SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pengaruh Kepadatan Penduduk Dan Cara Pembuangan Limbah Domestik Terhadap Kualitas Air Tanah Di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto

NANDA MEINAR ROSY

Abstrak


ABSTRAK

R Meinar, Nanda.2014. Pengaruh Kepadatan Penduduk Dan Cara Pembuangan Limbah Domestik Terhadap Kualitas Air Tanah Di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto.Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Sugeng Utaya, M.Si, (II) Ir. Juarti, M.P.

 

Kata Kunci : kualitas, air tanah, cara pembuangan, kepadatan

Desa-desa di kecamatan Ngoro memiliki kualitas air tanah yang berbeda-beda tergantung cara pembuangan serta kepadatan penduduk desa. Pada beberapa desa kondisi air tanah pada sumur gali airnya cenderung lebih keruh. Untuk mengetahui bukti penurunan kualitas air tanah di Kecamatan Ngoro yang terjadi karena pengaruh kepadatan penduduk, cara pembuangan.

Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui kualitas air tanah di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto masih memenuhi standart baku mutu air golongan I berdasarkan pada PERMENKES R.I No 416/MENKES/PER/IX/1990. 2) mengetahui pengaruh kepadatan penduduk terhadap kualitas air tanah. 3) Mengetahui pengaruh cara pembuangan limbah terhadap kualitas air tanah.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey.

Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data kualitas air tanah di Kecamatan Ngoro adalah  menggunakan teknik survey kemudian uji Laboratorium. Peneliti menentukan sampel dengan metode purposive sampling, sampel yang diambil adalah 13 desa yang berada pada dataran rendah dari total 19 desa di Kecamatan Ngoro Kabupaten Mojokerto. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif  dan perbadingan. Analisis data dilakukan pada kualitas air tanah (kekeruhan, bau, rasa, pH, deterjen dan KMn04) dan dibandingkan pada setiap sampel.

Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1) kualitas air tanah masih memenuhi stadart baku mutu air golongan I sesuai dengan PERMENKES R.I No 416/ MENKES/ PER/ IX/1990. pH tertinggi sebesar 7.28 terdapat pada desa Tanjungrono, kekeruhan tertinggi terdapat pada desa Candiharjo dan Tanjungrono sebesar 0.8 (NTU), bau dan rasa pada seluruh sampel tidak terdeteksi, parameter deterjen tertinggi sebesar 0,069 mg/L yakni di desa Kembangsri karena di cara pembuangan limbah langsung ke tanah sehingga limbah deterjen akan mudah masuk dan mecemari air tanah dan KMn04 tertinggi terdapat pada desa Tanjunggrono yakni sebesar 6.0 mg/L meskipun masih dibawah standart baku mutu yang ditentukan tapi apabila dalam air tanah memiliki kandungan KMn04 tinggi maka air tersebut tidak dapat dijadikan air minum. 2) Kepadatan penduduk sangat mempengaruhi kualitas air tanah terbukti pada desa Tanjangrono yang memiliki prosentase kepadatan paling tinggi yakni 0.47% memiliki rata-rata parameter tertinggi sehingga terdeteksi memiliki kualitas air tanah paling buruk kondisi tersebut berpengaruh karena buangan limbah semakin tinggi. 3) Pada setiap cara pembuangan limbah memiliki tingkat pencemaran yang berbeda, kualitas air dengan rata pencemaran terburuk terdapat pada cara pembuangan limbah langsung ke sungai kondisi tersebut terjadi karena sungai tempat pembuangan limbah domestik lokasinya berdekatan dengan sumur gali warga sehingga limbah cepat masuk ke tanah dan mecemari air tanah.