SKRIPSI Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbedaan Pengaruh antara Flavonoid Ekstrak Rimpang Lengkuas Putih, Saponin Ekstrak Daun Babadotan, dan Abate pada Larva Nyamuk Aedes aegypti sebagai Alternatif Penurunan Angka Kejadian DBD di Kota Malang.

Desi Puspitasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Puspitasari, Desi. 2017. Perbedaan Pengaruh antara Flavonoid Ekstrak Rimpang Lengkuas Putih, Saponin Ekstrak Daun Babadotan, dan Abate pada Larva Nyamuk Aedes aegypti sebagai Alternatif Penurunan Angka Kejadian DBD di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd., (II) Nurnaningsih Herya Ulfah, S.KM, M.Kes.

 

Kata Kunci: Larvasida, Flavonoid, Saponin, Abate, Demam Berdarah Dengue

 

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhage Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung semakin meningkat jumlah penderita dan semakin luas penyebarannya. Kejadian DBD di Kota Malang dari tahun 2015 ke 2016 meningkat dua kali lipat, pada tahun 2015 sebanyak 298 dan tahun 2016 menjadi 458 orang dengan korban meninggal dua orang. Larvasida merupakan upaya pencegahan tersebarnya DBD dengan cara membunuh larva sebelum menjadi nyamuk Aedes aegypti. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah jumlah kematian larva setelah diberi flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih, saponin ekstrak daun babadotan, dan abate.

Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian True Experiment dengan Posttest Only Control Group Design, menggunakan 700 larva nyamuk Aedes aegypti. Dibagi menjadi sembilan kelompok perlakuan (kelompok kontrol, flavonoid konsentrasi 1,25%, flavonoid konsentrasi 2,5%, flavonoid konsentrasi 5%, flavonoid konsentrasi 10%, saponin konsentrasi 1,25%, saponin konsentrasi 2,5%, saponin konsentrasi 5%, saponin konsentrasi 10%, abate (temephos 1%)). Larva direndam dalam larutan uji sebanyak 100 ml. Pengamatan dilakukan 24 jam setelah pemberian perlakuan dan dihitung jumlah kematian larva. Data dianalisis dengan Annova One Way dan dilanjutkan uji Post Hoc menggunakan software statistik.

Hasil perhitungan uji Annova One Way kematian larva berdasarkan jenis ekstrak menunjukkan bahwa F hitung sebesar 53,851 dan F tabel sebesar 4,066181. F hitung pada data berdasarkan konsentrasi sebesar 1573,533 dan F tabel sebesar 4,387374. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti yang menggunakan Abate, flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih, dan saponin ekstrak daun babadotan dengan konsentrasi 10%, 5%, 2,5%, dan 1,25%.

Persentase jumlah kematian larva 24 jam setelah pemberian perlakuan adalah 0% pada kontrol, 77,33% pada flavonoid 1,25 %, 78,33% pada flavonoid 2,5 %, 89,33% pada flavonoid 5 %, 100% pada flavonoid 10%, 76% pada saponin 1,25%, 77,33% pada saponin 2,5%, 85,33% pada saponin 5%, 98,7% pada saponin 10%, 100% pada abate. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih lebih efektif daripada saponin ekstrak daun babadotan meskipun hanya berbeda 0,5 pada uji Post Hoc.

Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorhage Fever (DHF) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang cenderung semakin meningkat jumlah penderita dan semakin luas penyebarannya. Kejadian DBD di Kota Malang dari tahun 2015 ke 2016 meningkat dua kali lipat, pada tahun 2015 sebanyak 298 dan tahun 2016 menjadi 458 orang dengan korban meninggal dua orang. Larvasida merupakan upaya pencegahan tersebarnya DBD dengan cara membunuh larva sebelum menjadi nyamuk Aedes aegypti. Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah jumlah kematian larva setelah diberi flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih, saponin ekstrak daun babadotan, dan abate.

Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian True Experiment dengan Posttest Only Control Group Design, menggunakan 700 larva nyamuk Aedes aegypti. Dibagi menjadi sembilan kelompok perlakuan (kelompok kontrol, flavonoid konsentrasi 1,25%, flavonoid konsentrasi 2,5%, flavonoid konsentrasi 5%, flavonoid konsentrasi 10%, saponin konsentrasi 1,25%, saponin konsentrasi 2,5%, saponin konsentrasi 5%, saponin konsentrasi 10%, abate (temephos 1%)). Larva direndam dalam larutan uji sebanyak 100 ml. Pengamatan dilakukan 24 jam setelah pemberian perlakuan dan dihitung jumlah kematian larva. Data dianalisis dengan Annova One Way dan dilanjutkan uji Post Hoc menggunakan software statistik.

Hasil perhitungan uji Annova One Way kematian larva berdasarkan jenis ekstrak menunjukkan bahwa F hitung sebesar 53,851 dan F tabel sebesar 4,066181. F hitung pada data berdasarkan konsentrasi sebesar 1573,533 dan F tabel sebesar 4,387374. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan rata-rata jumlah kematian larva nyamuk Aedes aegypti yang menggunakan Abate, flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih, dan saponin ekstrak daun babadotan dengan konsentrasi 10%, 5%, 2,5%, dan 1,25%.

Persentase jumlah kematian larva 24 jam setelah pemberian perlakuan adalah 0% pada kontrol, 77,33% pada flavonoid 1,25 %, 78,33% pada flavonoid 2,5 %, 89,33% pada flavonoid 5 %, 100% pada flavonoid 10%, 76% pada saponin 1,25%, 77,33% pada saponin 2,5%, 85,33% pada saponin 5%, 98,7% pada saponin 10%, 100% pada abate. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa flavonoid ekstrak rimpang lengkuas putih lebih efektif daripada saponin ekstrak daun babadotan meskipun hanya berbeda 0,5 pada uji Post Hoc.