SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2017

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Analisis Dampak Polusi Cahaya Terhadap Pemborosan Energi Listrik di Kota Surabaya Menggunakan Citra Satelit DMSP-OLS dan VIIRS-DNB

Hendra Agus Prastyo

Abstrak


Kota besar tidak terlepas dari penggunaan cahaya artifisial atau cahaya buatan untuk keperluan penerangan pada malam hari. Penggunaan cahaya artifisial sangat bermanfaat bagi masyarakat perkotaan. Penggunaan cahaya artifisial semakin hari semakin meningkat. Hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi kota besar, yaitu polusi cahaya. Polusi cahaya merupakan salah satu bentuk polusi akibat adanya cahaya berlebihan di luar ruangan yang dilepas ke langit. Dampak negatif dari polusi cahaya yaitu terganggunya kesehatan manusia, terganggunya lingkungan hewan malam (terutama dalam reproduksi atau mencari makanan), pemborosan energi, kerusakan lingkungan, menurunnya keamanan lalu lintas pada waktu malam hari, dan semakin sedikitnya jumlah objek langit yang dapat ditelaah. Hal ini membuktikan bahwa polusi cahaya memberi dampak yang relatif parah terhadap lingkungan, terutama dampaknya terhadap pemborosan energi di kota-kota besar di dunia, termasuk kota-kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Kota Surabaya.

Kota Surabaya merupakan salah satu kota di Indonesia yang mengalami permasalahan polusi cahaya. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan memetakan tingkat polusi cahaya di Kota Surabaya. Berdasarkan peta polusi cahaya tersebut, maka pemborosan energi listrik akibat polusi cahaya dapat dihitung. Pemetaan polusi cahaya dapat dilakukan dengan memanfaatkan data citra satelit malam hari. Salah satu citra satelit malam hari yang umum digunakan adalah citra satelit malam hari DMSP-OLS dan VIIRS-DNB. Citra satelit malam hari DMSP-OLS dan VIIRS-DNB merupakan citra satelit malam hari yang dikelola oleh NOAA. Data citra malam hari DMSP-OLS dan VIIRS-DNB digunakan untuk mengetahui laju konsumsi energi listrik akibat polusi cahaya.

Berdasarkan hasil penelitian, diketahui terdapat peningkatan polusi cahaya pada tahun 2011-2015 di Kota Surabaya. Peningkatan polusi cahaya ini diidentifikasi dari adanya perluasan wilayah yang mengalami polusi cahaya pada tiap kelas tingkat polusi cahaya. Area permukiman di Kota Surabaya berada dalam kelas 5 atau tinggi untuk tingkat polusi cahaya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pemborosan energi listrik untuk pencahayaan luar ruangan bersumber dari area permukiman di Kota Surabaya. Adanya polusi cahaya ini menyebabkan peningkatan pemborosan energi listrik di Kota Surabaya pada tahun 2011-2015. Pada tahun 2011-2013, rata-rata pemborosan energi listrik relatif tetap, namun pada tahun 2014 mengalami peningkatan dari 32,07 W menjadi 41,45 W. Kemudian pada tahun 2015 mengalami peningkatan yang relatif signifikan, yaitu menjadi sebesar 51,43 W.