SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Evaluasi Potensi dan Pengembangan Agrowisata di Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri

Hanri Bawafi

Abstrak


ABSTRAK

 

Bawafi, Hanri. 2017. Evaluasi Potensi dan Pengembangan Agrowisata di Desa Jambu Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri. Skripsi, Program Studi S-I Geografi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si., (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si.

 

Kata Kunci: potensi, pengembangan agrowisata, pedesaan

 

Luas lahan pertanian di wilayah Kecamatan Kayen Kidul pada tahun 2013 adalah 89,38% kemudian menurun menjadi 74,59% pada tahun 2015. Berdasarkan keadaan tersebut, maka diperlukan suatu konsep yang dapat mempertahankan luas lahan pertanian dan meningkatkan hasil produksi pertanian. Agrowisata merupakan salah satu konsep yang dapat menjadi solusi dari permasalahan tersebut. Desa Jambu merupakan salah satu desa di Kecamatan Kayen Kidul. Lahan pertanian serta lahan pekarangan rumah warga di Desa Jambu saat ini sudah ditanami pohon kelengkeng yang akan dikembangkan menjadi objek agrowisata. Agrowisata dapat berkembang secara baik dan berkelanjutan apabila didahului dengan kajian yang mendalam dengan melakukan penelitian terhadap semua sumber daya pendukungnya. Potensi yang dimiliki Desa Jambu belum dikembangkan secara optimal menjadi agrowisata, oleh karena itu suatu arahan diperlukan untuk pengembangan agrowisata serta mengkaji kondisi fisik dan sosial budaya di Desa Jambu.

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengevaluasi potensi fisik di Desa Jambu untuk pengembangan agrowisata buah kelengkeng, (2) Mengevaluasi potensi sosial budaya di Desa Jambu untuk pengembangan agrowisata buah kelengkeng, dan (3) Menyusun arah pengembangan agrowisata Desa Jambu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui metode survei. Potensi fisik desa yang dievaluasi terdiri dari keadaan topografi, jenis tanah, iklim, hidrologi dan tata guna lahan. Potensi sosial budaya desa terdiri dari akseptibilitas masyarakat, kebudayaan dan kelembagaan. Analisis variabel potensi menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan pembobotan (scoring) pada variabel kelayakan agrowisata.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar potensi fisik sudah baik dan mendukung pengembangan agrowisata, namun pada aspek jenis tanah masih memerlukan pengolahan. Potensi sosial budaya secara keseluruhan cukup baik dan mendukung namun masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan hasil kriteria kelayakan agrowisata, dusun yang termasuk dalam kriteria sangat potensial (SP) adalah Jambu dengan jumlah nilai terbobot 3,6 dan Semanding dengan nilai 3,3. Dusun yang termasuk cukup potensial (CP) diantaranya Kedungcangkring dengan jumlah bobot nilai yaitu 2,9; Suren dengan nilai 2,95 dan Sumberjo dengan nilai 2,85. Dusun Semut termasuk kurang potensial (KP) dengan jumlah bobot nilai yang paling rendah yaitu 2,35. Arah pengembangan agrowisata di Desa Jambu diantaranya: (1) Perlu dilakukan pemberdayaan masyarakat, (2) Mengembangkan pusat-pusat kegiatan wisata, (3) Menyediakan sarana dan prasarana, dan (4) Memadukan kawasan yang mendukung upaya peningkatan dan pelestarian daya dukung lingkungan serta sosial dan budaya setempat.

 

 

 

 

ABSTRACT

 

Bawafi, Hanri. 2017. Evaluation of Potential and Development of Agro-tourism ini Jambu Village, Kayen Kidul Sub-District, Kediri Regency. Undergraduate Thesis, Geography S1 Study Program, Department of Geography, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Malang. Supervisor (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si. (II) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si.

 

Keywords: potential, agro-tourism development, rural area

 

The total area of agricultural land in Kayen Kidul sub-district in 2013 is 89.38% and then decreases to 74.59% in 2015. Based on these condition, it is necessary a concept that can maintain the area of agricultural land and improve agricultural production. Agro-tourism is one concept that can be the solution of these problem. Jambu is one of the villages in Kayen Kidul District. Agricultural land and yard homes of residents in Jambu Village are now already planted with a tree of longan that will be developed into the object of agro-tourism. Agro tourism can be well developed and sustainable if it is preceded by doing research on all its supporting resources. The potential of Desa Jambu has not been optimally developed into agro-tourism, therefore a directive is needed for the development of agro-tourism as well as assessing the physical and socio-cultural conditions in Jambu Village.

This research aims to (1) Evaluate the physical potency in Jambu Village for the development of agro-tourism of longan fruit, (2) Evaluate the socio-cultural potency in Jambu Village for the development of agro-tourism of longan fruit and (3) Arrange the direction of agro-tourism development of Jambu Village.

This research uses quantitative descriptive approach through survey method. The physical potential of villages requiring evaluation is topography, soil type, climate, hydrology and land use. The socio-cultural potential of the village is the acceptability of society, culture and institution. Analysis of potential variables using quantitative descriptive approach and weighting (scoring) on agro-tourism feasibility variables.

The results show that most of the physical potential is good and support the development of agro-tourism, but in the aspect of soil type still require processing. The potential of socio-cultural as a whole is quite good and supportive but still needs to be improved. Based on the results of agro-tourism feasibility included in the criteria of very potential (SP) is Jambu with a weighted value of 3,6 and Semanding with a value of 3,3. That includes enough potential (CP) including Kedungcangkring with the amount of weight of the value of 2,9; Suren with a value of 2,95 and Sumberjo with a value of 2,85. Semut is included less potential (KP) with the lowest value of weight is 2,35. The direction of agro-tourism development in Jambu Village are: (1) Community empowerment needs to be done, (2) Developing tourism activities centers, (3) Providing facilities and infrastructure, and (4) Combining areas that support efforts to increase and sustain the carrying capacity of the environment and socio-cultural rights.