SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Penerapan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 Pada Mata Pelajaran Geografi Di SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

FEBRIANA ANDIKA SARI

Abstrak


Penerapan Model  Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Mata Pelajaran Geografi

Febriana Andika Sari1, Yusuf Suharto2, Yuswanti Ariani Wirahayu3 Pendidikan Geografi, Universitas Negeri Malang

febrianaandikasari.k@gmail.com

 

Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Problem Based Learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan selama dua siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang. Data penelitian meliputi hasil tes kemampuan berpikir kritis, hasil observasi keterlaksanaan pembelajaran, dan catatan lapangan. Teknik analisis data yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran Geografi kelas XI IPA 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang.

 

Kata Kunci: Model Problem Based Learning, Kemampuan Berpikir Kritis

Abstract:

This study aims to implement Problem Based Learning to improve students' critical thinking abilitys. This research is a classroom action research This research is a classroom action research carried out for two cycles. The research subjects are student of class XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Malang Regency. The research data included the result of critical thinking abilitys test, observation implementation of learning’s result, and field notes. Data analysis technique used are descriptive qualitative and quantitative. The result showed that the Problem Based Learning model can increase students critical thinking ability of class XI IPA 2 on Geography subject in SMA Negeri 1 Turen, Malang Regency.

 

Key Words: Problem Based Learning Model, Critical Thinking Ability

 

Pendahuluan

Kurikulum 2013 merupakan bentuk kurikulum terbaru yang dibuat pemerintah dalam menghadapi perubahan. Kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan saintifik (scientific approach) dengan melibatkan keterampilan proses dalam pembelajarannya (Hosnan, 2014). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dibutuhkan beberapa kemampuan diantaranya kemampuan berkomunikasi, kreatif dan juga berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu faktor berkembangnya pola pikir siswa. Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas XI IPS 2 di SMA Negeri 1 Turen didapatkan hasil bahwa terdapat beberapa masalah baik dari guru, siswa, dan sarana prasarana yang ada. Masalah yang ditemui dari guru yakni selama mengajar geografi, guru masih menggunakan metode pembelajaran ceramah, pemberian UKBM, dan pemberian tugas-tugas untuk siswa. Menurut guru, metode ceramah dianggap lebih mudah dan tidak memerlukan persiapan yang banyak. Model pembelajaran yang pernah digunakan guru yaitu Think Pair Share tetapi model ini belum efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa tidak diberikan permasalahan untuk menyajikan solusi terkait materi yang dibahas sehingga kemampuan berpikir kritis siswa kurang terasah. Permasalahan selanjutnya yang berasal dari siswa yaitu siswa ketika mata pelajaran geografi berlangsung cenderung diam, terdapat sebagian siswa yang aktif ketika guru memberi pertanyaan (dari 31 siswa yang aktif hanya 6-8 siswa saja), dan  siswa yang aktif menjawab hanya menjawab sepengetahuannya saja. Permasalahan lain yang ditemui dari segi sarana dan prasarana yaitu penggunaan media pembelajaran yang jarang digunakan guru. Hal ini menyebabkan siswa menjadi kurang tertarik pada Geografi dan kesulitan untuk memahami materi geografi yang materinya sangat membutuhkan sebuah ilustrasi atau media yang dapat diamati siswa secara visual.

Berdasarkan tahap pengambilan data awal juga diperoleh data berupa nilai  kemampuan berpikir kritis di kelas XI IPS 2. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa hanya sebesar 48,5. Nilai tersebut apabila dimasukkan ke dalam klasifikasi kriteria kemampuan berpikir kritis termasuk sangat kurang baik (0-49). Nilai kemampuan berpikir kritis yang dicapai siswa dalam observasai awal ini yaitu 80, sedangkan nilai terendah yaitu 30. Terdapat 2 siswa dari 31 siswa  yang mendapat nilai diatas KKM (KKM=75) yaitu masing-masing mendapatkan nilai 77 dan 80. Adapula siswa yang mendapat nilai kategori cukup yaitu sebanyak 4 siswa dengan nilai 57, 60, 63, dan 70, sedangkan siswa lain nilainya masuk dalam kategori kurang. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa inilah yang menjadi alasan penelitian ini dilakukan.

Berpikir kritis merupakan keterampilan paling penting agar sukses menghadapi abad 21. Berpikir kritis adalah sebuah keterampilan yang didapat dari proses pembelajaran. Berpikir kritis penting untuk mengembangkan kemampuan kognitif dan menyimpan informasi secara efektif. Salah satu upaya untuk memfasilitasi kemampuan berpikir siswa dalam pembelajaran adalah dengan menggunakan model Problem Based Learning. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran yang memberikan masalah nyata pada siswa, agar siswa belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, melatih berpikir tingkat tinggi termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (metakognitif), dan melatih siswa menjadi pembelajar mandiri dan self regulated (Savery, 2006). Menurut Arends (2008) menjelaskan bahwa model Problem Based Learning dirancang terutama untuk membantu siswa mengembangkan ketrampilan berpikir, ketrampilan menyelesaikan masalah, dan ketrampilan intelektualnya, mempelajari peran-peran orang dewasa dengan mengalaminya melalui berbagai situasi riil atau situasi yang disimulasikan dan menjadi pelajar mandiri dan otonom. Model ini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa karena model Problem Based Learning mempunyai kelebihan yaitu siswa didorong untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah dalam situasi nyata, memiliki kemampuan membangun pengetahuannya sendiri melalui aktivitas belajar, dan pembelajarannya harus berfokus pada masalah sehingga materi yang tidak ada hubungannya tidak perlu dipelajari oleh siswa. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Arnyana (2007) menjelaskan bahwa model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Salah satu komponen dalam isu kecerdasan abad ke 21 (the issue of 21th century literacy) adalah High Order Thinking (HOT) yang merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis. Crawford dan Brown (2002) lanjut menjelaskan bahwa HOT didasarkan pada konten, kritis, dan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (2000) adalah suatu proses yang bersifat sistematis pada saat siswa mengambil keputusan tentang apa yang dipercaya dan dikerjakan. Fachrurazi (2011) mengemukakan bahwa dengan berpikir kritis siswa juga memungkinkan untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Selanjutnya, Parker (2009) mengemukakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan proses yang terorganisasi dengan melibatkan aktivitas mental melalui pemecahan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan dan membuat keputusan dimana cara berpikir ini mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan. Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dapat diketahui bahwa Berpikir kritis yang dimaksud dalam artikel ini adalah proses terorganisasi yang melibatkan aktivitas mental yang mencakup kemampuan merumuskan masalah, memberikan argumen, melakukan deduksi, melakukan induksi, melakukan melakukan evaluasi, dan memutuskan serta melaksanakan dalam memecahkan suatu masalah.

Penelitian mengenai pengaruh Problem Based Learning terhadap berpikir kritis pernah dilakukan. Penelitian Ardiyanti (2016) berjudul “Berpikir Kritis Peserta Didik dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Kunci Determinasi”. Hasil penelitian menyatakan bahwa: Pertama pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik. Kedua, pembelajaran berbasis masalah berpikir kritis peserta didik untuk indikator memberikan penjelasan dasar. Ketiga pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik untuk indikator membangun keterampilan dasar. Keempat pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan kunci determinasi dapat meningkatkan berpikir kritis peserta didik untuk indikator memberikan menyimpulkan (Ardiyanti, 2016). Penelitian yang dilakukan oleh Karuniasih dkk (2013), Wasiso & Hartono (2013) dan Nastiti & Slamet (2014) yang menyatakan bahwa penerapan model Problem Based Learning dalam pembelajaran di sekolah dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis siswa.

Penerapan model Problem Based Learning dalam mata pelajaran Geografi, khususnya pada pokok bahasan “Dinamika Kependudukan” dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa dikarenakan dalam pokok bahasan ini banyak terdapat permasalahan yang dapat diangkat sebagai masalah yang bersifat kontekstual. Pembelajaran yang demikian membuat siswa lebih antusias dalam pembelajaran karena permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang nyata dari kehidupan siswa sehari-hari. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Yeung (2010) bahwa penggunaan PBL pada bidang studi geografi terbukti efektif dan efisien dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan di atas, maka artikel ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 pada mata pelajaran Geografi di SMA Negeri 1 Turen.

 

Metode

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen, Kabupaten Malang pada semester genap tahun ajaran 2018/2019. dengan jumlah 31 siswa. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang setiap siklus terdapat dua kali pertemuan. Tahapan kegiatan penelitian yang dilaksanakan sesuai model Kemmis dan Taggart yang dimodifikasi oleh penulis yaitu: 1) perencanaan, 2) pelaksanaan, 3) evaluasi/analisis, dan 4) refleksi. Instrumen yang digunakan pada penelitian yaitu tes kemampuan berpikir kritis, lembar observasi, dan catatan lapangan. Tes yang digunakan berbentuk essay yang diberikan setiap akhir siklus. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini yaitu tes, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif diperoleh selama proses pembelajaran. Untuk analisis data secara deskriptif kuantitatif diperoleh dari data hasil tes kemampuan berpikir kritis.

 

Hasil

Keterlaksanaan Siklus I

Penilaian terhadap tes kemampuan berpikir kritis siklus I yang telah dilakukan, didapatkan hasil rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sejumlah 62,19. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 80 dan nilai terendah yaitu 48. Perolehan nilai pada siklus I ini menunjukkan ada peningkatan dari nilai pra siklus yaitu sebesar 28,23%. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa siklus I ini masih belum cukup baik. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan (berdasarkan KKM = 75) sebanyak 90,32% atau 28 siswa masuk kriteria tidak tuntas dan terdapat 9,68% atau 3 siswa yang masuk kriteria tuntas. Maka perlu untuk dilakukan tindakan lagi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

a) Kelebihan Pelaksanaan Tindakan Siklus I

1) Guru menggunakan media yang menarik berupa power point dan gambar;

2) Guru menggunakan model pembelajaran yang baru yang belum pernah diterapkan guru di sekolah;

3) Guru dengan sabar membimbing siswa dalam proses pembelajaran; dan

4) Langkah-langkah dalam RPP secara umum sudah terlaksana.

5) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I meningkat daripada pra siklus. Pada pra siklus rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa yaitu 48,5 dengan kemudian pada siklus I meningkat sebesar 62,19.

b) Kekurangan/kendala Pelaksanaan Tindakan Siklus I

1) Siswa pada jam-jam pelajaran terakhir (jam 13.30-15.00) ada yang jenuh, main HP, dan mengantuk;

2) Bimbingan untuk memberikan alasan ketika siswa menjawab pertanyaan masih kurang;

3) Durasi presentasi setiap kelompok tidak seimbang satu sama lain, ada yang lama ada yang sebentar, dan pertanyaan atau tanggapan didominasi oleh siswa pada kelompok tertentu (tidak merata di kelas), sedangkan anak lain cenderung diam (kurang aktif);

4) Ketika siswa presentasi masih terdapat beberapa siswa yang pasif;

5) Penguatan yang diberikan lebih banyak pada akhir kegiatan pembelajaran;

6) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I yaitu sebesar 62,19. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan, maka pada nilai tes kemampuan berpikir siswa siklus I terdapat sebanyak 90,32% atau 28 siswa tidak tuntas dan 9,68% atau 3 siswa yang tuntas. Jumlah tersebut masih belum cukup untuk dapat dikatakan kemampuan berpikir kritis siswa baik. Kemampuan berpikir kritis siswa masih dapat ditingkatkan untuk lebih baik lagi.

 

Keterlaksanaan Siklus II

Penilaian terhadap tes kemampuan berpikir kritis siklus II yang telah dilakukan, didapatkan hasil rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa sejumlah 78,90. Nilai tertinggi yang diperoleh siswa yaitu 92 dan nilai terendah yaitu 65. Perolehan nilai pada siklus II ini menunjukkan ada peningkatan dari nilai siklus I yaitu sebesar 26,87%. Rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa siklus II ini sudah baik. Apabila dilihat dari kriteria ketuntasan (berdasarkan KKM = 75) sebanyak 25,81% atau 8 siswa masuk kriteria tidak tuntas dan terdapat 74,19% atau 23 siswa yang masuk kriteria tuntas. Nilai ini menunjukkan bahwa siswa mengalami peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam mata pelajaran geografi.

a) Kelebihan Pelaksanaan Tindakan Siklus II:

1) Guru menggunakan media yang menarik dan berbeda dari sebelumnya berupa video;

2) Siswa lebih aktif berpendapat dan menyampaikan argumen di kelas daripada siklus sebelumnya;

3) Presentasi lebih teratur, tertata, dan tertib;

4) Guru dengan sabar membimbing siswa dalam proses pembelajaran;

5) Penguatan lebih banyak diberikan sehingga siswa paham dengan permasalahan yang dipelajari; dan

6) Langkah-langkah dalam RPP sudah terlaksana dengan baik.

7) Nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan dari siklus I. Pada siklus I rata-rata nilai kemampuan barpikir kritis siswa yaitu sebesar 62,19 kemudian meningkat pada siklus II sebesar 78,90.

b) Kekurangan/kendala Pelaksanaan Tindakan Siklus II

1) Masih ada siswa yang mengoperasikan HP diam-diam (3 siswa).

 

Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran geografi dalam penelitian ini diukur menggunakan tes essay. Ringkasan data nilai kemampuan berpikir kritis siswa untuk setiap indikator selama pra siklus, siklus I, dan II dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.

Tabel 2. Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen

Tahap Rata-Rata Nilai Kemampuan Berpikir Kritis Peningkatan Persentase (%)

Pra Siklus  48,5-

Siklus I 62,19 13.69 28,23

Siklus II 78,90 16,71 26,87

Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 mengalami peningkatan dari pra siklus ke siklus I setelah diberi tindakan berupa model Problem Based Learning pada mata pelajaran Geografi. Pada siklus II nilai rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan dari siklus I. Untuk lebih jelasnya, peningkatan kemampuan berpikir kritis tersebut dapat dilihat pada gambar/grafik berikut ini.

Gambar 1. Grafik Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen

Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa selain dilihat dari rata-rata nilai keseluruhan siswa, juga dilihat pula dari nilai setiap indikatornya seperti pada Tabel 3 berikut ini:

Tabel 3. Peningkatan Tiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen

No. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Rerata Skor Tiap Siklus Jumlah Rerata Tiap Indikator (%)  Pening-katan Persentase Peningkatan (%)

Siklus I Siklus II

1. Merumuskan Masalah 56,13 87,10 143,23 71,62 30,97 55,18

2. Menguraikan Argumen 69,03 72,39 141,42 70,71 3,36 4,87

3. Melakukan Deduksi 55,16 76,13 131,29 65,65 20,97 38,02

4. Melakukan Induksi 60,97 85,16 146,13 73,07 24,19 39,68

5. Melakukan Evaluasi  60,32 82,15 142,47 71,24 21,83 36,19

6. Memutuskan  Solusi 76,13 89,03 143,23 82,58 12,90 16,94

Total  377,74   491,96 847,77 434,87 114,22 190,88

Rata-rata Persentase Tiap Indikator (%) 72,48

Kualifikasi BAIK

Berdasarkan Tabel 3 tesebut didapatkan hasil peningkatan kemampuan berpikir kritis sesuai indikator-indikatornya pada siklus I dan II memiliki rata-rata persentase 72,48% dengan kualifikasi Baik. Data-data peningkatan skor siswa setiap indikator kemampuan berpikir pada siklus I dan II dapat dilihat pada gambar/grafik berikut ini.

Gambar 2. Grafik Peningkatan Tiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen

 

Pembahasan

Pada pelaksanaan siklus I selama dua pertemuan diperoleh temuan bahwa keterlaksanaan pembelajaran cukup baik, namun masih terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya meliputi siswa tertarik dengan model yang baru diterapkan pada mata pelajaran geografi dan media yang digunakan. Adapun kekurangannya yaitu terdapat aspek dalam lembar observasi keterlaksanaan model pembelajaran yang belum dilaksanakan. Managemen waktu tiap kelompok diskusi masih belum seimbang, dan keaktifan siswa dalam pembelajaran masih kurang. Hal ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran belum berjalan dengan maksimal. Kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus I mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan pra siklus, ini dibuktikan dengan nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa. Soal tes tersebut terdiri dari indikator-indikator kemampuan berpikir kritis. Pada tes pra siklus rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 hanya 48,5 kemudian meningkat pada siklus I menjadi 62,19 peningkatannya sebanyak 28,23%. Model Problem Based Learning merupakan hal yang baru bagi siswa, siswa mengalami kendala pada saat merumuskan masalah, dan melakukan deduksi. Siswa masih belum sepenuhnya memahami bagaimana merumuskan suatu permasalahan dan melakukan deduksi, sehingga nilai rata-rata tiap indikator pada kedua indikator tersebut lebih rendah daripada indikator lain yang meliputi mengungkapkan argumen, melakukan induksi, menguraikan alternatif solusi, dan memutuskan solusi yang tepat yaitu 56,13 pada indikator merumuskan masalah dan 55,16 pada melakukan deduksi.

Pada pelaksanaan siklus II selama dua pertemuan diperoleh temuan bahwa keterlaksanaan pembelajaran lebih baik daripada siklus I, hal ini didukung oleh media ang digunakan, perbaikan manajemen waktu, dan siswa yang lebih percaya diri dalam mengungkapkan pendapat sehingga kelas lebih aktif. Peningkatan keaktifan siswa ini sejalan dengan hasil penelitian Raath (2016) bahwa siswa memiliki pengalaman belajar kolaboratif yang sangat positif dalam kerja kelompok, siswa merasa termotivasi dan senang terhadap strategi PBL sehingga menghasilkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran.  Kemampuan berpikir kritis siswa pada siklus II mengalami peningkatan apabila dibandingkan dengan siklus II, ini dibuktikan dengan nilai hasil tes kemampuan berpikir kritis yang diperoleh siswa. Soal tes tersebut terdiri dari indikator-indikator kemampuan berpikir kritis. Pada tes siklus I rata-rata nilai kemampuan berpikir kritis siswa kelas XI IPS 2 yaitu 62,19 kemudian meningkat pada siklus II menjadi 78,90 peningkatannya sebanyak 26,87%. Rata-rata persentase peningkatan tiap indikator berpikir kritis yaitu 72,48% dan masuk pada klasifikasi B (baik). Apabila ditinjau dari nilai tiap indikatornya, terjadi peningkatan di setiap indikator berpikir kritis.

Pada siklus II kendala pada siklus I yang berupa rendahnya nilai pada indikator merumuskan masalah dan melakukan diskusi mengalami perbaikan yaitu meningkatnya nilai pada indikator tersebut dibandingkan pada tes sebelumnya. Hal ini karena siswa sudah lebih memahami maksud dari merumuskan masalah dan melakukan deduksi serta indikator-indikator yang lain. Siswa terlatih dan semakin lama terbiasa dengan kegiatan berpikir untuk memecahkan suatu masalah. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Mahanal (2010) yang menjelaskan bahwa PBL menjadi salah satu cara yang efektif dalam mendorong berkembangnya kemampuan berpikir kritis siswa melalui latihan pemecahan masalah. Problem Based Learning dapat melatih siswa agar terbiasa dengan permasalahan yang bersifat kontekstual dan nyata, dengan begitu siswa akan berpikir untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan mengenali dan menganalisis permasalahannya. Pernyataan ini sejalan dengan penelitian Savery (2006) bahwa keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan melalui PBL adalah kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan menetapkan parameter pada pengembangan solusi yang memungkinkan.

Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa diakibatkan adanya keterlibatan siswa dan penerapan model Problem Based Learning di dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan Problem Based Learning memberikan dampak positif yang kuat terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal dipengaruhi oleh sintaks Problem Based Learning yang menunjang keterlibatan siswa secara langsung dalam pembelajaran dimana siswa merasa bertanggung jawab atas pembelajarannya sendiri. Hal tersebut membuat siswa menjadi pembelajar yang mandiri (Jacobsen dkk, 2009).

Salah satu komponen dalam isu kecerdasan abad ke 21 (the issue of 21th century literacy) adalah High Order Thinking (HOT) yang merupakan bagian dari kemampuan berpikir kritis. Crawford dan Brown (2002) lanjut menjelaskan bahwa HOT didasarkan pada konten, kritis, dan berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kritis menurut Ennis (2000) adalah suatu proses yang bersifat sistematis pada saat siswa mengambil keputusan tentang apa yang dipercaya dan dikerjakan. Fachrurazi (2011) mengemukakan bahwa dengan berpikir kritis siswa juga memungkinkan untuk merumuskan dan mengevaluasi keyakinan dan pendapat mereka sendiri. Selanjutnya, Parker (2009) mengemukakan bahwa keterampilan berpikir kritis merupakan proses yang terorganisasi dengan melibatkan aktivitas mental melalui pemecahan masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan dan membuat keputusan dimana cara berpikir ini mengembangkan penalaran yang kohesif, logis, dapat dipercaya, ringkas dan meyakinkan.

Berdasarkan uraian yang telah disampaikan dapat diketahui bahwa berpikir kritis merupakan salah satu faktor penting yang dapat mendukung keberhasilan siswa dalam belajar. Berpikir kritis melatih siswa menjadi lebih terbuka pola pikirnya. Berpikir kritis adalah sebuah proses aktif, proses yang memikirkan berbagai hal secara lebih mendalam untuk dirinya, mengajukan berbagai pertanyaan untuk dirinya, menemukan informasi yang relevan, dan lain lain, ketimbang menerima berbagai hal dari orang lain sebagian besarnya secara pasif (Dewey dalam Fisher, 2008). Selanjutnya Richard Paul (dalam Kuswana, 2014) menjelaskan bahwa berpikir kritis merupakan suatu disiplin berpikir mandiri yang mencontohkan kesempurnaan berpikir sesuai dengan ranah berpikir siswa.

Penelitian lain mengenai pengaruh model Problem Based Learning terhadap berpikir kritis pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Ardiyanti (2016) berjudul “Berpikir Kritis Siswa dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Kunci Determinasi”. Hasil penelitian menyatakan bahwa: Pertama pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis siswa. Kedua, pembelajaran berbasis masalah berpikir kritis siswa untuk indikator memberikan penjelasan dasar. Ketiga pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan berpikir kritis siswa untuk indikator membangun keterampilan dasar. Keempat pembelajaran berbasis masalah dengan bantuan kunci determinasi dapat meningkatkan berpikir kritis siswa untuk indikator memberikan menyimpulkan. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Ningsih, dkk (2017) bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat melatihkan siswa untuk menyelesikan permasalah berdasarkan pengalaman dengan memanfaatkan pengetauan yang sudah dimiliki.

Berdasarkan pemaparan tersebut, maka model Problem Based Learning terbukti sangat cocok untuk diterapkan terutama pada pelajaran Geografi. Karena siswa menjadi lebih terdorong untuk mencari tahu, menumbuhkan rasa penasaran untuk mencari penyelesaian dari permasalahan yang ada dengan memadukan antara pengetahuan dengan pengalaman yang mereka miliki. Siswa mampu dapat terlatih untuk mengasah kemampuan berpiki kritis, ini juga menjadi keuntungan bagi siswa yaitu siswa tidak hanya sekedar tahu tentang materi yang dipelajari namun paham makna dibalik materi pelajaran tersebut. Hal ini sejalan dengan pendapat Prayogi (2013) yaitu banyak keuntungan yang dapat diambil dalam penerapan Problem Based Learning,  karena Problem Based Learning memberikan tantangan pada siswa sehingga mereka bisa memperoleh kepuasan dengan menemukan pengetahuan baru bagi dirinya sendiri serta mengembangkan keterampilan berpikir kritis setiap siswa.

 

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. pada mata pelajaran Geografi di kelas XI IPS 2 SMA Negeri 1 Turen Kabupaten Malang

 

Daftar Rujukan

Arends, R. I. 2008. Learning to teach. Edisi ke tujuh/buku dua. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ardiyanti, Y. 2016. Berpikir Kritis Peserta didik Dalam Pembelajaran Berbasis Masalah Berbantuan Kunci Determinasi. JPI (Jurnal Pendidikan Indonesia), 5(2), 872-882. DOI: http://dx.doi.org/10.23887/jpi-undiksha.v5i2.8544. diakses 1 April 2019

Arnyana, I. B. P. 2007. Penerapan Model PBL pada Pelajaran Biologi untuk Meningkatkan Kompetensi dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Singaraja Tahun Pelajaran 2006/2007. Jurnal Pendidikan dan Pengajarain IKIP Negeri Singaraja, (2),231-251.

Crawford, C.M., & Brown, E. 2002. Focusing Upon Higher-Order Thinking Skills:Web Quest and the Learner-Cemtered Mathematical Learning Environment. Educational Resources Information Center (ERIC ED 474086). 6: 1-16

Ennis, R. H., 2000. Critical Thinking. United States of America: Prentice-Hall, Inc.

Fachrurazi. 2011. Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Komunikasi Matematis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan, (online), 10 (1): 76-89, (http://jurnal.upi.edu/file/8-Fachrurazi.pdf) diakses 25 Maret 2019.

Fisher, A. 2008. Berpikir kritis Sebuah Pengantar Terjemahan Benyamin Hadinata. Jakarta: Erlangga.

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

Jacobsen,  David A., dkk, 2009. Methods For Teaching, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Karuniasih, Y., Herlambang, S., & Suharto, Y. 2013. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah Pelajaran Geografi Siswa Kelas XI IPS 2 SMA N 8 Malang, (Online), (http://jurnal-online.um.ac.id/data/artikel/artikelCFF48F427FEBC003BC062C0F88E1F5EF.pdf). diakses 26 April 2019.

Mahanal, S., Darmawan, E., Corebima, A. D., & Zubaidah, S. 2010. Pengaruh Pembelajaran Project Based Learning (PjBL) pada Materi Ekosistem terhadap Sikap dan Hasil Belajar Siswa SMAN 2 Malang. BIOEDUKASI (Jurnal Pendidikan Biologi). (Online). Dari http://ojs.fkip.ummetro.ac.id/index.php/biologi/article/view/179/144, diakses 17 Maret 2019.

Nastiti, N.Y. & Slamet H.W. 2014. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah dan Keaktifan Siswa dalam Pembelajaran Matematika melalui Metode Problem Based Learning, (Online), (eprints.ums.ac.id/ 28311/12/Naskah_Publikasi.pdf), diakses 26 April 2019.

Ningsih, P.R., Hidayat,A., & Kusairi, S. 2018. Penerapan Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Hasil Belajar Siswa Kelas III. Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Volume: 3 Nomor: 12 Bulan Desember Tahun 2018 Halaman: 1587—1593. (Online). http://journal.um.ac.id/index.php/jptpp/article/view/11799/5607. diakses 26 April 2019.

Parker, M.A. 2009. Critical Thinking. New York: Mc Graw Hill

Prayogi, S., dan  Asy’ari. M. 2013. Implementasi Model PBL (Problem Based Learning) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Dan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa. Jurnal Prisma Sains.1(1), 79-87.

Raath, S. Aubrey, G. 2016. Geography Education Students' Experiences with a Problem-Based Learning Fieldwork Activity.Journal Of Geography, 0, 1–9. DOI: 10.1080/00221341.2016.1264059

Savery, J. R. 2006. Overview of Problem-Based Learning: Definitions and Distinctions. Interdisciplinary Journal of Problem-Based Learning, 1(1):9-20. (Online), Dari  (http://docs.lib.purdue.edu/ijpbl/vol1/ iss1/3/. diakses 6 Janauri 2019.

Wasiso, S. J. & Hartono. 2013.  Implementasi Model Problem Based Learning Bervisi SETS untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah IPA dan Kebencanaan Oleh Siswa. Journal of Innovative Science Education (JISE) 2 (1) 2013, ISSN 2252 – 6412. (Online), (http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/jise/article/view/3128/2892), diakses 26 April 2019.

 

Yeung, S. 2010. Problem-Based Learning for Promoting Student Learning in High School Geography. Journal of Geography, 109(5), 190–200. https://doi.org/10.1080/00221341.2010.501112. diakses 1 April 2019.