Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

RELIGIUSITAS TRANS-GENDER BERUSIA LANJUT DI PERWAKOS SURABAYA

YUNIN NUR HIDAYATI

Abstrak


ABSTRAK

 

Hidayati, Yunin Nur. 2015. Religiusitas Trans-gender Berusia Lanjut di PERWAKOS Surabaya. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi., (II) Pravissi Shanti, S.Psi., M.Psi.

 

Kata Kunci: religiusitas, trans-gender, usia lanjut

 

Menurut teori James Fowler, tahap perkembangan seorang manusia berdasarkan spiritualitasnyapada umur >45 tahun adalah universalitas iman. Pengertian dari religiusitas yaitu kepercayaan individu tentang ajaran agama tertentu dan dampak ajaran agama tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Holdcroft, 2006) yang meliputi dimensi eksperiensial, ritualistik, ideologi, intelektual, dan dimensi konsekuensial.

Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif psikologifenomenologi.Lokasi penelitian berada di YayasanPERWAKOS (Persatuan Waria Kota Surabaya). Jumlah partisipan adalah 3 orang dengan kriteriatrans-genderyang berusia berusia 60 tahun ke atas. Metode pengumpulan data dengan menggunakan jenis wawancara bertahap dan wawancara semiterstruktur (semistructured interview).Fokus penelitian yang diambil untuk mengetahui religiusitas pada trans-gender berusia lanjut di PERWAKOS Surabaya.

Kesimpulan diketahui bahwa pada dimensi eksperiensial para trans-gender berusia lanjut menganggap Tuhan sebagai figur yang memenuhi kebutuhan mereka dengan cara berkomunikasi melalui ibadah dan doa, sehingga mereka tetap bisa merasakan sense of belonging dan sense of truth terhadap Tuhan.Mereka berada pada universalizing faith,yaitu tahap perkembangan agama dimana seseorang dapat menerima kehadiran agama lain terlepas dari agama yang mereka anut. Dalam dimensi ideologis,mereka merasa bahwa Tuhan menerima mereka sebagai seorang trans-gender karena Tuhanlah yang mentakdirkan mereka menjadi trans-gender. Mereka memilih solusi atas masalah religiusitas mereka dengan cara mendapatkan dukungan dari perkumpulan keagamaan LGBT.Dimensi intelektual, para trans-gender menjadikan Tuhan sebagai contoh kebenaran dan kebaikan bagi mereka.Dimensi konsekuensial yang mereka lakukan sebagai umat beragama adalah mempraktekkan ajaran agama tersebut, menghormati sesama umat beragama, serta menerima resiko yang akan dialami ketika menjadi umat dari salah satu agama yang dianut.

Bagi trans-gender berusia lanjut, peneliti menyarankan untuk menambah ilmu pengetahuan terkait agama yang dianut agar dimensi intelektualitas trans-gender yang berusia lanjut juga dapat berkembang.