SKRIPSI Jurusan Geografi - Fakultas Ilmu Sosial UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbandingan Kondisi Sosial Ekonomi Petani Buah Belimbing Lahan kering dan Lahan Basah di Kabupaten Tulungagung (Studi Kasus di Kecamatan Rejotangan dan Kecamatan Boyolangu)

Sri Rahayu Mardining Tyas

Abstrak


ABSTRAK

 

Mardiningtyas, Sri Rahayu. 2012. Perbandingan Kondisi Sosial Ekonomi Petani Buah Belimbing Lahan Kering dan Lahan Basah di Kabupaten Tulungagung (Studi Kasus di Kecamatan Rejotangan dan Boyolangu). Skripsi, Jurusan Geografi FIS Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Yuswanti Ariani Wirahayu, M.Si.  (II) Satti Wagistina S.P, M.Si

 

Kata kunci: kondisi sosial, kondisi ekonomi, lahan basah, lahan kering, Kecamatan Rejotangan, Kecamatan Boyolangu

Di Kabupaten Tulungagung terdapat dua kecamatan yang menjadi sentra produksi buah belimbing, yakni Kecamatan Rejotangan dan Kecamatan Boyolangu. Lahan yang digunakan untuk membudidayakan buah belimbing di kedua kecamatan berbeda yakni untuk Kecamatan Rejotangan merupakan lahan kering (tegal atau pekarangan) dengan pengairan menggunakan diesel, sedangkan kecamatan Boyolangu lahan basah yang sebelumnya merupakan sawah, pengairan di lahan ini menggunakan irigasi yang teratur bekas irigasi sawah. Jarak lokasi antara satu kecamatan dengan kecamatan lainnya ini cukup jauh, Kecamatan Rejotangan berada paling timur Kabupaten Tulungagung sekaligus perbatasan dengan Kabupaten Blitar, Kecamatan Boyolangu lebih dekat dengan ibukota Kabupaten Tulungagung. Petani buah belimbing di Kecamatan Rejotangan lebih lama daripada Kecamatan Boyolangu akan tetapi produktivitas dan pendapatan yang diterima lebih besar Kecamatan Boyolangu. Di kedua kecamatan terdapat sekolah lapang maupun penyuluhan namun petani di Kecamatan Boyolangu lebih aktif daripada Kecamatan Rejotangan. Petani di Kecamatan Boyolangu mengolah hasil panen buah belimbing yang cacat untuk dijadikan produk olahan sedangkan untuk Kecamatan Rejotangan tidak ada pengolahan, hasil panen langsung dijual seluruhnya kepada tengkulak.

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan perbandingan kondisi sosial ekonomi petani buah belimbing lahan kering dan lahan basah di Kabupaten Tulungagung (Studi kasus di Kecamatan Rejotangan dan Kecamatan Boyolangu).

Penelitian ini termasuk dalam penelitian deskriptif  kuantitatif  dengan metode survey, berdasarkan atas pertimbangan bahwa peneliti ingin mengemukakan fenomena-fenomena sosial yang sesuai dengan kondisi di daerah penelitian. Penelitian ini mendeskripsikan secara sistematis mengenai perbandingan kondisi sosial ekonomi petani buah belimbing di Kabupaten Tulungagung. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, analisi data yang digunakan adalah tabulasi tunggal dan tabulasi silang.

Hasil penelitian menunjukkan kondisi sosial ekonomi petani buah belimbing di lahan kering (Kecamatan Rejotangan) dan lahan basah (Kecamatan Boyolangu) di Kabupaten Tulungagung berbeda. kondisi sosial terdiri atas pendidikan, beban tanggungan keluarga, dan waktu kerja untuk kondisi ekonomi terdiri atas pendapatan, produktivitas, biaya produksi, dan luas lahan. Pada umumnya pendidikan petani buah belimbing di Kecamatan Rejotangan masih lulusan SD, keikutsertaan petani dalam penyuluhan dan sekolah lapang kurang aktif. Beban tanggungan keluarga petani buah belimbing pada umumnya lebih dari lima orang. Lama kerja petani lebih dari sepuluh tahun dengan waktu kerja setiap hari dan curahan waktu kurang dari tujuh jam perhari. Luas lahan petani buah belimbing di Kecamatan Rejotangan lebih dari 0,05 ha dengan biaya produksi kurang dari Rp 300.00,00 per bulan. Produktivitas panen kurang dari 700 kg per panen untuk tiap pohon menghasilkan rata-rata 14,5 kg/pohon, masing-masing pohon terdiri atas grade A 9,55 kg, grade B 3,03 kg, dan grade C 1,89 kg. Pendapatan yang diterima dari bertani buah belimbing kurang dari UMK Kabupaten Tulungagung oleh sebab itu petani buah belimbing di Kecamatan Rejotangan bekerja di sektor lain. Sedangkan petani buah belimbing di Kecamatan Boyolangu tingkat pendidikan formal yang telah ditempuh pada umumnya SMP, keikutsertaan petani dalam sekolah lapang dan penyuluhan termasuk aktif. Beban tanggungan keluarga kurang dari lima orang. Lama kerja petani buah belimbing di Kecamatan Boyolangu kurang dari sepuluh tahun dengan waktu kerja setiap hari dan curahan waktu lebih dari tujuh jam per hari. Luas lahan yang dimilliki petani pada umumnya lebih dari 0,05 ha. Biaya produktivitas lebih dari Rp 300.000,00 per bulan dengan produktivitas lebih dari 700 kg per panen. Tiap pohon menghasilkan rata-rata 21 kg yang terdiri atas grade A sebesar 15 kg, grade B 4 kg, dan grade C 2 kg. Pendapatan yang diterima lebih dari UMK Kabupaten Tulungagung.