SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Coping Stress Istri Pertama dalam Pernikahan Poligami

Yesi Sevien Marita

Abstrak


ABSTRAK

 

Marita, Yesi Sevien. 2010. Coping Stress Istri Pertama dalam Pernikahan Poligami. Skripsi, Jurusan Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Fattah Hidayat,S.Psi, M.Si, (II) Ninik Setyowati S.Psi, M.Psi. 

 

Kata Kunci : coping stress, istri pertama, pernikahan poligami

 

Poligami di indonesia akhir-akhir ini membuat kaum wanita semakin khawatir. Belum lagi pemberitaan mengenai masyarakat penganut poligami, mulai dari selebritis, pejabat pemerintah, hingga pemuka agama. Hal ini menyebabkan kasus poligami semakin banyak bermunculan. Bird dan Melville (1994) juga mempertegasnya dengan mengatakan bahwa wanita lebih memiliki kecenderungan dibanding pria untuk mengalami stres akibat permasalahan pada pernikahan atau pengasuhan anak.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan model penelitian basic and generic study yakni bertujuan untuk mendapatkan pemahaman dan makna, kedudukan peneliti sebagai pengumpul data utama dan instrumen analisis, menggunakan catatan lapangan, menggunakan analisis induktif, dan menghasilkan temuan deskripif yang sangat jelas. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode snowball sampling. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang, dengan kriteria 1.) Berstatus istri pertama dalam pernikahan poligami 2.) Menyadari atau mengetahui bahwa suaminya memiliki istri selain dirinya dan menimbulkan stres atau tekanan bagi partisipan3.) Telah menjalani kehidupan berpoligami minimal satu tahun. Alat pengumpul data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan observasi. Keseluruhan data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif, dan disusun menjadi kesimpulan penelitian. 

Hasil temuan penelitian ini mendapatkan jenis coping stress yang dilakukan oleh partisipan bertahap yakni pada awal suaminya akan menikah lagi partisipan cenderung melakukan problem focused coping, sedangkan setelah pernikahan poligami, partisipan cenderung melakukan jenis emotion focused coping. Dari ketiga partisipan penelitian, coping stress sangat dipengaruhi oleh faktor keyakinan dari para partisipan itu sendiri yakni ajaran-ajaran agama islam yang memperbolehkan poligami.

Berdasarkan hasil penelitian ini, disarankan (1) Kepada penelitian selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif agar dapat memperoleh data yang lebih kaya mengenai topik penelitian, (2) Untuk hal yang sensitif seperti ini, peneliti menyarankan agar pembinaan rapport tidak hanya dengan partisipan saja, tetapi juga dengan keluarga agar wawancara dapat berjalan lancar (3) sebagai saran praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai gambaran coping stress istri pertama pada pernikahan poligami agar bagi pelaku poligami dapat lebih serius dalam mengatasi stres yang mungkin terjadi.