SKRIPSI Jurusan Ilmu Keolahragaan - Fakultas Ilmu Keolahragaan UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengembangan Permainan Stimulasi “Lobus Occipital” Untuk Melatih Gerak Lokomotor pada Anak Tunarungu Kelas Bawah di Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu Kota Malang

Deden Ari Putra

Abstrak


8ABSTRAK

 

Anak tunarungu adalah anak yang  kemampuan pendengarannya mengalami gangguan, kelainan, atau kerusakan, sehingga tidak berfungsi dalam menjalankan perannya sebagai alat untuk menerima dan menghantarkan rangsangan bunyi. Ketunarunguan akan memberi pengaruh dalam bidang perkembangan ketangkasan motorik sebagai akibat dari hilangnya umpan balik pendengaran sehingga gerakan tidak dapat dilakukan sebagaimana mestinya seperti orang normal. Gerakan yang mulai bisa dilakukan oleh anak normal adalah gerakan berjalan, berlari, dan melompat yang bisa dikuasai dengan baik apabila memperoleh kesempatan secara berulang-ulang dalam aktifitasnya. Sedangkan pada anak tunarungu, hilangnya kemampuan mendengar dapat mempengaruhi kemampuan manipulasi terhadap ruang dan gerak. Melatih atau memperbanyak pengalaman untuk menguasai gerak dasar seperti berjalan, berlari dan melompat sangat dibutuhkan bagi anak tunarungu dalam meningkatkan kemampuan gerak dasarnya. Gerak dasar yang dapat dikuasai dengan baik maka akan membantu anak tunarungu dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan yang dilakukan oleh peneliti yang bertempat di SDLB-B YPTB Kota Malang dan SDLB N Kedungkandang dengan pemberian angket terhadap guru kelas I,II, dan diperoleh data sebagai berikut: materi yang sering diajarkan adalah permainan menggunakan bola, senam, atletik, badminton dan semua cabor yang memungkinkan diberikan kepada anak; guru pernah memberi materi gerak dasar yaitu lompat tali, baris berbaris,lari estafet warna, menirukan gerak binatang; siswa berminat mengikuti pembelajaran gerak dasar; guru menyatakan perlu adanya pembelajaran gerak dasar melalui model-model permainan yang menstimulasi terjadinya gerak karena dapat membangkitkan minat berolahraga, melatih berfikir, serta mempengaruhi daya fikir dan bahasa anak; guru menyetujui pengembangan permainan stimulasi fungsi penglihatan untuk melatih gerak dasar anak tunarungu karena dapat memusatkan perhatian siswa, untuk menutupi kelemahan/kekurangan pendengaran anak, dan melatih kosentrasi anak.

 Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan permainan yang dapat menstimulasi “lobus occipital” (pusat penglihatan) untuk melatih gerak dasar lokomotor pada anak tunarungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu Kota Malang sehingga dengan adanya pembuatan produk ini siswa lebih mudah dalam melatih gerak dasar lokomotor dan pendidik memiliki tambahan variasi dalam mengajarkan kegiatan olahraga. Dengan adanya stimulasi pada lobus occipital diharapkan juga dapat menstimulasi seluruh sistem saraf dalam tubuh sehingga saat permainan ini dilakukan dapat menjadikan anak tunarungu cepat tanggap saat melihat lalu melakukan gerakan. Dampak jangka panjang dari permainan ini adalah dapat melatih bicara, bahasa, dan juga kecerdasan anak tunarungu.

Penelitian termasuk penelitian dan pengembangan (research and development). Dalam penelitian pengembangan ini mengacu pada model penelitian dan pengembangan dari Borg & Gall. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dengan persentase. Teknik ini digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penyebaran angket.

Produk pengembangan berupa 4 bentuk permainan menggunakan berbagai warna yaitu merah, kuning, biru, hijau dan orange. Penggunaan warna-warna cerah sebagai stimulasi pada pusat penglihatan di otak (lobus occipital). Dengan adanya stimulasi pada lobus occipital maka akan terjadi proses secara neurologi untuk melakukan gerak. Dengan adanya pengembangan ini diharapkan dapat menjadi alternatif untuk melatih gerak dasar pada anak tunarungu yang memiliki kekurangan pada indera pendengaran.

Data hasil evaluasi ahli terhadap permainan I diperoleh 6 jawaban a, 24 jawaban b, 0 jawaban c, dan 0 jawaban d maka jika dipersentase hasilnya 20% jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik sekali dan 80% jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik. Data hasil evaluasi ahli terhadap permainan II diperoleh 14 jawaban a, 16 jawaban b, 0 jawaban c, dan 0 jawaban d maka jika dipersentase hasilnya 46,7%  jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik sekali dan 53,3% jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik. Data hasil evaluasi ahli terhadap permainan III diperoleh 16 jawaban a, 14 jawaban b, 0 jawaban c, dan 0 jawaban d maka jika dipersentase hasilnya 53,3%  jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik sekali dan 46,7% jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik. Data hasil evaluasi ahli terhadap permainan IV diperoleh 14 jawaban a, 16 jawaban b, 0 jawaban c, dan 0 jawaban d maka jika dipersentase hasilnya 46,7%  jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik sekali dan 53,3% jawaban ahli menyatakan produk mempunyai kategori baik. Data hasil uji coba tahap I (kelompok kecil) dapat disimpulkan bahwa 65,6% jawaban siswa SDLB YPTB menyatakan bahwa permainan yang dilakukan menyenangkan dan mudah dilakukan. Data hasil uji coba tahap II (kelompok besar) dapat disimpulkan bahwa 89,1% jawaban siswa SDLB YPTB dan SDLB N Kedungkandang menyatakan bahwa permainan yang dilakukan menyenangkan dan mudah dilakukan. Berdasarkan data hasil evaluasi ahli dan uji coba produk dapat disimpulkan bahwa produk Pengembangan Permainan Stimulasi “Lobus Occipital” Untuk Melatih Gerak Lokomotor pada Anak Tunarungu di Sekolah Dasar Luar Biasa Tunarungu Kota Malang dapat digunakan sebagai alternatif  latihan gerak dasar lokomotor.

Hasil penelitian dan pengembangan ini hanya terbatas pada pengembangan produk, maka peneliti menyarankan agar dilakukan penelitian selanjutnya yang menguji tingkat efektivitas produk yang dikembangkan.