SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

COPING CAPACITY PENDUDUK DALAM MENGHADAPI ERUPSI GUNUNG AGUNG TAHUN 2017 (STUDI KASUS POLA MOBILITAS PENDUDUK DI DESA BESAKIH, KECAMATAN RENDANG, KABUPATEN KARANGASEM, BALI)

Sismi Gusty Nuraini

Abstrak


Kata Kunci : Persepsi, Coping Capacity, Pola Mobilitas

Gunung agung merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Bali. Setelah letusan tahun 1963 yang merenggut 1400-an jiwa, pada tanggal 18 September 2017 gunung agung memunculkan aktivitasnya kembali. Tercatat 4 (empat) lokasi pengungsian yang tersebar di Bali. Desa Besakih yang terletak pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) merupakan desa yang terdampak erupsi gunung agung. Kejadian erupsi menyebabkan penduduk harus mengungsi ke tempat yang lebih aman. Perpindahan atau mobilitas penduduk yang dipengaruhi oleh persepsi dan coping capacity penduduk menjadi fokus pada penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi penduduk terhadap gunung agung, coping capacity penduduk dalam menghadapi erupsi, serta pola dan bentuk mobilitas penduduk pada saat terjadi dan pasca erupsi gunung agung.

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus yang berfokus pada kejadian erupsi gunung agung tahun 2017. Penelitian ini memiliki lima tahap penelitian, yaitu tahap pralapangan yangmeliputi studi literatur, pencarian dan pengumpulan data pendukung, penetapan unit sampel, penyiapan peta dan persiapan kerja lapangan, kemudian tahap kegiatan lapangan meliputi proses pengumpulan data dengan metode wawancara mendalam, tahap pengolahan data meliputi kegiatan pengecekan keabsahan data menggunakan uji triangulasi data dan uji triangulasi peneliti, tahap analisis data meliputi tahap menganalisis data lapangan maupun data pralapangan yang sudah diolah menggunakan teori analisis data kualitatif Miles & Huberman (1992), kemudian data mobilitas dianalisis menggunakan teori Everett S. Lee. Selanjutnya adalah tahap evaluasi dan pelaporan meliputi kegiatan penulisan dan penyusunan hasil penelitian yang dilakukan pasca penelitian.

 

Terdapat dua persepsi penduduk terhadap gunung agung yaitu secara spiritualgunung agung merupakan tempat persemayaman para Dewa, sehingga dalam coping capacitypenduduk dalam mengghadapi erupsi percaya bahwa dengan adanya Pura maka dampak dari erupsi gunung agung tidak sebesar daerah lain, dalam hal mobilitas penduduk tidak mau untuk dipindah secara permanen di daerah lain karena kepercayaan mereka terhadap Dewa dan Pura yang ada di Besakih, serta kawitan atau leluhur yang tidak bisa mereka tinggalkan. Presepsi yang kedua adalah secara rasional penduduk berpandangan bahwa gunung agung merupakan gunung berapi aktif yang pasti akan mengalami erupsi, penduduk paham akan bahaya erupsi sehingga mereka memutuskan untuk mengungsi ke tempat yang aman namun tidak mau dipindah secara permanen. Sementara untuk mobilitas penduduk saat dan setelah kejadian erupsi merupakan mobillitas non permanen atau silkular, kemudian untuk geraknya adalah adalah ulang alik dan mondok. Lokasi tujuan mobilitas tersebar diseluruh pulau Bali, yang mana 50,5% dari 73,1% penduduk memilih untuk mengungsi di pos pengungsian yang ada di Rendang.