SKRIPSI Jurusan Bimbingan dan Konseling & Psikologi - Fakultas Ilmu Pendidikan UM, 2010

Ukuran Huruf:  Kecil  Sedang  Besar

Pelaksanaan Kode Etik Konselor di SMA/SMK seKota Malang

Yuanita Puspitasari

Abstrak


ABSTRAK

 

Puspitasari, Yuanita. 2010. Pelaksanaan Kode Etik Konselor di SMA/SMK se Kota Malang. Skripsi, Bimbingan Konseling dan Psikologi FIP Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (1)Dr. Blasius BoliLasan, M.Pd. (2) Dra. Henny Indreswari, M.Pd

 

Kata kunci: Pelaksanaan, kodeetik, konselor

 

Kode etik konselor Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, diamalkan dan diamankan oleh setiap anggota profesi bimbingan dan konseling Indonesia. Kode etik konselor diperlukan untuk melindungi anggota profesi sendiri dan kepentingan publik.Sebagai penjamin mutu layanan yang diberikan oleh konselor, kode etik berperan sebagai pedoman tingkah laku konselor dalam menjalankan aktifitas profesionalnya dan setiap konselor harus melaksanakan kode etik profesi dengan sebaik-baiknya. Beberapa fenomena di lapangan yang diberitakan dalam media cetak dan fenomena selama mengikuti kegiatan PPL II di salah satu sekolah di kota Malang mengindikasikan masih adanya penyimpangan kode etik yang dilakukankonselor.

Tujuan penelitian adalah untuk: (1) Mengetahui gambaran pelaksanaan kode etik konselor  di SMA/SMK se Kota Malang, (2) Mengetahui adanya perbedaan pelaksanaan kode etik konselor berdasarkan jenis kelamin, masa kerja dalam jabatan, dan kualifikasi pendidikan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif eksploratif. Populasi penelitian adalah seluruh konselor yang bekerja di SMA/SMK se Kota Malang. Sampel penelitian adalah 20 konselor SMA negeri/swasta dan 20 konselor SMK negeri/swasta yang dipilih berdasarkan jenis kelamin, masa kerja dalam jabatan, dan kualifikasi pendidikan. Teknik pengambilan sampel menggunakan cluster sample untuk mengelompokkan kelas SMA, SMK dan purposive sample yang digunakan untuk pengambilan sampel penelitian. Pengumpulan data menggunakan angket/kuisioner pelaksanaan kode etik dengan skala sangat sesuai, sesuai, kurang sesuai, dan tidak sesuai. Teknik analisis yang digunakan adalah persentase.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) 55% konselor berada pada taraf tinggi, 45% konselor berada pada taraf cukup, 0% konselor berada pada taraf rendah dalam pelaksanaan kode etik, 2) Pada aspek kualifikasi dan kegiatan profesional konselor 42,5% konselor berada pada taraf tinggi, 57,5% cukup, dan 0% rendah; pada aspek hubungan kelembagaan dan laporan kepada pihak lain 20% konselor berada pada taraf tinggi, 80% cukup, dan 0% rendah; pada aspek ketaatan kepada profesi 95% konselor berada pada taraf tinggi, 5% cukup, dan 0% rendah, 4) Berdasarkan hasil analisis uji t yang telah dilakukan, tidak ada pengaruh perbedaan jenis kelamin, masa kerja dan kualifikasi pendidikan dalam pelaksanaan kode etik konselor. 

Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyarankan kepada berbagai pihak 1) Kepala Sekolah: memberikan kebijakan dengan memberikan fasilitas kepada para konselor untuk lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikanin-service raining dan meningkatkan pengawasan terhadap kinerja konselor di sekolah melalui kegiatan supervisi, 2) Konselor: hendaknya lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui kegiatan pelatihan-pelatihan atau pendidikan in-service raining yang dapat meningkatkan kualitas kerjanya dan dapat meningkatkan evaluasi dii terhadap tindakan-tindakannya terkait dengan kode etik profesi, 3) Peneliti Lanjut: hendaknya memperluas populasi penelitian agar diketahui hasil penelitian mengenai pelaksanaan kode etik konselor di lain populasi, mengembangkan instrument penelitian supaya mampu mengungkap informasi yang ingin diperoleh secara lebih dalam, dan menggunakan teknik pengumpulan data lain, seperti wawancara dan observasi.