SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pembinaan Narapidana Kasus Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang

Defri Eko Widyantoro

Abstrak


ABSTRAK

 

Widyantoro, Defri Eko. 2017. Pembinaan Narapidana Kasus Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang. Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H., M.Si., (2) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum.

 

Kata Kunci:   Pembinaan, Narapidana Kasus Tindak Pidana Narkotika, Lembaga   Pemasyarakatan

 

Lembaga Pemasyarakatan merupakan lembaga di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang bertugas untuk memberikan pembinaan kepada narapidana agar dapat menyadari keselahan dan memperbaiki diri, serta tidak mengulangi kembali perbuatanya sehingga dapat diterima kembali di masyarakat. Namun demikian, mantan narapidana termasuk mantan narapidana narkotika masih memiliki potensi untuk mengulangi perbuatannya kembali. Oleh sebab itu, lembaga pemasyarakatan perlu menyusun progam-progam pembinaan yang dapat membawa narapidana ke arah yang lebih baik sehingga tidak mengulangi lagi perbuatannya.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) Progam pembinaan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang kepada narapidana kasus tindak pidana narkotika; (2) Pelaksanaan progam pembinaan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang kepada narapidana kasus tindak pidana narkotika; (3) Faktor-faktor penghambat bagi Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang dalam melakukan pembinaan kepada narapidana kasus tindak pidana narkotika; (4) Upaya yang dilakukan Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang untuk mengatasi hambatan dalam melakukan pembinaan kepada narapidana kasus tindak pidana narkotika.

 Penelitian ini dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang. Pendekatan dan jenis penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah model Miles and Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Untuk menjamin keabsahan data yang diperoleh dari hasil penelitian, peneliti menggunakan: (1) Ketekunan pengamatan dan (2) Triangulasi Sumber.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Pertama, progam pembinaan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang kepada narapidana narkotika adalah progam pembinaan di bidang kepribadian dan kemandirian, artinya pembinaan yang diberikan kepada narapidana narkotika masih disamakan dengan narapidana kriminal umum lainnya. Adapun progam pembinaan kepribadian meliputi tahap AO, progam pembinaan agama islam, progam pembinaan agama kristen, progam pembinaan intelektual, progam pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara dan kesadaran hukum, progam pembinaan kesehatan jasmani dan olah raga, dan integrasi. Sementara progam pembinaan di bidang kemandirian yang diberikan adalah progam pembinaan bengekel, progam pembinaan mebel, progam pembinaan kerajinan tangan, progam pembinaan keset, progam pembinaan pertanian, dan asimilasi.

 Kedua, Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang dilaksanakan dalam empat tahap, yang mana tahapan tersebut secara berurutan adalah; (1) tahap admisi orientasi (0—1/3 masa pidana) yang diberikan kepada narapidana yang baru masuk; (2) tahap pembinaan (1/3—1/2 masa pidana) yang dilaksanakan dalam progam pembinaan agama islam, progam pembinaan agama kristen, progam pembinaan intelektual, progam pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara dan kesadaran hukum, dan progam pembinaan kesehatan jasmani dan olah raga. Sementara progam pembinaan di bidang kemandirian yang diberikan adalah progam pembinaan bengekel, progam pembinaan mebel, progam pembinaan kerajinan tangan, progam pembinaan keset, dan progam pembinaan perkebunan; (3) tahap asimilasi (1/2—2/3 masa pidana) dengan memberikan kesempatan kepada narapidana untuk hidup berbaur dengan masyarakat; (4) tahap integasri (2/3 masa pidana) dengan memberikan cuti berbasyarat, cuti menjelang bebas, dan pembebasan bersyarat.

Ketiga, dalam melaksanakan pembinaan Lembaga Pemasyarakatan Klas I Malang tidak terlepas dari hambatan, hambatan yang ada adalah; (1) hambatan terbatasnya jumlah pengajar pembinaan kejar paket, (2) terbatasnya jumlah kelas untuk progam pembelajaran kejar paket, (3) terbatasnya jumlah buku di perpustakaan, (4) terbatasnya jumlah petugas dalam melaksanakan progam kesadaran berbangsa dan bernegara dan kesadaran hukum, (5) tidak adanya anggaran untuk pembinaan olah raga.(6) adanya narapidana yang kurang memiliki keterampilan, dan (7) sulitnya memasarkan produk kerajinan tangan narapidana.

Keempat, terhadap hambatan yang ada, petugas Lapas Klas I Malang telah berupaya semaksimal mungkin untuk mengatasi hambatan yang ada dengan cara bekerja sama dengan berbagai pihak sehingga hambatan yang ada dapat teratasi.

Berdasarkan penelitian ini, peneliti memberikan saran diantaranya: (1) bagi pemerintah dalam hal ini Kementerian Hukum dan HAM untuk membuat peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pembinaan kepada narapidana narkotika sehingga diharapkan dengan pembinaan yang khusus para narapidana narkotika dapat benar-benar sembuh dari sifat ketergantungannya dan tidak memiliki potensi untuk mengulangi perbuatannya kembali ketika keluar nanti: (2) bagi Lapas Klas I Malang agar dapat bekerja sama dengan BNN baik pusat, provinsi, maupun kota untuk memberikan pembinaan khusus kepada narapidana narkotika; (3) bagi masyarakat agar dapat membantu progam pembinaan di lapas dengan cara memberikan dukungan moril dan kepercayaan kepada mantan narapidana narkotika untuk kemabali hidup normal seperti masyarakat lainnya.