SKRIPSI Jurusan Ilmu Keolahragaan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Latihan HighInterval Intensity dan Moderate Continuous Intensity Terhadap Kadar Leptin Pada Tikus DM Injeksi STZ

Bahtiar Firdiansyah

Abstrak

Berita update - harianwartawan surat kabar nasional - beritareportaseharian berita terkini - harianberitaterkini informasi terbaru - informasiberitaharian berita hari ini - wartawanhariini berita kriminal - kriminalharian

ABSTRAK

Olahraga dianjurkan bagi penderita DM dengantujuan pengontrolan gula darah agar kadar gula darah tetap normal.Disisi lain, olahraga menimbulkan stressor yang menganggu homeostatis tubuh.Tidak banyak penderita DM yang  tmengetahui jenis dan porsi beban olahraga yang diperbolehkan baginya. Dalam kondisi akut beban olahraga berlebih menganggu laju metabolisme akibat peningkatan jumlah insulin tanpa disertai pembentukan glukosa oleh hati, hal ini menyebabkan kegagalan aktivasi AKT2/PKB-β pada hantaran sinyal leptin dalam proses metabolisme glukosa atau disebut kondisi resisten pada leptinsehingga terjadi peningkatan kadar leptin. Leptin ialah hormon yang disekresikan dalam adiposa dan dikode gen obdengan membawa sinyal kimia mengenai ketersediaan energi ditingkat sel. Adanya gangguan laju metabolisme disertai resistensi pada leptin menyebabkan hyperpaghia, hiperinsulinemiadan hipogilkemi. Pada kondisi kronik memungkinkan terjadinya arterosklerosis,jantung koroner, penurunan kontraksi otot jantung, ataupun stroke.Tujuan penelitian ini ialah membuktikan pengaruh penerapan latihaninterval dan continuousyang mengkombinasikan pembebanan intensitas tinggi serta moderateterhadap kadar leptin pada tikus DM.

Sampel penelitian berupa tikus putih jantan strain wistar terdiagnosa DM yang telah diinjeksi STZdengan dosis 40 kg/KgBB sehingga kadar gula darah >110 mg/dl. Total sampel ialah 15 ekor yang terbagi kelompok kontrol dan 2 kelompok latihan renang dengan bentuk HII (dengan beban 6%-15% dari total  berat  badan) dan MCI(dengan beban 2%-5% dari total berat badan).Metode penelitian yang digunakan adalah random  control  group  posttest-only designkarena, penelitian tanpa adanya pengambilan data untuk tes awal. Latihan dilakukan 24 kali selama 8 minggu yang dilakukan pukul 17.00-21.00 WIB. Pengukuran kadar leptin dilakukan dengan metode ELISA Kit,  sedangkan analisis data menggunakan uji beda anava dengan taraf signifikansi 0,01.

Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar leptin kelompok kontrol (7,32 ng/mL), kelompok latihan HII (11,96ng/mL) dan kelompok latihan MCI (14,178ng/mL). Berdasarkan hasil uji beda terdapat perbedaan yang signifikan antara latihan HII dan MCI dengan kontrol (P