SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Probolinggo

Firda Ayu Wulandari

Abstrak


Upaya Guru dalam Mengembangkan Karakter Disiplin pada Siswa Madrasah Aliyah Negeri 2 Kota Probolinggo

Firda Ayu Wulandari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang, Malang

Email: Firdaayuw57741@gmail.com

 

ABSTRAK

Pendidikan merupakan upaya fundamental untuk membentuk manusia menjadi insan yang berkualitas baik dalam aspek pemikiran maupun tingkah laku dalam bermasyarakat. Pendidikan Karakter sebagai salah satu indikator penting untuk mewujudkan manusia yang berkarakter dan berperilaku baik dalam lingkungan formal. Nilai disiplin hingga saat ini menjadi hal yang paling difokuskan dalam mewujudkan karakter siswa dalam lingkup sekolah. Namun, dalam kurun waktu ini, penelitian yang memfokuskan pada nilai kedisiplinan masih belum banyak dilakukan. Oleh karena itu, penelitian tentang nilai kedisiplinan ini perlu untuk dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menjelaskan karakter yang dikembangkan oleh guru dalam pembentukan karakter disiplin siswa, Faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin siswa, serta kendala yang dihadapi oleh guru dalam pengembangan karakter disiplin siswa di MAN 2 Kota Probolinggo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumenyang berupa dokumentasi. Untuk menguji keabsahan data dilakukan dengan tiangulasi data. Sedangkan analisis data menggunakan analisis Miles and Huberman yang dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

 

Kata Kunci : upaya guru, karakter disiplin, siswa

 

The Efforts of Teachers in Developing the Character of Discipline to Students Islamic Senior High School 2 Probolinggo

Firda Ayu Wulandari Law and Citizenship Department, Faculty of Social Science, State University Of Malang, Malang

Email: Firdaayuw57741@gmail.com

 

ABSTRACT

Education is a fundamental attempt to form a human being people of good quality in the aspect of thinking or behaviour in the community. Character education as one of the important indicators for the realization of human character and behave well in a formal environment. The value of discipline up to now being the most focused in realizing the character of students within the scope of the school. However, in this period, the research focused on the value of the discipline is still not much is done. Therefore, the research on the value of the discipline it needs to do. This research was carried out with the aim to explain the characters developed by teachers in the creation of the character of the discipline of students, supporting Factors in the development of the character of the discipline of students, as well as obstacles faced by teachers in character development in student discipline MAN 2 Probolinggo. This research is a descriptive qualitative study types. Data collection is done with the techniques of observation, interview and dokumenyang in the form of documentation. To test the validity of the data is done with the tiangulasi data. While the analysis of the data using analysis Miles and Huberman that started from the collection of data, data presentation, data reduction and withdrawal of the conclusion.

 

Keyword : The Efforts of Teachers, the Character of Discipline, Students

 

PENDAHULUAN

Secara umum kata istilah karakter menekankan pada unsur psikososial manusia yang dikaitkan dengan pendidikan dalam sekolah dan konteks lingkungan.  Pendidikan dengan manusia tentunya tidak dapat dipisahkan, oleh karena itu pendidikan mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan manusia. Karakter sendiri memiliki arti nilai-nilai baik yang bisa berdampak baik terhadap lingkungan dan melekat dalam diri manusia serta terwujudkan dalam perilaku.

Samani dan Hariyanto (2014:41) mengartikan karakter sebagai ciri khas dari setiap individu dalam berfikir dan berperilaku untuk hidup dan bekerja sama dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Selanjutnya menurut Muslich (2011:70) karakter ialah cara berfikir dan berperilaku seseorang yang  menjadi ciri khas dari tiap individu untuk hidup dan kerjasama, baik dalam keluarga, masyarakat dan negara. Oleh karena itu, karakter dapat didefinisikan sebagai kepribadian yang dimiliki seseorang sejak lahir sesuai dengan kekuatan moral yang dikembangkannya.

Karakter selalu dikaitkan dengan  pendidikan karakter, menurut Koesoma (2010:42) pendidikan karakter menekankan pada dimensi etis-spiritual dalam proses pembentukan pribadi.  Menurut  Mulyasa (2012:3) menyatakan bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagaimana cara menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Sedangkan Akbar (2015:1) mengatakan pendidikan karakter adalah upaya yang menjadikan karakter seseorang lebih baik.

Jadi berdasarkan pendapat para ahli dapat dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah usaha sadar dalam mengembangkan nilai-nilai perilaku baik dalam berkarakter seseorang yang bertujuan untuk menjadikan manusia yang utuh, berketuhanan, dan dapat menajalankan amanah sehingga mereka dapat mengimplementasikan di lingkungannya.

Pendidikan karakter juga diterapkan dalam sekolah, salah satunya adalah nilai karakter disiplin. Disiplin pada hakikatnya adalah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hal yang telah ditetapkan (aturan) dan melakukan suatu tindakan yang telah dilindungi dan telah ditetapkan (Soedijarto 1989:163). Menurut Ariesandi (2008:231) arti disiplin ialah proses melatih pikiran dan karakter anak secara bertahap sehingga menjadi seseorang yang memiliki kontrol diri dan berguna bagi masyarakat. Sedangkan Lestari (1990:137) menyatakan bahwa disiplin diperlukan bagi seorang pendidik dalam membimbing dan mengarahkan anak didiknya supaya dengan mudah dapat

(1) meresapkan pengetahuan dan pengertian sosial antara hak milik orang lain;

(2) mengerti dan segera menurut untuk menjalankan kewajiban dan secara langsung mengerti larangan-larangan;

(3) mengerti tingkah laku yang baik maupun yang buruk;

(4) belajar mengendalikan keinginan dan berbuat sesuatu tanpa merasa ternacam hukum;

(5) mengorbankan kesenangan sendiri tanpa peringatan dari orang lain. Jadi dapat dipahami bahwa disiplin ialah tindakan atau perilaku kesadaran yang muncul dari dalam diri seseorang yang mengarah lebih baik.

Salah satu sekolah yang mengembangkan karakter disiplin yaitu MAN 2 Kota Probolinggo yang mana sekolah tersebut berbasiskan islami dengan memberikan pendidikan karakter dalam sekolah islam yang disebut dengan istilah akidah akhlak. Akidah akhlak yaitu sebagai pembentukan karakter siswa sehingga menjadikan manusia yang bertaqwa dan beriman. Disamping pembentukan karakter, guru MAN 2 Kota Probolinggo juga mempunyai program KJS Kegiatan Jum’at Sehati (Sehat Jasmani dan Hati) yang diterapkan di sekolah dan diharapkan nantinya bertujuan setiap individu memiliki rasa tanggung jawab besar sebagai pelajar. Karena dengan berdisiplin siswa akan terbiasa dengan beban yang diemban sehingga menjadi pelajar yang cerdas, berakhlak dan mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Hal inilah yang mendasari penulis tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah MAN 2 Kota Probolinggo, maka dalam tulisan ini akan membahas mengenai program yang di terapkan oleh guru di MAN 2 Kota Probolinggo guna mengembangkan karakter disiplin pada siswa. Dalam artikel ini akan membahas mengenai karakter yang dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo, bagaimana upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa, faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin pada siswa MAN 2 Kota Probolinggo, dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan pengembangan karakter disiplin siswa MAN 2 Kota Probolinggo.

 

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 2, Kecamatan Kanigaran, Kelurahan Curah Grinting, Kota Probolinggo. Di sekolah MAN 2 Kota Probolinggo terdapat beberapa program sebagai upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa. penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif yang disebabkan penelitian menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata yang menggambarkan upaya guru dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa MAN 2 Kota Probolinggo tanpa menggunakan angka. Data yang diperoleh melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Adapun dari beberapa subjek sebagai informan dalam penelitian ini diantaranya Bapak Ghofur sebagai Wakil Kepala Kesiswaan, Bapak Sujono sebagai guru pembimbing tata tertib, Ibu Septi sebagai guru bimbingan konseling dan siswa MAN 2 Kota Probolinggo.

Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif yang meliputi tiga komponen, yaitu

(1) reduksi data,

(2) sajian data,

(3) penarikan kesimpulan atau verifikasi.

Model analisis interaksi Miles dan Huberman (Sugiyono, 2011: 246). Dalam pengecekan keabsahan data peneliti menggunakan meningkatkan ketekunan dalam artian melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan. Disamping itu, peneliti juga menggunakan triangulasi, yang merupakan teknik untuk mencari pertemuan pada satu titik tengah informasi dari data yang terkumpul guna pengecekan dan pembanding terhadap data yang telah ada (Sugiyono, 2010:268-269). Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat macam triangulasi yaitu:

(1) triangulasi sumber,

(2) triangulasi teknik,

(3) triangulasi waktu.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 2 metode yaitu meningkatkan ketekunan dan peneliti menggunakan metode meningkatkan ketekunan karena peneliti melakukan observasi dengan cermat, data diperoleh dengan cara rekaman dan mendokumentasi setelah peneliti melakukan pengamatan peneliti mencari referensi untuk menambah wawasan guna untuk mengetahui apakah data yang diperoleh sudah kredibilitas atau benar dapat dipercaya. Selain itu, peneliti juga menggunakan metode triangulasi sumber karena di lapangan peneliti menemukan jawaban yang berbeda-beda sehingga peneliti mengecek kembali keabsahan informasi yang didapat dari informan dengan mewawancarai informan lainnya sehingga peneliti sampai menemukan jawaban yang kredibel dan valid.

 

PEMBAHASAN

1. Karakter Kedisiplinan yang Dikembangkan oleh Guru MAN 2 Kota Probolinggo

Karakter kedisiplinan yang dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu terdapat empat aspek. Aspek nilai kerajinan, aspek nilai kerapian, aspek nilai kepribadian, aspek ketertiban. Dengan adanya nilai aspek sebagai aturan tata tertib di sekolah yang dikembangkan oleh guru maka siswa mampu untuk mengendalikan diri dalam berperilaku disiplin bahkan siswa mampu berkarakter dengan baik. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat (Soedijarto 1989:163) bahwa pada hakikat disiplin ialah kemampuan untuk mengendalikan diri dalam bentuk tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hal yang telah ditetapkan (aturan) dan melakukan suatu tindakan yang telah dilindungi. Kesamaan dari temuan dan pendapat tersebut peneliti berpendapat bahwa pentingnya aturan tata tertib di sekolah dapat memberi batasan dalam siswa berperilaku.

Berdasarkan temuan penelitian dijelaskan bahwa sekolah MAN 2 Kota Probolinggo mengembangkan karakter disiplin dalam empat nilai aspek diantaranya ialah aspek nilai kerajinan, aspek nilai kerapian, aspek kepribadian, dan aspek ketertiban. Dari keempat nilai aspek disiplin tersebut dikembangkan oleh guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu dengan cara membiasakan kepada siswa dalam berperilaku sesuai dengan tata tertib sekolah salah satunya seperti disiplin waktu, siswa tiba di sekolah harus tepat waktu. Hal ini telah tercermin  nilai karakterpada diri siswa.

Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Asy Mas’udi (2000:88) bahwa kebiasaan seseorang yang melekat dengan perilaku kehidupannya dalam melakukan suatu pekerjaan dengan tertib dan teratur sesuai dengan peraturan yang berlaku dan memiliki penuh tanggung jawab tanpa ada paksaan. Mumpuni (2018:26) menjelaskan bahwa disiplin merupakan nilai karakter yang berhubungan antara manusia dengan dirinya sendiri yang diwujudkan dengan selalu menghargai waktu. Hal ini juga disampaikan oleh Husdarta (dalam skripsi Prasetya, 2014:16) mengatakan disiplin berarti kontrol penguasaan diri terhadap implus yang tidak diinginkan atau proses mengarahkan impuls pada suatu cita-cita atau tujuan tertentu untuk mencapai dampak yang lebih besar. Dari temuan peneliti dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru mengembangkan empat nilai aspek tersebut adalah sebagai bentuk pengembangan karakter kepada siswa untuk mengendalikan diri dalam berperilaku.

 

2. Upaya Guru dalam Mengembangkan Karakter Disiplin pada Siswa di MAN 2 Kota Probolinggo

Guru MAN 2 Kota Probolinggo mempunyai beberapa upaya dalam mengembangkan karakter disiplin pada siswa diantaranya yang pertama adalah menerapkan program kegiatan KJS Kegiatan Jum’at Sejati (Sehat Jasamani dan Hati) dalam kegiatan ini dimana siswa dilatih dalam berkarakter disiplin. Program KJS ini meliputi tiga kegiatan yang pertama ada kegiatan adiwiyata, dalam kegiatan ini siswa dilatih agar dapat mampu berinteraksi dengan sesama temannya selain itu juga dapat menjadikan siswa peduli dengan alam dan lingkungan sekitar untuk menjaga kebersihan dengan tertib dan disiplin. Kegiatan kedua adalah kegiatan Khotmil Qur’an yang dilaksanakan setiap hari di dalam kelas setelah siswa melaksanakan sholat dhuha dan dipastikan seluruh siswa tidak ada yang di luar kelas maupun berangkat terlambat hal ini bertujuan melatih siswa dalam berbuat disiplin dan berkarakter baik. Ketiga kegiatan tausiyah yang dilaksanakan setiap hari Jum’at secara bergiliran dari tiap masing-masing kelas yang dimulai dengan menyanyikan lagu nasional. Melalui kegiatan tausiyah guru dapat mensosialisasikan aturan yang ada di sekolah selain mengembangkan sikap disiplin dalam kegiatan tausiyah ini juga mencerminkan karakter cinta tanah air pada siswa.

Kedua adalah bekerja sama dengan melibatkan semua pihak sekolah mengenai aturan bersama yang harus ditaati oleh siswa dan guru. Guru bekerja sama dengan siswa dengan berkomitmen untuk tidak melanggar aturan selain itu guru juga meminta kerja sama dengan pihak kantin untuk tidak menerima siswa yang pergi ke kantin. Hal ini bertujuan untuk melatih batasan siswa dalam bertingkah laku.

Ketiga adalah teknik external control (pengawasan oleh guru). Siswa tetap berada pada pantauan guru terutama terhadap peran guru bimbingan konseling yang mana guru bimbingan konseling MAN 2 Kota Probolinggo senantiasa berupaya dalam memberikan perhatian kepada siswa. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Mulyasa (2013) bahwa guru bimbingan konseling di sekolah senantiasa berupaya memberikan perhatian yang proporsional. Selain itu, guru juga harus dapat berinteraksi sebagai sahabat siswa. Apabila  temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Suarnaya (2015) bahwa guru bimbingan konseling sebaiknya dapat berteman dekat dengan siswa sehingga siswa dapat menganggap dirinya sebagai sahabat yang mengawasinya. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa pengawasan guru ialah upaya yang lebih utama yang mana siswa tidak bisa lepas dari pengawasan seorang guru untuk memberi batasan kapada siswa dalam bertingkah laku.

Keempat adalah melaksanakan sholat dhuha bersama setiap hari dan kajian kitab setiap hari Jum’at. Kegiatan ini dilakukan secara rutin untuk dapat mengembangkan karakter disiplin pada siswa mengenai waktu. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Mumpuni (2018:26) menjelaskan bahwa disiplin merupakan nilai karakter yang berhubungan antar manusia dengan dirinya sendiri yang diwujudkan dengan selalu menghargai waktu. Selain itu juga menciptakan siswa yang religius sebagaimana sesuai dengan misi MAN 2 Kota Probolinggo yaitu menanamkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai islami. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa kepatuhan siswa berawal dari adanya aturan tata tertib sekolah terutama dalam hal disiplin waktu.

Kelima adalah menerapkan sistem point berdasarkan sanksinya, point yang diterapkan pada kegiatan siswa meliputi kegiatan pada saat melaksanakan upacara bendera, kegiatan siswa pada saat tidak mengikuti ekstra sekolah wajib maupun pilihan, dengan melalui kegiatan ekstrakurikuler siswa mengembangkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuannya. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 12 ayat 1b yang menjelaskan bahwa hak siswa ialah mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai bakat, minat dan kemampuannya melalui ekstrakurikuler, OSIS maupun Karya Ilmiah Remaja.

Guru juga berupaya memberikan sanksi berupa surat pernyataan, siswa yang sudah tidak dapat ditoleransi maka ia akan diberi surat pernyataan. Hal ini bertujuan agar siswa memiliki rasa takut dan bertanggung jawab akan tingkah lakunya jika ia berbuat kesalahan.

Selain itu, guru berupaya memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa sebagai cara meminimalisir sikap ketidak disiplinan terhadap siswa. hal ini bertujuan agar siswa mampu bersemangat dalam berbuat disiplin menaati aturan sekolah. Apabila temuan peneliti tersebut dihubungkan dengan pendapat Uno (2009:16-17) yang menjelaskan bahwa guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengelola sendiri informasi. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa guru memberikan motivasi dan dorongan kepada siswa bertujuan menjadikan siswa lulusan yang berkepribadian baik hingga terbawa di kehidupan siswa selanjutnya.

 

3. Faktor Pendukung dalam Pengembangan Karakter Disiplin pada Siswa MAN 2 Kota Probolinggo

Faktor pendukung dari guru MAN 2 Kota Probolinggo yaitu dengan memberikan pengertian pendidikan karakter pada siswa yang mana siswa tak hanya diberi pengetahuan intelektual namun siswa juga ditanamkan karakter yang baik melalui proses pembiasaan di sekolah. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Mulyasa (2012:3) bahwa pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah tetapi bagaimana cara menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan. Selain itu, guru juga membiasakan pada siswa untuk menekuni aktifitas kegiatan yang ada di sekolah secara rutin sehingga siswa akan timbul rasa kesadaran terhadap dirinya sebagaimana ia akan berperilaku sesuai aturan di sekolah. Seperti temuan penelitian jika dihubungkan dengan pendapat Sutadipura (1985:99) yang menjelaskan bahwa faktor pendukungnya ialah guru mengembangkan karakter disiplin melalui pembiasaan karena dengan pembiasaan yang baik akan meringankan guru dalam menjalani proses pembiasaan yang ditekuni. Bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor pendukung dalam pengembangan karakter disiplin di MAN 2 Kota Probolinggo dengan melakukan pembiasaan yang dilakukan secara rutin dengan bertujuan mewujudkan manusia sebagai pribadi yang baik.

Faktor pendukung yang kedua adalah adanya peraturan yang berlaku serta norma yang ditentukan, baik di sekolah maupun di masyarakat yang disertai dengan sanksi. Berdasarkan temuan penelitian bahwa dengan ditentukan peraturan tata tertib sangatlah diperlukan, karena dengan adanya suatu aturan maka siswa tidak dapat bertindak sembarangan. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (1994:15) bahwa faktor pendukung disiplin ialah dengan adanya peraturan-peraturan dan norma-norma yang ditentukan baik di sekolah maupun di masyarakat yang harus dipatuhi maka dapatlah mendukung terciptanya disiplin secara umum  dengan disertai sanksi-sanksi yang jelas dan tegas. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat  menyimpulkan bahwa tata tertib dapat menanamkan karakter disiplin pada siswa dengan begitu guru dapat mengembangkannya melalui suatu aturan dan disertai sanksi-sanksi.

Faktor pendukung yang ketiga ialah kerja sama antar guru dan wali murid/ orang tua siswa. Hubungan keluarga dengan siswa tidak akan bisa lepas, keluarga sangatlah berperan penting bagi terbentuknya karakter sang anak. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (194:15) bahwa faktor pendukung disiplin ialah lingkungan keluarga sebagai masyarakat kecil yang dimiliki oleh siswa yang sangat mendukung dalam pembentukan sikap disiplin. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa keluarga ialah tempat pendidikan yang dimiliki oleh siswa yang mana sebagai pembentuk karakter utama dalam menjadikan siswa yang memiliki pribadi baik.

 

4. Kendala yang Dihadapi dalam Pelaksanaan Pengembangan Karakter Disiplin Siswa MAN 2 Kota Probolinggo

Terdapat beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan karakter disiplin siswa MAN 2 Kota Probolinggo ialah yang pertama belum ada kesadaran dalam diri siswa yang mana ada dari sebagian siswa masih bertingkah laku sesuai keinginannya tanpa melihat resiko. Maka dengan itu, guru MAN 2 Kota Probolinggo masih perlu berupaya dalam memberikan pendidikan karakter dengan tujuan mengembangkan karakter siswa terutama pada karakter disiplin sehingga kesadaran dalam diri siswa akan timbul dengan sendirinya. Sesuai dengan temuan yang dihubungkan dengan pendapat Akbar (2015:1) menjelaskan bahwa pendidikan karakter adalah sebagai upaya yang menjadikan karakter seseorang lebih baik. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa tanpa adanya kesadaran dalam diri siswa maka siswa akan cenderung melanggar aturan tata tertib sebab siswa akan mudah goyah, namun jika siswa sudah muncul kesadaran dalam dirinya besar kemungkinan ia akan menghormati hak-hak dan kebutuhan orang lain bukan karena ia takut dengan sanksi maupun ingin mendapatkan pujian melainkan karena keyakinan yang ada dalam dirinya bahwa berbuat disiplin itu menjadikan ia orang yang berkarakter baik walaupun ia melakukannya tanpa dilihat oleh oang lain.

Kendala yang kedua ialah siswa sudah mencapai masa pubertas yang mana siswa merasa dirinya sudah memiliki cukup umur sehingga siswa merasa bebas dalam berperilaku seakan tidak ada yang mengawasinya. Disisi lain terdapat sebagian guru yang kurang memahami siswanya sehingga siswa merasa kurang diperhatikan. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (1994:15) yang menjelaskan bahwa faktor kendala dalam pengembangan disiplin pada siswa yaitu salah satunya ialah siswa mencapai masa puber yang biasanya mempunya tingkah laku yang aneh-aneh. Mereka bertindak bebas seperti halnya orang dewasa, sedangkan mereka sendiri masih lamban dalam menerima tanggung jawab serta dalam mengahadapi hal-hal yang dapat menyinggung perasaan sehingga besar kemungkinan ia cenderung melanggar aturan. Seperti bertolak dari temuan dan pendapat tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa masa puber menjadikan

Kendala yang ketiga adalah dari latar belakang keluarga siswa, yang mana keluarga ialah lingkungan utama bagi suatu pendidikan siswa dalam membentuk kepribadiannya disitulah karakter siswa akan terlihat. Orang tua sangat beperan dalam mengarahkan kebaikan kepada sang anak sehingga anak terdidik secara mandiri. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Supriyanto (194:15) bahwa kendala yang dihadapi oleh guru ialah latar belakang rumah tangga dan masyarakat siswa yang berbeda sehingga beberapa pengalaman dan kecakapan yang berbeda harus dipertimbangkan. Pola asuh orang tua sangatlah mempengaruhi bagi perkembangan siswa terutama dalam mengembangkan sikap disiplin di sekolah dan di masyarakat. Apabila temuan tersebut dihubungkan dengan pendapat Zubaedi (2011:183-184) bahwa lingkungan dalam keluarga akhlak orang tua di rumah dapat mempengaruhi aklak seorang anak. Peneliti dapat menyimpulkan bahwa baik burukya mental atau kesadaran diri siswa tergantung dari masing-masing latar belakang keluarga siswa. Oleh karena itu orang tua harus memperlakukan siswa dengan hormat dan kasih sayang, memberikan contoh yang baik serta memperbaki perilaku yang merusak.

 

PENUTUP

Pada era globalisasi saat ini yang mana kecanggihan teknologi sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan, dengan adanya teknologi yang semakin canggih dapat memudahkan siswa mengakses segala informasi dari media sosial namun adapula siswa yang menyalahgunakan kecanggihan teknologi. Dalam hal ini pendidikan berperan penting bagi kehidupan manusia dimana pemerintah juga ikut berperan melalui Kementerian Pendidikan Nasional yang bertujuan untuk memajukan pendidikan di Indonesia. Salah satunya yaitu mengupayakan dengan menerapkan konsep pendidikan yang membebaskan siswa dalam artian pendidikan tidak dalam hal akademik saja melainkan pendidikan yang dapat membentuk dan mengembangkan karakter terhadap siswa yaitu dengan melalui pendidikan karakter. Karena pada hakikatnya karakter merupakan suatu hal yang melekat dalam diri manusia, salah satunya yaitu karakter disiplin. Dengan upaya pelaksanaan guru dalam mengembangkan karakter disiplin di sekolah maka akan mencetak siswa yang bertanggung jawab serta mampu dalam bertingkah laku sesuai aturan yang berlaku di sekolah maupun di masyarakat.

 

DAFTAR RUJUKAN

Akbar, S., Samawi, A., Arafik, Muh.& Hidayah, L. 2015. Pendidikan Karakter Best Practice. Malang: Universitas Negeri Malang.

Ariesandi. 2008. Rahasia Mendidik Anak Agar sukses dan Bahagia, Tips dan Terpuji Melejitkan Potensi Optimal Anak. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Asy Mas’udi. 2000. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Yogyakarta: PT Tiga Serangkai.

Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group. Darmadi. H. 2017. Pengembangan Model dan Metode Pembelajaran dalam Dinamika Belajar Siswa. Yogyakarta: CV Budi Utama. Djaali, dan Pudji Muljono. 2007. Pengukuran dalam Bidang Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo.

Frank, J. 1991. Hubungan Masyarakat. Jakarta: Erlangga. Gaurav, Sachar. 2015. Teacher’s Positive Influence on Learner’s Character Formation. Inter. J. Edu. Res. Technol. G[2]2015; 49-52. D01:10.155515.

Harning Setyo Susilowati. (2005). Pengaruh Disiplin Belajar, Lingkungan Keluarga dan Lingkungan Sekolah terhadap Prestasi BelajarSiswa Kelas X Semester 1 Tahun ajaran 2004/2005 SMAN 1 Gemolong Kabupaten Sragen. Skripsi Universitas Negeri Semarang: tidak diterbitkan.

Koesoema, Doni. 2010. Pendidikan Karakter strategi Mendidik Anak di Zaman Global (edisi revisi). Jakarta: PT Grasindo.

Kurniawan, Syamsul. 2013. Pendidikan Karakter. Pontianak: Ar-Ruzz Media. Lestari, V. 1990. Membina Disiplin Anak. Jakarta: PT Pondok Press. Mardialis. 1990. Metode Penelitian Suatu Proposal. Bandung: Bandar Maju. Moleong, L.J. 2014. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Moleong. 1988. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Ghalia Indonesia. Moleong. 2016. Metode Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi, Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa, E. 2013. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Mulyasa. 2012. Manajemen Pendidikan Karakter. Jakarta: Bumi Aksara. Mumpuni, Atikah. 2018. Integrasi Nilai Karakter Dalam Buku Pelajaran Analisis Konten Buku Teks Kurikulum 2013. Yogyakarta: CV Budi Utama.

Muslich, Masnur. 2011. Pendidikan Karakter Menjawab Tantangan Krisis Multidimensional. Jakarta: Bumi Aksara. Nawawi, Hadari. 2005. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta: Bungin, Burhan. 2008. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group.

Prasetya, Alfian Budi. 2014. Penerapan Pendidikan Karakter Nilai Disiplin dan Nilai Tanggung Jawab dalam Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di Kelas I dan IV SD Negeri Percobaan 3. Alifyz.blogspot.com (diakses 16 Januari 2019).

Republik Indonesia. 2005. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Lembaran Negara RI Tahun 2005, No. 14. Sekretariat Negara. Online (http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/uunomor-14-tahun-2005-ttg-guru-dosen.pdf), di akses 14 April 2018.

Samani, M. & hariyanto. 2014. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sardiman. 1986. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengaja, pedoman bagi guru dan calon guru. Jakarta: CV. Rajawali.

Soedijarto. 1989. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu. Jakarta: Balai Pustaka.

Suarnaya, I Putu. 2015. Menajemen Pendidikan: Suatu Pengantar Praktis. Malang: Gunung Samudera.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta..

Supriyanto, A. 1994. Strategi dalam Menanamkan Pendidikan Disiplin. Jurnal Manajemen Pendidikan, 94 (4): 9-19.

Sutadipura, Balnadi. 1985. Aneka Problema Keguruan. Bandung: Angkasa.

Tanzeh, Ahmada. 2009. Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Teras.

Tirtarahardja, Umar., dan S.L, La, Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya.

Undang-Undang RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Online (www.unpad.ac.id), diakses 4 Oktober 2018.

Uno, Hamzah B. 2009. Profesi Kependidikan, Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Cet. IV; Jakarta: Bumi Aksara.

Winarno, Agung. 2014. Pengantar Pendidikan. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan Karakter (Konsepsi dan Aplikasinya alam Lembaga Pendidikan). Jakarta: Kencana Prenada Media Group.