Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Perbedaan Penerimaan terhadap Kebohongan pada Mahasiswa

Norika Ramadani Masuhara

Abstrak


ABSTRAK

 

Kebohongan adalah bentuk komunikasi yang sering terjadi yang merupakan bentuk tipu daya. Tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa, berbohong juga dapat dilakukan oleh anak sedari usia 2 tahun dalam menjalin komunikasinya. Komunikasi yang tidak benar atau berbohong dapat memicu beragam permasalahan tergantung dari bagaimana individu menerima kebohongan orang lain. Selain itu, tahap perkembangan diri dan lingkup sosial pun akan mempunyai peran dalam memberikan toleransi pada kebohongan. Penerimaan terhadap kebohongan dapat dikonseptualisasikan sebagai evaluasi umum individu terhadap berbohong atau tipu daya. Sebagai dimensi evaluatif, individu mendefinisikannya sebagai baik-buruk, positif-negatif, diinginkan-tidak diinginkan, atau dapat diterima-tidak dapat diterima, dan sebagainya. Dimensi evaluatif berkaitan dengan definisi sikap dimana sikap merupakan evaluasi individu terhadap objek sikap. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan deskriptif dan komparatif dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan penerimaan terhadap kebohongan pada mahasiswa.

Hasil penelitian ini adalah remaja berada pada kategori tinggi penerimaan terhadap kebohongan, yaitu 36% pada kategori rendah dan 64% pada kategori tinggi. Penerimaan terhadap kebohongan kategori dewasa awal adalah tinggi, yaitu 36% pada kategori rendah, 62% kategori tinggi, dan 2% kategori sangat tinggi. Uji hipotesis menunjukkan tidak ada perbedaan penerimaan terhadap kebohongan pada remaja dan dewasa awal di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang dapat dilihat dari nilai signifikansi 0,672 ( p > 0,05 ).

Saran dari hasil penelitian ini, individu dapat menelaah lebih jauh pengambilan keputusannya terhadap suatu hal, dalam hal ini adalah penerimaan terhadap kebohongan orang lain. Bagi praktisi psikologi, agar dapat menelaah lebih jauh kompleksitas didalam diri individu yang mempengaruhi individu dalam menyikapi kebohongan. Kemudian saran kepada peneliti lain agar dapat mengembangkan penelitian terpaut penerimaan terhadap kebohongan dengan variabel maupun sampel yang lebih beragam.