Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2015

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kesejahteraan Subjektif pada Pengemis

Tika Puji Lestari

Abstrak


ABSTRAK

 

Lestari, Tika Puji. 2015. Kesejahteraan Subjektif pada Pengemis. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dra. Sri Weni Utami, M. Si., (II) Gamma Rahmita Ureka Hakim, S. Psi., M. Psi.

 

Kata Kunci : Kesejahteraan Subjektif, Pengemis

 

Pengemis merupakan salah satu permasalahan yang telah lama dihadapi pemerintah Indonesia. Pemerintah kota Malang juga telah lama menghadapi permasalahan pengemis.Berdasarkan studi pendahuluan peneliti di Dinas Sosial Kota Malang, jumlah pengemis yang ada di Kota Malang semakin meningkat walaupun Satpol PP dan dinas sosial secara rutin melakukan razia. Berdasarkan hasil studi pendahuluan tersebut tersebut aspek psikologis yang perlu dibahas dari permasalahan pengemis adalah kesejahteraan subjektif yang dipersepsikan oleh pengemis. Kesejahteraan secara subjektif yang dipersepsikan oleh masing-masing individu dalam kajian ilmu psikologi disebut subjective well-being.

Penelitian ini bertujuan mengungkap kesejahteraan subjektifpada pengemis yang berlokasi di Kota Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologis. Partisipan dalam penelitian berjumlah 4 orang dengan kualifikasi sebagai berikut (1) telah mengemis lebih dari lima tahun, (2) sumber pendapatan utama dari mengemis (3) berusia minimal 20 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik wawancara dan observasi. Tehnik analisis data menggunakan tehnik analisis data fenomenologi yang berakhir pada kesimpulan.

Berdasarkan analisis data dalam penelitian dihasilkan kesimpulan sebagai berikut. (1)Secara umum pengemis yang menjadi subjek penelitian belum merasa sejahtera secara subjektif dari empat subjek penelitian tiga subjek tidak merasa sejahtera secara subjektif. (2) subjek satu merasa sejahtera secara subjektif. (3) subjek dua juga merasa sejahtera secara subjektif namun tidak setinggi subjek satu.Perbedaan sikap antara subjek satu dan subjek dua menjadi penyebab perbedaan perasaan sejahtera secara subjektif antara subjek satu dan subjek dua. Subjek satu merasa sejahtera secara subjektif karena memiliki sikap ulet dan pantang menyerah sedangkan subjek dua berdasarkan sikap pasrahterhadap nasib. (4)Subjek tiga belum merasa sejahtera secara subjektif karena belum merasa puas dan bahagia dengan hidup menjadi pengemis. (5) subjek empat juga belum merasa sejahtera secara sujektif. Penilaian subjek tiga dan subjek empat terhadap kehidupan menjadi pengemis selalu dibandingkan dengan profesi kedua subjek sebelum menjadi pengemis yaitu sebagai pembantu rumah tangga. (6) Subjek dua yang merasa sejahtera namun tidak setinggi satu, subjek tiga dan empat yang belum merasa sejahtera tetap bertahan menjadi pengemis dikarenakan mendapatkan dukungan sosial dari keluarga terdekat. (7) Prediktor kesejahteraan subjektifpada pengemis yang paling menonjol adalah kognisi yaitu cara menginterpretasikan peristiwa secara positif yang mana keempat subjek penelitian memiliki interpretasi yang kurang positif terhadap peristiwa yang pernah dialami dan menjadikan interpretasi tersebut sebagai alasan untuk bertahan menjadi pengemis, prediktor kedua adalah optimisme dalam menghadapi masa depan.

Berdasarkan penelitian ini disarankan kepada dinas sosial Kota Malang untuk dilakukan penanganan secara psikologis kepada para pengemis dengan konseling kelompok yang bertujuan menitik beratkan pada penanganan kognisi pengemis. Kepada masyarakat luas diharapkan mengesampingkan rasa kasihan kepada para pengemis sehingga tidak memberikan uang untuk memutus rantai pertumbuhan jumlah pengemis. Kepada peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian dengan variabel lain terkait semakin meningkatnya jumlah pengemis yang ada di Kota Malang seperti analisis faktor penyebab seseorang berprofesi sebagai pengemis.