SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbandingan Model Guided Inquiry dan Guided Discovery terhadap Kemampuan Berpikir Kritis pada Peserta Didik Kelas X MAN 3 Malang.

Shofi Amaliyah Majid

Abstrak


ABSTRAK

 

Kemampuan berpikir kritis sangat penting bagi kehidupan peserta didik dan sesuai dengan amanat scientific approach pada Kurikulum 2013 sehingga perlu diterapkan dalam pembelajaran di Sekolah Menengah Atas (SMA). Kemampuan berpikir kritis dapat dicapai dengan model pembelajaran yang tepat, beberapa di antaranya adalah model Guided Inquiry dan Guided Discovery. Kedua model tersebut sudah terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan kelebihan kedua model tersebut maka penulis meneliti perbedaan hasil Guided Inquiry dengan Guided Discovery terhadap kemampuan berpikir kritis dan mencari tahu manakah kelas yang memiliki kemampuan berpikir kritis lebih tinggi setelah diberi perlakuan Guided Inquiry dan Guided Discovery.

Penelitian ini tergolong penelitian eksperimen semu dan dirancang menggunakan posttest only control group design dengan dua kelas eksperimen yang homogen. Subjek dalam penelitian ini adalah kelas X-IIS 2 (Eksperimen 1) yang mendapat perlakuan dengan model Guided Inquiry dan kelas X-IIS 1 (Eksperimen 2) yang mendapat perlakuan dengan model Guided Discovery.  Instrumen penelitian berupa soal esai tes kemampuan berpikir kritis yang diujikan setelah pemberian perlakuan model pembelajaran. Instrumen penelitian diuji coba menggunakan validitas dan reliabilitas. Teknik analisis yang digunakan adalah uji-t yang dapat diselesaikan dengan bantuan program SPSS 16,00 for Windows.

Hasil analisis data diketahui bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas eksperimen 1 adalah 80,18, sedangkan rata-rata kemampuan berpikir kritis kelas eksperimen 2 adalah 84,07. Analisis menggunakan uji-t menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,018, nilai signifikansi 0,018 > 0,025 maka Ho ditolak. Hasil analisis data menunjukkan bahwa yang pertama ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara kelas yang menggunakan model Guided Inquiry dan Guided Discovery, yang kedua nilai kemampuan berpikir kritis peserta didik kelas X MAN 3 Malang yang menggunakan model Guided Discovery lebih tinggi dari pada yang menggunakan model Guided Inquiry.

 

Berdasarkan hasil penelitian, peneliti menyarankan kepada sekolah agar menerapkan model pembelajaran Guided Inquiry dan Guided Discovery, menyarankan kepada guru agar memperhatikan alokasi waktu, memperhatikan peserta didik yang acuh dan kurang pandai agar tetap berpartisipasi aktif dalam pembelajaran, serta menyarankan kepada peneliti lanjut untuk memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing model sehingga dapat memaksimalkan kelebihan dan mengantisipasi kekurangan model, mengetahui kondisi sekolah, dan memperhatikan alokasi waktu.