SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN KAMPUNG WISATA JODIPAN (KWJ) SEBAGAI SEKTOR PARIWISATA KOTA MALANG

Nina Cahya Dwi Sugiharto

Abstrak


PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN KAMPUNG WISATA JODIPAN (KWJ) SEBAGAI SEKTOR PARIWISATA KOTA MALANG

Nina Cahya Dwi Sugiharto Universitas Negeri Malang

E-mail: ninacahya09@gmail.com

 

ABSTRAK: Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan

(1) pengembangan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(2) partisipasi masyarakat untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(3) kendala masyarakat dalam berpartisipasi untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(4) solusi dari kendala yang terjadi dalam partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penelitian ini menggunakan pendekatan dan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Prosedur pengumpulan data yaitu dengan menggunakan teknik analisis wawancara, observasi, dan dokumentasi.

 

Kata kunci : Partisipasi masyarakat, pengembangan Kampung Wisata Jodipan (KWJ)

Kota Malang memiliki banyak tempat-tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Destinasi wisata di Kota Malang sangat beraneka ragam seperti sumber mata air,  pantai, air terjun, perkebunan dan gunung serta kampung wisata. Menurut Dewi (2013:131) “desa wisata merupakan salah satu bentuk penerapan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat dan berkelanjutan”. Seperti pendapat tersebut bahwasanya desa wisata atau kampung wisata itu merupakan sebuah desa yang memiliki daya tarik untuk dikunjungi dan dalam pembangunannya dilakukan oleh masyarakat desa tersebut. Pembangunan desa wisata dilakukan oleh masyarakat desa tersebut. Hal ini berarti dalam setiap pembangunan maupun pengembangan desa wisata itu memerlukan keikutsertaan masyarakat dalam membangun serta mengembangkannya. Menurut Wardiyanta (2006:69) “.pengembangan pariwisata yang baik adalah yang berbasis pada masyarakat”. Keikutsertaan masyarakat ini akan memudahkan desa wisata tersebut lebih maju karena tanpa dukungan masyarakat sebuah desa wisata tidak akan berjalan dengan lancar.

Menurut Nasikun (dalam Dewi, 2013:132) menyatakan bahwa “Pengabaian partisipasi masyarakat lokal dalam pengembangan desa wisata menjadi awal dari kegagalan tujuan pengembangan desa wisata”. Dari pendapat tersebut kesukarelaan masyarakat untuk membangun desa merupakan cara yang tepat untuk membuat desa tersebut menjadi lebih maju. Seperti halnya kampung wisata, kampung wisata juga membutuhkan partisipasi masyaraka untuk menjadi lebih maju dan menjadi banyak pengunjungnya. Dalam mengembangkan sebuah kampung terutama kampung wisata sangat membutuhkan partisipasi dari masyarakat. Anjayani (2007:40) mengatakan “Bahwasannya dalam setiap kegiatan yang direncanakan, jangan lupa selalu melibatkan warga masyarakat. Hal ini, selain untuk melatih kemandirian masyarakat juga untuk memotivasi semangat masyarakat agar selalu termotivasi membangun desanya”. Keikutsertaan masyarakat untuk mengembangkan wisata merupakan hal yang sangat penting, karena jika masyarakat ikut serta dalam mengembangkan wisata maka dengan mudah wisata tersebut akan lebih maju.

Pengembangan suatu daerah terutama daerah yang memiliki potensi seperti Kampung Wisata Jodipan sangat membutuhkan masyarakat untuk lebih menjaga kebersihan lingkungan, menjaga keamanan dan mengembangkan kampung agar menjadi lebih banyak pengunjung. Partisipasi masyarakat  dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan sangat berpengaruh untuk membuat Kampung Wisata Jodipan menjadi lebih banyak pengunjungnya, maka dari itu dalam penelitian ini peneliti ingin mengetahui partisipasi masyarakat Jodipan untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan. Oleh karena itu penelitian ini berjudul“ Partisipasi Masyarakat Dalam Mengembangkan Kampung Wisata Jodipan (KWJ) Sebagai Sektor Pariwisata Kota Malang”.

Rumusan masalah yang digunakan dalam penelitian ini yaitu

(1) bagaimana pengembangan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(2) bagaimana partisipasi masyarakat untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(3) apa kendala masyarakat dalam berpartisipasi untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang,

(4) apa solusi dari kendala yang terjadi dalam partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang. Penelitian ini bermanfaat bagi

(1) peneliti, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi pengetahuan serta pengalaman dalam mencari informasi tentang partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan.

(2) kelompok masyarakat, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan refleksi masyarakat untuk mengetahui sejauh mana partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan, sehingga masyarakat dapat meningkatkan partisipasinya.

(3) Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, penelitian ini dapat dijadikan referensi dan bahan bacaan dalam Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang tentang partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan.

 

METODE

Penelitian ini dilakukan selama dua bulan di Kampung Wisata Jodipan tepatnya di jalan Ir. H Juanda RT 06, RT 07, RT 09 RW 02 Kelurahan Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang. Dalam penelitian ini, peneliti merupakan sebagai pengumpul data. Kehadiran peneliti sangat penting, karena peneliti disini selain sebagai pengumpul data juga sebagai yang mengurus perizinan penelitian. Menurut Moleong (2013:168) “kedudukan peneliti dalam penelitian kualitatif cukup rumit. Ia sekaligus merupakan perencana, pelaksana pengumpulan data, analis, penafsir data, dan pada akhirnya ia menjadi pelapor hasil penelitiannya”.

Pengumpulan data di gunakan dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sumber data penelitian ini adalah masyarakat kampung Wisata Jodipan. Informan tersebut Bapak Soni Parin selaku Ketua RW 02  sekaligus Penasehat Warna-Warni di Jodipan, Bapak Ismail Mardjuki selaku Pengelola Kampung Wisata Jodipan, Bapak Hadisuseno selaku Ketua RT 09 sekaligus Sekertaris Warna-Warni di Jodipan, Bapak Mustofa selaku Ketua RT 07 sekaligus Bendahara dari pengurus Warna-Warni di Jodipan, Ibu Lova Lidia Diningrum warga Kampung Wisata Jodipan. Selain itu data juga diambil dari data monografi Kelurahan Jodipan. Analisisdata yang digunakan adalah Miles and Huberman yang dilakukan melalui tifa tahap

(1) reduksi data,

(2) penyajian data,

(3) penarikan kesimpulan atau verifikasi. Pengecekan keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber. Teknik triangulasi sumber menurut Bachri (2010:56) “triangulasi sumber berarti membandingkan mencek ulang derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui sumber yang berbeda”.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Kelurahan Jodipan

Kelurahan Jodipan merupakan kelurahan yang terletak di Kota Malang Jawa Timur tepatnya di Kecamatan Blimbing. Berdasarkan monografi Kelurahan Jodipan tahun 2018, Kelurahan Jodipan terdiri dari 8 RW  (Rukun Warga) dan 85 RT (Rukun Tetangga).Selain itu, Kelurahan Jodipan memiliki jumlah penduduk sebanyak 13.172 Jiwa dan memiliki 2.366 KK (Kartu Keluarga). Luas wilayah sebesar 49,35 Hektar dengan batas wilayah di sebelah Utara Kelurahan Jodipan berbatasan langsung dengan Kelurahan Polehan dan Kelurahan Kesatrian, sebelah Selatan Kelurahan Jodipan berbatasan langsung dengan Kelurahan Kotalama, sedangkan di sebelah Barat Kelurahan Jodipan berbatasan langsung dengan Kelurahan Sukoharjo, dan di sebelah Timur Kelurahan Jodipan berbatasan langsung dengan Kelurahan Kedungkandang Kota malang.

Untuk menuju ke Kelurahan Jodipan tidaklah sulit, kelurahan jodipan terletak cukup dekat dengan Stasiun Malang Kota Baru, dari pusat Kota Malang juga cukup dekat. Selain itu, jarak dari Pusat Pemerintahan ke Kelurahan Jodipan juga cukup dekat. Jarak Kelurahan Jodipan dari Pusat Pemerintahan Kecamatan Blimbing berjarak 7,2 Kilo Meter, sedangkan jarak Kelurahan Jodipan dari pemerintahan Kota Malang berjarak1,9 Kilo Meter, jarak Kelurahan Jodipan dari Ibukota Provinsi 90 Kilo Meter.

Kantor Kelurahan Jodipan berlokasi di Jl. Jodipan Wetan No 11, Kecamatan Blimbing Kota Malang Jawa Timur.Kelurahan Jodipan juga memiliki website resminya http://keljodipan.malangkota.go.id Kelurahan jodipan dipimpin oleh seorang Lurah dengan dibantu oleh beberapa staf yaitu ada Sekertaris Kelurahan 1 orang , Kasi Pemerintahan pelayanan dan ketertiban 1 orang, Kasi Pemberdayaan Masyarakat 1 orang, Kasi Sarana dan Prasarana 1 orang, dan Pengadadministrasi 3 orang. (Sumber: Monografi Kelurahan Jodipan 2018).

 

Sejarah Kampung Wisata Jodipan (KWJ)

Kampung Warna-warni atau biasanya sering disebut sebagai Kampung Wisata Jodipan atau di singkat  sebagai KWJ. Kampung Wisata Jodipan merupakan sebuah kampung tematik yang cukup menarik untuk di kunjungi. Kampung Wisata Jodipan ini berdiri sejak 2 tahun yang lalu yaitu pada tahun 2016. Awal mulanya kampung ini merupakan kampung yang kurang terawat atau bisa di katakan kumuh karena banyaknya sampah yang terlihat dari atas jembatan embong brantas. Sampah-sampah yang terlihat tersebut berada di pinggiran sungai Brantas. Kemudian datang 8 mahasiswa dari UMM (Universitas Muhammadiyah Malang) yang diberi tugas dari kampusnya. Selanjutnya mahasiswa UMM tersebut meminta izin, berkunjung dan bermusyawarah dengan pak RW dan masyarakat Kelurahan Jodipan tentang pengecatan rumah yang akan di beri cat warna-warni untuk setiap rumahnya. Pada akhirnya masyarakat setuju mengenai pengecatan tersebut. Sebelum pengecatan rumah warga diberikan selembaran yang berisi warna dari masing-masing rumah akan tetapi selembaran tersebut tidak dipakai karena dikhawatirkan masyarakat ada yang tidak setuju dengan warna yang dipilihkan. Selanjutnya masyarakat kelurahan Jodipan khususnya RT 06, RT 07, dan RT 09 RW 02 dikumpulkan dan masing-masing orang ditanya ingin rumahnya di cat warna apa sesuai dengan selera masing-masing.

Akhirnya pengecatan berlangsung, pengecatan berlangsung dengan menggunakan kuas dan berjalan selama 2- 3 minggu akhirnya mendapat bantuan dari Korps Pasukan Khas TNI Angkatan Udara Malang untuk membantu pengecatan. Paskhas yang membantu tersebut datang sebanyak 5 truk yang membantu melakukan pengecatan secara manual dengan kuas. Pengecatan berlangsung selama kurang lebih 3 bulan yang dilakukan di atap rumah dan dinding rumah. Setelah Kampung Wisata Jodipan tersebut selesai pengecatan ternyata banyak sekali masyarakat dari luar Kampung Wisata Jodipan yang tertarik dengan Kampung Wisata Jodipan tersebut karena keindahan dan keunikan yang dapat terlihat dari atas jembatan Embong Brantas. Selain itu, pengendara kendaraan bermotor yang ada di atas jembatan Embong Brantas terkadang turun dan berfoto untuk diunggah ke media sosial. Semakin hari semakin banyak orang yang berfoto dan mengunggah ke media sosial dan akhirnya Kampung Wisata Jodipan ini menjadi viral hingga masuk ke televisi nasional.

Setelah itu akhirnya Kampung Wisata Jodipan menjadi tujuan wisata yang ada di Kota Malang. Hal tersebut membuat Wali Kota Malang mengetahui tentang adanya Kampung yang di cat warna-warni. Wali Kota Malang Abah Anton melakukan kunjungan ke Kampung Wisat Jodipan dan meminta untuk mengadakan peresmian Kampung Wisata Jodipan. Untuk mengadakan peresmian tersebut membutuhkan dana yang cukup banyak, pada saat itu Kampung Wisata Jodipan tidak memiliki dana sama sekali. Akhirnya untuk masuk ke Kampung Wisata Jodipan yang mula nya gratis akhirnya dikenakan biaya masuk dengan mengisi kotak suka rela.

Kampung Wisata Jodipan juga membutuhkan biaya perawatan, keamanan, dan juga kebersihan. Pada akhirnya kotak suka rela diubah menjadi tiket masuk. Pada saat itu tiket masuk yang dikenakan sejumlah Rp 2.000. Dengan Rp 2.000 tersebut pengunjung bisa masuk ke Kampung Wisata Jodipan dengan mendapatkan selembar karcis. Akan tetapi, dengan adanya karcis tersebut membuat pengunjung membuang karcis tersebut sembarangan dan akhirnya membuat kampung menjadi semakin kotor. Setelah didiskusikan akhirnya menemukan sebuah ide untuk membuat stiker bagi pengunjung yang akan masuk ke dalam Kampung Wisata Jodipan. Akan tetapi tiket masuk ke Kampung Wisata Jodipan pun ikut naik sebesar Rp 3.000 rupiah untuk pembuatan stiker tersebut. Selain untuk pengunjung stiker tersebut dapat digunakan untuk sebuah promosi Kampung Wisata Jodipan. Ketika ada pengunjung yang akan masuk harus membayar  uang masuk sebesar Rp 3.000 dan pengunjung akan mendapatkan stiker yang bertuliskan Kampung Wisata Jodipan.

Dari dana masuk tersebut tidak hanya di gunakan untuk membuat stiker, akan tetapi dana tersebut banyak manfaatnya untuk masyarakat sekitar. Dana tersebut digunakan untuk membayar orang dari warga yang bertugas untuk mengambil sampah dari tong sampah warga untuk di bawa ke tempat pembuangan sampah terakhir. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai Brantas. Selain untuk membayar orang tersebut, dana juga digunakan untuk membangun toilet dan gedung yang berada diatas toilet. Dana tersebut juga dimanfaatakan untuk membelikan aksesoris yang ada di Kampung untuk menghias Kampung Wisata Jodipan agar pengunjung tertarik lagi untuk berkunjung. Dana yang masuk digunakan untuk membelikan kursi, membuat taman, dan juga pegangan untuk naik ke atas tangga.

Dana juga dimanfaatakan untuk menyantuni warga yang meninggal, warga yang rawat inap, warna di bebaskan dari iuran dan setiap tahunnya digunakan untuk menyantuni janda-janda yang ada di Kampung Wisata Jodipan.  Dana yang sisa akan di gunakan untuk memperbaharui lukisan yang dirasa sudah kusam dan untuk mengecat jalan-jalan yang ada di Kampung agar lebih menarik. Setelah Kampung Wisata Jodipan ini berjalan selama satu tahun Wali Kota Malang Moch Anton atau biasa disebut Abah Anton dengan Vice President Indana melakukan blusukan ke Kampung Wisata Jodipan. Abah Anton meminta Stev Vice President Indana untuk membuatkan jembatan yang bisa menghubungakan KWJ dengan Kampung Tridi.  Menangkap ide jembatan tersebut pihak UMM menyanggupi pengonsepan tersebut. Konsep jembatan kaca tersebut muncul dari Mahasiswa UMM Jurusan Teknik Sipil. Setelah itu, barulah Kampung Wisata Jodipan ini diresmikan oleh Wali Kota Malang Abah Anton pada September 2016.

 

Pengembangan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang

Pengembangan yang dilakukan agar Kampung Wisata Jodipan menjadi lebih di minati pengunjung adalah dengan cara:

(1) memperbarui lukisan;

(2) memperbarui aksesoris; dan

(3) melengkapi sarana dan prasarana yang ada di Kampung Wisata Jodipan. Hal tersebut dapat dilakukan untuk menarik pengunjung. Penggantian lukisan dan kreasi ini dilakukan ketika lukisan dan kreasi sudah terlihat kusam dan sudah lama. Jika cat, lukisan dan kreasi tidak diganti, maka pengunjung merasa bosan dan tidak berkunujung lagi.

Pembaruan lukisan dan kreasi, diharapakan ada pengunjung yang datang ke Kampung Wisata Jodipan untuk berfoto lalu di upload ke sosial media maka secara otomatis akan menarik akan menarik pengunjung dan semakin banyak orang yang berfoto dan di upload ke sosial media. Hal tersebut sama halnya dengan malakukan promosi Kampung Wisata Jodipan.

 

Partisipasi Masyarakat untuk Mengembangkan  Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang

Dalam melakukan pengembangan masyarakat Kampung Wisata Jodipan memiliki beberapa cara untuk melakukan pengembangan tersebut yaitu dengan bentuk-bentuk partisipasi sebagai berikut:

(1) partisipasi ide atau pendapat;

(2) partisipasi tenaga; serta

(3) partisipasi barang. Hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

 

Partisipasi Ide atau Pendapat

Masyarakat Kampung Wisata Jodipan melakukan pengembangan dengan memberikan masukan untuk membuat Kampung Wisata Jodipan menarik untuk dikunjungi. Ide-ide seperti gambar atau lukisan dan juga kreasi-kreasi yang bersumber dari masyarakat. Masyarakat mengutarakan pendapatnya ingin digambar seperti apa rumahnya. Selain itu ada juga rumah warga yang dihias dengan menggunakan rajutan bambu sehingga tampak unik dan menarik untuk tempat berfoto.

Partisipasi masyarakat dalam bentuk ide ini dapat terlihat pada saat ada kegiatan musyawarah di lapangan tengah kampung Wisata Jodipan. Partisipasi dilakukan dengan cara saling memberi masukan bagaimana lukisan yang bagus , layak dan menarik. Dalam berpartisipasi warga juga ada yang mengusulkan pendapat mengenai kreasi-kreasi yang dapat mempercantik Kampung Wisata Jodipan. Selain itujuga ada spot-spotfoto yang dibuat oleh warga Kampung Wisata Jodipan.

 

Partisipasi Tenaga

Dalam berpartisipasi masyarakat tidak hanya mengutarakan pendapatnya saja. Akan tetapi ada juga yang membantu dengan menggunakan tenaga seperti, pada saat proses pengecatan atap, dinding, serta jalan Kampung Wisata Jodipan. Proses pengecatan dan juga pembuatan kreasi di kampung Wisata Jodipan dilakukan pada malam hari, karena pada saat malam hari Kampung Wisata Jodipan ditutup untuk pengunjung. Pengecatan biasanya dilakukan oleh bapak-bapak sedangkan untuk kreasinya biasanya dilakukan oleh ibu-ibu Kampung Wisata Jodipan. Partisipasi masyarakat dalam bentuk ini dapat terlihat dari kegiatan yang sedang dilakukan seperti, pengecatan, pembaruan lukisan dan aksesoris dan juga kerja bakti.

 

Partisipasi Barang

Pengembangan Kampung Wisata Jodipan yang dilakukan oleh masyarakat kampung Wisata Jodipan adalah partisipasi barang. Maksud dari partisipasi barang adalah warga memberikan camilan, makanan ringan, dan minuman pada saat ada kegiatan yang sedang berlangsung. walaupun dana konsumsi sudah ada dari tiket masuk  akan tetapi, masih ada juga masyarakat yang memeberi sumbangan makanan.

 

Kendala Masyarakat dalam Berpartisipasi untuk Mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang

Dalam pengembangan pasti akan ada kendala yang terjadi, kendala-kendala tersebut seperti:

(1) ketidak hadiran masyarakat;

(2) adanya warga yang kurang kompak. Hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

 

Ketidak Hadiran Masyarakat

Pada saat ada kegiatan yang dilakukan terkadang datang ke lokasi kegiatan telat dan ada banyak yang tidak hadir dengan berbagai alasan. Akan tetapi ada beberapa warga yang izin ketika tidak dapat ikut kegiatan. Walaupun banyak yang tidak hadir kegiatan tetap diselesaikan hingga selesai. Kegiatan tersebut misalnya pengecatan, pembaruan lukisan dan aksesoris serta kerja bakti.

Adanya Warga yang Kurang Kompak

Kurang kompaknya masyarakat untuk mengembangakan Kampung Wisata Jodipan, karena Kampung Wisata Jodipan terdiri dari 3 RT yaitu Rt 09, 07, dan 06. Dari 3 RT tersebut dijadikan satu menjadi Kampung Wisata Jodipan dan dari 3 RT tersebut ada satu RT yang kurangsetuju dengan adanya Kampung Wisata Jodipan. Ketidak kompakan itu dapat terlihat seperti kurangnya adaptasi warga dengan pengunjung. Selain itu, ketika dipasangnya cctv di Kampung Wisata Jodipan Masyarakat RT 06 malah menutupi cctv dengan kantong plastik.

Solusi dari Kendala yang Terjadi dalam Partisipasi Masyarakat dalam Mengembangkan Kampung Wisata Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang

Dari beberapa kendala yang disebut di atas terdapat beberapa solusi antara lain:

(1) kepemimpinan;

(2) musyawarah. Hal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:

 

Kepemimpinan

Masyarakat kampung Wisata Jodipan menjadi lebih banyak yang datang dan ikut kegiatan yang sedang dilaksanakan ketika, pemimpin seperti ketua RW dan RT yang memberikan informasi langsung. Hal tersebut dapat terlihat ketika adanya kegiatan dan pemimpin atau ketua RW yang menyuruh langsung, masyarkaat banyak yang datang dan ikut dalam kegitan. Masyarakat lebih semangat untuk melakukan kegiatan jika ketua Rwnya juga ikut dalam kegiatan.

 

Musyawarah

Musyawarah dapat menyelesaikan masalah dengan cara mengumpulkan masyarakat untuk berkumpul dalam musyawarah dan mengajak masyarakat untuk lebih peduli lagi dengan Kampung Wisata Jodipan. Selain itu, organisasi warna-warni juga merangkul masyarakat agar bersatu untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan dan melihat apa timbal balik Kampung Wisata Jodipan untuk masyarakat.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Pengembangan Kampung Wisata Jodipan dilakukan dengan cara memeprbarui lukisan atau cat, mengganti aksesoris, dan melengkapi sarana prasarana. Hal tersebut dilakukan untuk menarik daya tarik pengunjung dan juga untuk menunjang kebutuhan pengunjung. Bentuk-bentuk partisipasi masyarakat dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan. Pertama, partisipasi ide atau pendapat yang disampaikan masyarakat melalui kegiatan musyawarah untuk mengganti lukisan atau aksesoris. Kedua, partisipasi bentuk tenaga dalam berpartisipasi tenaga masyarakat melakukannya pada saat ada kegiatan pengecatan, kerja bakti dan juga pembuatan aksesoris. Ketiga, partisipasi barang yang di maksud barang disini adalah camilan, makanan, dan minuman yang masyarakat berikan ketika adanya kegiatan. Dalam melakukan pengembangan Kampung Wisata Jodipan memiliki kendala-kendala yang terjadi. Pertama, ketidak hadiran masyarakat dalam kegiatan pengembangan. Tidak banyaknya masyarakat yang tau mengenai kegiatan yang akan dilakukan dalam pengembangan tersebut. Sehingga banyak masyarakat yang tidak datang. Kedua, adanya masyarakat yang kurang kompak. Solusi dalam mengatasi kendala-kendala tersebut adalah dengan menggunakan musyawarah dan kepemimpinan. Kepemimpinan dimaksud adalah pada saat kegiatan kerja bakti yang menyuruh langsung dari ketua RW banyak dari masyarakat yang ikut datang untuk berpartisipasi. Musyawarah dilakukan untuk merangkul masyarakat yang kurang kompak dalam melakukan partisipasi memberikan nasehat pada saat musyawarah.

 

Saran

Berdasarkan simpulan di atas, maka saran yang diajukan dirumuskan sebagai berikut. Untuk organisasi warna-warni hendaknya melakukan sosialisasi mengenai seberapa penting partisipasi masyarakat untuk mengembangkan Kampung Wisata Jodipan. Melakukan musyawarah dengan seluruh masyarakat Kampung Wisata Jodipan bukan hanya dengan anggota warna-warni saja akan tetapi ada perwakilan dari masyarakat yang ikut bermusyawarah. Sehingga dari perwakilan tersebut dapat menyampaikan kepada masyarakat. Selain itu, mengadakan kegiatan seperti pentas dengan budaya yang dimiliki oleh Kampung Wisata Jodipan. Untuk Pemerintah Kota Malang hendaknya dalam pengelolaannya Kampung Wisata Jodipan ini tidak hanya dikelola oleh masyarakat saja akan tetapi lebih baik jika pemerintah ikut campur dalam mengembangkan Kampung Wisata Jodipan. Untuk masyarakat Kampung Wisata Jodipan hendaknya mendukung dan berpartisipasi untuk memajukan daerah tempat tinggalnya. Memiliki kemauan untuk berpartisipasi dan lebih kreaktif lagi dalam melakukan pengembangaan. Sehingga dapat memajukan daerah dan memeberikan manfaaat bagi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Kampung Wisata Jodipan.

 

DAFTAR RUJUKAN

Anjayani, Eni. 2007. Desaku Masa Depanku. Klaten: Cempaka Putih

Bachri, Bachtiar S. 2010. Menyakinkan Validitas Data Melalui Triangulasi Data Pada Penelitian Kualitatif. Jurnal Teknologi Pendidikan, Vol.10 No. 1, April 2010 (46‐62) (Online) dalam (https://www.scribd.com/document/394792787/Meyakinkan-Validitas-Data-Melalui-Triangulasi-Pada-Penelitian-Kualitatif-Converted) Akses Rabu, 04 April 2018.

Dewi,Made Heny Urmila.2013. Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Kabupaten Tabanan, Bali. Kawistara, Vol. 3, No. 2, Agustus 2013: 129-139 (Online) dalam (https://jurnal.ugm.ac.id/kawistara/article/view/3976/3251) Akses Selasa, 22 Januari 2018.

Moleong, Lexy J. 2013. Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Monografi Kelurahan Jodipan. 2018.  Wardiyanta. 2006. Metode Penelitian Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset