Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Psychological Well-being Pada Wanita yang Mengalami Intimate Partner Abuse

KARIN CAROLINA

Abstrak


ABSTRAK

 

Carolina, Karin. 2015. Psychological Well-being Pada Wanita yang mengalami Intimate Partner Abuse. Skripsi. Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini S.Psi., M.Psi., (II) Indah Yasminum Suhanti S.Psi., M.Psi.

 

Kata Kunci: psychological well-being, intimate partner abuse

 

Kasus Intimate Partner Abuse dengan wanita sebagai korbannya semakin meningkat setiap tahunnya baik di Indonesia maupun di negara lainnya. IPA atau Intimate Partner Abuse memiliki dampak negatif yang bersifat jangka panjang untuk wanita yang menjadi korbannya, seperti cedera fisik, meningkatnya level kecemasan, depresi, ketakutan, gangguan makan dan tidur, penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang, self-esteem yang menurun, meningkatnya perasaan tidak aman, menurunnya kualitas hidup dan lain-lain. Menurut Patzel (2006) beberapa wanita yang mengalami IPA memilih untuk tetap bertahan pada posisinya dan merasa sulit untuk meninggalkan pasangannya sehingga tidak mampu mencapai Psychological Well-being dalam hidupnya.

Tujuan penelitian ini secara rinci adalah untuk mengetahui bagaimana Psychological Well-being pada wanita yang mengalami IPA Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan teknik studi kasus menggunakan tiga subjek wanita yang mengalami Intimate Partner Abuse dan bertahan dalam pernikahan mereka cukup lama serta berasal dari tempat yang berbeda yaitu Lampung, Bali dan Jawa

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita yang masih berada dalam siklus IPA mengalami kesulitan untuk mencapai psychological well-being sepenuhnya dikarenakan belum tercapainya aspek kunci dalam psychological well-being, yaitu self acceptance. Ditemukan bahwa pada wanita yang masih berada dalam siklus IPA mampu mencapai beberapa aspek dalam psychological well-being ketika ia mampu untuk menerima kondisinya dan merasa bahwa dirinya berharga. Ditemukan juga bahwa predisposisi bawaan seperti kecenderungan bersikap serta internalisasi nilainilai pada wanita tersebut memengaruhi komitmen mereka dalam mengambil keputusan dan cara mereka menangani situasi IPA tersebut.