-rata keluarga antara Rp 1.500.000–Rp2.500.000 per bulan) sebanyak 27 responden yang memilih jawaban tersebut. Sedangkan untuk tingkat pendidikan sebanyak 15 responden (27,8%) berstatus pendidikan sangat dasar, 15 responden (27,8%) berstatus pendidikan tinggi atau perguruan tinggi. Dan untuk status pekerjaan sebanyak 36 responden (66,7%) yang tidak bekerja atau hanya sebagai ibu rumah tangga di rumah.

Hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antarastatus pekerjaan dengan pemilihan metode kontrasepsi binaan Puskesmas Janti. Hal tersebut dikarenakan Puskesmas Janti sendiri sudah menyediakan sistem klaim untuk pasien KB dengan program BPJS Kesehatan. Semua lapisan masyarakat dapat merasakan program dari pemerintah tersebut. Tetapi harus BPJS kesehatan untuk fasilitas kesehatan di Puskesmas Janti saja. Sebelum adanya program BPJS Kesehatan, masyarakat secara rata harus membeli atau membayar jika harus memakai KB. Tetapi dengan adanya program tersebut, semua lapisan masyarakat dapat menikmatinya, tidak hanya masyarakat menengah keatas saja yang menikmati, semua lapisan menengah kebawah juga pasti merasakan dampak dari program tersebut. Sehingga dapat diketahui bahwa tidak adanya perbedaan antara responden yang sedang bekerja dan yang tidak sedang bekerja dengan pemilihan metode kontrasepsi, karena yang semula responden membayar untuk memakai metode kontrasepsi, sekarang tidak perlu membayar sejak diumumkannya program jaminan kesehatan untuk KB tersebut.