SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI SMAN 6 MADIUN

Elga Baskoro Yuwono

Abstrak


PENERAPAN MODEL DISCOVERY LEARNING PADA MATA PELAJARAN GEOGRAFI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA KELAS XI SMAN 6 MADIUN

Elga Baskoro Yuwono FIS Universitas Negeri Malang

Elgabaskoro@gmail.com

 

Abstract:

The ability to think high is important in the geography learning process. Because with high-level thinking skills students can process and evaluate information received with the ability to think critically, creatively and the ability to solve problems. One learning model that can improve high-level thinking skills in students is the Discovery Learning model. Discovery Learning is a cooperative learning model that requires students to play a more active role in finding valid sources and are able to find a solution to the problem.

This study aims to determine whether the application of the Discovery Learning model can improve high-level thinking skills in the basic competencies of National Culture and Global Interaction in students of class XI IPS 2 of SMAN 6 Kota Madiun in the year 2017/2018. This research is a classroom action research. The subjects of this study were 26 students of class XI IPS 2. The research instruments used for data collection were essay test questions which were made 4 items which each of the questions represented an indicator of high-level thinking, namely analyzing, evaluating, and creating.

The conclusions from the results of this study indicate that the application of the Discovery Learning model can improve the high-level thinking skills of XI IPS 2 students of SMAN 6 Madiun City. Based on the results of this study, it can be suggested that further research be conducted on different subjects and precisely in order to find out the application of the Discovery Learning model to high-level thinking skills.

 

Keywords: Model Discovery Learning, Higher Level Thinking Ability

Abstrak:

Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan hal yang penting dalam proses pembelajaran geografi. Karena dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa dapat mengolah dan mengevalusi informasi yang diterima dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif dan kemampuan pemecahkan masalah. Salah satu model yang pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa adalah model Discovery Learning. Discovery Learning merupakan model pembelajaran kooperatif yang menuntut siswa untuk berperan lebih aktif dalam mencari sumber yang valid dan mampu menemukan sebuah solusi dari masalah tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada kompetensi dasar Budaya Nasional dan Interaksi Global pada siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun tahun pembelajaran 2017/2018. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subyek penelitian ini berjumlah 26 siswa kelas XI IPS 2. Instrumen penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data adalah soal tes essai yang dibuat sejumlah 3 butir soal yang masing-masing soal mewakili indikator dari berpikir tingkat tinggi yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.

Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukan bahwa penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan agar dilakukan penelitian lebih lanjut pada subjek dan tepat yang berbeda guna mengetahui penerapan model Discovery Learning terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kurikulum 2013 merupakan kurikulum baru yang dibentuk oleh pemerintah. Kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan saintifik dengan melibatkan keterampilan proses dalam pembelajarannya. Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik mencangkup beberapa aktivitas. Aktivitas tersbut diantaranya adalah mengajukan pertanyaan, melakukan pengamatan (observasi), melakukan penalaran, melakukan eksperimen atau mencoba, dan mengembangkan jaringan. Pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik dibutuhkan beberapa kemampuan diantaranya yaitu komunikatif, kreatif dan berpikir kritis. Kemampuan-kemampuan ini termasuk dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kemampuan berpikir tingkat tinggi memerlukan keterlibatan peserta didik secara aktif dan peran guru sebagai mediator sekaligus fasilitator bagi siswa. Hasil dari observasi pembelajaran yang dilaksanakan di kelas XI SMA Negeri 6 Madiun menunjukan bahwa kurangnya peserta didik didalam mengevaluasi, menganalisi, dan menciptakan solusi selama proses pembelajaran berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul selama proses pembelajaran juga masih sebatas tentang pehaman, dan pengetahuan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tingkat berpikir siswa di SMA Negeri 6 Madiun masih rendah.

Analisis penyebab timbulnya masalah ada beberapa faktor. Analisis pertama adalah dari faktor siswa. Dari hasil observasi yang sudah dilaksanakan di SMA Negeri 6 Madiun menunjukkan bahwa masih banyaknya siswa yang lupa akan materi yang telah dipelajari sebelumnya, tidur selama proses pembelajaran geografi berlangsung, mengerjakan pekerjaan rumah (PR) di dalam kelas, bermain handphone dan peserta didik kurang aktif selama proses pembelajaran, serta siswa kurang responsif dalam mengajukan pertanyaan. Hal ini menyebabkan proses pembelajaran di dalam kelas menjadi kurang aktif.

Selain dari siswa yang kurang berminat di dalam pembelajaran, faktor kedua adalah guru yang seharusnya bersifat sebagai fasilitator dan mediator masih terkesan memberikan materi dengan metode yang kurang menarik, sehingga menyebabkan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran. Proses pembelajaran yang membosankan tersebut dapat dilihat dari cara guru menyampaikan materi dengan metode ceramah. menimbulkan siswa menjadi kurang aktif dalam menanggapi apa yang disampaikan oleh guru di depan kelas sehingga banyak siswa yang mengantuk selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru geografi dan peserta didik bahwa tes soal yang sering diujikan guru kepada siswa adalah tipe soal pada tingkat proses kognitif C1-C3 yang termasuk pada level rendah.

Faktor selanjutnya yang menyebabkan proses pembelajaran di dalam kelas menjadi membosankan adalah metode yang digunakan oleh guru selama proses pembelajaran, metode ceramah yang diterapkan selama proses berlangsung masih terkesan berpusat pada guru. Hal ini bertentangan dengan kurikulum 2013 yang menekankan pada pendekatan saintifik, dimana siswa diharapkan aktif melakukan penalaran, mencoba dan mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Untuk itu pemilihan metode yang akan diterapkan selama proses pembelajaran sangat penting demi berlangsungnya proses pembelajaran yang lebih baik.

Ada beberapa solusi untuk meningkatkan berpikir tingkat tinggi pada mata pelajaran geografi. Pada sektor guru sebagai fasilitator dan mediator diharapkan lebih aktif di dalam kelas sehingga dapat menguasai proses pembelajaran. Penerapan metode ceramah yang dilakukan oleh guru diharapkan dapat diganti dengan metode yang lebih aktif dan inovatif. Penerapan metode yang inovatif diharapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa selama proses pembelajaran geografi berlangsung.

 Kemampuan berpikir tingkat tinggi memerlukan keterlibatan siswa dan guru secara aktif. Ada beberapa model pembelajaran yang dapat digunakan, diantaranya discovery learning (DL), problem based learning (PBL), project based learning (PjBL). Model pembelajaran DL dimana siswa diajak untuk menemukan sesuatu yang baru selama proses pembelajaran. Model PBL lebih menekanan pada menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang cara berpikir kritis, sedangkan PjBL adalah metode pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Dari model di atas salah satu yang cocok untuk diterapkan di SMA Negeri 6 Madiun adalah model Discovery Learning. Ada beberapa alasan yang melatar belakangi pemilihan model Discovery Learning.

Pertama, Discovery Learning dapat melatih siswa mengembangkan kemampuan berpikirnya. Takdir (2012) mengungkapkan bahwa Discovery Learning menekankan pada proses pengembangan diri (self development) yang menuntut mereka bisa mengolah pikiran, mengoptimalkan potensi yang terpendam, menumbuhkan kemampuan (ability), kecerdasan (smartness), kedewasaan (adulness) dan kesadaran kritis (critical conciousness). Hal ini sangat cocok digunakan dalam proses pembelajara yang menekankan pada pendekatan saintifik.

Kedua, model Discovery Learning didukung oleh beberapa teori belajar dari para ahli. Teori Piaget menyatakan bahwa pentingnya kegiatan dalam proses belajar. Pengalaman belajar aktif cenderung meningkatkan perkembangan kognitif, sedangkan pengalaman belajar pasif cenderung mempunyai akibat yang lebih sedikit dalam meningkatkan perkembangan kognitif anak. Keaktifan ini timbul dari rasa ingin tahu siswa (Curiousity) (Thobroni, 2015). Hal ini sejalan dengan Discovery Learning yang menggunakan pendekatan saintifik dan menuntut siswa untuk bertindak aktif di dalam proses pembelajaran. Seorang siswa memiliki rasa ingin tahu dalam pembelajaran. Rasa ingin tahu tersebut akan membawa siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Mengingat bukan cuma hasil saja namun juga membutuhkan proses.

Selain dari yang telah dijelaskan oleh piaget. Teori Bruner (Free Discovery Learning) menyatakan bahwa belajar merupakan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia dengan sendirinya sehingga memperoleh hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang benar-benar bermakna. Siswa harus berperan aktif dengan konsep dan prinsip-prinsip agar memperoleh pengalaman dan melakukan eksperimen yang diinginkan mereka untuk menemukan prinsip-prinsip itu sendiri. (Thobroni, 2015). Teori Vygotsky dalam idenya yaitu scaffolding bahwa dalam mencapai kemandirian siswa untuk menemukan hal baru, siswa juga membutuhkan orang lain (Hitipeuw, 2009).

Berdasarkan paparan teori Piaget, Bruner dan Vygotsky, dapat ditegaskan bahwa model Discovery Learning dapat melatih siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya. Rasa ingin tahu yang dimiliki oleh setiap siswa akan membuat mereka aktif dalam pembelajaran. Namun demikian, untuk menemukan hal-hal baru maka siswa membutuhkan bantuan orang lain.

Berdasarkan hasil penelitian Fitri Apriani (2014) tentang “Pengaruh Penggunaan Model Discovery Learning Dengan Pendekatan Saintifik terhadap Keterampilan Berfikir Kritis Siswa SMAN 7 Pontianak” pada matapelajaran kimia. Pembelajaran dengan model discovery learning dengan pendekatan saintifik memberikan peningkatan hasil belajar dengan effect size sebesar 0,78. Dalam hasil penelitian Welly Mentari (2015) tentang pengaruh model discovery learning terhadap kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Dari penelitian yang dilakukan oleh Rangga Romana (2015) tentang “ Pengaruh model Discovery Learning menggunakan media video terhadap kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Smart Brawijaya Malang”. Penerapan model discovery learning berpengaruh terhadap kemampuan berpikir kritis dan penerapan model discovery learning memiliki pengaruh dalam meningkatkan hasil belajar siswa. 

Melihat bahwa keterampilan berfikir kritis adalah salah satu bentuk keterampilan berfikir tingkat tinggi, maka Discovery Learning relevan untuk melatih kemampuan berfikir tingkat tinggi. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka penulis tertarik untuk menggunakan metode pembeljaran discovery leraning dengan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Discovery Learning Pada Mata Pelajaran Geografi Untuk Meningkatkan Kemampuan Bepikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 6 Madiun”.

 

METODE

Penelitian ini dirancang dengan menggunakan penelitian tindakan kelas (PTK) yakni penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki suatu keadaan pembelajaran di kelas dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu. Tindakan yang dilakukan adalah penerapan pembelajaran kooperatif model discovery learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Kota Madiun.

Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat refleksif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan. Hal ini juga untuk memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran dilakukan. Fokus penelitiannya terletak pada tindakan-tindakan yang akan digunakan saat penelitian dilakukan. Kemudian dilakukan evaluasi apakah tindakan tersebut dapat digunakan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.

Hakekat penelitian tindakan kelas (PTK) yaitu untuk memperbaiki proses pembelajaran agar diperoleh hasil yang lebih baik. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk mengatasi masalah pembelajaran yang ada di kelas tersebut. Jadi dengan adanya penelitian tindakan kelas, guru bisa menerapkan salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi kelas dan karakter siswa. Model pembelajaran yang akan digunakan dalam penelitian yaitu model discovery learning.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Penelitian ini memperoleh hasil berupa temuan penelitian. Temuan dari penelitian ini ialah penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa kelas XI IPS 2 SMAN 6 Madiun pada mata pelajaran Geografi.

Meningkatnya kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa setelah penerapan model Discovery Learning, karena terdapat keterkaitan antara kelebihan model dengan faktor-faktor kemampuan berpikir tingkat tinggi. Keterkaitan tersebut juga dapat dilihat dari kemampuan berpikir tingkat tinggi menitikberatkan pada kemampuan siswa untuk menjawab soal tes berupa uraian. Dimana siswa diajak untuk berpikir secara logis, analitis, dan sitematis. Hal tersebut selaras dengan pendapat Nana Sudjana mengenai kelebihan tes uraian adalah

“1) Dapat mengukur proses mental yang tinggi atau aspek kognitif tingkat,

2) dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, baik lisan maupun tulisan,

3) dapat melatih kemampuan berpikir teratur atau penalara yakni berpikir logis, analitis, dan sistematis,

4) mengembangkan keterampilan pemecahan masalah,

5) adanya keuntungan teknis seperti mudah membuat soalnya sehingga tanpa memakan waktu yang lama, guru dapat secara langsung melihat proses berpikir siswa.” (Sudjana, 2011).

Sedangkan keterkaitan antara kelebihan model Discovery Learning dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tigkat tinggi antara lain :

1) siswa dapat menganalisis penyebab dan akibat dari sebuah interaksi global,

2) membuat kesimpulan dari sebuah interaksi global berdasarkan unsur-unsur yang dimiliki,

3) melahirkan upaya penanggulangan yang baru dan unik. Sedangkan yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yaitu

1) faktor genetik,

2) faktor pengalaman,

3) faktor lingkungan.

Keterkaitan pertama dari model Discovery Learning yaitu, siswa diberi sebuah stimulus tentang permasalahan yang ada dan mengajak siswa untuk menggali lebih dalam tentang mengapa sebuah masalah itu dapat terjadi di lingkungan sekitar kita serta siswa dibebaskan dalam mencari informasi terkait topik tersebut tidak hanya melalui sebuah buku paket saja melainkan dari berbagai sumber seperti internet agar siswa berperan aktif dalam kelas serta mengetahui kebenaran tentang bagaimana suatu masalah itu dapat terjadi. Hal tersebut diperkuat dengan pendapat Krathwolh “menganalisi informasi yang masuk dengan mebagi-bagi atau menstruktur informasi ke dalam bagian yang lebih kecil untuk mengenali pola atau hubungan” (Karthwolh,2002). Berdasarkan pendapat tersebut apabila siswa hanya mendapatkan materi dari salah satu sumber saja akan membuat siswa menjadi kurang aktif di dalam menggali kebenaran dari suatu masalah tersebut sehingga  data yang ada masih dirasa kurang dan suasana pembelajaran terkesan berpusat pada satu titik. Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu, faktor pengalaman. Faktor pengalaman dapat mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Pengalaman pada siswa muncul dengan sering dilatih dan terlibat secara langsung dalam kegiatan yang mendorong berpikir tingkat tinggi. Ketika seseorang dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tingi secara terus menerus, maka secara tidak langsung akan menjadi sebuah kebiasaan untuk menganalisis suatu permasalahan. Kebiasaan inilah yang nantinya dapat membentuk suatu pengalaman bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Keterkaitan kedua dari metode Dicovery Learning yaitu, siswa dapat membuat kesimpulan dari sebuah interaksi global. Kegiatan model Dsicovery Learning mengajak siswa untuk saling berdiskusi satu dengan yang lain dimana siswa tidak hanya bekerja sendiri melainkan siswa juga diajak untuk bekerja secara tim agar lingkungan belajar di kelas menjadi lebih hidup dan dapat membantu satu dengan yang lain demi mendapat suatu kesimpulan dari sebuah interkasi global yang ada. Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu faktor lingkuangan. Faktor eksternal dari kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu lingkungan. Lingkungan dijadikan sebagai tempat penentu berkembangnya kemampuan seorang anak salah satunya pekembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Lingkungan berpengaruh besar atas perkembangan kemampuan atau kecerdasan dari seorang anak (Lukman, 2014). Hal ini terjadi ketika seorang anak dihadapkan pada lingkungan yang membiasakannya untuk berpikir dalam penyelesaian masalah, maka secara tidak langsung anak tersebut terbiasa untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan demikian, kemampuan berpikir khususnya berpikir tingkat tinggi dapat berkembang karena anak dihadapkan pada permasalahan serta pemecahan masalah.

Keterkaitan ketiga yaitu, kemampuan siswa melahirkan upaya penanggulangan yang baru dan unik. Pada tahap ini dimana siswa setelah melakukan kegiatan analisis dan mengevaluasi suatu interaksi yang ada siswa dituntut untuk  dapat menciptakan atau melahirkan suatu solusi dari sebuah interaksi yang baru dan unik. Hal ini dapat mendorong siswa untuk lebih berpikir krearif dan inovatif di dalam menemukan solusi karena siswa memiliki lebih banyak sumber bacaan atau referensi. Hal ini diperkuat dengan pendapat Mulyasa dkk tentang kelebihan model Discovery Learning yaitu:

1) melatih kemandirian siswa dalam belajar,

2) mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri,

3) mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis,

4) melatih siswa mendayagunakan berbagai jenis sumber belajar,

5) membantu siswa memeprkuat konsep dirinya karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan temannya,

6) melatih siswa berperan aktif mengembangkan gagasan dan

7) mengembangkan ingatan dan transfer pengetahuan siswa (Mulyasa, dkk, 2016).

Kelebihan tersebut berkaitan dengan faktor yang mempengaruhi kemampuan berpikir tingkat tinggi yaitu, pengalaman dan lingkungan. Dengan adanya kegiatan interaksi yang aktif serta pencarian sumber yang tidak hanya berpusat pada satu sumber saja akan menambah pengalaman dan wawasan siswa dalam menciptakan suatu solusi atas terjadinya suatu hasil interaksi global. Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan upaya sekuat tenaga dan kerja keras yang melibatkan kerja mental serta melakukakan elaborasi dan pemberian pertimbangan (Zannah, 2013).

Hasil penelitian ini mendukung penelitian terdahulu. Peneilitian tersebut mengkaji kemampuan berpikir tingkat tinggi dengan model Discovery Learning pada mata pelajaran geografi. Dalam bidang studi geografi, ada beberapa penelitian tentang model Discovery Learning. Seperti halnya Gusmalisa (2014) melakukan penelitian Pengaruh Penerapan Discovery Learning Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi menemukan bahwa model Discovery Learning  dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Sedangkan Istikomah (2014) dengan penelitian tentang Penerapan Model Discovery Learning untuk Meningkatkan Kualitas Proses dan Hasil Belajar Geografi Pada Materi Pemanfaatan Lingkungan Hidup Kaitannya dengan Pembangunan Berkelanjutan menemukan bahwa model Discovery Learning  dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Selanjutnya Indri (2015) melakukan penelitian tentang Efektifitas Pendekatan Saintifik Model Discovery Learning  Mata Pelajaran Geografi mengatakan bahwa penggunaan model discovery learning dengan pendekatan saintifik dapat menjadi variasi dalam pembelajaran yang inovatif/ bervariasi, agar pembelajaran tidak monoton dan pembelajaran berlangsung secara menyenangkan. seperti yang dilakukaan Rangga Romana. Penelitian yang dilakukan Rangga Romana meneliti pengaruh  model pembelajaran Discovery Learning menggunkan media video terhadap SMA SMART Brawijaya Malang.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan temuan dalam penelitian ini ialah terdapat peningkatan kemampuan berpikir tingkat tinggi pada siswa setelah dilakukan penerapan model Discovery Learning di kelas XI IPS 2 SMAN 6 Kota Madiun.

 

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan rumusan masalah dan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa: “Penerapan model Discovery Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada mata pelajaran geografi siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 6 Kota Madiun”.

 

Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat dikemukakan saran sebagai berikut:

1. Bagi pihak sekolah, penerapan model Discovery Learning disarankan dapat dilaksanakan diluar kelas atau sekolah. Siswa dilatih untuk bersikap mandiri dalam mengumpulkan data. Misalnya dapat mencari sendiri maupun secara berkelompok sumber dari artikel maupun buku dari perpustakaan sekolah.

2. Bagi guru, model Discovery Learning sangat disarankan untuk diterapkan di kelas, terutama pada materi yang dikaji dalam kehidupan sekitar sekolah. Penerapan model Discovery Learning ini sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik materi pembelajaran. Guru lebih memperhatikan fenomena sekitar yang nantinya dapat digunakan untuk proses belajar mengajar siswa terutama dalam pelaksanaan model Discovery Learning.

Bagi peneliti selanjutnya, saran bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian model Discovery Learning yaitu dapat menambah atau menggunakan variabel terikat dalam penelitian seperti kemampuan berpikir kritis, analitis dan sapasial. Menerapkan model Discovery Learning pada materi yang berbeda, khusunya materi yang dapat dikaitkan dengan kehidupan sekitar siswa. Peneliti selanjutnya disarankan lebih mampu dalam memberi arahan pada siswa mengenai model Discovery Learning

 

DAFTAR RUJUKAN

Ahmadi, A. Dan Tri, J.P. 1997. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka setia.

Apriani, Fitri. 2014 Pengaruh Penggunaan Model Discovery Learning dengan pendekatan saintifik terhadap keterampilan berpikir kritissiswa SMA. Jurnal Pendidikan, 3(7):1-16.

Daryanto. 2014 Pendekatan Pembelajaran saintifik Kurikulum 2013.Yogyakarta:Gava Media.

Hamalik, Oemar 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Hitipeuw, Imanuel. 2009. Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21 Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kurniasih, I, dan B. Sani. 2014. Sukses Mengimplementasikan Kurikulum 2013 Memahami Berbagai Aspek dalam Kurikulum 2013. Yogyakarta: Kata Pena.

Melani, Riyan. 2012. Pengaruh Metode Guided Discovery Learning Terhadap Sikap Ilmiah dan Hasil BelajarKognitif Biologi Siswa SMA Negeri 7 Surakarta Tahun Pelajaran 2011/2012. Jurnal Pendidikan. (Online). 4 (I): 97-105.

 Mentari, Welly., Achmad, Arwin, Yolida, Berti 2015. Pengaruh Model Discovery Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar siswa. Jurnal Bloderdidik, (online).3(6)(http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/JBT/article/view/9287/5930)

Nasution, S.2008. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.Jakarta: Bumi Aksara.

Ristiasari, T. 2012. Model Pembelajaran Problem Solving dengan Mind Mapping Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Jurnal Pendidikan. (online). 1(3): 34-41.

Rusman dkk.2013. Pembelajaran Berbasis Teknologi dan Komunikasi Mengembangkan Profesionalitas Guru. Jakarta: Rajagrafindo Persad.

Setyorini dan Trijhahjo, D.S 2013. Peningkatan Pemahaman dan Aktivitas Perkuliahan Melalui Metode Discovery Learning Pada Mahasiswa program studi BK FKIP UKSW.Jurnal Widyasari, 15 (2): 126-155.

Takdir, Muhammad.2012.Pembelajaran Discovery strategi dan Mental vocation skill.Jogjakarta: DIVA press.

 

Thobroni, M.2015 Belajar dan pembelajaran: Teori dan Praktik.Yogyakarta:Ar-Ruzz Media.