SKRIPSI Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Peran Kepemimpinan Kepala Desa Perempuan dalam Pembangunan Desa di Desa Banjarsari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang

yuli puspita sari

Abstrak


ABSTRAK

 

Sari. Yuli Puspita 2017.Peran Kepemimpinan Kepala Desa Perempuan Dalam Pembangunan Desa Di Desa Banjarsari Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Skripsi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang.

            Pembimbing: (I) Dra. Arbaiyah Prantiasih, M.Si. (II) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum.

 

Kata kunci: Peran Kepemimpinan, Kepala Desa Perempuan, Pembangunan Desa

Peran kepemimpinan dalam organisasi merupakan hal yang sangat penting dalam kemajuan organisasi termasuk dalam desa. Peran kepala desa sebagai pemimpin dalam suatu desa akan sangat mempengaruhi keberhasilan pembangunan desa. Pembangunan desa merupakan tonggak dari pembangunan nasional. Keberhasilan pembangunan di desa akan sangat menunjang pembangunan nasional. Di era modern peran perempuan dalam ranah publik mulai nampak, salah satunnya adalah sebagai kepala desa.

Penelitian ini bertujuan untuk:  (1)Mendeskripsikan program pembangunan yang telah dilaksanakan oleh kepala desa perempuan; (2) Mendeskripsikan peran kepemimpinan kepala desa perempuan dalam pembagunan ; (3)Mendeskripsikan hambatan yang dialami oleh kepala desa perempuan dalam pembangunan desa; (4). Mendeskripsikan cara mengatasi hambatan yang dialamai kepala desa perempuan dalam pembangunan desa.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data dengan menggunakan reduksi data, display data/penyajian data, dan verifikasi data/penarikan kesimpulan.

Program yang dilaksanakan oleh kepala desa perempuan adalah pembangunan fisik dan non fisik. Pembangunan fisik meliputi pembangunan sarana prasarana seperti pembangunan balai desa,  perbaikan jalan, makadam jalan usaha tani, pavingasi, sanitasi, pembangunan taman posyandu. Sedangkan pembangunan non fisik meliputi peningkatan SDM perangkat desa melalui pelatihan, pembinaan kelompok tani, pembinaan PKK, pengajian muslimat, kegiatan karang taruna.

Peran kepala desa perempuan dalam pembangunan desa sangat baik. Kepala desa perempuan sebagai pemimpin selalu mengarah, membimbing, memotivasi masyarakat untuk mengikuti kegiatan pembangunan seperti kerja bakti. Dalam menjalankan perannya kepala desa perempuan memiliki kelebihan dalam berkomunikasi sehingga mampu menciptakan suatu hubungan yang akrab dengan atasan dan dinas sehingga dapat mempengaruhi kebijakan terkait dengan pembangunan.

Hambatan yang dialami oleh kepala desa perempuan adalah hambatan internal dan eksternal. Hambatan internal terkait dengan peran kepala desa yang bukan hanya sebagai kepala desa tetapi juga sebagai guru SD, kepala sekolah PAUD, sehingga tidak sepenuhnya berada di kantor desa untuk melayani masyarakat.Sedangkan hambatan eksternal meliputi kurangnya pemahaman warga terhadap program yang ada di desa sehingga menimbulkan kecemburuan sosial, pencairan dana yang tidak pasti , sumber daya manusia, program pemerintah yang belum merata

Cara mengatasi hambatan yang dialami oleh kepala desa perempuan adalah memberi pelayanan kepada masyarakat 24 jam, tidak hanya dikantor tetapi juga dirumah, memberikan sosialaisasi terkait program pembanguan desa, mengadakan evaluasi terkait mengapa dana belum turun, terus mengajak masyarakat dalam mengikuti kegiatan yang dapat meningkatkan sumber daya manusia dan mengganti penerima kartu indonesia sehat yang sudah meninggal.

Berdasarkan hasil penelitian diatas maka saran yang dapat diberikan peneliti adalah: (1) Bagi masyarakat, sedianya mengikuti program-program pembangunan di Desa Banjarsari dan kesempatan yang diberikan oleh pemerintah desa untuk dapat mengajukan usulan-usulan program pembangunan hendaknya dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, (2) Bagi pihak pemerintah desa, perlunya sosialisasi kepada masyarakat terkait program-program pembangunan yang  dilaksanakan di Desa Banjarsari sehingga masyarakat bisa mengetahui terkait dengan program-program pembangunan yang ada di desa yang dilakukan secara bertahap, sosialisai dapat dilakukan melalui RT RW sehingga dapat lebih efektif. Dengan demikian tidak terjadi kecemburuan sosial dalam masyarakat, (3) Bagi Jurusan Hukum dan Kewarganegaraansebaiknya penelitian yang berkaitan dengan perempuan dan perannya di dalam pembangunan perlu terus dilakukan karena terdapat metode analisis yang berbeda-beda untuk mengetahui peran perempuan dalam pembangunan

Sari. YuliPuspita 2017. The Leadership Role of Female Village Chief in the Village Development in Banjarsari Village Ngajum District Malang Regency. Thesis. Department of Law and Citizenship, Study Program of Pancasila and Citizenship Education. Faculty of Social Science State University of Malang. Advisors: (I) Dra. ArbaiyahPrantiasih, M.Si. (II) Rusdianto Umar, S.H., M.Hum.

 

Keywords: leadership role, female village chief, village development

The leadership role in an organization emerges as an essential role in improving organizations including village. The role of a village chief in a village highly influences the success of the village development. The development of village becomes the fondation of the national development which espouses the success of the national development. In modern era, female roles in public domains begin to appear and one of which is female roles as a village chief or leader.

This study was aimed at: (1) describing the development program implemented by a female village chief; (2) describing the leadership role of a femalle village chief in the development;(3) describing the hindrances faced by the female village chief in developing the village; (4) describing the ways how to solve the hindrances faced by female village chief in developing the village.

Descriptive qualitative approach was employed in this study. The techniques of the data collection were observation, interview, and documentation. In addition, the techniques used to analyze the data consisted of reducing data, displaying data, verifying data, and drawing a conclusion.

The program that is implemented by the female village chief comprises physical and non-physical developments. Physical development involves the development of facilities such as developing village hall, repairing roads, macadam of farming, pavingization, sanitation, and developing Posyandu (community-based healthcare). Conversely, non-physical development entails the improvement of human resources for village administrators through training, farmers' group, PKK (empowerement of welfare of the family), muslimat recitation, and karang taruna (place of the youth) activities.

The role of the female village chief in developing the villageis excellent. The female village chief always leads, guides, and motivates people to take part in the development activities including traditional communal work. In implementing her role, the female village chief has a strength namely being able to communicate well. As a result, she can generate a close relationship between the superiors and services so that it influences the policy related to the development.

The hindrances faced by the female village chief involve internal and external hindrances. Internal hindrance concerns on the role of the village chief that not only serves as an elementary school teacher, but also as a PAUD  (Early Childhood Education) teacher. Ultimately, she is not merely in charge of working in the offiice village to serve the community in the village. On the other hand, external hindrances are associared with the lack of understanding towards the program applied in the village that result in social envy, uncertain fund disbursement, human reources, and government program that is not fully spread.

The ways to solve the hindrances faced by the female village chief are carried out by giving a community service (both in the office and houses) for 24 hours, undergoing a socialization related to the village development program, evaluating why the disbursement of funds are not fully distributed, and encouraging the community to participate in the activities that can increase human resources and replacing the receivers of Indonesian Health Card that have passed away.

 

Based on the results of this study, there are some suggestions proposed bythe resesearcher, namely: (1) The society is suggested to take part in the development pograms in Banjarsari village including taking advantageof the opportunity given by the village government to convey ideas in the development programs, (2) It is suggested for the village government to give a socialization for the people in the village related to the development programs in Banjarsari village. As a result, they will attain an understanding regarding the development programs which will be implemented regularly in the village. The socialization can be effectively carried out by the neighborhood association and community unit. Ultimately, social envy in society can be avoided, (3) For the Department of Law and Citizenship, it is suggested to carry on the research which is associated with women and their roles in the development since there are several distinctive analysis methods which can be employed to find out the women's roles in the development.