Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2013

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN ANTARA KONSEP DIRI REMAJA YANG MEMILIKI ORANG TUA BEDA AGAMA DENGAN ORANG TUA YANG SEAGAMA DI KOTA MALANG

Jenny Novitasari Gerrits

Abstrak


ABSTRAK

 

Gerrits, Jenny Novitasari. 2013. Perbedaan Antara Konsep Diri Remaja yang Memiliki Orang tua Beda Agama dengan Orang tua yang Seagama di Kota Malang. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Sri Weni Utami, M.Si, (II) Drs. Mohammad Bisri, M.Si.

 

Kata kunci: konsep diri, remaja, orang tua beda agama

 

Remaja yang berasal dari keluarga dengan ayah dan ibu berbeda agama mengalami ketimpangan dalam menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan dan nilai agama untuk membentuk sifat, karakter, dan konsep diri. Nilai-nilai agama sangat berperan ketika anak tengah memasuki masa pembentukan dan perkembangan kepribadian. Kegagalan dalam memahami dirinya, peran-perannya, dan makna hidup beragama yang dialami remaja akan menimbulkan kebingungan yang berdampak kurang baik bagi pembentukan konsep diri remaja.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua seagama. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan deskriptif komparatif. Subjek penelitian sebanyak 80 remaja. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling kuota. Instrumen penelitian yang digunakan adalah skala konsep diri yang terdiri dari 45 aitem. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan teknik analisis independent sample t-test.

Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan antara konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama dengan orang tua yang seagama (p = 0,015 < 0,05). Konsep diri remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi (65%) daripada konsep diri remaja yang memiliki orang tua seagama (42,5%). Dalam penelitian ini, remaja yang memiliki orang tua beda agama berhasil melewati situasi kebingungan, karena orang tua, keluarga, maupun lingkungan remaja mendukung remaja untuk dapat menjalani tugas perkembangan hidupnya dengan baik, sehingga konsep diri yang terbentuk cenderung positif. Sedangkan, remaja yang memiliki orang tua seagama, sekalipun tidak mengalami krisis pemilihan agama, namun ada krisis-krisis lain yang dialami. Pengambilan keputusan untuk mengatasi krisis tersebut perlu mendapat dukungan dari lingkungan remaja. Pilihan-pilihan yang kurang memadai, mendorong remaja untuk mengikuti pola yang sudah diakui, sehingga remaja kurang mempunyai perasaan identitas dan individualitas

Disarankan kepada orang tua agar tetap menjaga komunikasi antar pribadi, menjaga kehidupan demokratis dan harmonis. Bagi remaja, agama apapun yang dipilih harus benar-benar diyakini dan hendaknya melibatkan diri dalam kegiatan keagamaan yang dapat mempekuat keimanan dan ketakwaan. Bagi pihak sekolah disarankan dapat membantu siswa untuk mengenali potensi-potensinya dan tetap menerapkan pola pendidikan yang adil dan tidak bias terhadap agama apapun yang dianut. Bagi calon pasangan suami istri beda agama hendaknya mempertimbangkan kembali ketika ingin memutuskan untuk menikah beda agama. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan menggunakan metode observasi dan wawancara agar hasil yang didapat lebih mendalam dan sempurna, terkait dengan temuan yang menunjukkan bahwa remaja yang memiliki orang tua beda agama lebih tinggi konsep dirinya.