SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM TRADISI SELAMETAN TUMPENG SEWU DI DESA KEMIREN KECAMATAN GLAGAH KABUPATEN BANYUWANGI

Nadia Fitriani Putri

Abstrak


ABSTRAK

 

Putri, Nadia Fitriani. 2017. Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Selametan Tumpeng Sewu di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, Skripsi, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Margono, M.pd, M.Si. (II) Drs. Ketut Diara Astawa, S.H, M.Si.

 

Kata Kunci: nilai, kearifan lokal, Selametan, Tumpeng Sewu, Desa Kemiren

 

Tradisi Selametan Tumpeng Sewu merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang ada di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Selameten Tumpeng Sewu dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah pada malam Senin atau malam Jumat di minggu pertama. Masyarakat Desa Kemiren hingga sekarang tetap melaksanakan tradisi secara turun temurun, sebagai warisan dari leluhur. Berkaitan dengan hal tersebut, maka diperlukan pembahasan mengenai Tradisi Selametan Tumpeng Sewu. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan beberapa hal yang mencakup, sejarah Tradisi Selametan Tumpeng Sewu, pelaksanaan Tradisi Selametan Tumpeng Sewu, nilai-nilai kearifan lokal dalam Tradisi Selametan Tumpeng Sewu, hambatan dan cara mengatasi hambatan dalam pelaksanaan Selametan Tumpeng Sewu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Dalam mencari data, diperoleh melalui informan yang terdiri dari Kepala Desa Kemiren, ketua adat, tokoh masyarakat, dan anggota masyarakat Desa Kemiren. Pengumpulan data tersebutdilakukandenganmetodeyaitu: observasi, wawancara, dandokumentasi. Analisis data dilakukandengancaramengumpulkandanmengecek data yang diperolehdarilapangan, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Untukmenjaminkeabsahan data yang diperoleh, penelitimelakukanpeningkatanketekunan, triangulasi, menggunakan bahan referensi, dan kebergantungan.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Tradisi Selametan Tumpeng Sewu dilaksanakan berdasarkan perintah Buyut Cili yang dianggap sebagai leluhur Desa. Tujuan Selametan Tumpeng Sewu adalah ungkapan rasa syukur kepada Tuhan YME. Awalnya Selametan Tumpeng Sewu dilaksanakan sendiri-sendiri oleh masyarakat Desa Kemiren, antara satu dusun dengan dusun lainnya berbeda waktu pelaksanaannya. Namun, pada tahun 2007 Pemerintah Desa Kemiren berinisiatif menjadikan pelaksanaan Tradisi Selametan Tumpeng Sewu secara bersama-sama dengan tujuan menciptakan kerukunan diantara anggota masyarakat Desa Kemiren. Selain itu, di tahun yang sama Pemerintah Desa Kemiren memberikan nama pada tradisi ini dengan nama Selametan Tumpeng Sewu, mengganti nama awalnya yaitu Selametan Kampung. Hal ini bertujuan agar nama yang digunakan tersebut terdengar lebih menarik.

Kedua, Tradisi Selametan Tumpeng Sewu dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah minggu pertama di malam Senin atau malam Jumat. Selametan Tumpeng Sewu dilaksanakan sejak pagi yang diawali dengan ritual mepe kasur merah hitam, dilanjutkan dengan ritual arak-arakan Barong Kemiren yang diawali dengan ziarah ke makam Buyut Cili oleh anggota keluarga pemilik Barong Kemiren. Malam harinya usai sholat maghrib berjamaah dilaksanakan penyalaan obor disepanjang Desa Kemiren. Acara puncak dari Selametan Tumpeng Sewu adalah menyantap bersama Tumpeng pecel pithik yang diawali dengan doa bersama. Selametan Tumpeng Sewu berlangsung selama semalam suntuk dengan diadakannya beberpa pertunujukan seperti tari gandrung dan ditutup dengan mocoan lontar Yusuf.

Ketiga, pada Tradisi Selametan Tumpeng Sewu terdapat nilai-nilai kearifan lokal yang nampak di dalamnya, yaitu nilai religi, nilai gotong royong, nilai kesenian, niilai kerukunan, nilai toleransi, dan nilai persatuan. Keempat, Selama pelaksanaan Selametan Tumpeng Sewu ditemui beberapa hambatan diantaranya, masalah kepanitiaan, hujan, kurangnya dana, masalah hidangan tumpeng pecel pithik untuk tamu, masalah parkir kendaraan para tamu.Kelima, untuk mengatasi hambatan tersebut ada beberapa hal yang digunakan sebagai alternati solusi yaitu, 1) meningkatkan koordinasi diantara panitia, dan melaksanakan rapat koordinasi kepanitiaan Selametan Tumpeng Sewu secara rutin sebelum hari pelaksanaan, 2) mendatangkan pawang hujan, 3) bantuan dari Pemerintah Desa Kemiren dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi serta hasil swadaya masyarakat Desa Kemiren, 4) menyediakan jasa pembuatan tumpeng pecel pihik, 5) Pemuda-pemuda Desa Kemiren membantu mengatur dan menjaga kendaraan tamu-tamu sebagai petugas parkir.

Saran yang diberikan peneliti setelah melakukan penelitian yaitu: perlunya menjaga dan melestarikan kearifan lokal sebagai warisan budaya leluhur terutama untuk generasi muda. Sebagai penerus bangsa, pemuda-pemuda Indonesia harus lebih peduli dan menumbuhkan rasa cinta terhadap kebudayaan agar warisan-warisan luhur tetap terjaga nilai-nilainya. Selain itu, perlunya penelitian lanjutan terhadap kebudayaan nasional agar masyarakat lebih mengenal, memahami, menambah wawasan dan peduli terhadap kebudayaan nasional. Oleh karena itu,dibutuhkanperansebuahlembagapendidikanterutamadilingkunganakademisuntukmenampungsegalatemuanpenelitian yang terkaitdengankebudayaanbangsa. Serta, adanya peran Pemerintah juga penting untuk menjaga kelangsungan kebudayaan yang ada di masyarakat, misalnya dengan membantu anggaran dana untuk keberlangsungan suatu kebudayaan.