SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Aplikasi Model ArcSWAT 2009 untuk Perhitungan Erosi dan Sedimentasi pada Sub Daerah Aliran Sungai Metro Hulu

Arief Abdurrahman Hakim

Abstrak


ABSTRAK

 

Hakim, Arief Abdurrahman. 2012. Aplikasi Model ArcSWAT 2009 untuk  Perhitungan Erosi dan Sedimentasi pada Sub Daerah Aliran Sungai  Metro Hulu. Skripsi, Jurusan Geografi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Bagus Setiabudi Wiwoho, S.Si., M.Si., (II) Drs. Rudi Hartono, M.Si.

 

Kata Kunci: ArcSWAT 2009, sub DAS Metro Hulu, erosi, sedimentasi

 

Sub DAS Metro Hulu merupakan bagian dari sistem DAS Brantas yang masuk dalam kategori DAS Kritis Prioritas I berdasarkan surat keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan nomor 284/Kpts-II/1999. Alih fungsi lahan yang tidak sesuai peruntukannya menjadi faktor utama terhadap penurunan daya dukung lingkungan di sub DAS Metro Hulu. Letaknya yang terbagi ke dalam 3 (tiga) wilayah administratif, membuka peluang terjadinya kerancuan kebijakan pengelolaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif yang tidak terikat pada batasan administratif dalam pengelolaan sebuah kawasan DAS.

Model ArcSWAT 2009 digunakan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran erosi dan sedimentasi yang terjadi sebagai indikator kualitas lingkungan DAS. Perangkat pemodelan ini bekerja dengan satuan unit penelitian berupa sebuah DAS.  Perhitungan erosi dan sedimentasi dengan menggunakan model simulasi ArcSWAT 2009 merupakan sesuatu yang baru sehingga perlu dikembangkan untuk mengetahui tingkat akurasinya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan bersifat non eksperimental karena data yang digunakan telah tersedia. Bentuk penelitian ini berdasarkan tujuan yang akan diperoleh bersifat deskriptif. Pada penelitian ini sepenuhnya menggunakan data sekunder berupa curah hujan harian, temperatur maksimum-minimum, data debit aliran, data jenis tanah, data penggunaan lahan. Data jenis tanah dan penggunaan lahan memiliki data parameter-parameter fisik dan kimia yang tidak seluruhnya tersedia untuk wilayah penelitian ini, sehingga harus dikombinasikan dengan data bawaan dari ArcSWAT 2009. Diperlukan data pembanding dari hasil pengukuran lapangan untuk menguji keakuratan hasil simulasi. Pada penelitian ini, data lapangan yang berhasil diperoleh hanya data debit aliran dari Dam Mergan.

Keterbatasan data pengukuran lapangan dalam penelitian ini menyebabkan hasil simulasi untuk erosi dan sedimentasi tidak dapat dibandingkan untuk menguji keakuratannya. Nilai yang dibandingkan dalam penelitian ini hanya besaran debit aliran, dengan asumsi bahwa apabila debit aliran simulasi mendekati kenyataan lapangan, maka besaran erosi dan sedimentasi yang terjadi juga akan mendekati kenyataan.

Hasil uji beda menggunakan metode uji T dua jalur dengan ragam populasi heterogen terhadap data debit hasil simulasi dan hasil pengukuran dari tahun 2004 hingga 2010 memberikan hasil t Stat selalu lebih kecil dari t Crit, baik pada taraf signifikansi 85%. 90%, dan 95%. Taraf signifikansi 85% menghasilkan t Stat (1.480) ≤ t Crit (1.538), taraf signifikansi 90% menghasilkan nilai t Stat (1.480) ≤ t Crit (1.782), dan pada taraf signifikansi 95% t Stat (1.480) ≤ t Crit (2.179). Dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara data debit hasil simulasi dengan debit hasil pengukuran lapangan.

Hasil simulasi ArcSWAT 2009 untuk erosi cenderung fluktuatif setiap tahunnya. Nilai total erosi tahunan terkecil terjadi pada tahun 2005, yakni sebesar 11,27 ton/ha/tahun. Sedangkan nilai erosi terbesar terjadi pada tahun 2001, yakni sebesar 221,23 ton/ha/tahun. Nilai erosi pada tahun 2001 sangat jauh di atas rata-rata tahun lainnya yang berada pada kisaran 11,27-21,04 ton/ha/tahun. Hal ini mengindikasikan kemungkin anomali pada basis data yang digunakan. Apabila mengacu pada ketentuan laju kehilangan tanah yang dapat ditolerir sebesar 12,5 ton/ha, maka hampir seluruh erosi yang terjadi tiap tahunnya berada di atas ambang batas tersebut. Kecuali pada tahun 2005 yang berada di bawah batas toleransi kehilangan tanah, yakni sebesar 11,27 ton/ha.

Pemodelan terhadap sedimentasi menggunakan model ArcSWAT 2009 memberikan hasil yang memiliki pola serupa dengan nilai erosi. Pada tahun 2001, terjadi sedimentasi sebesar 16.315.979 metrik ton. Hal tersebut jauh diatas besaran sedimentasi untuk tahun-tahun lainnya yang berkisar antara 1.450.411-725.712 metrik ton.

Model ArcSWAT 2009 membutuhkan data yang sangat besar untuk menghasilkan keluaran yang akurat. Apabila akan dilakukan penelitian sejenis, hendaknya memperhatikan ketersediaan data untuk wilayah yang akan dijadikan subyek penelitian.