SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peran Museum Batiwakkal dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau Kalimantan Timur

Triwahyuningsih Triwahyuningsih

Abstrak


ABSTRAK

 

Triwahyuningsih. 2017. Peran Museum Batiwakkal dalam Melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Skripsi, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si, (II) Dr. Yuniastuti, S.H, M.Pd.

 

Kata Kunci: Nilai-Nilai Kearifan Lokal, Museum Batiwakkal, Berau

 

Indonesia adalah negara kepulauan dengan berbagai macam kebudayaan, tentu kearifan lokal yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia juga sangat beragam. Satu cara menjaga dan melestarikan warisan budaya atau kearifan lokal adalah dengan sebuah lembaga, yaitu Museum. Museum Batiwakkal merupakan salah satu museum budaya yang berada di Gunung Tabur, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Museum Batiwakkal yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Gunung Tabur menyimpan berbagai macam warisan kebudayaan daerah Berau. Oleh karena itu, Museum Batiwakkal memiliki peranan penting dalam memelihara dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Berau.

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal, yaitu sejarah didirikannya Museum Batiwakkal, ragam koleksi Museum Batiwakkal, nilai-nilai kearifan lokal di dalam Museum Batiwakkal, peran Museum Batiwakkal dalam melestarikan Nilai-Nilai Kearifan Lokal, kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal, serta cara-cara untuk mengatasi kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Gunung Tabur Kabupaten Berau.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskiptif. Data penelitian merupakan data primer yaitu pengurus Museum Batiwakkal dan data sekunder berupa koleksi-koleksi Museum Batiwakkal. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa instrumen manusia, yaitu peneliti sendiri. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan tiangulasi data. Tahap analisis data dimulai dari tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Berdasarkan analisis data tersebut, diperoleh enam simpulan hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, Museum Batiwakkal dibentuk karena diberlakukannya UU No. 27 tahun 1959 tentang penghapusan daerah swapraja, maka berhentilah masa pemerintahan Keraaan Gunung Tabur. Agar warisan peninggalan Kerajaan Gunung Tabur tetap terjaga, dialihfungsikanlah Kerajaan Gunung Tabur menjadi Museum Batiwakkal. Kedua, Koleksi Museum Batiwakkal terdiri dari benda-benda historika, neraldika, numismatika atau mata uang, ethnografika, geologika, keramika dan seni rupa. Ketiga, Museum Batiwakkal melestarikan nilai-nilai keaifan lokal melalui dialog dan bimbingan edukasi kepada pengunjung, latihan menari untuk anak-anak sekitar Museum Batiwakkal, pembuatan dan pemutaran film tentang sejarah Berau. Keempat, kendala yang dihadapi Museum Batiwakkal dalam melestaikan nilai-nilai kearifan lokal adalah pada keuangan atau sumber keuangan. Kelima, dalam mengatasi kendala Museum Batiwakkal bekerjasama dengan PT. Berau Coal.

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran-saran kepada Pemerintah Kabupaten Berau hendaknya untuk lebih memperhatikan Museum Batiwakkal, untuk Museum Batiwakkal hendaknya melakukan inovasi sebagai upaya-upaya dalam melestarikan nilai-nilai kearifan lokal di Gunung Tabur, Berau, dan untuk peneliti lain, semoga penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi dalam penelitian serupa.