SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERTANIAN PASCA ERUPSI GUNUNG KELUD 2014 MENGGUNAKAN PEMBOBOTAN METODE AHP (Analytical Hierarchy Process) (StudiKasus di Kawasan Barat dayaGunung Kelud, JawaTimur)

Adillah Akhmad Amri

Abstrak


RINGKASAN

Adillah, Akhmad Amri. 2017. Analisis Kesesuaian Lahan Pertanian Pasca Erupsi Gunung Kelud 2014 Menggunakan Pembobotan Metode AHP (Analytical Hierarchy Process) Di Kawasan Barat DayaGunung Kelud, Jawa Timur, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Syamsul Bachri, S.Si., M.Sc., Ph.D. (II) Purwanto, Spd., M.Si.

 

Kata Kunci:KesesuaianLahanPertanian, metode AHP (Analytical Hierarchy Process).

Dampak erupsiber pengaruh terhadap potensi dan karakteristik lahan pertanian yang terdapat di wilayah barat daya Gunung api Kelud. Banyak lahan pertanian rusak akibat erupsi dan menyebabkan kerugian. Namun terdapat kenaikan nilai produksi dari praerupsi dengan pasca erupsi.hasil dari analisis akan disajikan dalam bentuk peta yang dapatmemberikaninformasispasialsebagai modal perencanaan dan pengembangan kawasan pertanian dimasa mendatang.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data secara observasi untuk pengambilan sampel di lapangan. Pendekatan yang dipakai adalah bentuk lahan sebagai unit analisisnya. Hasil penilaian dari sampel tanah pada setiap bentuk lahan dianalisis menggunakan metode AHP (Analytical Hierarchy Process), metode ini akan menentukan bobot dari masing-masing parameter sehingga ditemukan parameter yang paling menentukan mengapa lahan di daerah penelitian tersebut dijadikan sebagai lahan pertanian.

 

Hasil pembobotan AHP ditemukan bahwa bobot tertinggi atau parameter yang paling berpengaruh pada lahan di daerah penelitian dijadikan sebagai lahan pertanian adalah tingkat ekonomi suatu lahan dan nilai pH tanah. Tingkat ekonomi merupakan faktor pendukung yang penting pada lahan di daerah penelitian dijadikan sebagai lahan pertanian karena lahan tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang lebih bila dijadikan sebagai lahan pertanian dibandingkan penggunaan lahan yang lain hal ini didukung dengan adanya perkembangan komoditas unggulan nanas dan juga meningkatnya produktifitas pertanian secara umum pasca erupsi Gunung Kelud 2014. Hasil survey dan uji laboratorium menunjukkan bahwa nilai  Ph tanah di daerah penelitan cenderung netral yaitu 6-7 maka lahan pada daerah penelitian sangat baik bila digunakan sebagai media tanam. Hasil klasifikasi dari pembobotan AHP kemudian disajikan dalam peta kesesuaian lahan pertanian kawasan barat daya Gunung Kelud kecuali pada KRB 3 (radius 2km dari puncak) yang menunjukkan Kelas S1 mepunyai luas 18862,26 hektar, S2 seluas 7589,13 hektar, dan S3 seluas 903,68 hektar. Selanjutnya setelah disesuaikan kategori pertanian lahan basah, kering, dan tanaman tahunan menurut peraturan menteri PU No.41/PRT/M/2007 ditemukan arahan bahwa setiap lahan pada daerah penelitian setiap lahan lebih cocok untuk digunakan sebagai kawasan pertanian lahan basah dan lahan kering yang disebabkan tanah pada daerah penelitian mempunyai faktor kedalaman tanah yang didominasi dengan kedalaman 30 – 60 cm, kemudian faktor penghambat lainnya hanya didominasi oleh nilai KTK danC organik yang rendah.