SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pola Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

Muhammad Khafid Febriyanto

Abstrak


POLA PERILAKU MENYIMPANG PADA SISWA DI SMA NEGERI 1 LAWANG

Muhammad Khafid Febriyanto, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang

surel: khafidfebri56@gmail.com

 

Abstrak

Dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai pola perilaku menyimpang pada siswa yang ada di SMA Negeri 1 Lawang. Masa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan sosial. Dalam mengalami masa tersebut, anak akan mendapatkan pengaruh-pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Lingkungan pun memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membentuk perilaku anak.

Kata kunci: Perilaku, Remaja, Perilaku Menyimpang

 

Abstract

In this article, will explain about the patterns of deviant behavior in students in SMA 1 Lawang.  Adolescence is a developmental stage between childhood and adulthood characterized by general physical changes and cognitive and social development.  In experiencing this period, children will get influences both from the outside and from within.  The environment also has a considerable influence in shaping children's behavior.

Keyword: Behavior, Teenager, Deviant Behavior

Masa remaja merupakan tahap perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa yang ditandai oleh perubahan fisik umum serta perkembangan kognitif dan social. Masa remaja dimuali pada saat anak secara seksual menjadi matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hokum (Hurlock dalam Ramadan, 2013: 10). Melihat kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja.

Perilaku menyimpang yang biasa dikenal dengan istilah penyimpangan social merupakan perilaku atau tindakan yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sekolah merupakan lingkungan kedua setelah lingkungan rumah yang dialami oleh seorang remaja. Di sekolah seorang anak akan belajar mengenai ilmu pengetahuan dan juga belajar bagaimana untuk hidup bersosial yang merupakan kodrat seorang manusia yang selain sebagai seorang individu manusia juga merupakan seorang makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam menjalankan kehidupannya.

Dewasa ini, semakin banyak saja ditemukan kasus anak sekolah yang melanggar aturan dan melakukan penyimpangan. Hal ini bias dikategorikan sebagai kenakalan remaja. (Hassan dalam Willis, 2012: 89) mengungkapkan bahwa “Kenakalan remaja itu ialah kelakuan atau perbuatan anti sosial dan anti normatif”. Banyak hal yang melatarbangkai mengapa seorang anak bias melakukan perilaku menyimpang. Selain faktor dari keluarganya juga sedikit banyaknya dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan anak sehari-hari.

Sekolah diharapkan bias rumah kedua bagi siswa-siswi dalam mempelajari berbagai hal, selain belajar tentang akdemik atau ilmu pengetahuan tetapi juga belajar sebagai makhluk sosial yang bersosialisasi dengan banyak orang. Seseorang yang menempuh pendidikan di sekolah diharapkan mengetahui dan memahami tentang ilmu pengetahuan yang menunjang akdemik dan juga termasuk memahami tentang nilai dan norma sebagai aturan hidup bermasyarakat.

 

KAJIAN TEORITIS

1. Perilaku

a. Pengertian Perilaku

Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 118) perilaku adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri. Dan pendapat diatas disimpulkan bahwa perilaku (aktivitas) yang ada pada individu tidak timbul dengan sendirinya, tetapi akibat dari adanya rangsang yang mengenai individu tersebut. Menurut Soekidjo Notoatmojo (1997: 120-121) perilaku dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu: perilaku pasif adalah respon internal dan perilaku aktif.

 

b. Perilaku Menyimpang

Dalam kamus besar bahasa Indonesia perilaku menyimpang diartikan sebagai tingkah laku, perubahan, atau tanggapan seseorang terhadap lingkungan yang bertentangan dengan norma-norma dan hokum yang berlaku di dalam masyarakat. Dalam kehidupan masyarakat, semua tindakan manusia dibatasi oleh aturan untuk berbuat dan berperilaku sesuai dengan sesuatu yang dianggap baik oleh masyarakat.

 

2. Kenakalan Remaja

Di tengah kehidupan masyarakat dewasa ini seringkali kita temukan tindakan-tindakan atau perilaku remaja (siswa) bertentangan dengan norma hokum bahkan tidak segan-segan untuk melanggar aturan hokum. Misalnya seorang siswa merokok, mencuri, mabuk-mabukan, berbohong, menyontek pada saat ulangan, mengganggu siswa lain, membolos.

 

METODE

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif karena peneliti ingin memahami proses pelaksanaan pelayanan publik yang dilakukan oleh perangkat desa.Menurut Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2014: 6) penelitian kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan pada manusia baik dalam kawasannya maupun peristilahannya.

Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian deskriptif, dalam kegiatan penelitian ini peneliti hanya memotret apa yang terjadi pada diri obyek atau wilayah yang diteliti. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan olch (Sujana dan Ibrahim, 1989.65) penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa, kejadian yang terjadi pada saat sekarang.

 

PEMBAHASAN

 

Pola Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

Perilaku merupakan reaksi yang ditimbulkan manusia yang disebabkan oleh rangsangan baik dari dalam maupun dari luar. Menurut Skinner sebagaimana dikutip oleh Soekidjo Notoatmojo (2010: 21) perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap rangsangan dari luar (stimulus). Berdasarkan teori tersebut bahwa perilaku dapat diartikan sebagai bentuk sebab dan akibat, misalnya tidak setuju dengan pendapat orang lain maka akan menimbulkan akibat berupa perilaku dengan tindakan protes atau mengusulkan pendapat lain.

Perilaku menyimpang yang terjadi pada siswa di sekolah merupakan suatu fenomena yang sering ditemui. Disebabkan sekolah adalah tempat siswa untuk mengenal dirinya dan membaur diri dengan teman sebayanya. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di SMA Negeri 1 Lawang bahwa pola perilaku menyimpang pada siswa juga sering terjadi, namun dalam hal ini peneliti membatasi bentuk perilaku menyimpang pada siswa yang disesuaikan dengan tata tertib sekolah. Pola perilaku menyimpang pada siswa di SMA Negeri 1 Lawang dikategorikan menjadi tiga bentuk pelanggaran yaitu: pelanggaran dalam bentuk sikap perilaku, pelanggaran dalam bentuk kerajinan, dan pelanggaran dalam bentuk kerapian.

 

Penyebab Terjadinya Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

Kenakalan siswa di SMA Negeri 1 Lawang disebabkan karena siswa masih mencari jati dirinya dan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah usia siswa yang masih tergolong dalam usia remaja. Di usia remaja ini adalah waktu remaja dalam mencari jati dirinya masing-masing. Adapun lain siswa yang melanggar tata tertib biasanya karena siswa siswa kurang nyaman dengan tata tertib yang berlaku di sekolah, sehingga untuk menunjukkan sebuah penolakan terhadap aturan-aturan yang ada, dilakukan dengan cara melanggarnya.

 

Kendala yang Dialami oleh Pihak Sekolah dalam Menangani Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

Secara umum kendala yang dihadapi oleh pihak SMA Negeri 1 Lawang dalam menangani perilaku menyimpang pada siswa di SMA Negeri 1 Lawang adalah faktor usia dan sumber daya manusia yang ada di SMA Negeri 1 Lawang.

Faktor Usia

Faktor usia mempengaruhi psikologis seseorang dalam menghadapi sesuatu. Usia yang tergolong muda biasannya memiliki tingkat emosional yang rendah daripada yang berusia lanjut usia. Usia juga mempengaruhi tingkat kesabaran seseorang dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas terus-menerus hingga tujuan tersebut tercapai .

Sumber Daya Manusia

Faktor yang kedua yaitu sumber daya manusia yang masih kurang, hal tersebut dikatakan oleh Waka Kesiswaan. Rata-rata guru di SMA Negeri 1 Lawang sebagian besar sudah mulai pensiun. Sehingga dalam menangani banyaknya kasus kenakalan siswa pihak sekolah yang terkait bidang tersebut menjadi kualahan.

 

Solusi untuk Mengatasi Perilaku Menyimpang pada Siswa di SMA Negeri 1 Lawang

Untuk mengatasi hambatan yang terjadi, SMA Negeri 1 Lawang memiliki solusi untuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam internal guru, yaitu dengan membuat jadwal piket tata tertib untuk seluruh guru dengan pembagiannya rata (guru muda berdampingan dengan guru yang lebih tua), agar pembagian tugas juga lebih maksimal dalam menghadapi penyimpangan pada siswa di SMA Negeri 1 Lawang.

Sedangkan untuk mengatasi kendala yang terjadi, tentu ada solusi yang dilakukan agar penyimpanan dalam bentuk kenakalan di SMA Negeri 1 Lawang tidak terjadi lagi. Solusi yang diberikan untuk mengatasi kenakalan siswa di sekolah terdapat dua hal yaitu solusi dengan tindakan preventif dan solusi dengan tindakan kuratif.

Tindakan Preventif

Di SMA Negeri 1 Lawang, solusi yang dipakai untuk pencegahan kenakalan siswa adalah dengan adanya tata tertib sekolah, dengan kata lain sebagai bahan untuk membatasi sikap dan perilaku siswa agar tidak semaunya sendiri dan nasehat dari guru yang terstruktur dalam pembelajaran sehari-hari.

Tindakan Kuratif

Di SMA Negeri 1 Lawang, untuk menindak siswa yang melakukan pelanggAran tata tertib sekolah makan diterapkan sanksi berupa sistem poin bagi siswa, yang nantinya akan berimbas pada nilai raport siswa. Hal tersebut dilakukan untuk menimbulkan efek jerah kepada siswa agar tidak mengulanginya lagi.

 

KESIMPULAN

Pola perilaku menyimpang dalam dalam bentuk kenakalan siswa di SMA Negeri 1 Lawagn dibatasi dengan adanya tata tertib yang berlaku di sekolah. SMA Negeri 1 Lawang menggunakan tata tertib baru yang telah dijalankan selama kurang lebih 1 semester (6 bulan).

Kenakalan siswa SMA Negeri 1 Lawang disebabkan karena siswa masih mencari jati dirinya dan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Salah satu penyebabnya adalah usia siswa yang masih tergolong dalam usia remaja.

Kendala yang dihadapi oleh pihak SMA Negeri 1 Lawang dalam menangani perilaku menyimpang pada siswa di SMA  Negeri 1 Lawang adalah faktor usia dan sumber daya manusia yang ada di SMA Negeri 1 Lawang. Faktor usia dikarenakan sebagian besar guru di SMA Negeri 1 Lawang rata-rata berusia 30 tahun keatas, sedangakan faktor sumber daya manusia yaitu jumlah tenaga pengajar tergolong sedikit dalam hal penugasan piket tata tertib sekolah.

Untuk mengatasi hambatan yang terjadi, SMA Negeri 1 Lawang memiliki solusi uantuk mengatasi hambatan yang terjadi dalam internal guru, yaitu dengan membuat jadwal piket tata tertib untuk seluruh guru dengan pembagiannya rata (guru muda berdampingan dengan guru yang lebih tua), agar pembagian tugas juga lebih maksimal dalam menghadapi penyimpanan pada siswa di SMA Negeri 1 Lawang.

Sedangkan solusi yang dilakukan oleh sekolah agar penyimpangan dalam bentuk kenakalan di SMA Negeri 1 Lawang tidak terjadi lagi. Solusi yang diberikan untuk mengatasi kenakalan siswa di sekolah terdapat dua hal yaitu solusi dengan tindakan preventif dan solusi dengan tindakan kuratif.