SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbandingan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Problem solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Pelestarian Lingkungan Hidup Siswa XI IPS MAN 3 Malang

AYLA YULI ROKHMAN

Abstrak


ABSTRAK

 

Rokhman, Ayla Yuli. 2014. Perbandingan Model Pembelajaran Problem Based Learning dan Problem solving Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Pada Materi Pelestarian Lingkungan Hidup Siswa XI IPS MAN 3 Malang. Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Sudarno Herlambang, M.Si, (II) Bagus Setiabudi Wiwoho, S. Si, M.Si

 

Kata kunci:  Problem Based Learning, Problem Solving, Berpikir Kritis.

 

Problem based learning dan problem solving merupakan model pembelajaran kontekstual yang menganut paradigma konstruktivistik yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa.  Paradigma kontruktivistik menekankan peran aktif siswa dalam membangun sendiri pengetahuan yang ada pada dirinya. Berpikir kritis adalah kegiatan berpikir yang dilakukan dengan mengoperasikan potensi intelektual untuk merumuskan masalah, memberikan argumen, dan melakukan evaluasi. Pada tahapan model pembelajaran problem based learning dan problem solving  mengkondisikan siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir setahap demi setahap mulai dari mendefinisikan masalah, mencari data, menganalisis, kemudian menyuguhkan alternatif. Berdasarkan proses model problem based learning dan problem solving  mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Rumusan masalah penelitian ini adalah apakah ada perbedaan model pembelajaran problem based learning dan problem solving terhadap kemampuan berpikir kritis. Jenis penelitian ini quasi eksperiment, subjeknya siswa kelas XI IPS MAN 3 Malang. Subjek penelitian ditentukan dari hasil tes kemampuan berpikir kritis dengan perolehan nilai rata-rata yang hampir sama, yaitu XI IPS 1 (72), XI IPS 2 (70), XI IPS 3 (88). XI IPS 1 sebagai kelas eksperimen 1 (problem solving) dan XI IPS 2 sebagai kelas eksperimen 2 (problem based learning). Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa  menggunakan tes dilaksanakan setelah mendapatkan perlakuan (posttest). Analisis  data pada menggunakan statistik parametrik uji-t kemudian melihat rata-rata nilai untuk mengetahui apakah ada perbedaan atau tidak kemampuan berpikir kritis menggunakan model problem based learning dan problem solving.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan berpikir kritis antara kedua kelas eksperimen baik yang menggunakan model pembelajaram problem based learning dan problem solving pada materi pelestarian lingkungan hidup. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka model pembelajaran problem based learning dan problem solving dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis termasuk keterampilan sosial, motivasi, inquiri, dan memecahkan masalah pada materi pelestarian lingkungan hidup. Guru  dalam menerapkan model ini perlu  memperhatikan alokasi waktu, kondisi kelas, dan memantau setiap kelompok agar tidak ada kelompok yang kesulitan saat diskusi. Sekolah hendaknya menyediakan fasilitas wifi, buku-buku, artikel, koran yang relevan di perpustakaan.