Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Kondisi psikologis Anak dari Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia

Rahmania Qurrota A'yun

Abstrak


ABSTRAK

 

A’yun, Rahmania Qurrota. 2013. Kondisi Psikologis Anak dari Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si., (II) Nur Eva S.Psi., M.Psi.

 

Kata Kunci: kondisi psikologis, aspek kognisi, aspek emosi, aspek konasi

 

Salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia berat di Indonesia yaitu pembunuhan aktivis hak asasi manusia, MST, yang mengakibatkan anak pertamanya mengalami kesedihan dan mengikhlaskan kepergiannya dalam lima tahun terakhir. Kematian karena pembunuhan merupakan sudden death, berpotensi sebagai stressor dan menyebabkan trauma (Schiraldi, 2009:5). Ia juga sering diganggu teman-temannya karena terdapat pola pikir dan perilaku berbeda dengan temannya. Peristiwa tersebut memengaruhi kondisinya psikologisnya, termasuk pemikiran, perasaan, maupun perilakunya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kondisi psikologis anak dari korban pelanggaran hak asasi manusia dari aspek kognisi, emosi, maupun konasi.

Subjek penelitian ini adalah anak pertama almarhum MST menempuh pendidikan di perguruan SB Malang. Pendekatan kualitatif yang digunakan adalah rancangan studi kasus. Pengumpulan data melalui metode wawancara dan observasi. Pengecekan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan metode, serta pengecekan anggota.

Hasil penelitian menunjukkan kondisi psikologis subjek dari aspek kognisi, memerlukan bimbingan orang dewasa dalam menghadapi masalah, mencapai tahap awal pemikiran operasional formal dan egosentrisme, memiliki persepsi diri kurang positif akibat bullying, merencanakan perwujudan minat dan tujuan masa depan yang dipengaruhi peristiwa kematian ayahnya, pemikiran menghilangkan orang jahat dan pembunuh ayahnya mendapat hidayah akibat kemarahan, serta tidak percaya orang lain dan negara akibat kecemasan dari peristiwa pembunuhan ayahnya. Dari aspek emosi, ia belum mencapai kematangan emosi, berkeinginan untuk bertanggung jawab atas dirinya, mengambil keputusan berdasarkan orientasi masyarakat, memiliki pola interaksi sosial persahabatan individual karena individualistik dan kurang mampu bersosialisasi, mengalami perasaan rendah diri, sedih, dan malu akibat bullying, serta mengalami emosi sedih, malu, dan takut akibat kedekatan dan jenis kematian, dan kecemasan dari peristiwa kematian ayahnya. Sedangkan aspek konasi, ia menyendiri dan berdoa ketika mengingat ayahnya akibat dari kesedihan karena rindu, berkeinginan menjadi sutradara dan animator, serta perdamaian akibat dari ketidakpercayaan dan ketakutan dari peristiwa kematian ayahnya, interaksi sosial kurang baik akibat egoistis dan gerakan yang muncul saat berimajinasi, sehingga menerima bullying, melakukan perbuatan ritualistik, sering memandang seperti menerawang sesuatu, akibat dari materi ketidaksadaran yang muncul ke kesadarannya, dan tidak mudah terpancing emosinya ketika mendapatkan bullying. Secara keseluruhan kondisi psikologis subjek dipengaruhi peristiwa kematian ayahnya serta perilaku dan pemikiran imajinatif yang berakibat munculnya bullying dan perasaan serta emosi terkait peristiwa tersebut.

Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan tes Rorschach untuk mengetahui aspek kognisi, emosi, dan  fungsi ego secara lengkap. Bagi subjek, diharapkan belajar menggunakan katarsis emosi dan memeroleh gambaran situasi yang menyebabkan lonjakan emosi. Bagi orang tua, diharapkan memberikan dukungan dan menuntun subjek berpikir rasional dengan argumentasi logis. Bagi guru atau ustadz subjek, diharapkan memberikan dukungan dan membantu subjek meningkatkan keterampilan sosial melalui diskusi kelompok.