SKRIPSI Jurusan Ilmu Keolahragaan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Olahraga dan Puasa Terhadap Serum Hormon serotonin Pada Tikus Putih Wistar

Shoffurijal Agyanur

Abstrak


ABSTRAK

 

Agyanur, Shoffurijal. 2017. Pengaruh Olahraga dan Puasa Terhadap Serum Hormon Serotonin Pada Tikus Putih Wistar. Skripsi, Jurusan Ilmu Keolahragaan, Fakultas Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sugiharto, M.S, (II) Olivia Andiana, S.Or, M.Kes.

 

Kata Kunci:   Puasa, Olahraga Moderat, Serotonin.

 

            Penurunan serotonin berdampak terhadap gangguan kesehatan dan integritas fungsi tubuh, oleh sebab itu penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh puasa dan olahraga terhadap serum hormon serotonin pada minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat.

            Penelitian ini dengan menggunakan sampel hewan coba tikus putih dengan jenis rattusnorvegicus strain wistar kelamin jantan berjumlah 84 ekor berusia 1 bulan dengan rata – rata berat badan 64 gram yang terbagi menjadi 3 kelompok yaitu kontrol, kontrol, puasa dan olahraga moderat dengan puasa. Metode penelitian menggunakan true exsperiment control group time series design. Program olahraga pada penelitian ini menggunakan treadmill khusus tikus dengan frekuensi 3 kali/minggu, selama 4 minggu dengan memberikan jenis olahraga moderat dengan kecepatan 14-16m/menit, waktu olahraga moderat dilakukan pada malam hari jam 00.00–05.00 WIB dan puasa dimulai jam 18.00 WIB (sahur) - 06.00 WIB (buka). Pengambilan darah binatang coba dilakukan seminggu 1x dengan jumlah 21 ekor serta sebelum pengambilan sampel darah, binatang coba diistirahatkan selama 12 jam dan pengambilan sampel darah dilakukan pada bagian ventrikel kiri tikus. Pengukuran serum serotonin dilakukan dengan metode serotonin ELISA (Enzyme-linked immunosorbent  assay) kit, sedangkan analisis data menggunakan uji beda anava dengan taraf signifikasi 0.01

            Berdasarkan hasil analisis data, terdapat perbedaan serum serotonin antara kelompok puasa minggu pertama, kedua, ketiga dan keempat (P < 0,01), Sedangkan kelompok puasa dan olahraga minggu pertama, kedua, ketiga, dan keempat tidak terdapat perbedaan yang signifikan (P > 0,01), Selain itu tidak terdapat perbedaan serum serotonin kelompok kontrol, puasa, dan olahraga dengan puasa pada minggu pertama, kedua, dan keempat (P > 0,01), Namun terdapat perbedaan yang signifikan serum serotonin kelompok kontrol, puasa, dan puasa yang dikombinasikan dengan olahraga pada minggu ketiga (P < 0,01).

Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat ditarik kesimpulan: (1) Puasa dapat meningkatkan sekresi serum hormon serotonin (2) Puasa dan Olahraga dapat meningkatkan sekresi serum serotonin pada minggu ketiga.