Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesadaran Diri Karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap Budaya Organisasi

Andreas Dosiam Laksono Arpasat

Abstrak


KESADARAN DIRI KARYAWAN PT. PEMBANGKITAN JAWA BALI

UNIT BISNIS DAN OPERASI LUAR JAWA TERHADAP BUDAYA

ORGANISASI PERUSAHAAN IPJB WAY

Andreas Dosiam Laksono Arpasat; Gamma Rahmita Ureka Hakim

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

Email: andreasdosi23@gmail.com

Abstrak:  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran diri yang dimiliki karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap budaya organisasi IPJB Way. Kesadaran diri yang akan diteliti berfokus pada kerangka kerja kesadaran yang meliputi perhatian (attention), kesiagaan (wakefulness), Arsitektur (architecture), mengingat pengetahuan (recall of knowledge), pengetahuan diri (self-knowledge), Emotif (emotive). Model yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode studi kasus. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi terpimpin, observer sebagai partisipan. Kemudian teknik analisis data menggunakan teknik analisis isi kualitatif tematik. Sedangkan pengecekan keabsahan temuan menggunakan metode triangulasi data. Penelitian dilaksanakan di PT. Pembangkitan Jawa Bali dengan partisipan sebanyak tiga orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi sudah terpenuhi dan memiliki kesadaran diri baik, sangat baik dan baik untuk tiap partisipan. Penelitian ini diharapkan mampu untuk menggambarkan kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi. Untuk perusahaan dapat memiliki jadwal dalam mensosialisasikan budaya organisasi IPJB Way dengan rutin agar setiap karyawan dapat memahami dan mengetahui nilai – nilai yang ada di dalam budaya organisasi, serta membuat pelatihan atau program yang bertujuan untuk membantu karyawan dalam mengimplementasikan budaya organisasi yang belum berjalan

Kata Kunci: kesadaran diri, budaya organisasi

Abstract: The study aims to determine the self-awareness of employees of PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa to IPJB Way's organizational culture. Self-awareness that will be examined focuses on the framework of awareness which includes attention, wakefulness, architecture, remembering knowledge, self-knowledge, Emotive. The model used in this study is a case study method. Data collection uses semiguided interviews, observers as participants. Then the data analysis technique uses thematic qualitative content analysis techniques. While checking the validity of the findings using the data triangulation method. The research was conducted at PT. Pembangkitan Jawa Bali with three participants. The results of the study show that employees' self-awareness of organizational culture has been fulfilled and has good self-awareness,  very good and good for each participant. This research is expected to be able to describe employees' self-awareness of organizational culture. For companies, they can have a schedule in socializing IPJB Way's organizational culture routinely so that each employee can understand and know the values that exist in organizational culture, as well as create training or programs that aim to help employees implement an organizational culture that has not yet been

Keywords: self awareness, organizational culture

PENDAHULUAN

Organisasi adalah perserikatan orang yang usahanya harus dikoordinasikan, tersusun dari sejumlah sub sistem yang saling berhubungan dan saling tergantung, bekerjasama atas dasar pembagian kerja, peran dan wewenang, serta mempunyai tujuan tertentu yang hendak dicapai. Menurut Robbins dan Judge (2008) pengertian dari organisasi adalah sebuah unit sosial yang dikoordinasi secara sadar terdiri atas dua orang atau lebih, dan memiliki batasan – batasan yang dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan atau keyakinan yang telah ditetapkan oleh organisasi. Tujuan yang hendak dicapai dari fungsi organisasi yaitu dapat meningkatkan kesejahteraan anggota organisasi.

Organisasi memiliki pola kepercayaan dan nilai yang dikembangkan selama organisasi di bentuk. Robbins, dalam bukunya Organizational Behavior (2012) menyatakan bahwa budaya organisasi atau perusahaan mengacu pada sistem yang memiliki makna dan disusun secara bersama serta dipegang oleh setiap anggota yang bertujuan membedakan organisasinya dan organisasi lain.

Budaya organisasi adalah cara – cara berpikir, berperasaan, dan bereaksi berdasarkan pola – pola tertentu yang ada dalam organisasi atau yang ada pada bagian – bagian organisasi (Munandar, 2014). Budaya organisasi perusahaan merupakan pakaian bagi setiap organisasi. Di mana setiap pakaian tersebut akan menjadi identitas bagi organisasi tersebut dan akan menjadi salah satu bahan penilaian pihak eksternal ataupun unsur yang berhubungan dengan organisasi tersebut kepada organisasi (Tampubolon, 2012).

Budaya organisasi berfungsi sebagai dasar pembentuk perilaku dari setiap organisasi bahwa budaya organisasi dapat membuat orang berpikir sehat dan masuk akal serta budaya organisasi meningkatkan stabilitas sistem sosial dan mencerminkan bahwa lingkungan kerjanya merupakan lingkungan yang memberikan dampak positif sehingga setiap konflik maupun perubahan di dalamnya dapat dikelola dengan baik dan efektif sehingga tidak menimbulkan gejolak di dalamnya (Kreitner dan Kinicki 2001, dalam Wibowo, 2013).

Tosi dan Rizzo (1994) mengemukakan setiap organisasi selalu melakukan interaksi dengan lingkungan di sekitarnya. Penyelesaian dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh masing – masing individu merupakan implementasi dari nilai, norma, dan keyakinan yang berlaku dalam sebuah organisasi. Keberhasilan menyelesaikan permasalahan yang ada merupakan dasar bagi tumbuhnya budaya  organisasi.

Mathis dan Jackson (2001), mengemukakan berhasil tidak suatu organisasi dalam pencapaian tujuan akan banyak ditentukan oleh kesadaran individu – individu dalam menjalankan tugas yang diembannya, sebab sumber daya manusia merupakan pelaksana kegiatan dalam rangka pencapaian tujuan. Manusia dalam melaksanakan aktivitas membutuhkan kemampuan agar dapat melaksanakan dengan memfokuskan perhatian pada tugas dan berfokus pada diri sendiri agar timbul pemahaman tentang potensi pada diri dan mengetahui apa yang akan dilakukan dan mengapa melakukan hal tersebut serta dapat mengetahui kemampuan serta potensi yang dimiliki guna menjalankan pekerjaan.

Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting dalam menjalankan tugas dan kewajiban perusahaan untuk mencapai keberhasilan perusahaan. Namun, sumber daya manusia dapat memberikan kinerja yang maksimal dipengaruhi kesadaran diri tiap individu untuk menjalankan tugas, ketika individu memiliki kesadaran diri, individu dapat mengetahui kemampuan yang ada di dalam diri dan potensi yang akan digunakan untuk membantu dalam menyelesaikan permasalahan  yang timbul ketika bekerja. Nilai yang terdapat dalam diri tiap individu tentunya tidak dapat membantu secara menyeluruh ketika ada permasalahan, maka perusahaan memiliki budaya organisasi yang diciptakan, ditemukan dan dikembangkan dalam upaya untuk mengatasi masalah dalam beradaptasi dengan nilai – nilai eksternal dan mengintegrasi perilaku serta standar kerja di internal perusahaan.

Goleman (2001), mengemukakan kesadaran diri adalah kemampuan dalam mengenali perasaan atau memahami diri sendiri sewaktu suatu kejadian terjadi.  Kesadaran diri merupakan dasar dari kecerdasan emosional. Sedangkan Abraham Maslow dalam Teori Humanistik mengemukakan tentang kesadaran diri adalah mengerti dan memahami siapa diri kita, bagaimana menjadi diri sendiri, apa potensi yang kita miliki, gaya apa yang anda miliki, apa langkah yang diambil, apa yang dirasakan, nilai apa yang kita miliki dan yakini, kearah mana perkembangan kita akan menuju.

Budaya organisasi memiliki pola tertentu yang membuat anggota memiliki nilai, keyakinan, cara berfikir dan berperilaku dalam menjalankan tugas dan kewajiban, maka setiap individu harus memiliki kesadaran diri menginternalisasikan dan mengimplementasi nilai - nilai yang terdapat di dalam budaya organisasi kedalam cara bekerja dan menjadi pedoman dalam mengevaluasi perilaku selama bekerja.

Berdasarkan Peraturan Direksi PT Pembangkitan Jawa Bali Nomor 011.P/019/DIR/2018 tentang PJB Way sebagai budaya perusahaan di lingkungan PT Pembangkitan Jawa Bali, PJB Way sebagai budaya perusahaan terdiri atas 3 (tiga) elemen, yaitu : spirit (basic belief) yang merupakan keyakinan dasar seluruh Berkarya, Mengabdi, dan Beribadah; tata nilai inti (core values) PJB Way, yaitu Integrity, Professional, Joint Collaboration, Business Excellence; perilaku utama (key behavior) yang merupakan unsur dari tata nilai inti PJB Way dalam bentuk standar perilaku praktis seluruh karyawan PJB.

Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuskan pada kesadaran diri karyawan PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa terhadap budaya organisasi yaitu IPJB Way, diharapkan dengan dilakukan penelitian ini akan diperoleh konsep mengenai bagaimana kesadaran diri karyawan terhadap budaya organisasi PJB Way.

METODE

Penelitian kualitatif yang dilakukan peneliti menggunakan model penelitian studi kasus (case studies). Tujuan dari penelitian studi kasus ini adalah suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari suatu “sistem yang saling terkait satu sama lain” (bounded system) pada beberapa hal dalam satu kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan konteks. (Creswell, 1996). Cresswell (1998,  dalam Herdiansyah, 2015) menjelaskan yang dimaksud dengan sistem yang saling terkait adalah adanya kaitan dalam hal waktu dan tempat serta batasan dalam kasus yang diteliti.

Subjek yang diteliti adalah karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa khususnya Junior Officer dan Assistant Officer yang ditetapkan sebagai karyawan tetap kurang dari 2 tahun dan sosialisasi budaya organisasi IPJB Way dilaksanakan ketika subjek melaksanakan on the job training. Jumlah subjek dalam penelitian ini berjumlah 3 orang yang terdiri dari 3 perempuan. Subjek dipilih berdasarkan laporan penilaian keefektifan program internalisasi IPJB Way bahwa terdapat nilai cukup terhadap beberapa karyawan setelah dilakukan penilaian terhadap seluruh karyawan. Selain hasil dari penilaian program internalisasi peneliti melakukan observasi terhadap subjek dan diperoleh gambaran bahwa beberapa perilaku subjek tidak mencerminkan budaya organisasi PJB Way, perilaku yang nampak yaitu karyawan pada saat jam Dhuhur dan Ashar tidak segera meninggalkan pekerjaannya untuk kemudian melakukan sholat berjamaah dengan karyawan PT Pembangkitan Jawa Bali lainnya. Selain itu, pada saat diadakannya rapat internal dan acara formal pada Unit Bisnis Jasa dan Operasi Luar Jawa 2, karyawan jarang bahkan tidak pernah mengucapkan salam transformasi, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars PJB dan berdoa serta karyawan meninggalkan kantor diwaktu jam kerja dengan kegiatan yang diluar kepentingan kantor, kembali dari jam istirahat melebihi jam yang telah ditentukan oleh kantor.

Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data dengan wawancara semi terpimpin dengan cara pewawancara memasuki sesi wawancara dengan membawa rencana eksplorasi tentang topik-topik spesifik dan mengajukan pertanyaan terbuka terbatas kepada partisipan (Hanurawan, 2016). Peneliti juga melakukan observasi kepada partisipan. Jenis observasi yang digunakan adalah observer sebagai partisipan. Johnson dan Christiensen (dalam Hanurawan, 2016) mengemukakan jika observer sebagai partisipan adalah peneliti tinggal dalam waktu terbatas dalam melakukan observasi terhadap subyek yang diteliti. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis isi tematik kualitatif. Teknik analisis ini adalah analisis makna berdasarkan isi yang berhubungan kategori kategori yang ada dalam konsep yang di teliti oleh peneliti serta melakukan penelaahan terhadap pola – pola menonjol dalam data yang terkumpul sehingga dapat dilakukan interpretasi suatu kesimpulan (proposisi) sebagai hasil penelitian (Hanurawan, 2016).

Peneliti menggunakan verifikasi hasil melalui metode triangulasi dengan mencari data yang tidak hanya dari subyek tetapi juga dari orang – orang yang dekat dengan subyek yang disebut dengan significant other. Dengan tujuan menjadikan data yang dihasilkan menjadi semakin sah. Diharapkan significant other tersebut menambah kekayaan yang tidak hanya didapat dari subyek saja. (Hanurawan, 2016). Tujuan dari significant other ini adalah untuk memverifikasi kesimpulan awal yang didapat dari proses analisis data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan awal

PEMBAHASAN

Hasil penelitian menggambarkan bahwa kesadaran diri karyawan dari temuan penelitian yang didapat peneliti, ketiga subjek memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi IPJB Way. Ketiga subjek dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan yang mewakili tiap aspek kesadaran diri dan dari hasil wawancara diperkuat oleh informasi yang didapat dari rekan kerja subjek tentang pemahaman kesadaran diri subjek terkait dengan budaya organisasi.

Perubahan budaya organisasi mendorong karyawan untuk selalu mengevaluasi perilaku selama bekerja yang memiliki dampak terhadap kemajuan perusahaan, perubahan yang terlihat secara jelas dari perubahan budaya organisasi IKKPS menjadi IPJB adalah kenaikan surplus perusahaan yang mana nilai business excellent sangat berpengaruh di dalam perubahan budaya organisasi. Maka

perusahaan perlu mengevaluasi dan mengembangkan budaya organisasi sesuai dengan kebutuhan dan permasalahan yang ada di dalam perusahaan. Perubahan budaya organisasi memang tidak mudah dilakukan, namun perubahan perlu dilakukan guna membentuk pola perilaku. Pengembangan sistem dan metode sosialisasi budaya organisasi secara baik akan mempermudah dalam melakukan perubahan.

Budaya organisasi IPJB merupakan budaya organisasi yang baru berjalan kurang lebih 2 tahun, masih banyak hal yang perlu diperbaiki agar budaya organisasi IPJB  Way dapat terinternalisasi di setiap karyawan. Metode sosialisasi budaya perusahaan perlu mengalami pengembangan dan perbaikan, perlunya penilaian yang lebih rinci untuk menilai sejauh mana nilai yang sudah terinternalisasi dan yang belum serta pelatihan terhadap karyawan yang nilai di dalam budaya organisasi tidak dapatw terinternalisasi dengan baik karena faktor jabatan, masih banyak nilai – nilai yang tidak dapat terinternalisasi dengan baik karena adanya batasan dari jabatan karyawan. Pengembangan IPJB masih belum diperlukan, namun perusahaan lebih fokus dalam memperbaiki cara – cara mensosialisasikan IPJB ke karyawan serta membuat penilaian yang lebih rinci dan jelas serta mengawasi jalannya penilaian.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa ketiga subyek memiliki kesadaran diri yang baik dan sangat baik. Subjek AY memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi dengan baik, subjek memahami nilai – nilai budaya organisasi dalam bentuk perilaku yang dapat diamati. Nilai dari budaya organisasi yang berkesan dan menjadi arah dalam bekerja adalah nilai jujur dan professional. Budaya organisasi IPJB Way mendorong subjek untuk bekerja dan mengarahkan kedalam perilaku yang lebih baik dan menurut subjek budaya organisasi IPJB Way sebagai sekumpulan nilai – nilai yang baik yang berbentuk pedoman berperilaku saat bekerja.

Nilai integritas, professional dan joint collaboration merupakan nilai yang sering digunakan oleh subjek dalam membantu selama bekerja, nilai – nilai itu sesuai dengan jabatan dan kebutuhan subjek sehingga mudah untuk diimplementasikan. Subjek menjelaskan bahwa tidak semua karyawan telah mengimplementasikan budaya organisasi, hal yang menjadi pengaruhi yaitu perbedaan generasi budaya organisasi dan adanya batasan di dalam jabatan. Selanjutnya budaya organisasi IPJB Way membentuk perasaan dan emosi yang positif sehingga mendorong orang untuk bekerja semakin baik dan mengembangkan cara bekerja untuk selalu mimikirkan kepentingan perusahaan dan dampak yang terjadi jika subjek melakukan kesalahan. Dan untuk nilai budaya organisasi yang mudah diterapkan menurut subjek adalah joint collaboration karena tuntutan jabatan dan juga merupakan nilai yang membantu subjek dalam berinteraksi dan bekerja sama dengan pihak eksternal, serta menurut subjek pengimplementasian budaya  organisasi tergantung sebesar apa effort yang dikeluarkan tiap individu dan sejauh mana individu memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi yang berlaku.

Selanjutnya, subjek VI memiliki kesadaran diri yang sangat baik diantara kedua subjek lainnya, pergantian budaya organisasi IKKPS menjadi IPJB menjadi perhatian khusus subjek. Subjek menyatakan bahwa budaya organisasi IPJB Way menjadi spirit dalam bekerja dan menjadi penyemangat serta menurut subjek bekerja tidak hanya untuk diri sendiri namun untuk kepentingan perusahaan, Negara, dan menjadi ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya subjek memiliki ketertarikan terhadap budaya organisasi sehingga sikap, perilaku dan tatanilai yang ada dalam IPJB Way harus tertanaman di dalam dirinya sehingga budaya organisasi menjadi landasan dalam bersikap dan berperilaku serta menjadi penyemangat dalam bekerja sebgai keyakinan dasar.

Nilai – nilai yang mudah untuk diimplementasikan merupakan nilai yang sesuai dengan diri dan jabatan subjek dalam menunjang bekerja. Nilai integritas dan professional menurut subyek sudah harus di miliki oleh tiap karyawan karena nilai integritas dan professional terdapat di dalam setiap diri karyawan dan sebagai nilai dasar untuk menjadi standar perilaku. Budaya organisasi IPJB Way mendorong subjek untuk memperbaiki cara bekerja untuk dapat bekerja secara cepat, cerdas dan lebih inovatif. Subjek berpendapat bahwa nilai budaya organisasi yang mudah di implementasikan adalah integritas karena setiap karyawan memiliki integritas serta adanya program yang berjalanan tiap minggu yang membantu karyawan untuk lebih mudah memahami nilai – nilai budaya organisasi.

Selanjutnya, subjek SE memiliki kesadaran diri yang baik terhadap budaya organisasi IPJB Way. Subjek menjelaskan bahwa hal yang berkesan dari IPJB Way adalah sebagai landasan dalam menjalani aktivitas di dalam kantor dari awal masuk hingga pulang. Nilai – nilai yang membantu subjek dalam bekerja adalah joint collaboration dan integrity. Joint collaboration mendorong partisipan untuk tidak takut berinteraksi dengan rekan kerja dan pihak eksternal, partisipan di dorong untuk memperbaiki komunikasi secara terus menerus sehingga join collaboration dapat tercapai. Pada nilai integrity, partisipan didorong untuk menjunjung tinggi amanah, etika dan tata kelola perusahaan yang baik sehingga partisipan dapat bekerja sesuai dengan job desk partisipan dan bekerja secara professional dengan  mengetahui kapan waktu teman dan kapan waktu sebagai rekan kerja ketika ada pekerjaan.

Budaya organisasi IPJB Way membantu dalam merefleksikan diri untuk lebih terarah daan memiliki batasan untuk bertindak tanpa didasari rasa terpaksa namun karena ada rasa bangga dan senang terhadap budaya organisasi sehingga dapat sebagai penggaris yang bertujuan untuk mengevaluasi perilaku ketika bekerja. Selanjutnya subjek SE mengungkapkan bahwa budaya organisasi yang mudah dilakukan dan efektif adalah integritas dan professional karena hal tersebut dimulai dari diri sendiri tanpa diperlukan effort yang besar namun hal itu tergantung oleh tiap individu.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesadaran diri karyawan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Operasi Luar Jawa terhadap Budaya Organisasi IPJB Way memiliki nilai yang baik pada subjek AY, sangat baik pada subjek VI dan baik pada subjek SE. Nilai – nilai yang terdapat di dalam budaya organisasi IPJB Way, perlu dikembangkan lebih baik lagi untuk membantu karyawan dalam bekerja dan mencapai visi dan misi perusahaan. Metode dalam mensosialisasikan budaya organisasi perlu tinjau ulang untuk kefektifan dalam membantu karyawan memahami nilai – nilai yang ada.

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan analisis data dan pembahasan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Kesadaran diri karywan PT. Pembangkitan Jawa Bali Unit Bisnis dan Jasa Luar Jawa dapat disimpulkan bahwa ketiga subjek memiliki kesadaran diri terhadap budaya organisasi IPJB Way, ketiga subjek dapat menjelaskan pertanyaan yang mewakili tiap aspek kesadaran diri dengan rinci dan

jelas. Subjek AY memiliki kesadaran diri yang baik terhadap budaya organisasi. Subjek VI memiliki kesadaran diri yang sangat baik terhadap budaya organisasi dan subjek SE memiliki kesadaran diri yang baik. Subjek VI memiliki kesadaran diri lebih baik dari subjek AY dan SE. Subjek VI memahami budaya organisasi dalam nilai spirit atau nilai yang paling dalam dan menjadi dasar pembentuk tata nilai inti dan perilaku utama.

Saran

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, berikut ini adalah beberapa saran yang dapat dipertimbangkan, baik bagi peneliti selanjutnya maupun perusahaan

1. Saran bagi perusahaan

a. Diharapkan perusahaan agar lebih memiliki jadwal dalam mensosialisasikan budaya organisasi PJB Way dengan rutin agar setiap karyawan dapat mengetahui nilai – nilai yang terdapat dalam PJB Way.

b. Diharapkan perusahaan memiliki waktu dalam memberikan pelatihan untuk nilai – nilai yang belum dapat diimplementasikan oleh karyawan

2. Saran bagi karyawan

a. Diharapkan karyawan dapat mengikuti setiap program – program yang telah dirancang oleh perusahaan seperti sosialisasi maupun pelatihan tentang budaya organisasi IPJBWay.

3. Saran bagi peneliti selanjutnya

a. Melakukan observasi yang lebih detail agar hal – hal tidak dapat terungkap melalui proses waawancara dapat diperoleh lebih baik

b. Pemilihan subyek yang lebih beragam dengan jumlah yang lebih banyak sehingga dapat menggambarkan keunikan dari masing – masing partisipan

DAFTAR PUSTAKA

Brahmasari, 2004. Pengaruh Variabel Budaya Perusahaan terhadap Komitmen Karyawan dan Kinerja Perusahaan Kelompok Penerbitan Pers Jawa Pos, Disertasi Universitas Airlangga Surabaya. Dessler, Gary, 2011. Manajemen sumber daya manusia. Penerbit Indeks: Jakarta

Edgar, H. Schein, 1991. Organizational Culture and Leadership, Oxford Jossey San Fransisco: Bass Publisher

Fattah Hanurawan. 2016. Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

Goleman. 2001. Emotional Intelligence. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Harianto, Eko. “ Tujuan Pembentukan Kesadaran Diri” dalam Wordpress,

http://ekoharianto.wordpress.com/2010/01/22/tujuan-pembentukan-kesadarandiri/, diakses tanggal 4 Maret 2019

Herdiansyah. 2015. Metode Penelitian Kualitatif untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: Salemba Humanika

Kreitner dan Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi. Jakarta: Salemba Empat.

Mathis, Jackson. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Salemba Empat

Munandar, A. S. 2014. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)

Pranaya. 2008. Pengaruh Gaya Kepemimpinan yang Ditampilkan oleh Atasan terhadap Kepuasan Kerja Karyawannya: Studi Kasus Karyawan pada PT X. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

PT. Pembangkitan Jawa Bali, Peraturan Direksi Nomor 011.P/019/DIR/2018 tentang PJB Way sebagai budaya perusahaan di lingkungan PT. Pembangkitan Jawa Bali.

PT. Pembangkitan Jawa Bali – Pedoman Budaya Perusahaan - Surabaya – 2018

PT. Pembangkitan Jawa Bali – Pedoman Perilaku (Code of Conduct) – Surabaya - 2018

Robbins, Judge. 2008 . Perilaku Organisasi. Jakarta : Salemba Robbins, Judge. 2012. Organizational Behavior. New Jersey : Prentice Hall Simamora, Henry. 2006. Manajemen Sumberdaya Manusia. Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN

Solso, Maclin, Maclin. 2008. Psikologi Kognitif. edisi kedelapan. Jakarta: Erlangga

Tampubolon, Manahan. 2012. Perilaku Organisasi. Jakarta : Ghalia Indonesia

Taylor, Peplau, Sears. 2012. Psikologi Sosial Edisi Kedua Belas. Jakarta: Kencana

Tosi, Rizzo & Carroll. 1994. Managing Organizational Behavior. Cambridge: Blackwell.

Wibowo. 2013. Perilaku dalam Organisasi.Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada1