Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2011

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada

Mutia Husna Avezahra

Abstrak


ABSTRAK

 

Avezahra, Mutia Husna. 2011. Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I): Dr. Fattah Hanurawan, M.Si., M.Ed., (II) Ninik Setyowati, S.Psi., M.Psi.

 

Kata kunci: Bikkhu Theravada, Budha, Kebahagiaan, Kesadaran, Meditasi

 

Hakikat ajaran Budha dapat diketemukan melalui pemikiran inti dari pemikiran Sidharta Gautama atau kemudian disebut Shakyamuni Budha. Panduan kehidupan umat Budha diatur dalam sila yakni dasar utama pengamalan ajaran agama Budha yang berbentuk berbagai macam peraturan pelatihan sesuai dengan kelompok umat Budha (Budha Parisad). Budha Theravada merupakan salah satu aliran ajaran agama Budha yang berarti ajaran sesepuh, yakni  masih mempertahkankan aturan dan ajaran asli sebagaimana Budha Gautama masih hidup. Tujuan para penganut aliran Theravada adalah untuk mencapai Nirvana (Nibbana) dengan menjadi Arahat (orang yang mencapai kesucian tertinggi), yang diwujudkan dalam penanaman kebijaksanaan, pengertian dan pengamalan.Menjalin hubungan yang baik pada sesama manusia untuk menciptakan kedamaian di dunia merupakan salah satu cara untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga Bhikkhu Theravada mengabdikan seluruh kehidupan pribadinya untuk umat atau masyarakat. Bhikkhu Theravada adalah seorang yang menjalani ketentuan penetapan Sang Budha dalam Vinaya Pitaka. Di dalam praktik yang nyata, para Bhikkhu Theravada meninggalkan kehidupan berkeluarga, menjalani kehidupan sederhana, tidak boleh makan lebih dari jam 12 siang, tidak makan banyak, tidak diperbolehkan mendengarkan lagu atau melihat tari-tarian dan tidak boleh melaksanakan hal-hal yang hanya bertujuan kesenangan indria semata. Oleh karena itu, seorang Bhikkhu diharuskan untuk menjalankan disiplin pengelolaan diri melalui latihan meditasi. Melihat tata cara kehidupan Bhikkhu yang penuh batasan itulah, penulis tertarik untuk meneliti tentang kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada.

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan model pendekatan fenomenologi. Subjek pada penelitian ini adalah tiga Bhikkhu Theravada di Padepokan Dhammadipa Arama Batu Jawa Timur Indonesia. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam (in depth interview), catatan lapangan (field notes) dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan analisis tematik dan validasi data menggunakan cek partisipan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada adalah terciptanya kondisi batin yang bersih, artinya sebuah kondisi di mana batin terbebas dari hal-hal yang dapat membelenggu diri. Kebahagiaan pada Bhikkhu Theravada pada penelitian ini tergambar pada aspek berikut: Pada aspek kognitif Bhikkhu Theravada, para Bhikkhu memandang diri sebagai orang yang cukup puas. Aspek hubungan positif pada orang lain menggambarkan bahwa Bhikkhu Theravada mengabdikan diri pada masyarakat serta menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Sementara pada aspek ciri-ciri kepribadian, Bhikkhu Theravada menekankan keterbukaan diri terhadap pelayanan spiritual, melepaskan kehidupan duniawi yang penuh dengan kemelekatan dan melakukan pengelolaan kesadaran dengan bermeditasi. Penelitian ini menunjukkan pentingnya meditasi dalam kehidupan Bhikkhu Theravada sebagai kegiatan melakukan pengamatan pada hal-hal yang muncul pada pikiran dan  proses-proses pada tubuh yang timbul pada saat itu untuk mencapai kesadaran batin.

 

Saat ini ketiga partisipan merasa cukup bahagia. Namun ketiga partisipan juga mengatakan bahwa diri masih dalam proses menuju batin yang bersih guna menciptakan kebahagiaan yang lebih sejati dan kedamaian diri yang bersifat jangka panjang. Pandangan dan cara hidup Bhikkhu Theravada dapat dikaji lebih mendalam dengan pendekatan psikologi transpersonal yang dapat mengakomodir pengalaman-pengalaman transenden individu, sehingga dapat memeriksa potensi psikologis individu. Penelitian tentang subjek Bhikkhu Theravada masih belum banyak dilakukan, oleh karena itu diperlukan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengembangkan temuan-temuan yang telah ada.