Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2014

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pola Interaksi, Persepsi Intimasi, dan Makna Cinta Pada Otaku Usia Dewasa Awal di Kota Malang

Dhian Pratiwi Dharma Hutami

Abstrak


ABSTRAK

 

Hutami, Dhian Pratiwi Dharma. 2014. Pola Interaksi, Persepsi Intimasi, dan Makna Cinta Pada Otaku Usia Dewasa Awal di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si, (II) Indah Yasminum S, M.Psi

 

Kata kunci: Pola Interaksi, Persepsi intimasi, Makna Cinta, Otaku, Dewasa Awal

 

Otaku menurut Akio (Chiang, 2012) adalah istilah untuk menyebut atau menunjuk seseorang yang memiliki ketertarikan bahkan terobsesi pada suatu hal spesifik. Otaku menghabiskan waktunya dengan berdiam di dalam rumah dengan bermain game dan membaca komik (manga) sendirian, tanpa memperdulikan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sebagian besar otaku di Kota Malang merupakan individu dewasa awal. Masa dewasa awal menurut Erikson masuk pada tahap intimacy vs isolation. Otaku kurang memiliki kesempatan untuk berintraksi dan menjalin hubungan intim dengan orang lain karena obsesi terhadap kegemaran mereka (tiga yang paling utama adalah anime, game, dan manga). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola interaksi, persepsi intimasi, dan makna cinta pada otaku usia dewasa awal di Kota Malang.

Penelitian kualitatif ini menggunakan metode fenomenologi. Penelitian melibatkan empat partisipan dengan perincian 2 laki-laki dan 2 perempuan. Wawancara dilakukan sebanyak tiga kali pada setiap partisipan. Teknik validasi menggunakan cek partisipan.

Hasil penelitian menyebutkan bahwa: (1.) Partisipan tetap menjalin interaksi sosial dengan orang lain. Namun, interaksi lebih besar dengan sesama otaku. (2.) Partisipan cenderung menolak terjadinya intimasi, meski dengan sesama anggota komunitas otaku. (3.) Cinta merupakan suatu perasaan yang ditujukan bagi orang lain. Cinta dapat berupa perasaan ingin melindungi dan menaungi, dapat menjadi diri sepenuhnya, dan terbuka kepada pasangan. Pengungkapan cinta melalui berbicara secara langsung, menggunakan bahasa tubuh, dan pemberian perhatian secara tidak langsung (dari jarak jauh).

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan: (1.) Otaku lebih membuka diri pada pergaulan dengan orang lain meski tidak sehobi. (2.) Masyarakat melihat hobi partisipan dari sudut pandang partisipan. (3.) Orangtua meningkatkan komunikasi dengan partisipan. (4.) Psikolog perkembangan hendaknya mengingatkan kepada masyarakat agar selalu mengawasi dan mengarahkan anak sehingga dapat bersosialisasi dengan baik serta menjalankan tugas perkembangan. (5.) Otaku sebagai bukti masuknya budaya asing melalui manga, game, dan anime sudah selayaknya mendapatkan perhatian bidang sosial. (6.) Peneliti selanjutnya menambah jumlah dan karakteristik serta waktu penelitian.