SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PEMODELAN MUKA AIR BANJIR MENGGUNAKAN METODE STEADY FLOW DAN UNSTEADY FLOW DALAM PROGRAM HEC-RAS UNTUK ANALISIS BANJIR DI SUB-DAS BLUNCONG KABUPATEN BONDOWOSO

ARTAWAN UNSILA TAMMIYA

Abstrak


ABSTRAK

Artawan, Unsila Tammiya. 2019.Pemodelan Muka Air Banjir Menggunakan Metode Steady Flow dan Unsteady Flow dalam Program HEC-RAS untuk Analisis  Banjir di Sub-DAS Bluncong Kabupaten Bondowoso, 2017. Skripsi, Program Studi Geografi, Jurusan Geografi. Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Didik Taryana, M.Si (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si

 

Kata Kunci: HEC-RAS, steady flow, unsteady flow, Sungai Bluncong

Selama kurun waktu 2009 hingga 2017 telah terjadi sebanyak 9 kejadian banjir di Sungai Bluncng disebabkan intensitas curah hujan dan kondisi kelerengan terjal di bagian hulunya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk menganalisis banjir ialah pemodelan banjir menggunakan HEC-RAS. Dengan membandingkan metode antara metode steady flow dan unsteady flow di HEC-RAS maka dapat diketahui perbedaan elevasi muka air banjir.

Data yang dibutuhkan yakni data primer dan sekunder. Data primer berupa penampang melintang sungai dan koefisien manningsaluran. Data sekunder berupa data curah hujan maksimum tahun 2007-2017, citra Sentinel 2A dan DEM Alos Palsar daerah penelitian. Tahapan penelitian meliputi analisa hidrologi untuk menghitung debit banjir rencana menggunakan metode rasional dan HSS Gamma I, selanjutnya analisa hidraulika dengan menghitung kapasitas penampang sungai dan pemodelan banjir metode steady flow dan unsteady flow di program HEC-RAS. Hasil running HEC-RAS ini akan menunjukkan profil melintang sungai yang memperlihatkan tinggi muka air sungai untuk setiap debit banjir rancangan pada kala ulang 2, 5, 10, 25, 50 dan 100 tahun.

Secara keseluruhan, pada pemodelan steady flow pada setiap kala ulang menghasilkan profil elevasi muka air banjir yang cenderung lebih tinggi daripada profil elevasi muka air yang dihasilkan oleh permodelan unsteady flow. Salah satu perbedaan elevasi muka air banjir dilihat pada periode ulang 2 tahunan di patok 6, elevasi muka air banjir hasil running metode steady flow setinggi 3,27 m sedangkan metode unsteady flow setinggi 1,34 m. Begitupula pada periode ulang 10 tahunan di patok 6, elevasimuka air banjir hasil running metode steady flow setinggi 6,98 m sedangkan metode unsteady flow setinggi 3,81 m. Selain itu, perbandingan penggunaan antara kedua metode dalam penelitian ini yaitu, pemodelan metodesteady flow data inputan aliran dibagian hulu berupa debit rencana maksimum dan bagian hilir berupa batas tinggi muka air sungai. Sedangkan pada unsteady flow, data inputan bagian hulu berupa hidrograf banjir rencana dan inputan bagian hilir adalah kemiringan dasar saluran. Waktu simulasi yang dibutuhkan lebih cepat menggunakan metode steady flow.