SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Tingkat Kerentanan Longsor pada Jalur Gunung Gumitir (Jalan Penghubung Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember)

Akvian Erie Prawira

Abstrak


ABSTRAK

 

Prawira, Akvian Erie. 2014. Tingkat Kerentanan Bencana Longsor pada Jalur Gunung Gumitir (Jalan Penghubung Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember). Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Didik Taryana, M.Si. (II) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si, M.Si.

 

Kata Kunci: longsor, faktor yang mempengaruhi longsor, tingkat kerentanan longsor, jalur gunung gumitir

 

Jalur Gunung Gumitir merupakan satu-satunya jalur transportasi penghubung antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Jember yang terletak di Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi dan Kecamatan Silo, Jember. Kondisi jalan yang berkelok-kelok dengan panjang kurang lebih delapan kilometer yang terbagi dalam dua kabupaten. Ditemukan beberapa titik yang telah longsor pada sepanjang jalan ini. Hal ini akan memicu terjadinya longsor susulan yang lebih besar dan membahayakan pengguna jalan yang melintasi jalur tersebut. Namun, belum ada penanganan yang berlanjut dari pihak yang berwenang. Selain itu, belum ada penelitian secara menyeluruh untuk mengidentifikasi dan memetakan wilayah rawan bahaya longsor ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji agihan kerentanan longsor pada Jalur Gunung Gumitir. Tujuan yang kedua adalah untuk menemukan faktor dominan yang mempengaruhi tingkat kerentanan longsor pada Jalur Gunung Gumitir.

Metode penelitian yang digunakan adalah survey. Berdasarkan jenisnya penelitian ini bersifat deskriptif observasional. Subjek penelitian adalah sepanjang jalur jalan penghubung Banyuwangi–Jember yang terletak pada Desa Kalibaru Manis Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwangi dan Desa Sidomulyo Kecamatan Silo Kabupaten Jember. Identifikasi tingkat kerentanan longsor dihitung berdasarkan pengharkatan beberapa variabel yaitu kemiringan lereng, pemusatan mata air, tingkat pelapukan tanah, kerapatan kekar, kedalaman pelapukan, struktur lapisan batuan, permebilitas tanah, indeks plastisitas, tekstur tanah, penggalian tebing dan vegetasi penutup.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian terbagi menjadi tiga kriteria tingkat kerentanan longsor yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Tingkat kerentanan longsor tinggi mendominasi dengan panjang jalur 3,3 km pada satuan lahan V321. 2. Tomb1. H (Km 34–Km 37 + 4). Tingkat kerentanan longsor sedang terdapat pada satuan lahan V12. 2. Qpvk2. Kb (Km 40 + 6–Km 41), V12. 2. Qpvk2. B/S (Km 39 + 4–Km 40 + 6), V321. 2. Tomb1. B/S (Km 38 + 5–Km 39 + 4), dan V321. 1. Tomb1. Kb (Km 37 + 7–Km 38 + 2) dengan panjang jalur 3 km. Sedangkan tingkat kerentanan longsor rendah pada satuan lahan (Km 32 + 7–Km 34 + 1 dan Km 37 + 4–Km 37 + 7) dengan panjang jalur 1,7 km. Penggalian tebing, kemiringan lereng, dan tekstur tanah merupakan faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi tingkat kerentanan longsor pada Jalur Gunung Gumitir. Hal ini disebabkan, banyaknya alih fungsi lahan dari hutan menjadi perkebunan, jalan, dan bangunan rumah makan.