SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Upaya Penanggulangan Kegiatan Pesta Miras diAcara Perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blita

Irawan , Irawan

Abstrak


Upaya Penanggulangan Kegiatan Pesta Miras Di Acara Perkawinan Di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Irawan  Universitas Negeri Malang

Email: Irawan.iw89@gmail.com

Kata Kunci : Upaya, Perkawinan, Pesta Minuman Keras

 

Abstrak

Salah satu fenomena yang terjadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar yang dimana masyarakat justru mengadakan kegiatan minum Minuman Keras di beberapa acara perkawinan dan kegiatan ini justru di anggap kegiatan yang wajar oleh masyarakat tersebut dan tuan rumah selaku penyelenggara acara perkawinan pun tidak merasa keberatan justru menyediakan minuman tersebut. Kegiatan minum Minuman Keras di pesta perkawinan ini biasanya di lakukan oleh para tamu undangan laki-laki, terkadang ada juga tamu perempuan yang ikut bergabung tetapi biasa nya tamu perempuan tersebut merupakan kerabat atau sodara dari pihak penyelenggara acara perkawinan.

Penelitian ini betujuan untuk mengetahui:

1) Upaya apa saja yang di lakukan pihak pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar,

2) Hambatan yang di hadapi pihak pemerintah Desa tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar,

3) Bagaimana upaya pihak lain dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar, 4) Solusi dari  pihak pemerintah Desa Tulungrejo dan pihak lainya dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan jenis pendekatan penelitian diskriptif kualitatif dengan metode penelitian diskriptif. Sumber data primer penelitian ini adalah:

1) Bapak Suwadi selaku Kepala Desa Tulungrejo;

2) Bapak Ahmad selaku ketua BPD Desa Tulungrejo;

3) Mbak Wulan selaku Sekretari Desa Tulungrejo;

4) Bapak kamit selaku kepala Dusun Sumbergondo Desa Tulungrejo Pemuka Agama Desa Tulungrejo;

5) AKP Misdi selaku Kapolsek Gandusari;

6) IPDA Joko Pitoyo selaku Kanit Reskrim Polsek Gandusari;

7) Mbah Giyem selaku sesepuh Desa Tulungrejo;

8) Bapak Basori,Mas Suratin, Mas Wawan, Mas Siswanto selaku Masyarakat Desa Tulungrejo. Kemudian untuk sumber data sekunder penelitian ini adalah arsip Desa Tulungrejo dan arsip data Polsek Gandusari. Data  dan informasi yang didapatkan oleh peneliti menggunakan :observasi, dokumentasi, dan wawancara. Analisis data yang dilakukan dengan cara pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk pengecekan keabsahan data dengan meningkatkan ketekunan dan triangulasi.

Hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan kemudian dijabarkan sebagai berikut. Pertama. Upaya yang di lakukan pihak pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan yaitu

1) Memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Desa Tulungrejo mengenai bahaya dan dampak mengkonsumsi Minuman Keras

2) Memberi peringatan kepada pemilik warung atau toko di Desa Tulungrejo untuk tidak menjual minuman keras

3) memberikan peringatan dan teguran kepada warung yang telah menjual minuman keras. Kedua. Hambatan yang di hadapi pihak pemerintah Desa tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan yaitu

1) Kurangnya kesadaran masyarakat Desa Tulungrejo terhadap bahaya dan dampak minuman keras,

2) Mudahnya masyarakat dalam mendapatkan minuman keras. Ketiga. Upaya pihak lain dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan yaitu

1) Melakukan sosialisasi, pengawasan dan memaksimalkan tindakan kring reserse,

2) Menanamkan ajaran-ajaran agama, nilai norma dan memberikan edukasi mengenai dampak mengkonsumsi minuman keras. Keempat. Solusi dari  pihak pemerintah Desa Tulungrejo dan pihak lainya dalam menanggulangi kegiatan pesta Minuman Keras di acara perkawinan yaitu

1) meningkatkan koordinasi dan memaksimalkan tindakan kring reserse,

2) pengawasan terhadap jalanya setiap kegiatan acara yang di selenggarakan masyarakat Desa Tulungrejo

Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh saran sebagai berikut :

1) Pihak pemerintah Desa Tulungrejo tidak boleh lagi memandang sebelah mata akan maraknya fenomena kegiatan pesta minuman keras, dan memaksimalkan berbagai kegiatan sosialisasi tentang bahaya, dampak minuman keras,

2) Pihak Polsek Gandusari harus memaksimalkan koordinasi dengan desa-desa di seluruh wilayah Kecamatan Gandusari dan harus lebih tegas dalam menindak warung-warung yang tidak memiliki izin untuk menjual minuman keras sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

 

PENDAHULUAN

Perkawinan merupakan salah satu peristiwa penting dalam kehidupan manusia. Perkawinan yang terjadi antara seorang pria dengan seorang wanita menimbulkan akibat lahir maupun batin baik terhadap keluarga masing-masing masyarakat dan juga dengan harta kekayaan yang diperoleh diantara mereka baik sebelum maupun selamanya perkawinan berlangsung.

 Setiap mahluk hidup memiliki hak azasi untuk melanjutkan keturunannya melalui perkawinan, yakni melalui budaya dalam melaksanakan suatu perkawinan yang dilakukan di Indonesia. Terdapat perbedaan-perbedaannya dalam pelaksanaan yang disebabkan karena keberagaman kebudayaan atau kultur terhadap agama yang dipeluk. Setiap mempelai pria dengan wanita jika sudah melakukan perkawinan maka terhadapnya ada ikatan kewajiban dan hak diantara mereka berdua dan anak-anak yang lahir dari perkawinan tersebut.

Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia lahir maupun batin dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.

Mengingat pelaksanaan perkawinan merupakan momen yang paling bersejarah dan mengesankan, juga merupakan perbuatan yang suci, maka pelaksanaannya seharusnya terbuka untuk umum sehingga dapat diketahui masyarakat luas. Di era modern saat ini, acara perkawinan di beberapa daerah masih menggunakan adat tradisional seperti, adat Jawa, adat Sunda, adat Sulawesi dan lain-lain.

Berdasarkan urgensi yang telah ditemukan di lingkungan masyarakat bahwa perkawinan dewasa ini juga dapat memicu terjadinya penyimpangan nilai dan norma. Hal ini dapat dibuktikan dengan munculnya fenomena yang saat ini terjadi dengan adanya kegiatan pesta miras atau minuman beralkohol dalam acara atau pesta perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar.

Kukuh (2007:51) menyatakan bahwa “minuman keras adalah jenis minuman yang mengandung alkohol tidak peduli berapa kadar alkohol di dalamnya. Musbikin (2013:168) mengemukakan dampak ketika remaja mengkonsumsi minuman keras adalah: dapat menyebabkan gangguan kesehatan fisik seperti pembicaraan cadel atau tidak jelas, gangguan koordinasi atau ketidakmampuan untuk berdiri karena gangguan koordinasi gerakan tubuh, cara jalan yang tidak mantap, mata jereng, muka merah, mual dan muntah, Lemah, letih dan lesu, kesehatan jiwa seperti:  perasaan nyaman atau perasaan gembira yang berlebihan, mudah marah dan mudah tersinggung, banyak bicara (melantur), gangguan perhatian atau konsentrasi dan gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat

Penyalahgunaan minuman keras dengan mengkonsumsi di luar batas kewajaran, disamping akan menjadi masalah individu yang dapat merugikan diri sendiri, selain itu yang lebih luas lagi dapat menjadi masalah bagi masyarakat. Kebiasaan minum-minuman keras yang melebihi batas yang wajar dapat menyebabkan sikap seseorang menjadi anti sosial dan cenderung merugikan kepentingan orang lain. Disisi lain minuman keras menyebabkan kecanduan dan menjadi ketergantungan, Minuman keras juga dicampur dengan zat-zat kimia yang mematikan yang seharusnya tidak diperuntukkan untuk dikonsumsi manusia Keadaan yang demikian itu apabila tetap dibiarkan akan menimbulkan keresahan dalam masyarakat juga rusaknya generasi muda yang akan datang.

Salah satu fenomena yang terjadi di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar yang dimana masyarakat justru mengadakan kegiatan minum miras di beberapa acara perkawinan dan kegiatan ini justru di anggap kegiatan yang wajar oleh masyarakat tersebut dan tuan rumah selaku penyelenggara acara perkawinan pun tidak merasa keberatan justru menyediakan minuman tersebut. Kegiatan minum miras di pesta perkawinan ini biasanya di lakukan oleh para tamu undangan laki-laki, terkadang ada juga tamu perempuan yang ikut bergabung tetapi biasa nya tamu perempuan tersebut merupakan kerabat atau sodara dari pihak penyelenggara acara perkawinan.

Berangkat dari fenomena diatas peneliti tertarik dan ingin meneliti dan mengetahui lebih jauh tentang kegiatan pesta miras di acara pesta perkawinan ini mulai dari bagaimana terjadinya fenomena tersebut, dan juga bagaimana tindakan yang di lakukan oleh pemerintah desa setempat terkait fenomena tersebut.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian Kualitatif adalah penelitian yang datanya adalah data kualitatif sehingga analisisnya juga analisis kualitatif (deskriptif). Senada dengan pendapat tersebut Sukmadinata (2009;18) berpendapat bahwa data kualitatif adalah data dalam bentuk kata, kalimat, dan gambar. Data kualitatif dapat diubah menjadi data kuantitatif dengan jalan diskoring. Contoh data kualitatif adalah manis, pahit, rusak, gagal, baik sekali, baik, kurang baik, tidak baik, atau  sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju, selalu, sering, kadang-kadang, jarang, dan  tidak pernah.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif sebagai bagian dari penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian dekriptif adalah penelitian yang memberikan gambaran lebih detail mengenai suatu gejala berdasarkan data yang ada, menyajikan data, menganalisis, dan menginterprestasi Achmadi (2005:17). Adapun pengertian deskriptif menurut Sugiyono (2014: 29) adalah metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data atau sempel yang telah terkumpul sebagaimana adanya, tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku umum. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberikan gambaran penyajian laporan tentang.

 

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Upaya yang di lakukan pihak pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Adanya fenomena kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo tentunya tidak lepas dari pantauan pemerintah Desa, sehingga membuat pemerintah desa melakukan beberapa upaya untuk menanggulangi maraknya fenomena miras. Didapatkan beberapa upaya yang dilakukan pemerintah desa dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan.

Upaya yang dilakukan pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan salah satunya adalah setiap ketua RT dan ketua RW  memberikan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat masing-masing dusun menganai bahaya dan dampak minuman keras. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Sutaryo (2004:156) sosialisasi merupakan proses ketika individu mendapatkan kebudayaan kelompoknya dan menginternalisasikan sampai tingkat tertentu norma-norma sosialnya, sehingga membimbing orang tersebut untuk memperhitungkan harapan-harapan orang lain.

Pemerintah Desa Tulungrejo telah berupaya menanggulangi maraknya kegiatan pesta miras dengan memberikan teguran kepada warung-warung yang berada di Desa Tulungrejo untuk tidak menjual minuman keras dan untuk warung yang masih menjual minuman keras maka akan di kenai sanksi sesuai dengan Perda Kabupaten Blitar Nomor 8 Tahun 2002 tentang larangan peredaran minuman keras.

 

B. Hambatan yang di hadapi pihak pemerintah Desa tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Penanggulangan kegiatan pesta miras di acara perkawinan oleh pemerintah Desa Tulungrejo dalam pelaksanaanya  tentu tidak terlepas dari berbagai hambatan. Sehingga hambatan-hambatan tersebut perlu di ketahui agar upaya pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras dapat terlaksana.

Hambatan dalam upaya penanggulangan kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo pertama ialah kurangnya kesadaran masyarakat menganai kesakralan acara perkawinan itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ichsan (1986:30) bahwa perkawinan dilihat sebagai ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri, sehingga mengandung makna bahwa perkawinan adalah persoalan antara pihak-pihak yang akan melangsungkan perkawinan.

Hambatan yang terjadi dalam upaya menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan yang kedua ialah mudahnya masyarakat dalam membeli atau mendapatkan minuman keras, meskipun sudah di jelaskan dalam Perda Kabupaten Blitar Nomor 8 Tahun 2002 tentang larangan peredaran minuman keras, tetap saja masih ada warung warung yang nekat menjual minuman keras meskipun tidak memiliki izin, misalnya terdapat lebih dari dua warung entah itu di Desa Tulungrejo atau pun di desa terdekat yang memperjual belikan minuman keras, sebenarnya warung-warung tersebut merupakan warung illegal yang tidak memiliki izin untuk menjual minuman keras, dan tidak sembarangan dalam melayani pembeli, hanya yang terbiasan membeli atau yang sudah kenal saja yang akan di layani.

 

C. Upaya pihak lain dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan dalam pelaksanaanya  tentu membutuhkan upaya dari berbagai pihak lain, antara lain dari

(1) Polsek Gandusari, dan

(2) Pemuka Agama Desa Tulungrejo. Pemerintah Desa Tulungrejo dengan kedua pihak tersebut perlu bekerja sama guna menanggulangi fenomena pesta miras di acara perkawinan.

Polsek Gandusari sudah berupaya untuk menanggulangi kegiatan pesta miras dengan melakukan sosialisai, pengawasan, dan sesuai dengan Perda Kabupaten Blitar Nomor 8 Tahun 2002 tentang larangan pengedaran minuman keras Polsek Gandusari melakukan razia warung yang tidak memiliki izin menjual minuman keras di seluruh wilayah Kecamatan Gandusari. Kemudian pihak Polsek Gandusari lebih telah melakukan tindakan kring reserse yang meliputi tiga tahapan yaitu pre-emtif, preventif, dan represif. Sutaryo (2004:156) juga berpendapat sosialisasi merupakan proses ketika individu mendapatkan kebudayaan kelompoknya dan menginternalisasikan sampai tingkat tertentu norma-norma sosialnya, sehingga membimbing orang tersebut untuk memperhitungkan harapan-harapan orang lain.

Pemuka agama Desa Tulungrejo setempat sudah berupaya menanggulangi adanya fenomena kegiatan pesta miras, dengan memberikan tema tentang pemahaman bahaya minuman keras dalam setiap kegiatan pengajian atau saat Khutbah jumat dan juga di setiap kegiatan mengaji, ustadz juga menanamkan nilai agama, norma, dan moral kepada para santri. Uraian diatas sesuai dengan teori Allport dalam Mulyana (2004:9) mendefinisikan nilai sebagai sebuah keyakinan yang membuat seseorang bertindak atas dasar pilihanya.

 

D. Solusi dari  pihak pemerintah Desa Tulungrejo dan pihak lainya dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar

Pihak Pemerintah Desa Tulungrejo melakukan kerja sama dengan Pemerintah Desa sekitar untuk menutup warung-warung yang tidak memiliki izin untuk menjual miras, hal ini bertujuan untuk menutup akses para pelaku kegiatan pesta miras dalam mendapatkan miras, sesuai dengan Perda Kabupaten Blitar Nomor 8 Tahun 2002 tentang larangan peredaran minuman keras.

Pihak Polsek sendiri juga akan melakukan koordinasi dengan pihak Pemerintah Desa di seluruh wilayah kecamatan Gandusari dan menugaskan Babinsa di masing-masing desa untuk selalu mengawasi setiap kegiatan atau acara yang diselenggarakan, dan akan membubarkan acara tersebut apabila di dalamnya terdapat kegiatan pesta miras. Kemudian pihak Polsek juga akan menindak tegas para pelaku kegiatan pesta miras dan penjual miras yang tidak memiliki izin sesuai dengan Permendagri Nomor 20 Tahun 2014 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran dan penjualan minuman beralkohol.

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Upaya yang di lakukan pihak pemerintah Desa Tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan yaitu :

(a) memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya dan dampak mengkonsumsi minumas keras,

(b) memberikan peringatan dan himbaun kepada pemilik warung atau toko yang berada di wilayah Desa Tulungrejo untuk tidak menjual minuman keras,

(c) memberikan peringatan dan teguran kepada warung yang telah menjual minuman keras.

2. Hambatan yang di hadapi pihak pemerintah Desa tulungrejo dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan sebagai berikut :

(a) masyarakat kurang memiliki kesadaran akan bahaya dan dampak mengkonsumsi minuman keras,

(b) mudahnya masyarakat dalam mendapatkan atau membeli minuman keras.

3. Upaya pihak lain dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan, sebagai berikut:

(a) Melakukan sosialisasi, pengawasan dan memaksimalkan tindakan kring reserse,

(b) Menanamkan ajaran-ajaran agama, nilai norma dan memberikan edukasi mengenai dampak mengkonsumsi minuman keras.

4. Solusi dari  pihak pemerintah Desa Tulungrejo dan pihak lainya dalam menanggulangi kegiatan pesta miras di acara perkawinan sebagai berikut:

(a) pengawasan terhadap jalanya setiap kegiatan acara yang di selenggarakan masyarakat Desa Tulungrejo,

(b) meningkatkan koordinasi dan memaksimalkan tindakan kring reserse,

(c) Membubarkan acara perkawinan yang terdapat kegiatan pesta minuman keras.

 

SARAN

Sebagai upaya dalam menanggulangi kegitan pesta miras di Desa Tulungrejo Kecamatan Gandusari Kabupaten Blitar. Oleh karena peneliti memberikan saran dan masukan sabagai berikut.

1. Pihak pemerintah Desa Tulungrejo tidak boleh lagi memandang sebelah mata akan maraknya fenomena kegiatan pesta minuman keras, dan memaksimalkan berbagai kegiatan sosialisasi tentang bahaya, dampak minuman keras.

2. Pihak Polsek Gandusari harus memaksimalkan koordinasi dengan desa-desa di seluruh wilayah Kecamatan Gandusari dan harus lebih tegas dalam menindak warung-warung yang tidak memiliki izin untuk menjual minuman keras sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

 

Daftar Rujukan

Achmadi, Abu. 2005.  Metode Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Ahira, Anne. 2010. Pengertian Minuman Keras Alkohol. http://www.anneahira.com/pengertian-minuman-keras.htm. di akses tanggal 20 November 2018

Bachtiar, H.W. 1997. Pengamatan Sebagai Suatu Metode Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Budiarjo, A, dkk. 1991. Kamus psikologi. Semarang : Dahara prize

Fatchan. A, 2009. Metode Penelitian Kualitatif, Jenggala Pustaka. Malang

George, Rickey L. 1990. Counseling The Chemically Dependent; Theory and Practice. Massachusetts : Needham Heights

Hardani, E. 1999. Hubungan Antara Dukungan Teman Sebaya Peminum dengan Perilaku Minum Minuman Keras Pada Remaja peminum. Surakarta : Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Hawari, Dadang. 2001. Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol, & Zat adiktif. Jakarta : Gaya Baru

Hidayatullah. 2011. Lebih 300.000 Remaja Meninggal Setiap Tahunnya Akibat Alkohol. http://www.hidayatullah.com di akses tanggal 20 November 2018

Ichsan, Ahmad. 1986. Hukum Perkawinan Yang Beragama Islam. Jakarta : Pradnya Paramita.

Ichsan, Ahmad. 1996 Persiapan Menuju Perkawinan yang Lestari. Jakarta: Pustaka Antara.

Karamoy, S. 2004. Cegah Sejak Dini. Rotary International D-3400 RI Drug Abuse Committee. Semarang: Fakultas Psikologi UNIKA

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Pasal 204 ayat 1 dan 2 tentang Minuman Keras

Kriyantono, Rachmat. 2009. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Malang: Prenada Media Group

Kukuh. (2007). Generasi gaul Tanpa Drugs & Alkohol. Jakarta: Kaysa Media

Moleong, L.J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:PT Remaja Rosdakarya

Mulyana, Rohmat. 2004. Mengartikulasi Pendidikan Nilai. Bandung:Alfabeta

Musbikin, Imam. (2013). Mengatasi Kenakalan Siswa Remaja.  Pekanbaru Riau: Zanafa Publishing.

Undang-Undang Nomor 6 Tahun2014 Tentang Desa

Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan