SKRIPSI Jurusan Ilmu Keolahragaan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Puasa dan Olahraga Terhadap hormon Melatonin Pada Tikus Putih jantan Jenis Wistar

Emillia Jefanggi Lolita Widiantini

Abstrak


ABSTRAK

 

Widiantini, Emilia Jefanggi Lolita. 2017. Pengaruh Olahraga dan Puasa Terhadap Hormon Melatonin Pada Tikus Putih Jantan Jenis Wistar. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sugiharto, M. S, (II) Olivia Andiana, S.Or, M. Kes.

 

Kata Kunci:    Insomnia, Olahraga Moderat, Puasa, Hormon Melatonin.

 

Angka prevalensi insomnia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, diperkirakan mencapai 10-40% di dunia. Pada tahun 2023 prevalensi insomnia di dunia diperkirakan mencapai 60,8% (1,1 miliar) jiwa. Data hasil penelitian di Korea prevalensi insomnia mencapai 8-17%, Singapura 8-10%, di Indonesia berdasarkan hasil penelitian US Census Bureau, International Data Base tahun 2004 angka prevalensi insomnia diperkirakan mencapai 17% (238,452 juta), hal ini perlu diwaspadai sebab insomnia berkaitan dengan terjadinya penurunan kualitas kesehatan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kadar hormon pada tikus putih jantan jenis wistar setelah diberi perlakuan puasa dengan olahraga moderat dengan metode time series. Olahraga moderat merupakan olahraga yang dilakukan dengan intensitas sedang dan dapat membakar kalori sebanyak 3.5-7  kalori/menit. Olahraga moderat dapat dilakukan dengan cara bersepeda, jogging atau berenang. Penelitian ini menggunakan sampel hewan coba tikus putih dengan jenis rattusnorvegicus strain wistar jantan berjumlah 84 ekor yang terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kontrol, puasa dan olahraga moderat dengan puasa. Metode penelitian menggunakan true exsperiment control group time series design, yang digunakan untuk melihat trends dan membandingkan kelompok kontrol, puasa dan olahraga dengan puasa. Olahraga dilakukan 3 kali/minggu, selama 4 minggu dengan intensitas moderat, olahraga dilakukan dengan cara lari di atas treadmill khusus tikus. Waktu olahraga moerat dilakukan pada malam hari jam 00.00-05.00 WIB dan puasa dimulai jam 18.00 WIB (sahur)-06.00 WIB (buka). Pengukuran hormon melatonin dilakukan dengan metode ELISA, sedangkan analisis data menggunakan uji beda anava dengan taraf signifikasi 0.01.

Berdasarkan hasil analisis data, terdapat perbedaan pada hormon melatonin antara kelompok puasa minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat (p0,01). Selain itu tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kelompok kontrol, puasa dan olahraga dengan puasa pada minggu pertama, kedua dan keempat (