SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

KERJASAMA ANTARA KEPALA DESA DENGAN MASYARAKAT DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK KERJA MASYARAKAT (POKJAMAS) DI DESA PLOSOJENAR KECAMATAN KAUMAN KABUPATEN PONOROGO

NOVIA KURNIAWATI RISTA

Abstrak


KERJASAMA ANTARA KEPALA DESA DENGAN MASYARAKAT DALAM PEMBERDAYAAN KELOMPOK KERJA MASYARAKAT (POKJAMAS) DI DESA PLOSOJENAR KECAMATAN KAUMAN KABUPATEN PONOROGO

Rista Kurniawati, Novia

Program Studi Pendidikan Panacasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

Novia.rk96@gmail.co.id

ABSTRAK - Kata Kunci:  Kerjasama, Kepala Desa, Masyarakat, Pemberdayaan, Kelompok Kerja Masyarakat

Kerjasama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang saling menguntungkan. Kerjasama merupakan aktivitas bersama dua orang atau lebih yang dilakukan secara terpadu yang diarahkan kepada suatu target atau tujuan tertentu. Sedangkan kerjasama desa adalah suatu rangkaian kegiatan yang terjadi karena ikatan formal antar desa atau desa dengan pihak ketiga untuk bersama-sama melakukan kegiatan usaha guna mencapai tujuan tertentu seacara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui (1) Kegiatan kerjasama yang telah dilakukan kepala desa dengan masyarakat dalam kelompok kerja masyarakat di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo (2) Mengetahui hambatan yang dihadapi dalam kerjasama antara kepala desa dengan masyarakat dalam kelompok kerja masyarakat di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo (3)Mengetahui upaya kepala desa dengan masyarakat dalam mengatasi hambatan dalam kerjasama antara Kepala Desa dengan masyarakat dalam kelompok kerja masyarakat di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif  jenis penelitian kualitatif deskriptif. Prosedur dalam pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

(a) Wawancara;

(b) Observasi;

(c) Dokumentasi. Analisis data pada penelitian ini dilakukan secara interaktif yang mana dalam hal ini terdapat tiga komponen yaitu:

(a) reduksi data;

(b) sajian data;

(c) penarikan kesimpulan dan verifikasi. Tahap- tahap penelitian terdiri atas tahap pra-lapangan, tahap pekerjaan lapangan,tahap analisis data, dan tahap pelaporan.

Hasil penelitian ini antara lain:

(1) Kerjasama yang Telah Dilakukan Kepala Desa dengan Masyarakat dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Masyarakat (Pokjamas) di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo diawali dengan musyawarah desa yang membahas mengenai susunan pengurus dan program kegiatan yang akan dibentuk oleh kelompok kerja masyarakat. Setelah susunan pengurus dan program kegiatan kelompok kerja masyarakat terbentuk, kepala desa menghimbau kepada tokoh masyarakat untuk menginformasikan kepada masyarakat desa supaya berpartisipasi mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah dibentuk. Pada tahap pelaksanaan sesuai dengan program kerja kegiatan pada kelompok kerja masing-masing, yaitu

(a) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga melakukan pelatihan dan workshop. (b) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) membentuk koperasi desa dengan kepala desa dan masyarakat, membentuk unit usaha berupa toko dan simpan-pimjam, pembangunan dan perbaikan akses lalu lintas jalan di Desa Plosojenar.

(b) Posyandu Balita melaksanakan kegiatan kesehatan ibu dan anak, imunisasi anak, dan peningkatan gizi dan pembinaan keluarga berencana.

(c) Posyandu Lansia melaksanakan kegiatan peningkatan kesehatan masyarakat lansia, mengurangi tingkat kematian pada masyarakat lansia dengan cara mengadakan senam pagi dan pemberian vitamin, pembinaan pola hidup sehat pada masyarakat.

(2) Hambatan Kerjasama Antara Kepala Desa dengan Masyarakat dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Masyarakat (Pokjamas) di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo pertama, kontra terhadap kebijakan kepala desa akibat pembangunan dan perbaikan akses lalu lintas jalan yang cukup lama. Kedua, sumber daya manusia yang masih rendah disebabkan beberapa anggota kelompok kerja masyarakat Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang tidak mengikuti workshop dan pelatihan dan kurangnya tenaga kerja untuk pembangunan dan perbaikan akses lalu lintas jalan di Desa Plosojenar. (3) Upaya Kepala Desa dengan Masyarakat untuk Mengatasi Hambatan Kerjasama dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Masyarakat (Pokjamas) Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo yaitu

(a) kepala desa beserta masyarakat mengadakan musyawarah desa,

(b) kepala desa beserta masyarakat mengadakan pembinaan.

Saran yang ditujukan antara lain sebagai berikut:

(1) Aparatur Desa hendaknya lebih memperhatikan kondisi yang dibutuhkan masyarakat desa Plosojenar dengan menjalin komunikasi yang baik lewat musyawarah desa.

(2) Kepala Desa Plosojenar dengan masyarakat hendaknya lebih giat lagi dalam mengembangkan kelompok kerja masyarakat sehingga desa Plosojenar bisa menjadi ikon dan contoh positif bagi desa lainnya di kecamatan Kauman kabupaten Ponorogo, serta masyarakat lebih aktif lagi dalam berpartisipasi.

(3) Angggota Pengurus Kelompok Kerja Masyarakat hendaknya menjalankan funsinya sebagaimana yang telah ditetapkan dalam kerjasama dan lebih mengevaluasi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan supaya pemberdayaan ini bermanfaat bagi anggota dan kegiatan terus berlanjut di setiap tahunnya.

(4) Kepada mahasiswa jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, penelitian ini diharapkan bisa dimanfaatkan untuk menambah pengetahuan, informasi, dan referensi untuk melakukan penelitian di bidang pemberdayaan kelompok kerja masyarakat pada seluruh warga jurusan Hukum dan Kewarganegaraan.

ABSTRACT - Keywords:  Collaboration, Village Head, Community, Empowerment,Working Group

Community

Collaboration basically indicates an agreement between two people or more that is mutually beneficial. Collaboration is a joint activity of two or more people carried out in an integrated manner which is directed to a specific target or goal. Whereas village cooperation is a series of activities that occur because of formal ties between villages or villages with third parties to jointly carry out business activities in order to achieve certain objectives as optimally. This study aims to find out

(1) Collaborative activities that have been carried out by the village head with the community in community work groups in Plosojenar Village, Kauman Subdistrict, Ponorogo Regency

(2) Knowing the obstacles faced in cooperation between village heads and communities in community work groups in Plosojenar Village Kauman Ponorogo Regency

(3) Knowing the village head's efforts with the community in overcoming obstacles in cooperation between the Village Head and the community in the community working group in Plosojenar Village, Kauman District, Ponorogo Regency.

This study uses qualitative research with descriptive qualitative research. The procedure in collecting data used in this study is

(a) Interview;

(b) Observation;

(c) Documentation. Data analysis in this study was conducted interactively which in this case there are three components, namely:

(a) data reduction;

(b) data presentation;

(c) drawing conclusions and verification. The research stages consist of the pre-field stage, the stage of field work, the data analysis phase, and the reporting phase.

The results of this study include:

(1) Collaboration between Village Heads and Communities in Empowering Community Working Groups in Plosojenar Village, Kauman Subdistrict, Ponorogo Regency, beginning with village meetings that discuss the management structure and program activities to be formed by groups. community work. After the management structure and program activities of the community working group were formed, the village head appealed to community leaders to inform the village community to participate in the activities that had been formed. At the implementation stage in accordance with the work program activities in each working group, namely

(a) Family Empowerment and Welfare conduct training and workshops.

(b) Village-Owned Enterprises form village cooperatives with village heads and communities, form business units in the form of shops and store-houses, construction and repair of road traffic access in Plosojenar Village.

(c) Toddler Posyandu implements maternal and child health activities, child immunization, and improved nutrition and family planning development. (d) Elderly Posyandu carries out activities to improve the health of the elderly, reduce the mortality rate in the elderly by organizing morning gymnastics and giving vitamins, fostering a healthy lifestyle for the community.

(2) Barriers to Cooperation Between the village chief with the Community in the Community Empowerment Working Group in the village of Kauman District of Ponorogo Plosojenar first,counter to the policy of the head of the village due to the development and improvement of traffic access road long enough. Second, human resources are still low due to several members of the Community Empowerment and Family Welfare Empowerment working group who did not attend workshops and training and lack of labor for the construction and improvement of road traffic access in Plosojenar Village.

(3) Efforts of Village Heads and Communities to Overcome Collaborative Barriers in Empowering Community Working Groups in Plosojenar Village, Kauman Subdistrict, Ponorogo Regency, namely

(a) village heads and communities hold village meetings,

(b) village heads and communities conduct training

Suggestions include the following:

(1) Village apparatus should pay more attention to the conditions needed by the people of the village of Plosojenar by establishing good communication through village meetings.

(2) The village head of Plosojenar with the community should be even more active in developing community working groups so that the village of Plosojenar can become a positive icon and example for other villages in the sub-district of Kauman, Ponorogo district, and the community is more active in participating.

(3) Members of the Management of the Community Working Group should carry out their functions as stipulated in the collaboration and further evaluate the activities carried out so that this empowerment benefits the members and the activities continue in each year.

(4) To students majoring in Law and Citizenship, this research is expected to be used to increase knowledge, information and references to conduct research in the field of empowerment of community working groups for all citizens majoring in Law and Citizenship.

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Desa merupakan wilayah penduduk yang mayoritas masyarakatnya masih memegang teguh adat-istiadat setempat, sifat sosialnya masih tinggi dan hubungan antar masyarakat cukup erat. Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, Desa diartikan sebagai

Kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sementara pemerintahan desa dimaknai sebagai penyelenggaraan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Desa adalah etis yang otonom. Fungsi dari kecamatan dalam konteks ini hanya sekedar menjalankan fungs adaministratif dan fungsi koordinatif di wilayah dan ditetapkan secara demokratis. Sehingga tidak asing lagi rasanya mendengar kata-kata seperti pemerintah desa, pembangunan desa dan masyarakat desa. Pembangunan desa adalah sebagai upaya pemerintah untuk meningkakan kualitas hidup dan kehidupan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat desa. Tidak ada alasan yang dibenarkan bahwa kesejahteraan dan kemandirian desa hanya menjadi komoditas politik yang berimplikasi terhadap stagnasi dan degradasi tujuan kesejahteraan masyarakat desa.

Diperlukan kerjasama yang saling mendukung, keterlibatan masyarakat desa dalam proses pembangunan desa dan masyarakat desa (Widjaja 2010: 134). Dalam melahirkan desa yang maju dan mandiri tentu tidak bisa dilakukan secara mudah. Jalan terjal membangun desa tentu akan menjadi bagian dari dinamika masyarakat dalam mengawal perubahan jika sebelumnya desa hanya memikirkan mengenai desanya sendiri tanpa banyak memikirkan dan melakukan sinergi dan koordinasi serta komunikasi dengan masyarakat desa tersebut yang sudah jelas termasuk didalam deretan terbentuknya suatu desa. Pembangunan desa adalah ikhtiar baru pemerintah untuk menuju kesejahteraan suatu desa. Orientasi pembangunan kawasan perdesaan adalah mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa di kawasan perdesaan.

Tindakan yang akan dilakukan kepala desa Plosojenar apabila terjadi hambatan-hambatan terkait kegiatan kelompok kerja masyarakat adalah dengan melakukan sosialisasi dan pembinaan sejak awal tahun di mulainya kegiatan kelompok kerja masyarakat. Wilayah desa Plosojenar banyak sekali masyarakat yang berpendidikan lulus minimal pada tingkat Sekolah Menengah Atas. Utamanya untuk pemuda desa yang tidak mau lanjut sekolah dikarenakan faktor ekonomi keluarga yang kurang mampu dan motivasi belajar rendah. Kondisi sebelumnya yang terjadi pada kelompok kerja masyarakat yang masih pasif dan tidak peduli dengan kemajuan masyarakat, sehingga banyak kelompok desa yang sudah terbentuk menjadi lumpuh dan tidak dijalankan lagi. Hal ini menjadi titik penting dalam mengatasi hambatan sumber daya manusia yang masih rendah. Kepala desa Plosojenar melakukan komuniksai yang baik untuk menghimbau kepada tokoh masyarakat, yaitu ketua kelompok kerja masayarakat (Pokjamas), ketua rukun warga dan ketua rukun tetangga supaya mengarahkan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan kelompok kerja masyarakat. dengan mengadakan musyawarah rutin setiap satu bulan sekali, kepala desa beserta tokoh masayarakat berharap agar pemberdayaan kelompok kerja masyarakat lewah pelatihan, pembinaan dan workshop dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa Plosojenar.

Pemanfaatan dana desa yang dikelola oleh aparatur desa untuk membantu berjalannya kegiatan kelompok kerja masyarakat. Kegiatan kelompok kerja masyarakat di desa Plosojenar meliputi,

(1) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) melakukan pelatihan pembuatan makanan ringan, pembuatan tempat tissue, kegiatan parenting di sekolah yang ada di desa Plosojenar dan workshop dengan berkunjung ke PKK desa lainnya;

(2) posyandu lansia melaksanakan kegiatan, yaitu: melakukan tensi darah, penimbangan berat badan dan pengecekan kesehatan pada masyarakat lansia, melakukan senam pagi dengan mendatangkan pelatih senam lansia, memberikan pembinaan terkait menjaga kesehatan tubuh dan pemberian konsumsi berupa makanan ringan dan air mineral;

(3) posyandu balita melaksanakan kegiatan pembinaan dan pelatihan pengurus posyandu balita oleh bidan dan dibantu oleh pos kesehatan desa, setelah pelatihan pengurus posyandu balita melakukan kegiatan pengecekan kesehatan gizi ibu dan anak dengan melakukan tensi darah dan penimbangan berat badan, kemudian melakukan imunisasi pada anak dengan memberikan vitamin dan suntikan difteri, lalu melakukan pembinaan kepada ibu terkait keluarga berencana dan yang terakhir pemberian konsumsi berupa kacang hijau dan air mineral;

(4) Badan Usaha Milik Desa Plosojenar mengadakan musyawarah dengan aparatur desa dan tokoh masyarakat, yaitu: ketua kelompok kerja masyarakat (Pokjamas), ketua rukun warga, ketua rukun tetangga, perwakilan karang taruna dan pegawai negeri sipil, kemudian membentuk pengurus Badan Usaha Milik Desa, setelah itu melakasanakan pembinaan dan pelatihan yang menghasilkan koperasi desa dan simpan pinjam dengan melibatkan masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan tersebut, selanjutnya musyawarah mengenai pembangunan desa dengan memperbaiki fasilitas-fasilitas sarana jalan yang ada di desa Plosojenar.

Lokasi yang akan peneliti gunakan untuk meneliti lebih lanjut kerjasama kepala desa dengan masyarakat dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat terletak di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Letaknya tidak jauh dari wilayah kota, hanya berjarak enam kilo meter dari kota Ponorogo. Alasan dari peneliti ingin menulis penelitian ini, karena peneliti melihat melalui observasi singkat bagaimana situasi dan kondisi kerjasama kepala desa dengan masyarakat dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat. Ketika berjalannya semua program kegiatan yang telah direncanakan kepala desa beserta masyarakat dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat sudah berjalan sesuai yang diharapkan seluruh kalangan masyarakat desa Plosojenar atau memiliki hambatan-hambatan sejak dimulainya kegiatan tersebut hingga saat ini. Selain itu peneliti menginginkan penenelitiannya berfungsi untuk masyarakat supaya lebih banyak lagi masyarakat desa yang berfikir dan bertindak progresif yang positif untuk kemajuan desa. Sehingga dari latar belakang yang telah dipaparkan peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian “Kerjasama Antara Kepala Desa dengan Masyararakat Dalam Pemberdayaan Kelompok Kerja Masyarakat (Pokjamas) di Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo”

C.Landasan Teori

1.Kerjasama

a.Pengertian Kerjasama

Kerjasama merupakan seseorang atau organisasi yang mempunyai kepedulian terhadap orang lain atau sekelompok orang hingga terbentuk suatu kegiatan yang sama dan menguntungkan semua anggota dengan dilandasi rasa saling percaya antar anggota serta menjunjung tinggi norma yang berlaku. Soekanto (2002: 72) mengatakan bahwa, “Kerjasama dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama orang antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau tujuan bersama”. Dari pernyataan tersebut sudah dapat dimengerti bahwa kerjasama memang ditujukan untuk membangun hubungan yang sama-sama membuahkan hasil pada tujuan tertentu.

Pada dasarnya manusia tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Menurut Purwadarminta (2005: 156) mengatakan bahwa, “Kerjasama juga diartikan sebagai kegiatan yang di lakukan secara bersama-sama dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan bersama”. Dalam menjalani kehidupannya manusia akan dihadapkan pada suatu dilema sosial. Oleh karena itu dibutuhkan kerjasama dalam menjalani kehidupannya. Seperti halnya Desa, tidak dapat berdiri sendiri tanpa kerjasama yang baik antara masyarakat dengan pemerintah desa, yang utamanya kepala desa tersebut. Faktor yang mempengaruhi kerjasama antara lain yakni:

(a) hal timbal balik;

(b) orientasi individu; dan

(c) komunikasi. Menurut Widjaja (2010: 134) menyatakan bahwa, “Diperlukan kerjasama yang saling mendukung, keterlibatan masyarakat desa dalam proses pembangunan desa dan masyarakat desa”. Kerjasama merupakan salah satu bentuk interaksi sosial. Menurut Abdulsyani (2004: 156) menyatakan bahwa,  “Kerjasama adalah suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat aktivitas tertentu yang ditunjukkan untuk mencapai tujuan bersama dengan saling membantu dan saling memahami aktivitas masing-masing”. Kerjasama merupakan interaksi sosial yang dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk mencapai tujuan bersama dan mendapatkan keuntungan kedua belah pihak.

b.Pelaksanaan Kerjasama

Pelaksanaan pada kerjasama adalah suatu tindakan yang dilaksanakan setelah perencanaan-perencanaan program kegiatan disusun. Menurut Natta (2000: 279-288) mengatakan bahwa, “Pelaksanaan kerjasama dapat dilakukan dengan menempuh tahapan yaitu: tahap penjajakan, tahap penanda tangan kerjasama, tahap penyusunan program, tahap pelaksanaan, tahap evaluasi, dan tahap pelaporan”. Menurut Tjipto (2004: 167) ada beberapa cara yang dapat menjadikan kerjasama dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang telah disepakati oleh dua orang atau lebih yaitu:

(1) Saling terbuka, dalam sebuah tatanan kerjasama yang baik harus ada komasi yang komunikatif antara dua orang yang berkerjasama atau lebih.

(2) Saling mengerti, kerjasama berarti dua orang atau lebih bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan, dalam proses tersebut, tentu ada, salah satu yang melakukan kesalahan dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapkan.

c.Faktor Penghambat Kerjasama

Sekumpulan orang belum tentu merupakan suatu tim. Orang-orang dalam suatu kelompok tidak secara otomatis dapat bekerjasama. Sering kali tim tidak dapat berjalan sebagaimana yang di harapkan. Berbagai faktor dapat menghambat jalannya kerjasama.

Menurut Tjipto (2004: 167) penyebab penghambat kerjasama adalah sebagai berikut:

a.Identifikasi Pribadi Anggota Tim

Sudah merupakan hal yang alamiah bila seseorang ingin tahu apakah mereka cocok di suatu organisasi, termasuk di dalam suatu tim, pergaulan dengan anggota lainnya, faktor pengaruh dan saling percaya antar tim .

b.Hubungan Antar Anggota Tim

Agar setiap anggota dapat bekerjasama,mereka saling mengenal dan berhubungan. Untuk itu dibutuhkan waktu bagi anggota nya untuk saling bekerjasama.

c.Identitas Tim di dalam Organisasi.

Faktor ini terdiri dari dua aspek

: (1) kesesuaian atau kecocokan tim di dalam organisasi dan

(2) pengaruh keanggotaan tim tertentu terhadap hubungan dengan anggota.

2.Pemberdayaan

Pemberdayaan adalah suatu tindakan dari seseorang atau lebih untuk membangun dan membimbing orang lain guna untuk kehidupan yang lebih baik. Seperti halnya pemberdayaan kelompok kerja masyarakat di desa Plosojenar dalam bekerjasama dengan kepala desa dan masyarakat. Pemberdayaan (empowerment) meningkatkan kemampuan untuk memilih dan membuka kesempatan untuk memilih yang berarti adalah peningkatan kemampuan untuk mengambil keputusan dan membuka kesempatan untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan, terutama yang bersangkutan dengan kehidupan mereka sendiri (Lubis, 2000:22). Pemberdayaan mempunyai maksud dan tujuan yang lebih hakiki atau mendalam yakni mempunyai arah ke suatu proses kemampuan, serta lebih memberikan peran atau fungsi yang lebih besar kepada masyarakat.

3.Kelompok Kerja Masyarakat

a.Pengertian Kelompok Kerja

Kelompok kerja merupakan tujuan yang diharapkan dalam proses dinamika kelompok, karena hal tersebut bisa tercapai, maka dapat dikatakan salah satu tujuan proses transformasi dapat berjalan dengan baik. Greenberg (2005: 56) menyatakan bahwa, “Kohesivitas kelompok kerja adalah perasaan dalam kebersamaan antar anggota kelompok”. Semakin tingginya kohesivitas kelompok kerja berarti setiap anggota dalam kelompok saling berinteraksi satu sama lain, mendapatakan tujuan mereka, dan saling membantu setiap pertemuan. Suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik dan kebutuhan-kebutuhan seseorang biasanya anggota kelompok tidak teratur dan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok.

METODE PENELITIAN

A.Pendekatan dan Jenis Penelitian

1.Pendekatan Penelitian

Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kulitatif. Pernyataan menurut Bogdan Taylor berpendapat bahwa metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistic (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasi individua tau organisasi ke dalam variable atau hipotesis, tapi perlu memandangnya sebagai bagian dari satu keutuhan (Moleong, 2000: 3).

Sugiyono (2010: 1) menyatakan dalam metode penelitian kualitatif, peneliti menjadi instrument utama yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari objek yang diamati. Tujuan utama dari penelitian kualitatif untuk menggambarkan, memahami serta dapat menjelaskan suatu peristiwa yang unik di dalam penelitian tersebut, dilakukan secara mendalam dan menggunakan prosedur yang lengkap sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif. Dalam penelitian ini, peneliti ingin menggambarkan dan mengungkapkan kerjasama antara Kepala Desa Plosojenar dengan masyarakat dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat, mencoba menjelaskan hambatan kerjasama Kepala Desa Plosojenar dengan masyarakat dalam dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat, dan upaya mengatasi hambatan kerjasama Kepala Desa Plosojenar dengan masyarakat dalam dalam pemberdayaan kelompok kerja masyarakat.

2.Jenis Penelitian

Sementara itu, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif. Menurut Sukmadinata (2016: 72) menyatakan bahwa, “Pendekatan deskriptif adalah suatu bentuk yang paling dasar. Ditujukan untuk mendiskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian ini mengkaji bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaannya dengan fenomena lain”. Ada beberapa jenis informasi yang bias diperoleh melalui penelitian deskriptif. Pertama, informasi tentang keadaan saat ini (present condition). Dalam penelitian ini, bagaimana kerjasama antara Kepala Desa dengan masyarakat dalam pemberdayaan Pokjamas di Desa Plosojenar. Kedua, informasi yang peneliti inginkan, apa yang ingin dicapai oleh peniliti, apa tujuan dan sarana peneliti dalam penelitian ini. Ketiga, bagaimana peneliti bisa sampai ke sana, bagaimana mencapainya, dll. Penelitian deskriptif dilakukan untuk menghimpun informasi tentang tuntutan atau tantangan yang dihadapi, kebutuhan yang dirasakan, kekurangan yang dialami.

B.Kehadiran Penelitian

Dalam peneliatian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data di lapangan “Kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analisis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya” (Moleong, 2013: 168). Artinya dalam proses pengumpulan data, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dengan melakukan pengamatan dan mendengarkan secermat mungkin hingga pada detail-detailnya.

Dengan demikian, peneliti harus terlibat langsung dalam kehidupan subyek yang akan diteliti yaitu kepala desa, masyarakat dan kelompok kerja masyarakat yakni: (a) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), (b) Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), (c) Posyandu Balita, (d) Posyandu Lansia.  Sedangkan berbagai bentuk alat-alat bantu serta dokumen-dokumen lainnya akaan digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian. Kehadiaran peneliti secara langsung sebagai tilik ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan penelitian secara langsung dan aktif dengan informan kunci dan pendukung dan atau sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan.

C.Lokasi Penelitian

Keunikan dari Desa Plosojenar adalah desa ini terletak pada jarak 500 meter dari ibukota kecamatan Kauman. Di desa ini terdapat sarana pasar yang cukup luas dan terkenal, yaitu pasar Bantarangin. Karena adanya pasar yang terkenal setelah pasar Songgolangit yang terletak di kabupaten Ponorogo tersebut banyak masyarakat yang memulai bisnis berdagang. Selain itu di Desa Plosojenar juga terdapat tumbuhan pohon ploso yang konon katanya nenek moyang itu asal mula dari nama Desa Plosojenar ini. Masyarakatnya terbilang masih tradisional dan lekat akan budaya, namun karena kinerja Kepala Desa beserta perangkat cukup baik, sedikit demi sedikit masyarakat sudah mulai berkembang dan maju. Dengan diadakannya program-progam pokjamas yang masuk di desa dan pembangunan-pembangunan yang rutin setiap tahunnya menjadikan desa dan penduduknya makin terlihat baik. Menurut E.C. Hugehes (dalam Moleong, 2013: 127), “setiap situasi merupakan laboratorium di dalam lapangan penelitian kualitatif”. Maksudnya adalah dimanapun tempatnya dan bagaimanapun keadaanyan biasa dijadikan untuk penelitian. Beberapa aspek kehidupan sosial dapat diteliti karena hal itu menjadi lebih jelas. Cara yang perlu ditempuh dalam menentukan lokasi penelitian adalah dengan menjajaki lapangan yang telah ditentukan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang ada di lapangan dengan informasi yang telah peneliti dapat dari berbagai sumber.

Penelitian ini dilakukan di Balai Desa Plosojenar yang terletak di jl. Ahmad Yani No. 6 Ponorogo, selain itu penelitian ini juga akan dilakukan di kantor posyandu balita dan lansia yang terletak Balai Desa Plosojenar. Kemudian penelitian ini akan dilakukan pada kegiatan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di kantor Balai Desa Plosojenar Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo.

D.Sumber Data

Sumber data yang didapat peneliti adalah modal utama dalam menyusun laporan penelitian. Menurut Lofland (dalam Moleong, 2013: 157) menyimpulkan bahwa, “Sumber data dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain”. Dalam penelitian ini sumber data yang didapat melalui dua sumber data, yaitu:

1.Sumber Data Primer

Sumber data primer adalah data yang dapat diperoleh langsung dari lapangan atau tempat penelitian. Data-data tersebut akan peneliti dapat dari hasil wawancara maupun hasil observasi ke staf bagian pemerintahan desa yaitu Kepala Desa Plosojenar yaitu Bapak Sutrisno S.H. Selanjutnya beberapa masyarakat desa yaitu Bapak Supriono, Bapak Mujiono dan Bapak Kurnianto selaku ketua rukun tetangga dusun Karangan. Kemudian kepada anggota pengurus kelompok kerja masyarakat/ staf yang mewakili yaitu Ibu Hidayati Sutrisno selaku ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ibu Rizki Wahyunita Wardhani S.Pd selaku bendahara Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), Ibu Sri Rohaya S.Pd selaku pengurus posyandu balita, Ibu Misti selaku kader posyandu lansia, Ibu Ida Sriningsih sela