SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

GERAKAN PRAMUKA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM UPAYA MENINGKATAN NASIONALISME

Hepy Mandiana Sari

Abstrak


GERAKAN PRAMUKA SEBAGAI SARANA PENDIDIKAN KARAKTER DALAM UPAYA MENINGKATAN NASIONALISME

Hepy Mandiana Sari Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5

hepydiana@yahoo.com

 

Abstrak

Gerakan pramuka merupakan nama sebuah organisasi pendidikan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan serta memiliki tujuan akhir untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia. Sehingga akan sangat sesuai apabila gerakan pramuka dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan nasionalisme. Mengingat di jaman sekarang ini, banyak generasi muda yang mulai melupakan nilai-nilai luhur serta lupa akan nasionalisme bahkan kerusakan moral pun terjadi dimana-mana. Selain itu, tujuan awal dari adanya gerakan pramuka juga sudah berniat untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda. Namun, untuk merealisasikannya juga diperlukan tahap-tahap yang dimulai dari sosialisasi hingga evaluasi melalui pemberian tugas serta penyebaran angket. Tentunya penerapan gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini memiliki kelebihan seperti menanamkan semangat kebangsaan serta mengembangkan kewarganegaraan dengan daya tari lingkungan. Namun terdapat pula kelemahan bahwa tidak semua jenjang pendidikan mewajiban kegiatan ini.

 

Kata Kunci : Gerakan Pramuka, Pendidikan karakter

Menurut Hans Kohn, nasionalisme merupakan suatu bentuk yang timbul karena kesadaran berbangsa dan bernegara. Namun, di era globalisasi seperti ini, tentu tidak dapat dipungkiri jika terdapat banyak tantangan terhadap sikap nasionalisme, terutama para generasi muda.

Ada yang mengungkapkan bahwa salah satu faktor kuat yang terus mengikis nasionalisme bangsa Indonesia adalah globalisasi. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Edison A. Jamli dkk. Kewarganegaraan. 2005).

Adapun tantangan yang dimaksud yakni seperti semakin tidak pedulinya anak muda terhadap lingkungan sosialnya terutama hal sederhana yang berkaitan dengan nasionalisme. Hal ini terbukti dengan banyaknya murid yang ketika upacara bendera bersikap seenaknya sendiri, bahkan ketika sang merah putih dikibarkan justru ada yang asyik berbicara dengan teman disampingnya, begitu pula ketika lagu-lagu nasional dinyanyikan. Dan lebih parahnya lagi, terkadang generasi muda jaman sekarang justru lebih hafal dngan lagu barat daripada lagu nasional. Namun ternyata, hal tersebut bukan hanya berdampak pada sikap nasionalisme yang semakin lenyap, tapi juga terhadap empat pilar berbangsa dan bernegara yang salah satunya adalah Pancasila. Bahkan “Indonesia pada masa depan akan didominasi generasi melek IT (Information Technology) dan terpapar budaya global yang kuat. Hal itu berakibat pada lemahnya rasa nasionalisme dan patriotisme serta dikhawatirkan bisa berujung bubarnya negara-bangsa (nation-state) bernama Indonesia” Kompas (1 April 2016 )

Dalam realita yang ada dalam masyarakat terutama generasi muda, mereka lebih menyukai budaya barat, menyukai produk yang berasal dari luar, bahkan generasi muda sekarang ini lebih hafal lagu-lagu pop daripada lagu-lagu kebangsaan Indonesia. Padahal, “nasionalisme merupakan sarana untuk mempersatukan rakyat nusantara yang merasa senasib dan seperjuangan” (Hariyono, 2014 : 63). Nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri serta kesadaran anggota dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa. Dapat pula dikatakan bahwa nasionalisme adalah kecintaan alamiah terhadap tanah air, kesadaran yang mendorong untuk membentuk kedaulatan dan kesepakatan untuk membentuk negara berdasar kebangsaan yang disepakati dan dijadikan sebagai pijakan pertama dan tujuan dalam menjalani kegiatan kebudayaan dan ekonomi. (Hans Kohn, 1984).

Nasionalisme Indonesia pada awalnya muncul karena adanya kolonialisme. Penjajahan yang dilakukan oleh Jepang dan Belanda dan penderitaan yang harus dirasakan akibat terjajah telah mampu melahirkan semangat kebersamaan sebagai satu kesatuan yang harus bangkit dan hidup menjadi bangsa merdeka.

Diakui atau tidak saat ini semangat nasionalisme bangsa Indonesia semakin berkurang. Semangat nasionalisme yang dulu pernah berkobar di dalam jiwa bangsa Indonesia ketika melawan penjajah, nampaknya kini telah sirna bersama jasad para pahlawan dan pejuang kemerdekaan.

Tak ada lagi semangat-semangat nasionalisme dalam diri bangsa Indonesia terutama para generasi muda. Mereka seakan lupa akan perjuangan para pahlawan-pahlawan bangsa yang telah mengorbankan harta benda dan nyawa serta keluarga mereka. Sungguh besar jasa mereka, sungguh tinggi jiwa nasionalisme mereka.

Berkurangnya sikap nasionalisme para generasi muda, tentu terdapat sebab-sebab yang melatarbelakanginya, seperti budaya asing yang masuk tanpa filterisasi, perdagangan bebas yang tidak terkendali, cepatnya arus globalisasi yang merupakan faktor luar penyebab lunturnya sikap nasionalisme. Adapun pengertian Globalisasi menurut bahasa adalah Global dan sasi, Global adalah mendunia, dan Sasi adalah Proses, jadi apabila pengertian Globalisasi menurut bahasa ini di gabungkan menjadi "Proses sesuatu yang mendunia". Globalisasi secara singkat adalah “sebuah proses dimana antar individu/kelompok menghasilkan suatu pengaruh terhadap dunia”. Globalisasi tidak bisa dihindari karena hidup itu terus berkembang tidak mungkin diam saja, dan pasti menghasilkan suatu pengaruh/perubahan. Mau tidak mau globalisasi pun akan terus berkembang mengikuti zaman tersebut. Globalisasi mempunyai pengaruh yang positif dan juga pengaruh negatif. Pengaruh-pengaruh tersebut tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Namun secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau bahkan hilang.

Faktor luar yang menyebabkan berkurangnya nasionalisme, ternyata juga tidak lepas dari faktor dalam atau yang biasa disebut dengan faktor internal.  Penyebab dari faktor dalam yakni kurangnya kemauan masyarakat Indonesia untuk paham arti nasionalisme yang sebenarnya, serta tertinggalnya negara Indonesia dibanding negara-negara lainnya. Oleh karena itu, dengan adanya penyebab dari dalam dan dari luar tersebut  maka akan berdampak pada hilangnya kepribadian bangsa Indonesia, tidak ada generasi penerus bangsa yang bisa diandalkan, membuat Indonesia semakin tertinggal, bahkan jika dibiarkan terlalu lama, Indonesia akan hancur.

Terdapat solusi-solusi bijak untuk mengatasai persoalan-persoalan mengenai lunturnya sikap nasionalisme terutama generasi muda, diperlukan solusi yang bijak untuk mengatasi hal tersebut. Salah satunya adalah perubahan pola pikir generasi muda melalui gerakan pramuka yang merupakan sarana pendidikan karakter. Pramuka dipandang sebagai salah satu kegiatan di luar sekolah yang sangat relevan dengan pendidikan kaarakter bangsa yang terbukti dengan adanya kesamaaan nilai dengan Pancasila. Oleh karena itu, dalam makalah ini dibahas tentang pentingnya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan nasionalisme serta mengoptimalkaan empat pilar berbangsa dan bernegara.

 

BAHASAN

Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1) konsep dasar, (2) langkah realisasi, serta (3) kelebihan dan kekurangan gerakan pramuka.

 

Konsep Dasar Gerakan Pramuka

Kepramukaan sebagaimana tercantum dalam Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka (bab II Pasal 7) adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan (PDK) dan Metode Kepramukaan (MK), yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak dan budi pekerti luhur.

Kepramukaan ini dicetuskan pertama kali oleh Robert Stephenson Smith Boden Powell dan Willian Alexander Smith pada tahun 1907 ketika mengadakan perkemahan kepanduan pertama (dikenal sebagai jamboree) di Kepulauan Brownsea, Inggris. Kepramukaan kemudian berkembang ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Indonesia.

Konsep dasar gerakan pramuka yakni bahwa gerakan pramuka merupakan nama sebuah organisasi pendidikan non-formal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan serta  memiliki tujuan akhir untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia. Gerakan Pramuka atau Gerakan Kepanduan Praja Muda Karana merupakan satu-satunya wadah (organisasi) berbadan hukum yang berhak menyelenggarakan kepramukaan di Indonesia. Gerakan Pramuka berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia dan didirikan untuk waktu yang tidak ditentukan dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 238 Tahun 1961 tanggal 20 Mei 1961, sebagai kelanjutan dan pembaruan gerakan kepanduan nasional Indonesia.

Gerakan pramuka juga merupakan sarana bagi para remaja untuk menjadi warga negara yang lebih baik dengan cara belajar tentang diri mereka sendiri beserta dengan segala kecakapan, kemampuan dan kelemahan, serta bagaimana mengatasi kelemahannya itu. Gerakan ini lebih ditekankan pada  bagaimana melakukan sesuatu yang baik dan berguna untuk pengembangan watak remaja ( Joshua, 1994 : 40 ). Sehingga, dengan adanya konsep tersebut maka sangat sesuai apabila gerakan pramuka dijadikan sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan serta mengoptimalkan empat pilar berbangsa dan bernegara.

Ciri-ciri dari gerakan pramuka ini adalah

(1)bentuk kegiatannya menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, serta praktis,

(2) dilakukan ditempat terbuka,

(3) menggunakan prinsip dasar dan metode kepramukaan,

(4)memiliki dasa dharmapramuka dan tri satya,

(5) memiliki anggota yang meliputi pramuka siaga yang berumur 7-10 tahun, penggalang berumur 11-15 tahun, penegak berumur 16-20 tahun, serta pramuka pandega yang berumur 21-25 tahun.

Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda ssehingga dapat meningkatkan rasa cinta terhadap tanah air. Gerakan pramuka ini juga bertujuan agar para remaja memahami kelebihan dan kekurangan diri masing-masing.

Langkah-Langkah Gerakan Pramuka Sebagai Pendidikan Karakter dalam Upaya Meningkatkan Nasionalisme

Dalam upaya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut  .

 

Langkah Awal

Tahap awal yang harus dilakukan yakni

(1) sosialisasi ke sekolah-sekolah, orang tua, serta para guru tentang pentingnya gerakan pramuka sebagai sarana pembentukan karakter. Dengan adanya sosialisasi, maka komponen-komponen penting yang dibutuhkan dalam implementasi gerakan pramuka sebagai pendidikan arakter dalam meningkatkan nasionalisme akan terealisasi karena mereka menjadi bena-benar faham dang mengerti mengenai pentingnya gerakan pramuka dalam pembentukan karakter generasi muda.

(2) sosialisasi tentang nasionalisme serta empat pilar berbangsa dan bernegara  sekaligus pembinaan terhadap peserta didik serta pengajar.Langkah ini juga merupakan langkah yang penting, karena dengan mengetahui arti dari nasionalisme, maka pihak-pihak yang dibutuhkan akan semakin mantab dengan upaya pentingnya gerakan pramuka sebagai pendidikan karakter.Hal tersebut bisa terjadi karena mereka telah benar-benar memahami tentang tujuannya yakni meningkatkan nasionalisme.

 

Langkah Implementasi

Dalam langkah ini, hal-hal yang harus dilakukan adalah

(1) kerjasama dengan perguruan-perguruan tinggi dengan sekolah-sekolah untuk menarik minat generasi muda terhadap gerakan pramuka melalui pendelegasian anggota dari UKM Pramuka di perguruan tinggi untuk terjun ke sekolah-sekolah,

(2) Menciptakan permainan-permainan sebagai sebuah langkah pembaharuan untuk melatih kedisplinan melalui kegiatan yang menyenangkan, karena Olave yang merupakan murid dari “Boden-Powell” mengatakan “lepaskan topi untuk masa lalu dan singsingkan lengan baju untuk masa depan”. Ia tidak menginginkan sistem kepramukaan yang kaku dan ketinggalan zaman (Joshua, 1994 : 84),

(3) Penyampaian materi tentang pramuka dan empat pilar berbangsa dan bernegara kepada anggota pramuka serta Pembina oleh orang-orang yang berkompeten.

 

Tahap Evaluasi

Dan dalam tahap evaluasi, diadakan pemberian komentator / pendapat dari para anggota pamuka maupun pembina serta orang tua dan guru-guru melalui materi-materi atau metode yang telah disampaikan dan dilakukan melalui pemberian tugas dan pembagian kuisioner. Dengan adanya pemberian tugas serta pembagian kuisioner dalam tahap evauasi ini, maka akan dapat diketahui kekurangan-kekurangan dalam implementasi gerakan pramuka sebagai pendidikan karakter. Dan akan dijadikan perbaikan kedepan. 

 

Kelebihan

Kelebihan perlu diterapkannya gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini adalah

(1)karena generasi muda dilatih untuk disiplin, mandiri, serta dapat dipercaya sesuai dasa dharma yang ada dalam pramuka,

(2) Pendidikan karakter dilakukan dengan cara non-formal sehingga tidak menyebabkan kebosanan,

(3) selain melatih kedisiplinan, pramuka dapat dijadikan sebagai sarana berorganisasi,

(4) menanamkan semangat kebangsaan,

(5) berbentuk kegiatan yang positif, aktif, inovatif, dan produktif,

(6) serta merupakan fungsi yang mengembangkan kewarganegaraan dengan daya tarik dalam lingkungan.

 

Kelemahan

Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain

(1) tidak semua jenjang pendidikan mewajibkan pramuka,

(2) tidak ada pembinaan pramuka di beberapa sekolah karena tidak ada SDM,

(3)serta kurangnya dana untuk melaksanakan kegiatan pramuka terutama di sekolah-sekolah yang jumlah muridnya sedikit.

 

SIMPULAN  DAN SARAN

Krisis moral serta lunturnya jiwa nasionalisme pada golongan muda atau biasa disebut generasi muda merupakan suatu persoalan yang harus segera diatasi dengan cara yang bijak. Oleh sebab itu, gerakan pramuka merupakan kegiatan yang cocok dijadikan sebagai upaya meningkatan semangat nasionalisme, karena gerakan pramuka ini menekankan pada suatu cara untuk melakukan hal-hal yang baik serta pengembangan watak remaja. Selain itu gerakan pramuka ini juga dari awal telah memiliki tujuan untuk membentuk karakter, moral, dan pikiran akhlak mulia generasi muda agar meningkatkan rasa cinta tanah air.

Gerakan pramuka sebagai upaya untuk meningkatkan rasa cinta tanah air dapat direalisasi kan melalui cara-cara yang efisien daan efektif yakni melakukan langkah awal melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah dan guru mengenai gerakan pramuka serta empat pilar berbangsa dan bernegara, kemudian bisa dilanjutkan dengan kerjasama dengan perguruan tinggi  dan menciptakan permainan-permainan kedisiplinan serta tahap terakhir adalah melakukan tahap evaluasi dengan adanya pemberian tugas atau pembagian kuisioner mengenai kegiatan yang dilakukan.

Penerapan gerakan pramuka sebagai sarana pendidikan karakter ini tentunya memiliki kelebihan yakni pendidikan karakter dilakukan dengan cara non-formal sehingga tidak menyebabkan kebosanan, selain itu para generai muda juga akan dilatih menjadi seorang yang disiplin dan mandiri. Kemudian dalam gerakan pramuka ini juga kegiatannya berbentuk positif, aktif, inovatif, dan produktif. Namun, dibalik kelebihan-kelebihan tersebut adapula kelemahan-kelemahan diantaranya tidak semua jenjang pendidikan mewajibkan pramuka, SDMnya kurang, serta kekurangan dana untuk melaksanakan kegiatan pramuka.

 

Saran

Gerakan Pramuka merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan nasionalisme serta mengoptimalkan empat pilar berbangsa dan bernegara pada generasi muda. Namun sayangnya, hal ini tidak didukung dengan wajibkannya gerakan pramuka di segala jenjang pendidikan. Selain itu, generasi muda sekarang juga cenderung lebih suka hal-hal yang menyenangan yang tidak terlalu menguras tenaga dan pikiran. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah membuat kebijakan untuk mewajibkan gerakan pramuka di segala jenjang pendidikan, serta memberi nilai plus bagi generasi muda yang aktif dalam kegiatan pramuka, kemudian untuk para Pembina juga diharapkan untuk selalu membuat pembaharuan dalam membina kegiatan pramuka sehingga generasi muda akan tertarik dalam kegiatan tersebut.

 

DAFTAR RUJUKAN

Sambodo, Joshua Indro.1994.Mereka Yang Berjasa Merubah Dunia “Robert Boden Powell”.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama

Hariyono.2014.Ideologi Pancasila.Malang:Intrans Publishing

Jamli, Edison dkk.Kewarganegaraan.2005.Jakarta:Bumi Akasara.

Kompas. 1 April 2016. Nasionalisme dikalahkan Teknologi,  hlm. 16.

Kohn, Hans.1984.Nasionalisme Arti dan Sejarahnya.Jakarta:Erlangga