SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2018

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengelolaan Bencana Tanah Longsor di Kota Batu

Hatta Nizam

Abstrak


ABSTRAK

Nizam, Hatta. 2017. Pengelolaan Bencana Tanah Longsor di Kota Batu. Skripsi. Program Studi Geografi, Peminatan Pemetaan dan Pengembangan Wilayah, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Syamsul Bachri, S.Si, M.Sc,Ph.D (2) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si.

Kata Kunci: Pengelolaan Bencana, Tanah Longsor

Kota Batu merupakan daerah yang terletak di kaki gunung Panderman serta memiliki kondisi geomorfologi berupa perbukitan. Keadaan fisik tersebut membuat wilayah tersebut memiliki kemiringan lereng yang curam. Hal ini membuat wilayah tersebut rawan terhadap terjadinya bencana tanah longsor. Bencana tanah longsor yang terjadi di Kota Batu menyebabkan kerugian yang sangat besar, baik kerugian infrastruktur maupun korban jiwa. Oleh sebab itu perlu adanya pengelolaan bencana tanah longsor yang ada di Kota Batu.

Penelitian ini dilaksanakan di Kota Batu dengan tujuan untuk mengetahui: bentuklahan, distribusi bencana dan kerawanan tanah longsor, hubungan bentuk lahan dengan kerawanan tanah longsor dan pengelolaan bencana tanah longsor. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian survey dengan analisis deskriptif yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Data primer pada penelitian diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan dengan teknik observasi, dokumentasi, pengukuran dan uji laboratorium, sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur, dinas-dinas terkait dengan teknik dokumentasi. Pengolahan data kerawanan mengunakan teknik penyekoran dan pembuatan peta menggunakan software Arcgis 10.4. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif berdasarkan indikator penelitian dan Pengelolaan bencana tanah longsor yang dilakukan yaitu berupa faktor fisik.

Hasil penelitian menunjukkan terdapat 10 bentuk lahan yang adadi Kota Batu. Distribusi bencana tanah longsor tahun 2012-2016 sebanyak 101 kejadian tersebar di tiga kecamatan Junrejo 14 kejadian, Batu 45 kejadian, dan Bumiaji 42 kejadian. Tingkat kerawanan tanah longsor dihasilkan 0% rendah, 27,6% sedang, 51,37 tinggi dan 21,02 sangat tinggi. Analisis hubungan bentuk lahan dengan kerawanan tanah longsor menunjukan pada bentuk lahan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi disebabkan karena beberapa faktor seperti lereng, relief, faktor tanah, penggalian tebing dan penggunaan lahan. Pengelolaan bencana tanah longsor yang harus dilakukan yaitu sesuai karasteristik bentuk lahan, distribusi bencana dan indikator yang mempengaruhi kerawanan tanah longsor.

Berdasarkan hasil penelitian diharapkan semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat bekerjasama dalam melakukan pengelolaan terhadap bencana tanah longsor, utamanya dalam distribusi tanah longsor yang merupakan bencana periodik yang setiap tahun terjadi, karasteristik bentuk lahan dan faktor yang paling berpengaruh yaitu kemiringan lereng, penggalian tebing, tekstur tanah diperlukan berupa pengawasan berkala dan sistematis, penanaman pohon pada lahan miring dan pembuatan beton pada daerah miring.