Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

. Kecemasan Menghadapi Kematian Pada Wanita Lanjut Usia di Panti Werdha Pangesti Lawang

Intan Dwi Maulasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Kecemasan menghadapi kematian merupakan reaksi emosi akan sesuatu yang tidak menyenangkan dan timbul karena tidak menyadari apa penyebab sebenarnya yang dialami seseorang. Lanjut usia merupakan tahap akhir kehidupan dimana mulainya penurunan fisik dan daya tahan tubuh serta membutuhkan penyesuaian diri terhadap tugas baru dan tujuan baru. Selain itu lanjut usia juga dihadapkan pada masalah psikologis. Kematian yang tidak bisa dihindari pada lanjut usia ini membuat akan memikirkan kematian, sehingga munculnya kecemasan menghadapi kematian pada wanita lanjut usia.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian fenomenologi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian fenomenologi yang berupa interpretasi pengalaman subyektif wanita lanjut usia terhadap kecemasan menghadapi kematian. Subjek yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini berjumlah 3 orang, yaitu wanita lanjut usia di Panti Wredha Pangesti Lawang dengan karakteristik individu berusia 60 tahun keatas. Wanita lanjut usia dalam penelitian ini adalah merupakan wanita yang tinggal dan menghabiskan hari-harinya di Panti tersebut. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara secara mendalam (in-depth), observasi kepada subjek, dan significant other.

Penelitian ini mengungkapkan bahwa adanya kecemasan menghadapi kematian pada wanita lanjut usia di panti wredha Pangesti Lawang. Hasil penelitian menunjukkan adanya aspek fisiologis yang berdampak pada aspek psikologis lanjut usia. Gejala kecemasan yang dicirikan seperti merinding, jantung berdebar ini timbul ketika merespon suatu peritiwa kematian dari teman-teman keluarga, sehingga adanya harapan ingin segera mati agar menghindari mati di usia tua yang cenderung mengalami kondisi fisik yang mengerikan, serta pemikiran-pemikiran akan kematian dan membayangkan kematiannya sendiri. Kondisi terminal ill  yang mengalami penyakit berat dan kecil harapannya untuk sembuh memiliki respon emosional mengenai kecemasan kematian yang bergantug dengan kondisi fisik dan psikologis. Hal ini berdampak pada pilihan pasrah tidak ingin melakukan apa-apa untuk menghindari rasa. Motivasi disini tentunya menjadi peran penting dalam penyesuaian diri secara fisik yang berdampak pada psikologis sehingga di usia lanjut ini dapat melewati hidup sebaik mungkin sebagai bentuk kepuasan di akhir hayatnya.

Saran yang dapat diberikan dari penelitian ini: (1) Bagi Panti Wredha Pangesti Lawang, agar dapat memberikan pemahaman tentang sakit serta motivasi bagi penghuni yang berkondisi terminal ill, setidaknya membawa mereka menjalani kepuasan hidup di akhir hayatnya. Meningkatkan hubungan interpersonal antara penghuni yang berkondisi terminal ill dengan perwat agar dapat membangun hubungan yang dekat, karena penyembuhan dan peningkatan kesehatan dipengaruhi hubungan interpersonal tersebut. (2) Bagi Keluarga, hendaknya memberikan rasa aman dan kehangataan dengan sering mengunjung seperti membawakan hal-hal yang disukai bisa berupa makanan atau barang. Serta memberikan dukungan dan pemahaman yang positif mengenai kematian agar dapat menjalani hidup sebaik mungkin dan tidak menyia-nyiakan hidup. (3) Bagi wanita lanjut usia yang mengalami kecemasan menghadapi kematian, hendaknya mengisi kesempatan yang masih diberikan dengan melakukan aktivitas yang disenangi seperti hobbi, dan aktif mengikuti kegiatan rutin yang ada di Panti. Menerima aktivitas baru dengan menepatkan diri secara sosial dan lingkungan, bertemu dengan teman-teman, terbuka untuk berbagi pengalaman, dan saling membantu teman-teman dengan yang tidak bisa melakukan aktivitas secara mandiri.