Skripsi Jurusan Psikologi - Fakultas Pendidikan Psikologi UM, 2012

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

DINAMIKA KEPRIBADIAN PEREMPUAN BISEKSUAL: Studi Kasus Pada Seorang Perempuan Biseksual yang Mengalami Pelecehan Seksual

Siti Mu'allafah

Abstrak


ABSTRAK

 

Mu’allafah, Siti. 2012. Dinamika Kepribadian Perempuan Biseksual: Studi Kasus pada Seorang Perempuan Biseksual yang Mengalami Pelecehan Seksual. Skripsi, Jurusan Psikologi, Fakultas Pendidikan Psikologi, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Anies Syafitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog. (2) Ika Andrini Farida, S.Psi., M.Psi.

 

Kata kunci: dinamika kepribadian, biseksual, pelecehan seksual

 

Fenomena biseksualitas merupakan orientasi seksual yang tidak lazim dan cenderung dikategorikan negatif oleh sebagian orang. Definisi masyarakat akan apa yang normal, layak, benar dan alami memiliki pengaruh besar atas bagaimana perasaan orang biseksual tentang orientasi seksual mereka. Stereotip sosial yang semacam itu tidak sejalan dengan fakta bahwa di sekitar kita terdapat individu-individu dengan orientasi seks yang berbeda. Orientasi seks yang berbeda ini seringkali mendapatkan kritik yang negatif dari lingkungan tanpa memperhitungkan bahwa stigma negatif yang diberikan ini juga melukai mereka. Keberadaan kaum biseksual tidak dapat dikenali dengan mudah seperti halnya homoseksual dan transeksual. Kelompok biseksual memang tidak menampakkan diri secara fisik, sehingga tidak mudah dikenali.

Terkait dengan fenomena biseksualitas, perlu kita ketahui bahwa terbentuknya orientasi seksual seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain sistem hormonal, neurofisiologi, sosiokultural (termasuk budaya, keluarga, perbedaan sosioekonomi, dan pendekatan religiusnya), serta faktor psikologis lainnya (seperti pengalaman seksual dan juga trauma seksual individu). Biseksual bisa terbentuk karena adanya faktor pendorong dari luar individu yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan keturunan, bisa jadi karena lingkungan tempat tinggal, pola asuh, pengalaman masa lalu yang dalam hal ini pelecehan seksual. Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa sebagian besar kaum biseksual memiliki pengalaman dilecehkan, diperkosa, dan menjadi korban kekerasan di masa kanak-kanaknya. Hasil penelitian tersebut memberikan gambaran tentang adanya keterikatan antara pelecehan seksual yang dialami seseorang pada masa kanak-kanaknya dengan terbentuknya orientasi seksual seseorang di masa depannya, yang dalam hal ini biseksualitas pada kaum biseksual.

Fokus dalam penelitian ini adalah mengungkap dinamika kepribadian perempuan biseksual yang mengalami pelecehan seksual. Jenis pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif berperspektif fenomena dengan model penelitian studi kasus. Berdasarkan teknik purposive sampling, dipilih satu orang untuk menjadi subjek penelitian. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan adalah: (1) Observasi Partisipan Pasif, dan (2) Wawancara mendalam. Data yang diperoleh dianalisis secara constant comparative method. Teknik pengecekan keabsahan temuan yang digunakan adalah: (1) Validitas Deskriptif, (2) Validitas Interpretif, dan (3) Validitas Teoritis.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah dinamika kepribadian subjek penelitian didominasi oleh id (konsep Freud) dan tak sadar kolektif (konsep Jung) yang tinggi sehingga ego (kesadaran) dan superego (nilai-nilai moralnya) lemah. Keinginan untuk selalu memenuhi insting seksnya membuat Mothy tidak lagi menganggap aktivitas seksualnya sebagai bentuk pelecehan, tetapi kenikmatan seksuallah yang mengendalikan dirinya secara tidak disadari untuk terus melakukan pengulangan (disebut Jung sebagai kompleks).

Perilaku seksual subjek dipelajari dari kasus-kasus pelecehan seksual yang dialaminya. Kasus-kasus tersebut dipelajari subjek sebagai suatu kondisioning (konsep behaviorisme). Aktivitas seksual yang diakuisisikan dengan otoritas ayah akan memunculkan respon kesediaan anak untuk patuh. Sehingga lama-kelamaan ketika stimulus seksual tidak lagi dihadirkan bersamaan dengan otoritas ayahnya, Mothy akan tetap melakukannya. Ucapan terima kasih ayahnya menjadi reinforcement positif bagi Mothy untuk terus mengulangi perilaku seksualnya itu.

Pelecehan seksual yang terjadi berulang-ulang membuat Mothy melekatkan persepsi subjektif (konsep Adler) sebagai “tumbal seksual” dan konsep diri ideal (konsep Horney) bahwa aktivitas seksual sebagai sesuatu yang harus dia lakukan jika dia ingin mendapatkan kasih sayang (id). Persepsi subjektif dan konsep diri ideal inilah yang menyebabkan Mothy menciptakan tujuan final fiktif tentang pelecehan seksual sebagai jalan hidupnya dan seperti itulah dia harus menjalaninya. Secara perlahan tujuan final fiktif ini berkembang menjadi gaya hidup yang sulit dirubah.

Gaya hidup yang didominasi oleh seksualitas ini membuat Mothy mencari aktivitas yang paling berpeluang sukses untuk memenuhi kebutuhan instingtifnya, yaitu dengan menjadi wanita panggilan (baik dengan laki-laki maupun perempuan). Kepuasan dan uang yang dia peroleh dari ativitas tersebut menjadi reward yang menyebabkan aktivitas seksual dipandang sebagai sesuatu yang berharga. Dibalik kepuasan dan uang yang dia peroleh, subjek juga mengalami kecemasan moral (kemungkinan disalahkan oleh masyarakat) dan kecemasan neurotik (hukuman dari masyarakat) atas perilaku seksualnya tersebut. Kecemasan-kecemasan ini membuat Mothy mengembangkan inferiorita kompleks (konsep Adler) untuk memanipulasi perilaku atau respon orang lain atas perilaku seksualnya. Mothy berharap orang yang mendengarnya menjadi simpati dan tidak meyalahkannya tetapi menganggapnya sebagai korban denga menimpakan kesalahan tersebut pada pelaku (disebut Freud sebagai proyeksi). Kecemasan-kecemasan ini juga ditutupi dengan sesalan (excuses), pengakuan dosa (undoing), dan menarik diri (withdrawal). Memilih menarik diri dari lingkungan orang-orang baru dan tetap tinggal dengan orang-orang lama yang sebagian besar pernah melecehkannya dianggap sebagai upaya untuk menghindari kasus-kasus pelecehan lainnya. Padahal para pelaku sebenarnya melakukan pelecehan seksual pada dirinya karena cue stimulus (konsep Miller dan Dollard) yang ditunjukkan subjek. Orang lain (pelaku) memiliki keinginan untuk melakukan aktivitas dengan subjek mungkin karena cue stimulus subjek melalui bahasa tubuhnya dibaca oleh pelaku sebagai ajakan untuk melakukan hubungan seksual. Sehingga dalam hal ini subjek dan pelaku saling membaca cue (pertanda) masing-masing yang menunjukkan keinginan seksual yang sama untuk memenuhi hasrat seksual yang akan berakhir pada suatu aktivitas seksual.