SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2009

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

perbedaan persepsi remaja ditinjau dari jenis kelamin tentang rokok dan bahayanya di SMP Negeri 2 Blitar

Lailatul Hanifah

Abstrak


ABSTRAK

 

Hanifah, Lailatul. 2009. Perbedaan Persepsi Remaja Ditinjau dari Jenis Kelamin Tentang Rokok dan Bahayanya di SMP Negeri 2 Blitar. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Triyono, M.Pd, (II) Drs. Djoko Budi Santoso.

 

Kata kunci: Pesepsi, remaja, jenis kelamin, rokok dan bahayanya

 

Remaja berada pada taraf mencari identitas, merupakan masa peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Remaja pada umumnya sangat rentan pada pengaruh eksternal. Proses pencarian jati diri menyebabkan remaja mudah sekali terombang-ambing dan makin sulit menentukan tokoh panutannya. Kondisi jiwa yang labil juga menyebabkan remaja mudah sekali terpengaruh. Mereka cenderung mengambil jalan pintas tanpa memikirkan dampaknya. Dalam hal ini mencoba melakukan hal-hal baru seperti merokok. Dimana merokok sudah banyak dilakukan oleh para remaja tidak terkecuali para siswa baik itu laki-laki maupun perempuan. Banyaknya remaja yang merokok dapat disebabkan karena mereka mempunyai persepsi yang kurang tepat tentang rokok dan bahayanya. Persepsi tiap remaja dapat berbeda-beda tergantung dari kondisi diri dan lingkungan yang mempengaruhinya.

Tujuan penelitian untuk mengetahui (1) persepsi siswa laki-laki tentang rokok dan bahayanya di SMP Negeri 2 Blitar, (2) persepsi siswa perempuan tentang rokok dan bahayanya di SMP Negeri 2 Blitar, dan (3) perbedaan persepsi antara siswa laki-laki dan perempuan di SMP Negeri 2 Blitar tentang rokok dan bahayanya.

Rancangan penelitian yang digunakan adalah deskriptif dan komparatif. Populasi penelitian seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 2 Blitar. Sampel dalam penelitian adalah siswa laki-laki dan perempuan kelas VIII di SMP Negeri 2 Blitar. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik Proportional Random Sampling yang diambil sesuai dengan proporsi kelas. Pengambilan sampel tiap kelas dilakukan secara Random Sampling. Pengambilan sampel sebesar 25 % dari jumlah siswa laki-laki dan perempuan di tiap kelas, dari hasil perhitungan ditemukan 26 siswa laki-laki dan 31 siswa perempuan.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian adalah angket berstruktur dengan empat skala jawaban yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), sangat tidak setuju (STS). Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan analisis uji t.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) cukup banyak (42,3%) siswa laki-laki SMP Negeri 2 Blitar yang memiliki persepsi kurang tepat tentang rokok dan bahayanya, sedikit (30,8%) siswa yang memiliki persepsi tidak tepat tentang rokok dan bahayanya, sedikit (23,1%) siswa yang memiliki persepsi tepat tentang rokok dan bahayanya, dan juga sangat sedikit (3,8%) siswa yang memiliki persepsi tepat sekali tentang rokok dan bahayanya; (2) sedikit (38,7 %) siswa perempuan SMP Negeri 2 Blitar yang memiliki persepsi tepat tentang rokok dan bahayanya, sedikit (32,3%) siswa perempuan yang memiliki persepsi kurang tepat tentang rokok dan bahayanya, sangat sedikit (19,4%) siswa perempuan SMP Negeri 2 Blitar yang memiliki persepsi tidak tepat tentang rokok dan bahayanya dan sangat sedikit (9,7%) siswa perempuan SMP Negeri 2 Blitar yang mempunyai persepsi tepat sekali tentang rokok dan bahayanya.

Hasil analisis Uji-t diperoleh t-hitung (t-value) sebesar 2,808 dengan koefisien probabilitasnya 0,007. Hasil penelitian menunjukkan p=0,007 < 0,05 sehingga H1 diterima. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan persepsi tentang rokok dan bahayanya antara siswa laki-laki dan perempuan di SMP Negeri 2 Blitar. Persepsi siswa perempuan lebih tepat dibandingkan persepsi siswa laki-laki.

Berdasarkan hasil penelitian disarankan bagi konselor agar dapat menyajikan informasi tentang rokok dan bahayanya kepada siswa guna meningkatkan pengetahuan siswa. Sebab pengetahuan inilah yang nantinya akan membentuk persepsi. Informasi diperoleh melalui sumber informasi. Sumber informasi merupakan salah satu hal yang sangat berperan dalam proses persepsi. Persepsi yang tepat akan menunjang seseorang untuk bertingkah laku atau bersikap dengan tepat pula. Konselor juga dapat memberikan layanan bimbingan berupa konseling individu maupun kelompok dengan menggunakan pendekatan behavioral (membuat kontrak perilaku) dalam upaya untuk menghindari dan menghentikan kebiasaan merokok bagi siswa yang sudah merokok. Selain itu konselor juga dapat memberikan terapi behenti merokok dengan teknik relaksasi dan hipnosa dalam hal ini konselor dapat bekerjasama dengan ahli terapi atau psikolog untuk melakukan terapi berhenti merokok. Konselor juga dapat mengadakan kegiatan sharing antarsiswa dengan mendatangkan mantan pecandu rokok yang telah berhasil berhenti merokok untuk menceritakan pengalamannnya dan bagaimana caranya dapat berhasil menghentikan kebiasaan merokok.

Disarankan pula bagi orang tua sebagai orang terdekat siswa hendaknya dapat menjadi model yang baik bagi anak, salah satunya dengan tidak merokok. Perlu juga adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak agar dapat memberikan arahan pada anak untuk dapat mengendalikan dirinya, sehingga tidak berbuat sesuatu yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Dengan adanya komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, maka orang tua dapat memberikan arahan bahwa banyak dampak buruk yang ditimbulkan dari rokok.

Siswa juga diharapkan dapat lebih selektif dalam memilih teman atau pergaulan serta memiliki pendirian yang kuat dan tegas menolak sehingga tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif yang ada di sekitar mereka termasuk ajakan teman untuk merokok.

Saran bagi peneliti selanjutnya, hendaknya memperluas ruang lingkup penelitian. Penelitian ini hanya meneliti perbedaan persepsi remaja ditinjau dari jenis kelamin tentang rokok dan bahayanya. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sama dapat melakukan penelitian untuk mencari perbedaan misalnya perbedaan persepsi siswa SMP dengan persepsi siswa MTS tentang rokok dan bahayanya. Dengan penelitian-penelitian yang sudah dikembangkan ini, diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih akurat sebagai pembanding dan tambahan informasi dalam penelitian ilmiah selanjutnya.