SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PROGRAM BINA DETEKSI DINI PERILAKU LGBT (PROBID LGBT): SEBAGAI UPAYA PREVENTIF DETEKSI DINI PERILAKU LGBT (LAY,GAY, BISEKSUAL, TRANSGENDER) MELALUI PENDIDIKAN KELUARGA INTEGRATIF

Siti Nafi'atul Mukhayaroh

Abstrak


LGBT (Lesbian Gay Biseksual  Transgender) bukanlah perilaku manusia modern, melainkan telah ada dan menjadi salah satu bagian dari pola seks manusia. Dalam sejarah peradaban manusia, fenomena LGBT selalu dikaitkan dengan kisah Nabi Luth yang hidup di tengah kaum homoseksual yang memiliki perilaku seks yang menyimpang.

Meskipun Al-Qur’an secara tegas melarang perilaku homoseksual (termasuk di dalamnya lesbian, biseksual, dan transgender/transeksual), namun sampai saat ini masih banyak orang yang mempraktikkannya. Ketika melarang pergerakan kaum LGBT disebut sebagai pelanggaran HAM, maka itu sama saja seolah mengatakan bahwa islam adalah agama yang melanggar HAM. Karena jelas dan tegas islam melarang perkawinan sesama jenis. Hal ini dapat dilihat dalam surat Al-A’raaf (7): 80-84 Padahal sejatinya, tidak ada hukum islam yang melanggar HAM.  Selain itu, Hukum Indonesia secara terang-terangan melarang adanya perkawian sejenis.

Banyak yang memahami bahwa menjadi LGBT bukanlah pilihan mereka sendiri, tetapi sesuatu yang terjadi secara alami. Padahal secara medis menyebutkan bahwa LGBT bukanlah kodrat dan bersifat genetik sejak lahir, tapi ia adalah penyakit yang menjangkit karena keadaan psikologi dan pengaruh lingkungan. Para psikolog juga sudah menegaskan bahwa LGBT merupakan bagian dari masalah kejiwaan dan tergolong gangguan identitas gender (GIG) atau disebut juaga dengan perilaku seksual menyimpang (Davison, 2010).

Selain faktor biologis, perilaku menyimpang tersebut dipengaruhi oleh konstruksi sosial. Maraknya komunitas LGBT belakangan ini karena penyakit tersebut bisa ditularkan. Menurut Tambunan (2017) dari hasil survei yang dilakukan menyebutkan bahwa mereka sudah mengalami kelainan tersebut kemudian juga menularkan kepada ornag lain di sekitarnya dengan mengajak bergabung di komunitas yang mereka bentuk. Di komunitas itulah, lelaki dan perempuan yang sebelumnya masih normal kemudian menjadi berubah sifat karena pengaruh doktrin di komunitas tersebut. Kelompok tersebut terus berusaha mencari “mangsa” baru untuk menamabah pendukung agar keberadaannya diterima oleh masyrakat, bahkan diakui oleh hukum.

Berbagai daya dan upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebar luasan LGBT tersebut, tapi sampai sekarang pun belum ada solusi yang tepat untuk mengurangi tingkat perkembangan LGBT dari tahun ketahun. Menurut jawapos.com (2017) prediksi jumlah gay di Indonesia mencapai 3 persen. Dengan demikian, penulis menawarkan sebuah  inovasi yaitu Program Bina Deteksi Dini Perilaku LGBT (PROBID LGBT): sebagai upaya preventif deteksi dini  perilaku  LGBT (Lay,Gay, Biseksual, Transgender) melalui Pendidikan Keluarga Integratif. Program tersebut sebagai upaya mencegah semakin banyaknya kaum LGBT di Indonesia melalui proses pendidikan yang ada di keluarga. Gagasan ini diimplementasikan oleh keluarga dalam mendidik anaknya. Harapan PROBID LGBT ini mampu memberikan binaan untuk medeteksi anak yang memiliki gejala virus LGBT  serta memberikan pengajaran anak agar tidak mudah terjangkit virus LGBT.