Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2019

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

LONELINESS DI KALANGAN BIARAWATI

Caecilia Binanda Rucitra Herestusiwi

Abstrak


LONELINESS DI KALANGAN BIARAWATI

Caecilia Binanda Rucitra Herestusiwi

Imanuel Hitipeuw

Indah Yasminum Suhanti

Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Malang

Email : caeciliarucitra@gmail.com

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna loneliness di kalangan biarawati. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi kepada tiga biarawati berkaul kekal di Biara Karmelites Batu. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis tematik. Keabsahan data dilakukan dengan cek partisipan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan 1 dan 3 terkadang mengalami kesepian, dan partisipan 2 tidak mengalami kesepian. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa loneliness tidak lepas dari kehidupan membiara. Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kata kunci: Loneliness, biarawati, kaul kekal.

 

Abstract

This research aims to know the meaning of loneliness among the nuns. This research was qualitative research with approach of phenomenology. The collection of data using interviews and observations to three nuns who had final vows in Carmelites Batu. Data analysis techniques using the thematic analysis techniques. The validity of the data is done with member check. The results of this study indicate that participants 1 and 3 sometimes experiencing loneliness, and participant 2 not experiencing loneliness. Based on this study it can be concluded that loneliness, was not separated from the monastic life. The meaning of loneliness for participant 1 is to realize the presence of God and to live the life in monastery by praying more. Loneliness for participant 2 means as a surrender to God, more prayer, and reflection. Loneliness for participant 3 means giving self and embracing the call by being closer to God.

Keywords : Loneliness, the nuns, final vows.

Manusia adalah makhluk sosial yang termotivasi untuk melepaskan diri dari kesepian dengan cara berinteraksi dengan manusia lainnya. Dengan kata lain, manusia bisa mengalami kesepian. Hal ini dikarenakan kebutuhan cinta, kepemilikan, keterikatan dan keintiman yang tidak terpenuhi, keterasingan dari diri sendiri, pindah ke wilayah geografis lain, baik ke kota atau negara lain, penyakit kronis, pengangguran, perceraian, dan keterasingan emosional. Kesepian adalah kerinduan yang sangat menyakitkan, kebutuhan untuk terhubung dengan yang lain dan untuk diterima dan dihargai (Rokach, 2004).

Demi tercapainya menjadi seorang suster dalam ajaran agama Katolik maupun bikkhuni dalam ajaran Buddha maka aturan dan tugas yang diberikan kepada seorang biarawati harus dijalani. Peraturan yang mengikat seorang biarawati Katolik adalah 3 (tiga) kaul atau janji suci, yaitu kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemiskinan. Keterikatan biarawati dengan tiga kaul tersebut membuat biarawati memiliki gaya hidup yang unik (Keene, 2006). Selibat adalah kaul yang melekat dengan hidup religius. Cara hidup selibat atau kaul kemurnian dibaktikan terlebih dahulu daripada kaul ketaatan dan kemiskinan. Selibat merupakan kaul yang harus dihidupi secara absolut. Hidup selibat dijalani secara totalitas dan bersifat seumur hidup. Hal ini dikarenakan selibat merupakan ekspresi simbolis kehidupan religius, yaitu pemberian diri tak bersyarat pada Tuhan dengan meniadakan komitmen hidup yang lain seperti pernikahan (Sudiarja, 2003).

Kaul selibat ditandai dengan kekosongan dan kesendirian manusia sebagai individu. Kaul tersebut menjelaskan bahwa individu tidak berkeinginan mengisi diri dengan berbagai hal yang dapat memberikan rasa aman. Kaul selibat menandakan bahwa manusia menghadapi kesunyian dan merasa kesepian. Makna kesepian dan kesunyian akan sangat terasa ketika mereka memulai suatu karya yang baru atau berada di lingkungan yang baru, di mana mereka harus menghadapi suatu keadaan meninggalkan relasi atau hubungan dengan sesama yang sudah lama terjalin. Hal ini merupakan suatu keadaan kritis bagi para biarawan-biarawati, karena terdapat kemungkinan untuk mengalami kesulitan menemukan seseorang yang mampu bersahabat dengan dirinya di lingkungan yang baru (Kleden, 2002).

Bila individu gagal membangun hubungan intim yang memadai, hal ini berakibat pada munculnya perasaan terasing atau kesepian. Artinya, ketika seseorang tidak mampu mengomunikasikan atau berbagi perasaan dengan orang lain, maka seseorang akan cenderung merasa ditinggalkan. Perkembangan dalam masa awal dewasa ini ditandai dengan adanya upaya yang kuat untuk mengembangkan hubungan intim yang nyata dan berarti secara fisik maupun psikologis. Ketiadaan hubungan semacam ini bisa membuahkan rasa putus asa, kesunyian, dan semacam rasa terkucil yang kadang-kadang berlangsung selama hidup individu (Salkind, 2015).

Biara Karmelites Batu dapat dikatakan unik karena tidak bersentuhan dengan dunia luar. Para biarawati di Biara Karmelites memiliki panggilan untuk menjalani hidup kontemplatif dalam klausura yang hening dan sunyi tanpa melakukan pelayanan aktif di luar biara. Klausura sendiri berarti pemisahan diri dari keramaian. Orang lain tidak dapat memasuki area klausura karena sifatnya yang tertutup. Pengunjung dengan tujuan tertentu dapat menemui biarawati, namun sifatnya terbatas. Pertemuan diadakan dalam sebuah ruangan yang dibatasi dengan teralis besi. Selain itu, pemisahan diri dari keramaian membuat biarawati tidak diperbolehkan untuk melakukan kegiatan di luar biara. Jika mendapatkan izin, biarawati yang sakit dapat keluar dari biara untuk mendapatkan pengobatan. Biarawati di Biara Karmelites yang meninggal juga akan dimakamkan di area klausura biara.

Kesepian dapat berpotensi menjadi kekuatan, pengenalan diri, kreativitas, dan pengetahuan diri bagi seseorang. Namun, konsekuensi dari kesepian ketika merasa ditolak, ditekan, dan diabaikan dapat berbahaya bagi kehidupan. Kesepian dapat mendorong seseorang melakukan aktivitas yang merusak. Rasa kesepian dapat merusak perasaan cinta dan keintiman hubungan. Kesepian mencegah seseorang untuk mengalami kesendirian yang kreatif. Kesepian yang tidak dihadapi dan ditangani dengan cara yang benar dapat menciptakan orang-orang yang keras dan tidak peka terhadap orang lain. Kesepian terkait dengan kesehatan dan bahkan kualitas hidup seseorang yang buruk. Kesepian dapat menjadi sangat berbahaya dan berpotensi merusak jika tidak dipahami, diterima, dan diatasi dapat menjadi kekuatan destruktif dalam diri seseorang (Rokach, 2004).

Seseorang yang memilih untuk hidup sebagai biarawati harus menjalani hidup selibat, tinggal jauh dari keluarga, dan mengalami perpindahan. Biarawati khususnya di Biara Karmelites Batu yang hidup kontemplatif dalam klausura terbatas dalam interaksi sosial sehingga mampu memunculkan rasa kesepian. Oleh karena itu, Penulis merasa tertarik untuk mengetahui loneliness di kalangan biarawati di Biara Karmelites Batu.

 

METODE

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Lokasi penelitian dipilih sesuai dengan tema penelitian, yaitu biara kontemplatif dan memiliki sedikit kontak sosial dengan dunia luar seperti biara Karmelites. Terdapat dua biara Karmelites di Indonesia, yaitu di Batu dan Palangka Raya. Wilayah yang dijadikan objek atau sasaran penelitian adalah biara Karmelites pertama di Indonesia, yaitu Biara Karmelites Batu yang terletak tepat di depan Gereja Katolik Gembala Baik Batu, Jalan Ridwan nomor 7, Batu. Partisipan dalam penelitian ini merupakan tiga biarawati berkaul kekal yang ditunjuk oleh kepala biara.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara semi terstruktur. Peneliti juga menggunakan alat bantu rekam untuk memudahkan proses pengolahan data. Peneliti juga melakukan observasi dengan mengamati partisipan saat wawancara berlangsung dan mencatat perilaku yang muncul pada partisipan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis tematik atau analisis makna berdasarkan tema-tema yang menonjol dan berhubungan dengan kategori dalam tujuan penelitian (Hanurawan, 2016). Peneliti melakukan koding dengan cara pengkodean awal (initial coding) yang sesuai untuk semua penelitian kualitatif dan transkrip wawancara (Saldana, 2013). Peneliti mengubah rekaman audio wawancara ke dalam bentuk verbatim. Selanjutnya, peneliti melakukan koding dan kategorisasi data yang sesuai dengan tema-tema dari tujuan penelitian. Peneliti memaparkan data dan temuan penelitian, melakukan pembahasan terhadap data yang kemudian dikaitkan dengan teori. Penelitian ini menggunakan validasi responden, yaitu cek ulang data dengan menunjukkan verbatim serta hasil analisis peneliti terhadap partisipan.

 

HASIL

Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa partisipan 1 dan 3 mengalami loneliness dapat dilihat pada gambar berikut.

Partisipan 1 mengalami loneliness karena pernah mendapatkan penolakan dan merasa salah dimengerti dari sesama biarawati. Sikapnya yang tegas membuatnya ditakuti oleh biarawati lainnya. Akibatnya, partisipan 1 menahan diri untuk tidak bersikap terlalu keras pada sesamanya. Loneliness juga muncul karena partisipan 1 tidak memiliki sosok sahabat di dalam biara. Partisipan 1 merasa dirinya adalah pribadi mandiri dan tidak perlu bergantung pada orang lain. Alhasil, partisipan 1 tidak membuka diri terhadap orang lain. Selain adanya separasi, partisipan 1 juga membatasi hubungannya dengan orang lain di luar biara yang mengunjunginya. Ia juga merasa memiliki hubungan yang kaku dengan laki-laki bahkan sebelum menjadi biarawati.

Partisipan 1 pernah merasa bosan dengan rutinitas di dalam biara. Ia merasa bahwa hidup doanya menjadi kering. Ia juga pernah merasa gelisah di ketika harus berpisah dengan keluarga karena sebelumnya tidak pernah tinggal jauh dari keluarga. Partisipan 1 yang aktif bekerja pernah merasa gelisah ketika menjadi biarawati pendoa. Ia merasa hidupnya kurang bermakna karena berpikir bahwa hidupnya menganggur saja dan doanya tidak menghasilkan apa-apa. Makna loneliness yang muncul pada partisipan 1 adalah ketika menjalani rutinitas di dalam biara yang terkadang menimbulkan rasa jenuh, hidup doanya menjadi kurang.

Loneliness muncul pada partisipan 3 yang juga pernah merasakan penolakan dari sesama biarawati karena kekurangan yang dimilikinya. Partisipan 3 yang berasal dari keluarga berdominan laki-laki juga kerap merasa salah dimengerti di dalam biara. Hal ini dikarenakan ia tidak terbiasa hidup bersama banyak perempuan sehingga membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Selain itu, separasi di dalam biara membuatnya tidak membangun relasi yang spesial dengan biarawati lain. Ketika mengalami kesulitan, ia memilih untuk mencurahkannya lewat doa.

Partisipan 3 juga pernah merasa gelisah. Ia mengalami pergulatan di dalam dirinya sebelum dan sesudah menjadi biarawati. Orang lain menganggap bahwa ia telah memiliki segalanya seperti pasangan, keluarga, dan pekerjaan. Ia harus melepaskan semua ketika menjadi biarawati agar mampu melayani orang lain sesuai panggilannya. Meski telah menjadi biarawati, ia terkadang masih merasakan pergulatan ini. Makna loneliness pada partisipan 3 adalah ia selalu berjuang dalam pergulatannya. Sebelum hidup menjadi biarawati, ia memiliki hidup yang sangat berbeda dengan hidup membiara. Ia memiliki banyak teman dan senang bepergian. Ketika hidup membiara, ia mengalami pergulatan yang harus dihadapinya, yaitu apakah mampu untuk tetap setia.

Ketika mengalami kesulitan, partisipan 2 mampu menyampaikannya pada pembimbing. Partisipan 2 pernah merasakan penolakan ketika dirinya belum mampu bernyanyi dengan baik di dalam biara. Hal ini mendorongnya untuk belajar dan menguasai pekerjaan di dalam biara. Ia juga berpikir bahwa sebelum menjadi biarawati ia telah melalui berbagai rintangan. Oleh karena itu, ia merasa mampu menghadapi segala kesulitan di dalam biara. Partisipan 2 tidak mengalami loneliness karena keinginannya yang begitu kuat untuk menjadi biarawati. Ia juga memiliki tujuan untuk hidup doa, bukan mencari kebahagiaan dari orang lain di dalam biara. Hal ini menyebabkan partisipan 2 tidak merasakan loneliness. Ia merasa nyaman dengan keadaan di dalam biara meski muncul berbagai kesulitan.

 

PEMBAHASAN

Kesepian muncul ketika seseorang merasa berbeda, tidak dimengerti, tidak dibutuhkan, tidak memiliki teman dekat, dan selalu sendiri. Seseorang cenderung merasa tidak nyaman pada situasi sosial sehingga menghindar dari kontak-kontak sosial tertentu secara terus menerus yang berakibat pada kesepian (Brehm dkk, 2002). Rasa bosan dapat muncul ketika seseorang tidak menikmati keadaan. Seseorang juga dapat mengalami perasaan gelisah berupa resah, tidak nyaman, selalu merasa khawatir, tidak senang, galau, dan cemas (Bruno, 2000). Agama memiliki makna penting bagi manusia karena iman dapat berfungsi untuk menghibur di kala duka, menjadi sumber kekuatan batin di saat sulit, dan memicu semangat serta harapan atas doa yang dipanjatkan (Lubis, 2002).

Partisipan 1 menganggap bahwa kesepian adalah perasaan yang wajar dan harus diterima. Partisipan 1 kerap salah dimengerti dan mendapatkan penolakan karena memiliki sikap tegas. Ia kemudian menahan diri agar tidak bersikap terlalu keras pada biarawati lainnya. Namun, ketika menghadapi kesulitan ia tidak mampu berbagi pada biarawati lain karena telah merasa mandiri sehingga tidak membutuhkan orang lain. Partisipan 1 yang tertutup tidak membangun hubungan sosial, melainkan menghadapi kesepian dengan kegiatan lain yaitu membaca buku di perpustakaan biara, membuat karya seni, dan berdoa silih. Menurutnya, tanpa doa silih maka hidupnya akan jadi kurang bermakna di dalam biara. Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa.

Partisipan 3 tidak membangun relasi yang spesial di dalam biara, tapi dengan aktif menyesuaikan diri dengan lingkungan biara yang beranggotakan perempuan. Padahal, sebelumnya ia terbiasa hidup dalam keluarga berdominan laki-laki. Ketika mengalami perasaan gelisah dan pergulatan, ia tidak bisa berbagi dengan biarawati lain. Ia merasa bahwa lebih baik menghadapinya dengan berdoa. Ia hanya berharap agar mampu untuk tetap setia melayani Tuhan. Selain itu ia akan berjalan-jalan ke kebun belakang biara ketika merasa bosan. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Hidup membiara bagi partisipan 2 pasti tidak lepas dari kesulitan. Hal ini membuatnya tetap teguh meski melalui berbagai rintangan. Partisipan 2 kembali ingat bahwa sebelum hidup membiara ia juga mampu menghadapi berbagai kesulitan dengan baik. Partisipan 2 menghadapi kesulitan dengan tetap membuka diri terhadap biarawati lain. Ia mengungkapkan perasaannya ketika salah dimengerti. Ia juga memiliki kedekatan dengan pembimbing. Selain itu, ia juga sepenuhnya menyadari bahwa kebahagiaan bukan dicari dari orang lain, melainkan berasal dari dirinya sendiri. Hal ini membuat partisipan 2 merasa nyaman dengan hidup melayani Tuhan di dalam biara dan tidak mengalami loneliness. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa loneliness dapat menjadi bagian dari hidup membiara. Loneliness bagi biarawati adalah bentuk penyerahan diri kepada Tuhan. Penyerahan diri yang dimaksud adalah menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup panggilan, lebih banyak berdoa, dan melakukan refleksi.

 

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian Loneliness di Kalangan Biarawati terhadap tiga partisipan maka didapatkan kesimpulan bahwa partisipan 1 dan 3 mengalami loneliness. Partisipan 1 dan 3 tidak terbuka terhadap biarawati lain ketika mengalami kesulitan. Partisipan 1 yang memiliki sikap tegas harus menahan diri sehingga tidak salah dimengerti oleh biarawati lain. Sedangkan partisipan 3 masih merasa gelisah karena pergulatan di dalam batinnya meski sudah berkaul kekal. Partisipan 2 tidak mengalami loneliness karena memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi biarawati. Selain itu, partisipan 2 menghadapi kesulitan dengan tetap membuka diri terhadap biarawati lain. Sebelum masuk biara, ia juga sepenuhnya menyadari bahwa kebahagiaannya bukan dari orang lain, melainkan dirinya sendiri. Ia merasa mampu menghadapi segala kesulitan dan merasa nyaman menjadi biarawati. Hal ini membuat partisipan 2 merasa nyaman dengan hidup melayani Tuhan di dalam biara.

Makna loneliness bagi partisipan 1 adalah menyadari kehadiran Tuhan dan menghayati hidup panggilan di dalam biara dengan lebih banyak berdoa. Loneliness menurut partisipan 2 bermakna sebagai penyerahan diri kepada Tuhan, semakin banyak berdoa, dan melakukan refleksi. Makna loneliness bagi partisipan 3 adalah pemberian diri pada Tuhan dan menghayati panggilan dengan semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Mengetahui bahwa kehidupan membiara pasti akan dilalui dengan berbagai tantangan dan kesulitan, calon biarawati lebih baik memiliki motivasi yang kuat. Calon biarawati sebaiknya memutuskan secara matang sebelum benar-benar memasuki biara dan berkaul kekal. Penelitian ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu dapat dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menambahkan kriteria partisipan yaitu biarawati dengan kriteria belum berkaul kekal sehingga mengetahui lebih dalam loneliness di awal hidup membiara.

 

DAFTAR RUJUKAN

Brehm, S.S.; Miller, R.S.; Perlman, D.; Campbell, S. 2002. Intimate Relationships, 3th edition. New York: McGraw-Hill.

Bruno, F. J. 2000. Conquer Loneliness: Menaklukkan Kesepian. Jakarta: PT.Gramedia Pustaka Utama.

Hanurawan, F. 2016. Metode Penelitian Kualitatif: Untuk Ilmu Psikologi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Keene, M. 2006. Agama-agama Dunia. Yogyakarta: Kanisius.

Kleden, P. B. 2002. Aku Yang Solider, Aku Dalam Hidup Berkaul. Maumere: Ledalero.

Lubis. 2002. Iman dan Ilusi: Psikiatri Fakultas Kedokteran. Jakarta: Universitas Indonesia.

Rokach, A. 2004. Loneliness Then and Now: Reflections on Social and Emotional Alienation in Everyday Life. Current Psychology Developmental, Learning, Personality, Social. 23 (1): 24-40.

Saldana, Johnny. 2013. The Coding Manual for Qualitative Researchers. Bodmin: MPG Books Group.

Salkind, N.J. 2015. Teori-teori Perkembangan Manusia. Bandung: Nusa Media.

 

Sudiarja, A. 2003. Berenang di Arus Zaman: Tantangan Hidup Religius di Indonesia Kini. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.