Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

PERBEDAAN RESILIENSI ANTARA REMAJA DALAM KELUARGA BERCERAI DAN REMAJA DALAM KELUARGA UTUH DI SMA NEGERI KOTA MALANG

Gracillia Putri Jauhari

Abstrak


ABSTRAK

 

Jauhari, Gracillia Putri. 2012. Perbedaan Resiliensi Antara Remaja dalam Keluarga Bercerai dan Remaja dalam Keluarga Utuh. Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas   Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dra. Endang Prastuti, M.Si.  (II) Diyah Sulistiyorini, S.Psi., M.Psi.

 

Kata kunci: resiliensi, remaja, keluarga bercerai, keluarga utuh

 

Resiliensi  adalah  kemampuan  untuk  menghadapi,  mengatasi, meminimalkan,  bangkit  kembali  dan mengurangi  atau menghilangkan  dampak-dampak negatif atau resiko dari masalah yang dihadapi serta memungkinkan pula untuk merubah  pandangan  atas masalah  yang  terjadi menjadi  hal  yang memang wajar  untuk  diatasi.  Namun  kualitas  resiliensi  setiap  individu  tidaklah  sama, terdapat  aspek-aspek  penting  yang  membentuk  resiliensi.  Keadaan  keluarga adalah  suatu kondisi  yang menunjukkan bagaimana  susunan  suatu keluarga baik secara struktur dan interaksi.

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  gambaran  resiliensi  antara remaja  dalam  keluarga  bercerai  dan  remaja  dalam  keluarga  utuh  dan  apakah terdapat  perbedaan  resiliensi  antara  remaja  dalam  keluarga  bercerai  dan  remaja dalam keluarga utuh. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian  ini adalah deskriptif komparatif. Sampel penelitian adalah remaja kelas X dan XI di SMAN  1,  3,  4,  7,  dan  9 Malang  dengan  total  subyek  80  siswa.  Pengambilan subyek  adalah  subyek  dalam  populasi  pada  remaja  dalam  keluarga  bercerai  dan random  sampling  pada  remaja  dalam  keluarga  utuh.  Instrumen  penelitian  yang digunakan  adalah  angket  keadaan  keluarga  dan  skala  resiliensi  Skala  resiliensi terdiri  atas  42  aitem  valid  (r  =  0.234-0.645)  dan  reliabilitas  0,879.  Data  hasil penelitian  dianalisis  dengan menggunakan  teknik  analisis  deskriptif  dan  analisis komparatif dengan uji beda independent sample t test.

Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  sebagian  besar  remaja  dalam keluarga  bercerai  jika  dibandingkan  dengan  remaja  dalam  keluarga  utuh menunjukkan  tingkat  resiliensi  tinggi.  Uji  hipotesis  menyimpulkan  tidak  ada perbedaan  resiliensi  antara  remaja  dalam  keluarga  bercerai  dan  remaja  dalam keluarga utuh dengan signifikansi 0.511  (sig. > 0.05).

Disarankan kepada: (1) pihak sekolah untuk mengadakan class discussion grup  terkait  dengan  perceraian  dan  dampaknya.  (2)  pihak  orang  tua  untuk meningkatkan  komunikasi  dengan  anak,  seperti mengajaknya  berdiskusi  tentang masalah-masalah  remaja.  (3)  pihak  remaja  untuk  memperbanyak  kegiatan berkelompok,  seperti ekstrakulikuler  sekolah  yang melibatkan  banyak  interaksi antar teman untuk meningkatkan rasa optimis, kontrol emosi, dan tidak membatasi kemampuan  diri.  (4)  pihak  peneliti  selanjutnya  untuk  lebih  cermat  dalam mengambil sampel serta mengikutsertakan faktor-faktor lain ke dalam penelitian, seperti  keterampilan  sosial,  otonomi,  keterampilan  menyelesaikan  masalah, kesempatan  untuk  bisa berpartisipasi  dalam  kelompok,  hubungan  yang  hangat dengan  lingkungan, dan harapan yang  tinggi dari  lingkungan yang  tidak menjadi fokus dalam penelitian ini.