SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2016

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK TALK WRITE (TTW) BERBASIS KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS TERHADAP KEMAMPUAN MENYUSUN KARYA ILMIAH GEOGRAFI SISWA KELAS XI IIS SMA NEGERI 1 TARIK KABUPATEN SIDOARJO

Desiana Merawati

Abstrak


Abstrak

 

Desiana Merawati Universitas Negeri Malang E-mail: desianamerawati11@gmail.com ABSTRACT Not all models of learning can encourage students to be able to compile scientific work. One model of learning that can be used to enhance the students' ability to write scientific papers by using learning model Think Talk Write-based critical thinking skills. Learning to use the model-based Think Talk Write critical thinking skills consist of three phases, namely thinking speaking and writing. Basically this learning model can improve the ability to compose scientific papers. This study was designed using a quasi-experimental (Quasi Experiment) using Static Group comparasion design and take the subject of two class research. The samples in this study conducted by random sampling technique is his class who were randomized to determine the experimental class 3 and class XI IIS IIS 4. Instrument control XI this study uses a scientific paper scoring guidelines as a guide for scoring the results of scientific papers students. The data analysis technique used is the t-test that can be completed with SPSS 21.00 For Windows. These results indicate that there are significant use of the learning model Think Talk Write (TTW) based critical thinking skills to the ability to draw up scientific papers geography class XI student of SMAN 1 Pull IIS. From the analysis of the data found that the ability to draw up the scientific work on the experimental class has an average of 76,48. While the control class that has an average of 58,78 with a probability of 0,000, so it can be concluded that there is influence learning model Think Talk Write (TTW) based critical thinking skills to the ability to draw up scientific papers geography class XI student of SMAN 1 IIS Sidoarjo. Keywords: learning model Think Talk Write-based critical thinking skills, ability to draw up scientific papers. Pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu berkompetisi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam menjamin pembangunan suatu Bangsa. Mulyasa dalam Sugiarti, dkk (2014: 2) pendidikan merupakan salah satu wahana yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu, peningkatan terhadap kualitas mutu pendidikan perlu dilakukan tindakan secara terus-menerus demi tercapainya suatu tujuan pendidikan nasional dalam mempersiapkan generasi emas tahun 2045. Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, maka setiap jenjang dari satuan pendidikan berkewajiban untuk mewujudkan generasi emas tepat dihari jadi kemerdekaan RI 100 tahun. SMA merupakan salah satu lembaga pendidikan formal bukan hanya pengajaran yang memperhatikan aspek kelulusan (teaching to the test), melainkan membangun pendidikan yang memperhatikan aspek dalam kemampuan sosial, watak, budi pekerti, kecintaan terhadap budaya-budaya Indonesia dan mengajarkan pendidikan kewirausahaan sehingga dapat menghasilkan siswa yang mampu menjawab kebutuhan sumber daya manusia. TTW merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang berfokus dalam penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar sebagai pencapaian suatu tujuan pembelajaran. Dalam mencapai suatu pembelajaran dapat dilihat dari kondisi belajar siswa, keterampilan berfikir siswa dan kemampuan menulis karya ilmiah. Kondisi tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan siswa dalam menuliskan karya ilmiah. Yamin dan Ansari (2008: 84) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran TTW yang diperkenalkan oleh Huinker dan Laughlin ini pada dasarnya dibangun melalui berpikir, berbicara dan menulis. Alur strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah melalui proses membaca, berbicara dan membagi ide dengan temannya sebelum menulis. Model ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Model pembelajaran Think Talk Write terdiri dari tiga langkah, langkah pertama yaitu Think artinya berfikir dalam mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu yang kemudian akan membuat catatan kecil. Menurut Yamin dan Ansari (2008: 85) belajar rutin membuat atau menulis catatan sebelum membaca akan merangsang aktivitas berfikir sebelum, selama dan setelah membaca. Langkah kedua adalah Talk artinya berbicara atau berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami tentang suatu pikiran atau pendapat siswa. Yamin dan Ansari (2008: 85) berkomunikasi atau berdialog baik antar siswa maupun guru juga dapat meningkatkan pemahaman. Langkah ketiga adalah Write artinya menuliskan hasil diskusi dari suatu pikiran secara individu. Menurut Silberman dalam Fatmawati, dkk (2013: 5) menulis membantu siswa merefleksikan pengalaman-pengalaman yang mereka alami. Model pembelajaran Think Talk Write berbasis keterampilan berpikir kritis disini maksudnya penerapan model pembelajaran yang mendorong siswa untuk memiliki kemampuan menyusun karya ilmiah terhadap informasi atau pengetahuan yang telah didapat. Siswa yang sedikit memperoleh informasi akan berusaha untuk mencari kebenaran dari suatu konsep melalui kemampuan menyusun karya ilmiah sehingga tidak ada kekeliruan terhadap suatu konsep atau materi pembelajaran. Alasan peneliti memilih SMA Negeri 1 Tarik yaitu belum adanya penelitian di sekolah tersebut, sehingga peneliti menerapkan model Think Talk Write (TTW) berbasis keterampilan berpikir kritis terhadap kemampuan menyusun karya ilmiah. Alasan selanjutnya peneliti memilih kelas XI IIS 3 dan IIS 4 yaitu pada saat dilakukan penelitian, peneliti memilih materi pada semester satu yaitu potensi geografis Indonesia. Penentuan materi potensi geografis Indonesia sebagai dikarenakan pada materi tersebut tidak terdapat pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau kurikulum 2006, melainkan materi tersebut baru ada pada kurikulum 2013. Selain sebagai materi baru pada kurikulum 2013, materi ini juga dapat menyajikan sebuah masalah yang terjadi dikehidupan nyata untuk dibawa ke dalam pembelajaran kelas dengan mengajak siswa untuk berpikir dalam menyelesaikan suatu permasalahan. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan desain Static Group Comparison yang terdiri dari kelompok eksperimen (yang diberi perlakuan) dan kelompok kontrol (yang tidak diberi perlakuan). Sampel dalam penelitian ini dilakukan secara acak, sehingga didapatkan kelas eksperimen adalah kelas XI IIS 03 berjumlah 33 siswa sedangkan kelas kontrol adalah XI IIS 04 berjumlah 32 siswa di SMA Negeri 1 Tarik Kabupaten Sidoarjo. Instrumen penelitian digunakan untuk mengukur TTW berbasis keterampilan berpikir kritis terhadap kemampuan menyusun karya ilmiah siswa dengan menggunakan pedoman penskoran karya tulis ilmiah. Data yang diuhi dalam penelitian ini adalah hasil karya tulis ilmiah siswa yang berupa makalah pendek. Analisis data menggunakan uji prasyarat analisis dan uji hipotesis. Uji prasyarat analisis terdiri dari uji normalitas yang menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas yang menggunakan uji Levene’s. Uji hipotesis menggunakan uji T (t-test) dengan bantuan program SPSS 16.0 For Windows. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui kemampuan menyusun karya ilmiah antara kedua kelas. Untuk memperoleh data karya tulis ilmiah pada penelitian ini menggunakan pedoman penskoran karya tulis ilmiah. Perbandingan perolehan skor dari kedua kelas, langkah selanjutnya yaitu merubah skor menjadi nilai. Perbandingan nilai dari kedua kelas tersebut dapat dilihat pada tabel 1: Tabel 1 Perbandingan Distribusi Frekuensi Nilai Penyusunan Karya Ilmiah Antara Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Kelas Kontrol Kelas Eksperimen f (%) f (%) A 91 - 100 Sangat Baik 0 0 0 0 B 75 – 90 Baik 3 9,4 23 69,7 C 60 – 74 Cukup 10 31,3 8 24,2 D 40 - 59 Kurang 19 59,4 2 6,1 E < 40 Sangat Kurang 0 0 0 0 Jumlah 32 100 33 100 Mean 58,78 76,48 Median 56 78 Modus 56 78 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa memiliki rata-rata nilai yang berbeda, kelas kontrol memiliki rata-rata nilai sebesar 58,78 sedangkan kelas eksperimen memiliki rata-rata nilai 76,48. Kriteria baik dengan nilai 75 – 90 pada kelas kontrol sebanyak 3 siswa sedangkan pada kelas eksperimen sebanyak 23 siswa. Rentangan nilai 60 – 74 dengan kriteria cukup pada kelas kontrol sebanyak 10 siswa sedangkan pada kelas eksperimen sebanyak 8 siswa. Kriteria kurang dengan rentangan nilai 40 – 59 pada kelas kontrol sebanyak 19 siswa sedangkan pada kelas eksperimen sebanyak 2 siswa. Perbandingan nilai hasil penyusunan antara kelas kontrol dengan kelas eksperimen dapat dilihat pada Gambar 1 sebagai berikut: Gambar 1 Perbandingan Nilai Penyusunan Karya Ilmiah Antara Kelas Kontrol dan Kelas Eksperimen Sebelum data diuji hipotesis, sebelumnya dilakukan uji prasyarat terlebih dahulu yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Hasil uji normalitas menununjukkan bahwa nilai hasil karya ilmiah siswa terdistribusi normal dengan taraf signifikansi kelas eksperimen adalah 0,039 > 0,05 dan kelas kontrol adalah 0,023 > 0,05. Sedangkan uji homogenitas menunjukkan bahwa kedua kelas mempunyai varian yang sama dengan taraf signifikansi 0,212 > 0,05. Hasil hipotesis dapat dilihat pada tabel 2 berikut: Tabel 2 Hasil Uji Hipotesis Nilai Kemampuan Menyusun Karya Ilmiah Pada Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol Levene’s Test for Equality of Variances t-test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Nilai Equal variances assumed Equal variances not assumed 2,664 0,108 7,993 8,714 63 58,450 0,000 0,000 17,735 17,735 2,219 2,227 13,301 13,277 22,169 22,193 Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai signifikansi kedua kelas adalah 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti model pembelajaran TTW berbasis keterampilan berpikir kritis berpengaruh terhadap kemampuan menyusun karya ilmiah geografi siswa kelas XII IIS SMA Negeri 1 Tarik Kabupaten Sidoarjo.Setelah dilakukannya penelitian terdapat beberapa temuan selama penelitian yaitu siswa belum benar-benar menguasai dalam penulisan daftar rujukan. Sehingga perlu adanya bimbingan kembali dalam memberikan contoh daftar rujukan yang benar. Hasil analisis data menunjukkan bahwa model TTW berbasis keterampilan berpikir kritis berpengaruh terhadap kemampuan menyusun karya ilmiah geografi siswa dibandingkan dengan kelas yang menggunakan metode ceramah. Hal ini dapat dibuktikan bahwa kelas eksperimen memiliki rata-rata perolehan nilai makalah lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol di SMA Negeri 1 Tarik Kabupaten Sidoarjo. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan suatu model dan peran guru sangat penting dalam proses pembelajaran di kelas. Hal tersebut sesuai dengan pemikiran Joyce dalam Suprijono (2009: 46) bahwa melalui model pembelajaran guru dapat membantu siswa mendapatkan informasi, ide, keterampilan, cara berfikir, dan mengekspresikan ide. Peran guru dalam proses pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Apabila guru memiliki keterampilan membawa siswa untuk lebih mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dalam pemecahan permasalahan, maka siswa akan lebih terampil dalam berpikir kritis. TTW berbasis keterampilan berpikir kritis akan menuntun siswa untuk lebih berani mengemukakan dalam menjawab pertanyaan yang harus diselesaikan dengan melalui sebuah keputusan. Hal ini sesuai dengan pendapat Baron dan Sternberg dalam Sumarmo, dkk (2012: 22) yang mendefinisikan berpikir kritis sebagai reflektif yang beralasan dan difokuskan pada penetapan apa yang dipercayai atau yang dilakukan. Sehingga peneliti mengetahui seberapa besar tingkat kekritisan siswa dan berani mengambil keputusan sebagai solusi untuk menjawab permasalahan tersebut. Penggunaan model pembelajaran TTW berbasis keterampilan berpikir kritis ini terdiri dari tiga langkah. Langkah pertama yaitu think artinya berpikir sebagai dasar dalam berpikir kritis. Setelah guru menyampaikan materi, kemudian menjelaskan langkah-langkah (sintaks) yang dilanjutkan dengan pemberian LKS, artikel, dan lembar TTW. Dari proses membaca artikel ini, siswa disuruh menuliskan kembali apa yang dia dapatkan informasi melalui proses membaca tersebut. Langkah yang kedua yaitu talk, pada tahap ini siswa dilatih untuk mengungkapkan pendapatnya mengenai poin-poin yang sudah dicatat pada tahap sebelumnya atau pada tahap think. Langkah terakhir yaitu write, pada proses ini siswa menjawab pertanyaan dari guru. Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan analisis dan membutuhkan keterampilan berpikir kritis siswa dalam memberikan solusi atau jawaban terhadap permasalahan tersebut. Pada tahap write ini diberikan sebagai penugasan dan dikerjakan secara individu, hal ini untuk mengetahui keterampilan siswa secara individu dalam menyelesaikan permasalahan. Setelah pemberian model pembelajaran pada kedua kelas tersebut, langkah selanjutnya yaitu siswa diminta untuk konsultasi karya tulis ilmiahnya tersebut. Pada pertemuan terakhir, beberapa siswa pada dua kelas tersebut untuk mempresentasikan hasil karya ilmiahnya. Beberapa pertanyaan dan saran dari siswa yang sebagai audien akan dijadikan sebagai perbaikan dalam penulisan karya ilmiah. Sehingga dari proses presentasi tersebut siswa akan saling memberikan masukan demi perbaikan karya ilmiah. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa “ada pengaruh model pembelajaran think talk write (TTW) berbasis keterampilan berpikir kritis terhadap kemampuan menyusun karya ilmiah geografi siswa kelas XI IIS SMA Negeri 1 Tarik Kabupaten Sidoarjo”. Saran Adapun saran bagi sekolah untuk memiliki koleksi buku yang bervariasi di perpustakaan sekolah. Hal ini dikarenakan sebagai pendukung referensi yang dibutuhkan siswa dalam rujukan penulisan karya ilmiah. Guru disarankan menggunakan model pembelajaran Think Talk Write (TTW) berbasis keterampilan berpikir kritis sebagai alternatif untuk mengukur kemampuan siswa dalam menyusun karya ilmiah. Bagi penelitia selanjutnya juga diharapkan melakukan pengujian ulang terhadap model Think Talk Write berbasis keterampilan berpikir kritis dengan materi yang berbeda atau pun dapat digunakan oleh bidang selain geografi. DAFTAR RUJUKAN Sugiarti, N., Putra, I. & Abadi, I. 2014. Pengaruh Model Pembelajaran TTW (Think Talk Write) Berbantuan Media Gambar Berseri Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia Siswa Kelas V SD Gugus 1 Kecamatan Kediri tahun Ajaran 2013/2014. Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, (Online), 2 (1): 1-10 (http://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JJPGSD/article/view/3220/2676), diakses 29 September 2015. Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Sumarmo, U., Hidayat, W., Zulkarnaen, R., Hamidah, & Sarningsih, R. 2012. Kemampuan dan Disposisi Berfikir Logis, Kritis, dan Kreatif Matematik. Jurnal Pengajaran MIPA, (Online), 17 (1): 17- 33, (http://fpmipa.upi.edu/journal/v1/index.php/jpmipa/article/view/228/143), diakses 29 September 2015. Yamin, H.M. & Ansari B. I. 2008. Taktik Mengembangkan Kemampuan Individual Siswa. Jakarta: Gaung Persada Press.